Perusahaan Pro-Zionis Israel Bebas Beroperasi di Negara-Negara Arab


Perusahaan ritel asal Inggris Marks & Spencer (M&S) akan membuka tiga tokonya di Mesir, sebagai bagian dari rencana ekspansi perusahaan itu ke Timur Tengah dalam kurun waktu lima tahun mendatang.
Meski situasi politik di Mesir dan di beberapa negara Arab masih rentan, (M&S) optimis untuk melakukan ekspansinya ke Timur Tengah. Sebagai tahap awal, (M&S) akan membuka toko keduanya di Kairo bulan Oktober mendatang.
"Kami yakin akan berada di Mesir untuk jangka menengah sampai sampai jangka panjang. Situasi politik tidak akan membuat kami berhenti hanya pada toko kedua--akan ada toko ketiga dan keempat. Kami sedang melakukan pembicaraan intensif dengan para pemilik mall di Mesir," kata Bruce Bowman, kepala operasi M&S di Dubai.
"Mesir merupakan pasar potensial, dengan jumlah penduduk 80 juta jiwa, ada peluang riil untuk mengembangkan bisnis di sana," sambung Bowman.
Selain di Mesir, M&S sudah melebarkan bisnisnya hampir ke seluruh kawasan Teluk. Pengembang Al-Futtaim yang berbasis di Dubai, yang memegang hak operasional 14 outlet M&S yang berada di sleuruh kawasan Teluk. Perusahaan ini akan membuka outlet kedua M&S di Abu Dhabi pada bulan September mendatang. Gerai-gerai baru juga akan dibuka di Kuwait, Qatar, Oman dan Bahrain.
Yang jadi persoalan adalah, M&S sejak lama diketahui sebagai salah satu perusahaan yang ikut membiayai Zionis Israel. Lord Marcus Sieff--tokoh yang cukup lama menjadi petinggi M&S-dalam buku M&S menulis bahwa salah satu tujuan fundamental dari M&S adalah membantu pembangunan ekonomi Israel. ((Management: The Marks & Spencer Way, Weidenfield & Nicolson, 1990).
Dalam Jerusalem Report tanggal 5 Juni 2000 disebutkan, M&S memberikan bantuan rata-rata sebesar 233 juta per tahun untuk Israel. Dan lembaga Jewish Telegraphic Agency (JTA), dalam laporan tertanggal 13 Desember 2000 menyatakan, "Duta Besar Israel untuk Inggris baru-baru ini memberikan penghargaan pada Marks & Spencer sebagai perusahaan yang secara kontinyu mendukung Israel."
Tahun 1998, Sir Sir Richard Greenbury, pendiri dan pemilik Marks & Spencer menerima "Jubilee Award" dari Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Penghargaan itu merupakan penghargaan tertinggi yang diberikan Israel sebagai penghormatan pada individu dan organisasi yang lewat investasi dan hubungan perdagangannya, telah memperkuat ekonomi Israel.
Ironis, jika negara-negara Arab justru memberi peluang pasar bagi perusahaan yang mendukung Zionis Israel, sebuah entitas yang telah menindas dan menyengsarakan rakyat Palestina dan ingin menghancurkan Masjid Al-Aqa, masjid suci ketiga kaum Muslimin di seluruh dunia.
Memalukan, jika negara Arab justru--secara tak langsung--memperkuat ekonomi Israel--di tengah situasi ketika para aktivis internasional beramai-ramai melawan Israel dan melakukan aksi boikot produk Zionis. (kw/AB.com)