Hizbut Tahrir: Rezim Mesir Membantai Kaum Muslim Melayani Zionis Yahudi

Hizbut Tahrir di Palestina menyerang dengan keras rezim Mesir setelah insiden pemboman oleh tentara Mesir terhadap terowongan di perbatasan dengan Gaza, yang menyebabkan syahidnya empat warga Muslim Palestina.

Ibrahim Syarif, Anggota Media Informasi Hizbut Tahrir di Palestina menjelaskan: “Bahwa pengkhianatan rezim Mesir benar-benar di luar batas. Apakah tidak cukup penghinaannya selama ini terhada kaum lemah, membiarkan Palestina dan al-Aqsha berada di bawah kotoran Yahudi, mempersilahkan Yahudi mendeklarasikan perang terhadap Gaza dari Kairo, dan kemudian ia berusaha untuk menuai hasil dari perang ini guna kepentingan pendudukan Yahudi, sedang harganya adalah darah kaum Muslim; apakah belum cukup dengan memblokade dan membangun tembok baja, tanpa rasa takut sedikitpun kepada Allah, atau malu kepada manusia. Kemudian ia tanpa segan menyerang mereka yang hidup dalam blokade, terkadang dengan tembakan gas, dan terkadang dengan pemboman?!

Perlu dicatat bahwa otoritas Mesir telah meledakkan beberapa terowongan, yang jumlahnya berkisar mulai dari puluhan hingga ratusan. Dan tindakan keji mereka ini telah memakan korban puluhan pekerja yang sedang mempertaruhkan nyawa mereka untuk mengais sesuap nasi, dan yang terakhir adalah 4 korban syahid dalam pemboman terowongan oleh tentara Mesir pada hari Rabu (28/4).

Terkait alasan pembenaran otoritas Mesir atas tindakan pengeboman, dan penutupan terowongan, maka Syarif mengatakan: “Tampaknya bahwa rezim Mesir tidak berdaya membuat alasan pembenaran untuk meyakinkan siapapun. Sehingga ia berusaha untuk membenarkan kejahatannya dengan lagu lama yang sudah ketinggalan zaman, yaitu alasan keamanan nasional. Pertanyaannya adalah tentang nasional yang mana otoritas Mesir itu berbicara? Dan juga tentang ilusi keamanan yang mana ia berbicara? Sementara pesawat-pesawat Israel berkeliaran di perbatasannya, yang sebelumnya telah menyerang tentara Mesir. Bahkan Mesir selalu memohon izin pada Yahudi untuk menambah sekalipun hanya seorang prajurit untuk ditempatkan di perbatasan.”

Selanjutnya Syarif mengatakan: “Rezim Mesir bertindak sebagai antek Yahudi dan pemerintah Amerika. Sehingga kami tidak melihatnya kecuali hanya mengirim utusan untuk memulangkan korban yang meninggal dan tawanan Yahudi, atau berusaha untuk melaksanakan visi AS, dan menekan Hamas agar benar-benar menerima denga jelas syarat yang diajukan Kuartet dengan memperketat embargo, dan menjadikan syarat Kuartet sebagai acuan untuk kepentingan yang memonopolinya.”

Terakhir Syarif dengan tegas menyerukan, “Sungguh telah menjadi sangat jelas bahwa rezim Mesir membantai kaum Muslim, menjadi pelayan kaum pendudukan Yahudi. Untuk itu, bagi mereka yang masih tergantung pada rezim Mesir agar segera melepaskan tangannya dari tangan rezim Mesir. Kemudian menampar wajah rezim Mesir dan rezim-rezim lainnya dengan mengatakan kebenaran, dan menuntut tanggung jawab mereka terhada umat dan tentaranya. Kami merindukan untuk Mesir, pemipin seperti Saifuddin Qtz dan Zahir Baybars yang keduanya mampu menggilas kekuasaan Tatar; kami merindukan untuk Mesir, ulama seperti Izz bin Abdus Salam, yang mampu memobilisasi umat di belakangnya untuk menekan para pemimpin agar berjihad di jalan Allah; dan kami tidak butuh rezim-rezim yang berbicara dalam bahasa kami, namum membantai orang-orang lemah kami, dan menolong musuh-musuh kami. Sungguh dengan izin Allah, perkara ini tidak akan berlangsung lama, hingga rezim-rezim ini lenyap dari hadapan umat. Kemudian umat dipimpin oleh para pemimpin yang menjalankan al-Qur’an dan berjihad di jalan Allah.” (pal-tahrir.info)