-- Tulisan Sayidiman Suryohadiprojo Mantan Gubernur Lemhannas "Paradoks Indonesia"

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/thumb/d/d9/Sayidiman.jpg/250px-Sayidiman.jpgBeliau memberikan contoh gambaran paradoks Indonesia berkontribusi memperburuk wajah Indonesia.

1. Presiden Soekarno adalah penggali Pancasila dan Presiden Soeharto mendasarkan kebijakan pemerintahannya berdasarkan Demokrasi Pancasila
. Paradoksnya, mereka pulalah pelanggar utama Pancasila.

2. Kedua, beda temuan tentang karakter dan jati diri manusia Indonesia. Bung Karno penggali Pancasila mengatakan Pancasila adalah dasar filosofis-pandangan hidup untuk di atasnya didirikan gedung Indonesia Merdeka yang kekal dan abadi.

wartawan Mochtar Lubis Mengkritik Bung karno: " Manusia Indonesia memiliki karakter dengan kelemahan berkecenderungan korup, munafik, enggan bertanggung jawab, berjiwa feodal, percaya takhayul, tidak hemat dan boros, tidak senang bekerja keras dan cenderung bermalas-malas, bisa kejam, mengamuk, dan membakar."

3. Ketua Dewan Pengkajian Persatuan Purnawirawan Angkatan Darat Kiki Syahnakri mengatakan, "PANCASILA ITU LEMAH" "Pascareformasi 1998, kehidupan berbangsa-bernegara di Indonesia praktis diku- asai oleh liberalisme dan Kapitalis. Liberalisme dan kapitalis berhasil mengerdilkan dan mengalienasikan Pancasila."

4. Amandemen konstitusi PANCASILA masih dipolemikkan, Dalam artikelnya, Sayidiman berpendapat : "Bangsa Indonesia untuk menjadikan negara Pancasila menjadi satu kenyataan DI BAJAK kaum Barat dan mereka berhasil membajaknya yang atas nama Demokrasi Terpimpin dan Demokrasi Pancasila telah diselewengkan rezim sebelumnya.

# Paradoksnya, kelemahan-kelemahan manusia Indonesia itulah yang sekarang ini penyakit kronis yang sedang menggerogoti negara ini. Sementara itu, Pancasila dicitrakan sebagai "keuangan yang mahakuasa; korupsi yang 'adil' dan 'merata'; persatuan mafia hukum Indonesia; kekuasaan yang dipimpin oleh nafsu kebejatan dalam persekongkolan dan kepura-puraan; kenyamanan bagi keluarga pejabat dan keluarga wakil rakyat".

-- Salam Melawan Arus --

[Lembaga Kajian Islam dan Peradaban/www.globalmuslim.web.id]