Presiden Terguling Tunisia Sembunyikan Harta Karun di Istana


TUNIS (Berita SuaraMedia) – Presiden terguling Tunisia menyembunyikan setumpuk uang tunai, berlian dan emas di tempat-tempat rahasia di sekitar istananya di ibukota negara miskin tersebut, menurut sebuah video yang ditayangkan oleh televisi pemerintah pada akhir pekan lalu. Pemberontakan pada bulan Januari lalu menggulingkan Presiden Zine al Abidine Ben Ali setelah menjalankan kekuasaan represif selama 23 tahun, mengirimkan gelombang kejut ke seluruh dunia Arab dan mendorong revolusi serupa di Mesir.
Ben Ali menyembunyikan harta karunnya di balik korden dan di kompartemen rahasia di belakang perpustakaan istana, menurut tayangan video First National TV, yang memperlihatkan jutaan dolar dan euro, kalung berlian, dan emas ditemukan di istana presiden di distrik Sidi Bou Said, Tunis.
Tayangan tersebut mengatakan harta itu akan dikembalikan ke rakyat Tunisia, yang mengeluhkan meluasnya korupsi selama kekuasaan Ben Ali di negara Afrika Utara itu. Pendapatan per kapita Tunisia hanya 10 dolar per hari.
Perancis, Swiss, Kanada, dan Uni Eropa mengatakan bahwa mereka telah membekukan aset-aset mantan presiden itu dan keluarganya. Pemerintahan interim Tunisia, yang bertanggung jawab menyelenggarakan pemilu, mengatakan berusaha menemukan uang dan properti itu untuk membantu memberantas kemiskinan.
Sementara itu, Uni Eropa akan mengulurkan 258 juta euro dalam bentuk bantuan untuk Tunisia pada tahun 2013 dan 17 juta euro secepatnya.
Kepala urusan luar negeri UE Catherine Ashton mengatakan bahwa UE akan segera mencairkan 17 juta euro untuk membantu pemerintah interim Tunisia dan akan memberikan 258 juta euro pada tahun 2013.
Dia tidak merinci apakah jumlah yang lebih besar itu termasuk bantuan darurat.
Bantuan itu dimaksudkan untuk membantu Tunisia mengatasi ketegangan ekonomi dan sosial menyusul tergulingnya Presiden Zine El Abidine Ben Ali bulan lalu.
Ashton juga mengatakan bahwa Uni Eropa akan membantu Perdana Menteri Tunisia Mohamed Ghannouchi menyelenggarakan konferensi internasional tentang reformasi politik dan ekonomi di Carthage pada bulan Maret.
Dia juga mengatakan bahwa Brussels akan memulai pembicaraan dengan pemerintah interim Tunisia tentang pemberian "status maju" untuk hubungan kerjasama dan dagang yang mengalami perkembangan, yang diharapkan akan diratifikasi oleh parlemen baru dalam enam bulan ke depan.
UE telah memulai pembicaraan dengan rezim Ben Ali terkait status itu bulan Mei tahun lalu tapi negosiasinya tidak mengalami perkembangan berarti. (rin/aby) www.suaramedia.com