Pada saat pergantian tahun, kita akan menyaksikan betapa gencarnya liputan media massa dalam rangka menyambut datangnya tahun 2007M. Terlihat bahwa masyarakat bersuka cita menggantungkan harapan-harapan dengan adanya hal itu.

Sebelum membahas lebih jauh tentang hukum perayaan menyambut tahun baru, mari kita simak terlebih dahulu sejarah penetapan tahun 1 januari sebagai pertanda tahun baru.

Bila melongok sejarahnya, penetapan 1 Januari sebagai pertanda Tahun Baru bermula pada abad 46 Sebelum Masehi (SM). Ketika itu Kaisar Julius Caesar membuat kalender Matahari. Kalender yang dinilai lebih akurat ketimbang kalender-kalender lain pernah dibuat sebelumnya.

Sebelum Caesar membuat kalender Matahari, pada abad 153 SM, Janus seorang pendongeng di Roma yang menetapkan awal mula tahun. Dengan dua wajahnya, Janus mampu melihat kejadian di masa lalu dan masa depan. Dialah yang menjadi simbol kuno resolusi (sebuah pencapaian) Tahun Baru. Bangsa Roma berharap dengan dimulainya tahun yang baru, kesalahan-kesalahan di masa lalu dapat dimaafkan. Sebagai penebus dosa, tahun baru juga ditandai dengan tukar kado.Setelah menyimak sejarahnya, marilah kita lihat dalil-dalil dari Kitabullah, as-Sunnah dan atsar-atsar yang shahih yang melarang untuk menyerupai orang-orang kafir di dalam hal yang menjadi ciri dan kekhususan mereka.

Seperti yang telah dijelaskan diatas, bahwa tahun baru masehi awalnya merupakan suatu ritual Bangsa Roma, dan bahkan dianggap sebagai penebus dosa.

Tahun baru merupakan suatu hari yang datang kembali dan terulang, yang diagung-agungkan oleh orang-orang kafir. Atau sebutan bagi tempat orang-orang kafir dalam menyelenggarakan perkumpulan keagamaan. Jadi, setiap perbuatan yang mereka ada-adakan di tempat-tempat atau waktu-waktu seperti ini maka itu termasuk hari besar mereka. Karenanya, larangannya bukan hanya terhadap hari-hari besar yang khusus buat mereka saja, akan tetapi setiap waktu dan tempat yang mereka agungkan yang sesungguhnya tidak ada landasannya di dalam agama Islam, demikian pula, perbuatan-perbuatan yang mereka ada-adakan di dalamnya juga termasuk ke dalam hal itu. Ditambah lagi dengan hari-hari sebelum dan sesudahnya yang nilai religiusnya bagi mereka sama saja sebagaimana yang disinggung oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah. Di antara ayat yang menyebutkan secara khusus larangan menyerupai hari-hari besar mereka adalah firmanNya.

"Dan orang-orang yang tidak menyaksikan az-zuur." [Al-Furqan : 72]

Ayat ini berkaitan dengan salah satu sifat para hamba Allah yang beriman. Sekelompok ulama seperti Ibnu Sirin, Mujahid dan Ar-Rabi’ bin Anas menafsirkan kata "Az-Zuura" (di dalam ayat tersebut) sebagai hari-hari besar orang kafir.

Dalam hadits yang shahih dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Saat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, mereka memiliki dua hari besar untuk bermain-main. Lalu beliau bertanya, "Dua hari untuk apa ini ?". Mereka menjawab, "Dua hari di mana kami sering bermain-main di masa Jahiliyyah". Lantas beliau bersabda. Artinya : "Sesungguhnya Allah telah menggantikan bagi kalian untuk keduanya dua hari yang lebih baik dari keduanya : Iedul Adha dan Iedul Fithri"

Demikian pula terdapat hadits yang shahih dari Tsabit bin Adl-Dlahhak Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya dia berkata, "Seorang laki-laki telah bernadzar pada masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyembelih onta sebagai qurban di Buwanah. Lalu dia mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sembari berkata.

"Artinya : Sesungguhnya aku telah bernadzar untuk menyembelih onta sebagai qurban di Buwanah. Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, ‘Apakah di dalamnya terdapat salah satu dari berhala-berhala Jahiliyyah yang disembah ? Mereka menjawab, ‘Tidak’. Beliau bertanya lagi. ‘Apakah di dalamnya terdapat salah satu dari hari-hari besar mereka ?’. Mereka menjawab, ‘Tidak’. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Tepatilah nadzarmu karena tidak perlu menepati nadzar di dalam berbuat maksiat kepada Allah dan di dalam hal yang tidak dipunyai (tidak mampu dilakukan) oleh manusia"

Umar bin Al-Khaththtab Radhiyallahu ‘anhu berkata, "Janganlah kalian mengunjungi kaum musyrikin di gereja-gereja (rumah-rumah ibadah) mereka pada hari besar mereka karena sesungguhnya kemurkaan Allah akan turun atas mereka"

Dia berkata lagi, "Hindarilah musuh-musuh Allah pada momentum hari-hari besar mereka"

Dan dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, "Barangsiapa yang berdiam di negeri-negeri orang asing, lalu membuat tahun baru dan festifal seperti mereka serta menyerupai mereka hingga dia mati dalam kondisi demikian, maka kelak dia akan dikumpulkan pada hari kiamat bersama mereka".

Berdasarkan paparan yang telah dikemukakan di atas, maka tidak boleh hukumnya seorang Muslim yang beriman kepada Allah sebagai Rabb dan Islam sebagai agama serta Muhammad sebagai Nabi dan Rasul, mengadakan perayaan-perayaan hari-hari besar yang tidak ada landasannya dalam Agama Islam, termasuk diantaranya pesta ‘Tahun Baru’. Juga, tidak boleh hadir pada acaranya, berpartisipasi dan membantu dalam pelaksanaannya dalam bentuk apapun karena hal itu termasuk dosa dan melampaui aturan-aturan Allah sedangkan Allah sendiri terlah berfirman, "Dan janganlah bertolong-tolongan di atas berbuat dosa dan melampaui batas, bertakwalah kepada Allah karena sesungguhnya Allah amat pedih siksaanNya" [Al-Maidah : 2]

Namun sangat disayangkan masih banyak di antara kaum muslimin yang meniru-niru perayaan mereka. Bahkan ada yang ikut serta merayakan hari raya mereka. Di antaranya ada yang memberikan ucapan selamat atau ikut meramaikannya dengan berbagai acara seperti meniup terompet pada malam tahun baru dan yang semisalnya. Serta memasang hiasan-hiasan di rumahnya pada saat perayaan mereka.

Ini bukan berarti kaum muslimin mengabaikan serta tidak mengambil pelajaran dari peristiwa-peristiwa tersebut. Bahkan kaum muslimin senantiasa dituntut untuk selalu mengisi hari-harinya dengan kegiatan yang bermanfaat dan diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Namun (hal ini dilarang) karena perayaan adalah salah satu bentuk ibadah yang tidak boleh dikhususkan dengan dilakukan secara berulang-ulang (ditradisikan, red) kecuali ada perintah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala atau Rasul-Nya.

Jika orang-orang terbaik dari umat ini (Rasul dan para sahabat) tidak melakukannya, lalu apa yang menyebabkan seseorang melakukannya? Apakah dirinya merasa lebih tahu dan lebih tinggi ilmunya dari para shahabat? Ataukah dia menganggap para shahabat lebih tahu namun mereka tidak mau mengamalkan ilmunya?

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.

Wa Shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad Wa Alihi Wa Shahbihi

Sumber : detikhot
almanhaj

(Arrahmah.com) – Sejak Sabtu (27/12), Israel terus-menerus mebombardir Gaza tanpa belas kasihan. Korban gugur telah mencapai 300 orang lebih, termasuk diantaranya anak-anak dan perempuan. Tidak hanya nyawa, tentara zionis Israel pun haus akan hancurnya mesjid-mesjid yang menjadi tempat ibadah Muslim Palestina.

Di bawah ini adalah tulisan yang kami kutip dari http://www.hidayatullah.com, menyebutkan 10 cara yang jika kita lakukan, kita termasuk mendukung zionis Israel. Maka berhati-hatilah.

Banyak orang menilai, membeli produk Amerika dan Yahudi tak berdampak apa-apa. Padahal Yahudi sendiri mengatakan, 54 cara, Anda telah membantunya. Apa saja? Diantaranya membeli produk buatan mereka demi mendukung perekonomian mereka.

Banyak orang menilai, membeli produk Amerika dan Yahudi, mengibarkan bendera Israel bahkan sekedar memakai kalung “Bintang David” tak ada sangkut-pautnya dengan dukungan terhadap Israel. Siapa bilang?

“Banyak misinformasi di luaran sana. Terutama ketika sebuah insiden terjadi di Israel. Kunjungi situs Kementerian Luar Negeri Israel (http://www.mfa.gov.il) dan situs Pertahanan Israel (http://www.idf.il) guna memperoleh cerita dari sudut pandang Israel,” demikian bunyi poin ke 33 dari “54 Cara Bagaimana Mendukung Israel”.

Ringan dan tidak terlalu berat. Cukup membaca berita dari sudut pandang Israel, Anda sudah dianggap “mendukung zionis”. Bahkan Anda tidak perlu mengeluarkan uang jutaan rupiah untuk dikirim ke Yerusalem atau Israel, yang jelas-jelas lebih kelihatan dianggap menyumbang Zionis.

Tapi tips seperti itulah yang digalakkan kalangan Zionis-Israel untuk mendapatkan simpati dunia, bahwa dirinya ada dipihak yang benar. Sekurang-kurangnya, Anda bersimpati atas tindakannya sudah bentuk dukungan moril.

Banyak orang menilai, membeli produk Amerika dan Yahudi itu tak ada sangkut paut dengan sikap keberpihakan pada Yahudi. Bahkan ketika salah seorang pemain Extravaganza di sebuah stasiun televisi swasta kita mengenakan kalung bergambar “Bintang David” --yang nota-bene adalah lambang dan bendera Israel—atau penyanyi Ahmad Dani bangga gambar itu, seolah-olah tak ada sangkut-pautnya dengan dukungan terhadap Zionis-Israel. Siapa bilang???

Ahmad Dani dan bagi mereka yang tak paham sepak terjang Yahudi, sebaiknya bacalah baik-baik artikel ini dan beberapa pesan dari media-media Yahudi di bawah ini. Juli tahun 2006 lalu --terutama ketika Zionis-Israel banyak mendapat tekanan dunia karena menyerang Libanon-- bermunculan pesan melalui internet berupa kampanye menggalang opini Yahudi-Israel.

Sederhana. Rata-rata mengajak orang berempati dan bersimpati, syukur-syukur memberikan dukungan uang dana dan investasi ke tanah Israel. Jika uang dan investasi tak punya, cukup kiriman bunga. Jika itu tak bisa pula, dukunglah dengan do’a atau besimpatilah atas banyaknya warga Israel yang meninggal oleh bom bunuh diri.

Beberapa media Yahudi itu bisa Anda klik, di http://www.ou.org/Israel// dan http://www.ujc.org. Situs ini memberikan 10 tips bagaimana harus mendukung Yahudi. Ada juga situs http://www.25waystohelpisrael.com, yang memberikan 25 tips bagaimana seharusnya Anda bisa membantu Yahudi. Yang paling banyak adalah situs http://www.aish.com. Karena tidak tanggung-tanggung, mengeluarkan petunjuk “54 Ways You Can Help Israel” [54 cara Anda bisa mendukung Israel].

Lantas apa saja yang dianggap mendukung kaum Zionis itu? Diantaranya; membeli produk Yahudi, unjuk rasa mendukung Yahudi atau Israel, melakukan perjalanan ke Israel, menulis surat dukungan terhadap berdirinya Negara Israel Raya baik ke pihak terkait (termasuk ke Gedung Putih) dan mengibarkan bendera atau simbol-simbol Israel (Yahudi). Sekurang-kurangnya bersimpati denganya.

Di bawah ini adalah 10 cara, yang kemungkinan sering kita lakukan secara tidak terasa.

1. Membeli produk serta jasa AS/Israel

Bagi Yahudi & Israel, peran ini sangat vital. Situs Yahudi, http://www.aish.com menulis, dengan penderitaan ekonomi yang Kami (Israel) alami, membeli produk Yahudi sama halnya meningkatkan ekspor Israel.

2. Berkunjung ke Israel

“Kunjungi Israel untuk berlibur, sekolah, atau menjumpai keluarga. Dorong organisasi-organisasi lokal Anda untuk mensponsori kunjungan in, dalam bentuk study tour, religious tour, Bar/Bat Mitzvah tour-- bisa untukk 3-10 hari. Habiskan sebanyak mungkin uang Anda untuk membantu ekonomi Israel. “Hotel, toko, restoran di Israel kekurangan turis,” demikian tulis media Yahudi.

"Mengunjungi Israel akan menunjukkan kepada orang-orang Israel bahwa Anda peduli, dan akan membuat perbedaan yang hebat. Buatlah motto; “Turisme melawan Terorisme!"," tambahnya.

3. Mengibarkan bendera atau lambang Israel

Bagi Israel, dukungan tak harus uang atau dana. Cukup mengibarkan bendera atau simbol-simbol Yahudi lain, Anda sudah ikut memberikan harapan dan support.

Banyak orang tak menyangka, sekedar memakai kalung “Bintang David” saja adalah sebuah dukungan. “Kibarkan bendera Israel di depan rumah Anda, gereja dll. Biarkan semua orang tahu bahwa Anda bangga terhadap Israel. Pasang sebuah stiker bertuliskan “Saya Mendukung Israel” di belakang mobil. Pakailah pin gambar bendera kombinasi Amerika/Israel. Jika Anda tidak dapat menemukan bendera Israel, buatlah sendiri, atau suruh anak-anak kecil menggambarnya, lalu pasang di jendela atau kantor,” demikian dikutip dari http://www.aish.com/

4. Meyakini Holocaust

Holocaust adalah istilah yang sering dikutip kalangan Yahudi tentang adanya pembantaian massa puluhan juta penganutnya oleh Nazi di kamp Treblinka II di Polandia. Namun penelitian membuktikan tak ada pembantaian kaum Yahudi di kamar gas. Istilah itu dimunculkan guna mencari simpati dunia. Jika yakin, Anda telah mendukungnya.

“Belajarlah tentang holocaust untuk membantu kita mengerti dalamnya anti-Yahudi (anti-Semit) dan akar penyebabnya. Bungkamlah seluruh bahasa anti-Semit dimanapun Anda berada. Bersiaplah melawan kebencian mereka, apapun konsekuensinya,” tulis media Yahudi.

5. Tidak Berpihak pada Palestina

Meski di pihak terdzalimi dan dijajah, media Barat (bahkan pers Indonesia) kerap memposisikan Palestina sebagai kelompok radikal. Sebalinya, Israel (meski penjajah) di pihak yang benar (dalam posisi menumpas terorisme). Jika Anda yakini itu, Anda telah membantu Yahudi.

6. Bersimpati pada Israel

Cukup bersimpati saja, sudah dukungan. Kata kaum Yahudi,"Banyak misinformasi di luar sana. Ketika sebuah insiden terjadi di Israel, kunjungi situs Kementerian Luar Negeri Israel http://www.mfa.gov.il dan Kekuatan Pertahanan Israel http://www.idf.il/english/news/main.stm guna memperoleh cerita dari sudut pandang Israel.”

7. Belajar bahasa Yahudi &

8. Mempelajari Taurat (Tora)

Untuk poit 7 & 8, jika dimaksudkan untuk semakin mendakatkan hati Anda dengan bangsa Yahudi dan Israel.

9. Berinvestasi ke Israel

10. Mendukung berdirinya Negara Israel

Ilustrasi diambil dari situs Israel: http://www.aish.com.
Artikel ini dapat diprint dan ditempel di masjid-masjid atau di kantor Anda!

Syabab.Com - Depresi dan kecemasan warga Amerika mulai tampak akibat krisis global saat ini. Bahkan, krisis ekonomi yang melanda AS telah memicu banyak orang berpikiran pendek. Beberapa di antaranya memilih bunuh diri untuk mengatasi masalahnya. Ideologi Kapitalisme berakar dari akidah sekulasime, pemisahan agama dari kehidupan, benar-benar ideologi yang rusak yang layak ditinggalkan.

Kasus terbaru paling menggemparkan ketika seorang menejer keuangan di California membunuh enam angota keluarganya lalu bunuh diri karena stres tak kunjung mendapatkan pekerjaan, pekan lalu. Kasus lain, seorang janda berusia 90 tahun menembak dadanya sendiri saat petugas datang untuk menyita rumah yang telah ia tempati selama 38 tahun.

Di Massachusetts, seorang ibu rumah tangga mengirimkan pesan kepada sebuah perusahaan hipotek: “Jika saat ini Anda menyita rumahku, saya akan mati.” Wanita bernama Carlene Balderrama itu kemudian menembak dirinya hingga tewas. Ia meninggalkan sebuah polis asuransi dan pesan bunuh diri di atas meja. Switchboard Miami mencatat terdapat lebih dari 500 permintaan sita tahun ini.

Kini, Pemerintah AS cemas krisis keuangan akan meningkatkan aksi kekerasan dan bunuh diri. Karena itu, pemerintah meminta warga yang mengalami masalah segera meminta bantuan. Di beberapa tempat, seperti dilaporkan CNN, Selasa (14/10), hotline kesehatan mental dibanjiri pelanggan. Pelanggan layanan jasa konseling juga meningkat.

“Saya mendengar banyak orang mengatakan ini (krisis) paling mencemaskan setelah 9/11 (serangan teroris di WTC menewaskan 3.000 orang),” kata Pendeta Canon Ann Malonee dari Trinity Church di New York.

Ketika tidak ada lagi tempat mengadu, banyak orang menelepon hotline pencegahan bunuh diri. Sebuah hotline pencegahan bunuh diri, Samaritans New York, mencatat ada peningkatan penelepon sebanyak 16 persen dibandingkan tahun lalu. Banyak di antaranya karena kasus ekonomi.

“Banyak orang mengadu kepada kami, mereka kehilangan segalanya. Mereka kehilangan rumah mereka, mereka kehilangan pekerjaan,” kata Virginia Cervasio, direktur eksekutif pusat pencegahan bunuh diri di Lee County, Florida tenggara.

Demikianlah realitas akibat dijalankannya sitem rusak, sistem kapitalisme, telah membawa manusia pada kerusakan dan kesengsaraan. Adakah sistem alternatif lain, selain kapitalisme? Ya, tentu ada: sistem ekonomi Islam, bukan saja alternatif tetapi kewajiban bagi kaum Muslim untuk menerapkannya. Karena Islam itu sistem yang lengkap dan paripurna, mengatur segala aspek, termasuk ekonomi. Khilafah Islamiyyah yang akan menerapkanya secara sempurna di berbagai negeri. [f/kmps/syabab.com]

Syabab.Com - Agenda pembunuhan atas nama "war on terrorism" terus berlangung di Pakistan. Baru-baru ini, 60 orang pejuang Muslim yang dianggap sebagai pro-Taliban dibunuh melalui serangan helikopter meriam dan jet tempur Pakistan, Jumat (17/10/08). Menurut seorang pejabat, jet-jet tempur itu membom sebuah kamp pelatihan besar dan gua tempat persembunyian kelompok Taliban di kawasan pegunungan. Kebrutalan pasukan Pakistan ini tentunya saja memakan korban banyak.

"Pasukan keamanan menghancurkan sebuah kamp pelatihan dan tempat persembunyian militan di Peochar di lembah Swat, menewaskan 60 orang dari mereka dan mencederai puluhan lain," kata seorang pejabat tinggi keamanan kepada media.

Beberapa sumber dari daerah itu memastikan bahwa 60 orang tewas dalam serangan udara itu dan jumlah kematian mungkin akan naik karena mayat-mayat masih ditemukan di gua tempat mereka yang diserang.

Sebelumnya, seorang pejabat tinggi keamanan mengatakan bahwa serangan udara itu dilakukan di Bajaur dimana pasukan Pakistan dan gerilyawan muslim terlibat dalam pertempuran sengit sejak Agustus. menewaskan 10 orang.

"Helikopter meriam dan jet tempur Pakistan membom tempat persembunyian militan, menewaskan 10 pemberontak dan mencederai 13 lain," kata seorang pejabat tinggi keamanan sebelumnya kepada AFP.

Khar, kota utama di Bajaur, tetap dikenai jam malam ketat, dan selebaran-selebaran yang meminta penduduk mengusir militan dijatuhkan dari sebuah helikopter pada Jumat, kata warga setempat.

Badan pengungsi PBB mengatakan belum lama ini, hampir 190.000 orang meninggalkan rumah mereka di Bajaur sejak pertempuran itu dimulai.

"Jumlah ini mencakup lebih dari 168.000 orang Pakistan yang kini berlindung di Provinsi Perbatasan Baratlaut dan 20.000 orang Pakistan dan Afghanistan yang melarikan diri ke Afghanistan timur," kata badan PBB itu.

Militer Pakistan menyatakan pada akhir September, Bajaur dilanda sejumlah pertempuran paling sengit sejak Pakistan bergabung dalam perang pimpinan AS melawan teror pada 2001.

Menurut militer, lebih dari 1.000 orang--tentu saja dari kalangan Muslim--tewas sejak mereka melancarkan ofensif di Bajaur pada awal Agustus, termasuk komandan operasional Al-Qaeda di kawasan itu, Abu Saeed Al-Masri yang berkebangsaan Mesir.

Bajaur, yang berbatasan dengan provinsi Kunar, Afghanistan, yang dilanda kekerasan, menjadi ajang sejumlah pertempuran sengit antara pasukan Pakistan dan gerilyawan muslim garis keras sejak Islamabad bergabung dengan AS dalam "perang melawan teror" pada 2001.

Daerah itu juga dihantam serangan rudal yang hampir mengenai Zawahiri, orang kedua Osama bin Laden, pada Januari 2006.

Terdapat sekitar 70.000 pengungsi Afghanistan di Bajaur, yang tinggal di sana sejak akhir 1970-an setelah mereka melarikan diri dari invasi Uni Sovyet ke Afghanistan.

Kawasan suku Pakistan dilanda kekerasan sejak ratusan Taliban dan gerilyawan Al-Qaeda melarikan diri ke wilayah itu setelah invasi pimpinan AS pada akhir 2001 menggulingkan pemerintah Taliban di Afghanistan.

Pasukan Amerika menuding, daerah perbatasan itu digunakan kelompok militan sebagai tempat untuk melakukan pelatihan, penyusunan kembali kekuatan dan peluncuran serangan terhadap pasukan koalisi di Afghanistan.

Pakistan mendapat tekanan internasional yang meningkat agar menumpas kelompok militan di wilayah baratlaut dan zona suku di tengah meningkatnya serangan-serangan lintas-batas pemberontak terhadap pasukan internasional di Afghanistan.

Hari Sabtu (18/10/08), sekitar 168 orang yang dianggap militan ditangkap, seperti dinyatakan dalam pernyataan tentara Pakistan.

Sementara itu, ribuan orang kaum Muslim pada hari yang sama turun ke jalan di Peshawar menentang keras kebrutalan tentara Pakistan yang telah menjadi budak Amerika. Mereka meneriakkan slogan "Anti Amerika". Sebuah spanduk bertuliskan "Orang yang tidak suka Amerika Gabung pada aksi ini".

Beberapa media barat, senantiasa menghubungkan kelompok Taliban ini dengan peristiwa 11 September. Semakin jelas, tindakan pasukan Pakistan ini hanya meneruskan keinginan Amerika Serikat dalam aksi pembunuhan atas kaum Muslim melalui baju kampanye global "war on terrorism" yang sebenarnya tiada lain "war on Islam".

Demikianlah, pembunuhan atas kaum Muslim terus terjadi bahkan dilakukan oleh tentara yang kebanyakan Muslim juga. Sungguh potensi umat yang besar ini telah dimanfaatkan oleh para penguasa yang mengekor kepada tuan-tuan mereka, serta tunduk pada titah mereka. Mengapa pasukan Pakistan terus menerus menggempur orang-orang di kawasan pegunungan, sementara mereka berdiam diri atas pembunuhan yang dilakukan tentara Amerika di perbatasan pakistan, Afghanistan dan Irak? Jadi pembunuhan mereka atas kaum Muslim yang yang dituduh pendukung Taliban itu sebenarnya atas titah siapa?

Menyedihkan, hari ini potensi umat yang begitu besar dengan tentaranya yang banyak hanya digunakan untuk membunuh kaum Muslim sendiri. Ini terjadi ketika kaum Muslim tak memiliki kekuatan, tidak ada Khilafah. Suatu hari nanti, Khilafah akan mengembalikan potensi umat tersebut untuk membebaskan negeri-negeri Muslim. Insya Allah. [m/f/z/ant/syabab.com]

Sejumlah lembaga internasional mengungkapkan rasa kekhawatirannya atas terus meningginya jumlah penduduk miskin di dunia. Meningkatnya jumlah penduduk miskin dunia mengakibatkan1 milyar manusia pada 2009 terancam kelaparan. Seribu orang juga dilaporkan tewas setiap harinya akibat kekurangan gizi. Hal ini disampaikannya ketika memperingati hari pangan sedunia yang jatuh pada 16 Oktober.
“Indikator Kelaparan”, sebuah laporan tahunan yang dikeluarkan oleh Institute Riset Kebijakan Pangan Global di AS, baru-baru ini, mengatakan, bahwa data jumlah orang-orang kelaparan meningkat. Pada tahun 2007 mencapai 848 jutar orang menjadi 923 juta jiwa untuk tahun 2008. Sementara sebanyak 25 ribu manusia mati setiap harinya akibat menderita gizi buruk, sebagian besar dari mereka adalah anak-anak.

Para analis memperkirakan jumlah orang lapar dunia akan mencapai 1 milyar orang pada tahun 2009. Hal ini dikarenakan sejumlah negara-negara kaya akan mengurangi subsidinya kepada negara-negara miskin dan berkembang. Negara-negara kaya akan lebih banyak mengarahkan aset finansialnya untuk membenahi sektor perbankan dan keuangan yang kolaps akibat krisis global.

Menurut laporan tersebut, krisis kelaparan akan mengenai 88 negara sebagian besar berada di benua Afrika, Amerika Latin dan Asia Tengah. Para analis mengkategorikan 33 negara ke dalam kondisi " sangat berbahaya".

Laporan tersebut menyebutkan bahwa 1 milyar manusia itu tidak seluruhnya menanggung kesalahan kelangkaan pangan. tapi krisis pangan disebabkan oleh banyak faktor, antara lain, bencana alam, perang dan konflik, perubahan iklim yang mengakibatkan terjadinya kekeringan parah dan bencana banjir, disamping akibat tindakan spekulan di pasar dunia dan persaingan industri bio energi.

Meski harga sejumlah bahan biji-bijian seperti gandum dan jagung mengalami penurunan, tapi harganya untuk saat ini telah meningkat 62 persen dibandingan dengan harga pada tahun 2002.

Theresa Kafaro, Peneliti pada Pusat Oksham Inggris, LSM yang bergerak di bidang peningkatan pangan, mengatakan, saatnya negara-negara dan pemerintahan untuk memperbesar peran negara di sektor pertanian dan sentralisasi kebijakan. Hal ini, menurut Theresa, sangat penting dalam rangka memberi perlindungan sosial bagi rakyat di bidang pemenuhan kebutuhan pangan.

Dia mengecam keras, kecenderungan pasar pangan saat ini yang mengarah pada pengurangan peran negara di sektor pertanian dan pangan, sebaliknya memperbesar peran swasta.

" liberalisasi sektor pertanian seperti ini, yang telah membawa petaki bagi jutaan manusia tak berdosa yang mati kelaparan akibat krisis harga pangan dunia", tegas Theresa.

Di saat harga pangan dunia meningkat tajam, namun ironisanya, perusahaan-perusahaan raksasa dibidang produksi makanan justru meraup keuntungan yang berlipat.

Dalam laporannya, Oksham menyebutkan, laba bersih yang diperoleh perusahaan raksasa, seperti Nestle mengalami peningkatan sebesar 9 persen dibandingkan tahun lalu. Hal yang sama juga dialami perusahaan Monsanto untuk proudksi biji-bijian, meningkat 26 persen hingga mencapai 3,6 milyar dollar. [syarif/alj/www.suara-islam.com]

HTI Press. Para pemimpin Iran menyatakan krisis finansial global merupakan pertanda berakhirnya kapitalisme, kegagalan demokrasi liberal dan hukuman Tuhan.

Seluruh kejadian ini merupakan tanda keunggulan model politik republik Islam itu, kata mereka, seperti dilaporkan AFP.

“Ajaran Marxisme telah ambruk dan suara meletusnya demokrasi liberal Barat kini terdengar,” kata pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, Senin, menceritakan kembali nasib Uni Sovyet.

Presiden Mahmoud Ahmadinejad yang berhaluan keras, yang mendapat dukungan Khamenei, menyatakan Selasa bahwa “krisis tersebut merupakan akhir kapitalisme.”

Keyakinan semacam ini dapat dirunut kembali ke cita-cita revoilusi Islam pada 1979, yang berusaha dibangkitkan kembali oleh Ahmadinejad sejak ia berkuasa pada 2005.

Presiden Iran itu, yang tak pernah sedikit pun melewatkan kesempatan untuk mengecam “kemunduran” Barat sejak terpilih sebagai presiden Iran, telah memanfaatkan parahnya krisis global untuk menyampaikan berbagai pendapatnya.

Iran beruntung pasar sahamnya tak terpengaruh dengan jatuhnya bursa di negara-negara tetangganya di kawasan Teluk. Stabilitas itu dikaitkan dengan absennya para investor asing dan cekaman kuat pemerintah atas kegiatan ekonomi.

Melupakan Tuhan dan Kesalehan

Beberapa koran Iran, apakah mereka reformis atau konservatif, juga telah menuding krisis ekonomi global sebagai akibat liberalisme yang berlebihan.

Dan beberapa pejabat, seperti kepala badan pengawas pemilu Iran, mengajukan beberapa teori yang sedikit konvensional dan menyebut gejolak tersebut sebagai “laknat Tuhan”.

“Orang-orang merasakan akibat perbuatan mereka yang buruk. Masalah ini telah menyebar ke Eropa ini yang membuat kita merasa gembira.”

Ahmadinejad belum lama ini sependapat dengan hal itu, dengan menyatakan “penyebab kekalahan mereka adalah mereka telah melupakan Tuhan dan kesalehan.”

Krisis finansial akan menjadi isyarat Tuhan bahwa “kaum penindas dan korup akan digantikan dengan kesalehan dan orang yang beriman,” ujarnya, sambil menambahkan bahwa “sistem perbankan syariah akan membantu kita bertahan dari krisis ekonomi saat ini.”

Khamenei menyambut “kemenangan revolusi Islam” dalam menghadapi ideologi Marxis dan liberal. “Kini tak ada jejak Marxisme di dunia dan bahkan leberalisme kini menyurut,” kata pemimpin sangat berpengaruh itu.

Pemerintah Iran memandang konsep demokrasi dan hak azasi manusia sebagai “alat imperialis” untuk menguasai negara lain. (ant)

Syabab.Com - Barisan Ansor Serbaguna (Banser) DKI Jakarta menegaskan, pihaknya tak ikut campur perkara ricuh antara massa Front Pembela Islam (FPI) dengan para aktivis Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB). Waspada ada upaya adu domba antar komponen umat Islam. Siapa aktor di balik itu semua?
Kepala Satuan Koordinasi Wilayah (Satkorwil) Banser DKI Jakarta, Avianto Muhtadi, mengatakan, isu bahwa Banser terlibat dalam bentrok massa FPI dan aktivis AKKBB di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada Kamis (25/9) kemarin, merupakan fitnah tak berdasar.

“Terutama terkait isu bentrok FPI-Banser, kami Satkorwil Banser DKI Jakarta menyatakan tidak pernah menginstruksikan jajarannya untuk terlibat dalam kasus tersebut,” jelas Avianto dalam pernyataan tertulisnya, Jumat (26/9).

Avianto sangat menyesalkan tindakan yang dinilainya sebagai bentuk penghasutan terhadap pemakaian kaos bergambar Banser pada kejadian tersebut. Ia pun meminta kepada aparat penegak hukum agar segera bertindak tegas pada para pelakunya.

Ada Upaya Pecah Belah

Ricuh pada sidang kasus tragedi Monas 1 Juni 2008 dengan terdakwa Ketua FPI Rizieq Shihab itu, tak ada hubungannya dengan Banser. Namun, Rizieq menyebutkan bahwa anggotanya menemukan kaos bertuliskan Banser. Menurutnya, kaos yang dikenakan orang-orang itu, dia sebut 'preman'. Padahal, katanya, Banser adalah benteng ulama, bukan preman.

Selain itu, usai kejadian tersebut, ditemukan pula sebuah tas yang di dalamnya terdapat majalah Kontras. "Anda tahu, kan, ini siapa di baliknya," kata Rizieq dalam jumpa pers di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Jalan Gadjah Mada, kemarin.

Ada pula buku dengan sampul bergambar Gus Dur (Ketua Umum Dewan Syura DPP Partai Kebangkitan Bangsa, KH Abdurrahman Wahid). "Dan, Anda tahu lagi di dalamnya kita temukan ada 33 nama-nama ‘preman’ yang didatangkan hari ini," tambahnya.

Rizieq meminta masyarakat memperhatikan tulisan Gus Nuril di bawah tulisan Banser. Ia mempersilakan agar khalayak mengecek apakah mereka benar-benar di bawah komando Gus Nuril (mantan Panglima Pasukan Berani Mati).

Semua bukti tersebut diperlihatkan oleh Habib Ali pada saat wawancara di tvOne, Kamis malam (25/09/08). Dalam acara tersebut dihadirkan pula Guntur Romli di studio yang berbeda. Aktivis AKKBB tersebut mengiyakan temannya menggunakan kaos Banser.

"Tetapi yang terjadi Banser diserang oleh Front Pembela Islam, dan kami mendapatkan dukungan dari Banser dan Garda Bangsa," bela Guntur dalam sebuah wawancara di tvOne, semalam.

Sempat Diragukan

Sejak awal, Munarman meragukan kredibilitas Guntur, saat menulis bahwa Umar bin Khathab pernah melakukan anal seks [baca: Sebut Sahabat Umar ra Pelaku Anal Seks, Munarman Ragukan Kredibilitas Guntur Romli ]. Namun, Guntur berkilah bahwa Guntur tidak mengakui soal tulisannya tersebut. Ia beralasan apa yang dia tulis tidak persis seperti itu. Sementara setelah mendapatkan izin majelis hakim, Munarman menunjukkan berkas tulisan-tulisan tersebut pada Guntur, jaksa dan pengacaranya. dan berkilah

Patut diketahui, Guntur Romli merupakan aktivis JIL, sebuah lembaga yang ditengarai banyak menerima donasi dari AS. Banyak tokoh-tokoh JIL yang mendapat beasiswa studi di AS dan mereka ini menjadi “orang-orang Islam” yang sering mengeluarkan pendapat yang aneh-aneh dan kontroversial tentang Islam itu sendiri.

Bagi banyak ulama, JIL dianggap sebagai kaki tangan kepentingan Zionis di Indonesia karena juga bergabung dengan Libforall, induk organisasi mereka yang dipimpin seorang Yahudi Amerika bernama Holland M. Taylor (www.libforall.com). Holand Taylor inilah yang mendampingi Abdurrahman Wahid menerima Medali Penghargaan (medal of Valor) dari petinggi Zionis Yahudi-Amerika di AS akhir Mei lalu.

Beberapa waktu lalu, Rand Coorporations [baca: Insiden Monas dan Pecah Belah Ala RAND Corporation ] merekomendasikan untuk memecah belah umat Islam dengan politik belah bambu. Mendukung satu pihak dan menjatuhkan pihak lain, berikutnya membentrokkan antar kelompok tersebut. Mungkinkah bentrokan kemarin, untuk menjalankan skenario asing tersebut? [m/nu/era/tvone/syabab.com]

Syabab.Com - Pakistan mengatakan, Jumat (26/09/08), bahwa tentara telah membunuh 1.000 pejuang Muslim yang mereka menyebutnya sebagai militan Islam dalam serangan sangat besar, satu hari setelah Presiden Asif Ali Zardari mengecam pasukan AS soal bentrokan di perbatasan Afghanistan. Sungguh menyedihkan, pihak tentara Pakistan beraninya hanya membunuh kaum Muslim bukannya mengusir tentara teroris yang sesungguhnya, Amerika.
Seorang pejabat penting mengatakan, diantara mereka yang tewas selama sebulan dalam operasi di Bajaur adalah lima komandan utama al Qaida dan Taliban. Saat ini daerah suku tidak stabil di Pakistan yang paling menghadapi kesulitan di sepanjang perbatasan yang keropos itu.

Ketidakstabilan dan krisis semakin mencengkeram Pakistan sejak pemboman hotel Marriott di Islamabad akhir pekan lalu, tiga pembom bunuh diri meledakkan diri mereka dalam tembak-menembak dengan polisi di Karachi.

Secara terpisah, enam orang, termasuk tiga anak, tewas ketika sebuah bom menggelincirkan kereta api penumpang dekat kota Bahawalpur di Pakistan tengah, seorang pejabat kereta api mengatakan.

Wartawan diterbangkan dengan helikopter ke Khar, kota penting di Bajaur yang resah, untuk diberi penjelasan mengenai operasi miler yang dilancarkan Agustus terhadap militan Islam yang telah menguasai sebagian besar dari daerah itu.

"Korban seluruhnya adalah 1.000 lebih militan," kata Tariq Khan, inspektur jenderal paramiliter Korps Perbatasan, yang menambahkan bahwa 27 tentara juga tewas dalam pertempuran itu.

"Ini pusat graviti bagi militan," kata Khan pada wartawan. "Jika mereka kehilangan di sini mereka kehilangan apa saja."

Dari komandan pejuang muslim yang tewas itu, empat tampaknya orang asing: warga Mesir Abu Saeed al-Masri, Abu Sulaiman, seorang Arab; komandan Uzbek bernama Mullah Mansoor, dan seorang komandan Afghanistan yang dipanggil Manaras.

Komandan kelima adalah warga Pakistan yang hanya dipanggil Abdullah, anak laki-laki pemimpin kelompok Islam yang sudah tua Maulvi Faqir Mohammad yang bermarkas di Bajaur dan media selalu menyebut memiliki hubungan dekat dengan komandan nomer dua al Qaida Ayman al-Zawahiri.

Bajaur, yang berbatasan dengan provinsi Kunar, Afghanistan, telah melihat beberapa pertempuran sengit antara pasukan Pakistan dan pejuang Islam sejak bekas penguasa militer Pervez Musharraf bergabung dengan "perang atas teror" pimpinan-AS 2001.

Operasi tersebut sebagai jawaban atas tekanan internasional pada pemerintah sipil baru Pakistan, yang telah memecat Musharraf bulan lalu, untuk mencegah militan yang bermarkas di Pakistan melancarkan serangan di Afghanistan.

Namun ketegangan telah meluas dengan Washington sejak serangan darat 3 September oleh pasukan AS di Pakistan, yang pertama dari serangan seperti itu sejak 2001, yang menyebabkan sekitar 15 orang tewas, demikian AFP.

Sungguh sangat menyedihkan, tentara Pakistan dipaksa oleh penguasanya untuk ikut dalam agenda "war on terror" yang hanya bisa membunuh para pejuang Muslim, sementara terhadap tentara Amerika Serikat tak bisa apa-apa. Padahal, AS-lah teroris sesungguhnya, yang secara nyata membuat kerusakkan dan ketidaktenangan masyarakat Pakistan.

Naveed Butt, jurubicara Hizbut Tahrir Pakistan dalam sebuah konferensi beberapa waktu lalu mengatakan seruan "war on terror" sebenarnya adalah "perang melawan Islam dan Pakistan". Hal itu tidak membawa apa-apa selain porak poranda, kesengsaraan, kematian dan perusakkan atas Pakistan. Dia mendesak bahwa Pakistan merupakan kekuatan militer dan Nuklir yang kuat yang mampu menantang Amerika, harus bertumpu pada kekuatan ini dan mengusir Amerika untuk menyelamatkan Pakistan.

Sementara, Saad Jigranwi dalam sebuah konferensi yang digelar Hizbut Tahrir Pakistan di Rawalphindi, menekan pasukan tentara harusnya datang untuk mendukung upaya penegakkan Khilafah. Merekalah yang dapat secara praktis mendirikan Khilafah di Pakistan. Yang terjadi malah tentara tersebut membunuh kaum Muslim sendiri. [m/ant/afp/syabab.com]

Syabab.Com - Sengsaranya hidup di tengah jeratan kapitalisme. Akibat kezaliman penguasa yang menyebabkan beban ekonomi yang semakin tinggi mendorong sekitar 5.000 orang berdesak-desakkan untuk berebut zakat senilai Rp. 20.000, Senin (15/09/08). Sekitar 21 orang miskin tewas saat berjuang untuk memperoleh zakat tersebut untuk biaya hidup itu. Sementara 13 orang lainnya luka-luka.

Membludaknya warga miskin yang memburu zakat tersebut mengakibatkan panitia tak bisa menangani insiden tersebut. Kebanyakan yang tewas adalah lansia dan ibu-ibu, karena terinjak-injak, tergencet dan tak bisa bernapas di lautan lautan manusia yang antri menerima zakat.

Warga yang semuanya perempuan itu mulai berdatangan sekitar pukul 06.00 di Musholah al-Roudhotul Jannah, Kelurahan Purutrejom, Kecamatan Purworejo, Kota Pasuruan. Pembagian zakat yang berlangsung tahunan sejak 1990-an itu diprakarsai Haji Soikhon, warga setempat.

Mereka berasal dari penjuru Kota Pasuruan dan Kabupaten Pasuruan. Sekitar pukul 08.00, massa menyesaki gang selebar 4 meter di depan mushala. Di bawah panas matahari, mereka menunggu pembagian zakat. Panitia sempat menyiramkan air kepada massa yang kepanasan itu.

Bagi kaum dhuafa, uang senilai Rp. 20.000 itu sangat berharga. Terlebih di tengah-tengah kesulitan ekonomi akibat kebijakan penguasa yang menaikan BBM.

Tragedi ini semakin menunjukkan betapa kemiskinan di depan mata semakin tinggi. Sementara pihak penguasa sebagai pengayom mereka yang bertanggungjawab untuk memberikan kesejahteraan pada mereka malah lebih memikirkan diri dan kelompok mereka sendiri.

Sebagian pihak mengatakan negeri ini telah menjadi negara korporasi. Di mana penguasa telah menjadi pengusaha. Aset milik umat dengan mudah diserahkan untuk kesejahteraan asing bukan bagi rakyat. Demikianlah potret kegagalan sistem kapitalisme yang diterapkan di negeri ini hanya menjadikan orang kaya semakin kaya, sementara orang miskin semakin merajalela.

Berbeda halnya dengan sistem Islam yang menjamin kesejahteraan bagi rakyat. Sistem Islam mengharuskan kekayaan milik umat dikelola untuk umat bukan untuk segelintir orang. [f/kmps/syabab.com]

Dukungan masyarakat terhadap penerapan syariat Islam di Indonesia terus mengalami peningkatan. Dalam sebuah survey terbaru yang dilakukan oleh SEM Institute menunjukkan data sekitar 72 persen masyarakat Indonesia ternyata setuju dengan penerapan syariat Islam. Sementara lainnya 18 persen tidak setuju dan 10 persen terserah.

Meskipun demikian, persepsi masyarakat tentang Syariah itu sendiri masih beragam. “Dari sisi pemahaman terhadap Syariah, umat Islam masih memahami dalam hal ibadah mahdoh, sistem sosial (fiqih) dan sistem ekonomi,” ujar Panji Alamsyah, dari SEM Institute di depan sekitar 500 orang peserta Halqah Islam dan Peradaban, Mewujudkan rahmat untuk Semua, di Wisma Antara, Jakarta Selasa (16/09).

Halqah Islam dan Peradaban yang bertema “Syariah, Masa Depan Politik Indonesia? Membaca Trend Survei Syariah” tersebut diselenggarakan oleh DPP Hizbut Tahrir Indonesia. Sebagai pembicara dalam acara perdana Halqah Islam dan Peradaban antara lainm M. Rahmat Kurnia (DPP Hizbut Tahrir Indonesia) dan Fachri Ali (Pengamat politik), dengan host Harist Abu Ulya. Sementara itu HM Taufik Kiemas (Ketua Dewan Pertimbangan Pusat DPP PDI Perjuangan) dan Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra (Ketua Majelis Syura PBB) yang diundang dalam acara tersebut tidak hadir. Sejumlah tokoh hadir dalam acara tersebut, di antaranya Ismail Yusanto (Jubir HTI) dan ketua umum DPP Partai Hanura, Jendral (Purn) Wiranto.

Hasil survey SEM Institute juga menunjukkan sekitar 78 persen masyarakat menyatakan setuju bahwa berbagai problem/masalah yang dialami bangsa ini karena tidak diterapkannya Syariah (Islam) dalam kehidupan di berbagai bidang, sementara 7 persen tidak setuju dan 15 persen tidak tahu. Yang mengejutkan dari hasil survey tersebut, kata Panji, 84 persen masyarakat yakin atau sangat yakin bahwa Syariah Islam bisa membawa mashlahat dan satu-satunya solusi bagi problematika bangsa, sementara 7 persen menyatakan tidak tahu dan 9 persen menyatakan kurang atau tidak yakin.

Panji Alamsyah mengatakan bahwa metode dari survey dilakukan SEM Institute tersebut menggunakan metode sampling, di mana pengumpulan datanya dilakukan dengan metode kuantitatif survey,y akni dengan menggunakan quota purposive sampling untuk non masyarakat umum, dan stratified random sampling untuk masyarakat umum. Sedangkan metode kontak survey dilakukan dengan wawancara langsung (Face to face interview) terhadap sekitar 1757 responden di 35 kota di seluruh Indonesia pada 26 Februari – 05 Mei 2008. Komposisi responden menyebar mulai dari legislative, yudikatif, eksekutif mulai dari pusat hingga daerah, aparat keamanan mulai dari militer dan kepolisian, akademisi, pengamat dan cendekiawan, kalangan wartawan, partai poitik, hingga masyarakat umum.

Demografi responden berdasar usia menyebar mulai dari usia 15 tahun hinga di atas 65 tahun, berdasar jenis kelamin berimbang antara laki dan perempuan (50:50), berdasar agama 97 persen Islam 3 persen non Islam, dan berdasar pendidikan terakhir mulai dari tanpa pendidikan formal hingga Doktor (S3).

Survey tentang respon, persepsi dan harapan masyarakat tentang Syariah sebelumnya juga dilakukan oleh PPIM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Roy Morgan Researvh di mana hasilnya tidak jauh berbeda. Survey Roy Morgan Research yang terbaru (Juni 2008) mengatakan 52 persen rakyat Indonesia menuntut Penerapan Syariah Islam. Sedangkan hasil survei PPIM UIN Syarif Hidayatullah 2003, sekitar 75 masyarakat Indonesia setuju bahwa pemerintahan yang berdasarkan syariat Islam adalah yang terbaik bagi Indonesia. [abu ziad/li/www.suara-islam.com]

Insiden 11 September di AS meski telah berlalu 7 tahun, namun masih menyisakan sejumlah pertanyaan dan keragu-raguan akan kebenaran riwayat resmi pemerintah AS yang menyebutkan gedung WTC hancur akibat bertabrakan dengan pesawat terbang yang ditumpangi oleh para anggota Al Qaeda dan Taliban.

Sebuah buku yang dikeluarkan di AS baru-baru ini berjudul “Insiden 11/9 dan Imperium AS” menyatakan bahwa Gedung WTC tidak mungkin hancur lebur seperti itu, hanya karena bertabrakan dengan pesawat terbang, namun karena dihancurkan dengan menggunakan peledak jarak jauh yang telah ditanam di berbagai tempat vital di gedung tersebut sebelumnya.

Buku ini ditulis oleh 11 penulis AS. Mereka adalah para cendekiawan yang memiliki reputasi akademik yang tinggi. Sepuluh penulis memegang gelar S3 dan seorang penulis lainnya adalah mantan perwira militer di Dephan AS.

Salah seorang penulis buku tersebut, Brigham Steven Jhones, seorang professor di bidang kimia mengatakan, riwayat resmi pemerintah AS terutama terkait dengan sebab kehancuran gedung WTC sangat janggal. Steven menilai penjelasan versi pemerintah tidak bisa memberi penafsiran secara ilmiah mengenai sebab kehancuran gedung itu berkeping-keping, karena hantaman sebuah pesawat terbang masih sulit untuk meruntuhkan bangunan setinggi dan sebesar menara WTC. Satu-satunya penafsiran yang paling mendekati, menurut Steven, adalah akibat diledakkan dari jarak jauh dengan menggunakan bom yang telah ditanam sebelumnya

Sementara itu, menurut Morgan Rainaldinz, yang juga guru besar di Universitas Texas dan mantan pejabat di pemerintahan Gedung Putih era Presiden George.Bush, insiden 11/9 hasil konspirasi beberapa pihak. Menurutnya, motifnya terkait dengan agenda Pemerintah AS untuk menguasai dunia dengan mengobarkan perang melawan terorisme. Dia juga mengatakan pemerintah Gedung Putih paling tidak telah mengetahui rencana aksi kejadian itu atau berkonspirasi memfasilitasi aksi tersebut, seperti dikutip Aljazeera.

Penulis lainnya, Karen, mantan perwira militer AS selama 20 tahun dan baru berhenti pada 2003. Dalam buku itu, ia mengatakan bahwa dirinya pada saat kejadian berada di Dephan AS, namun ia tidak melihat reruntuhan atau kerusakan bangunan di lingkungan bangunan Dephan AS. Menurutnya, klaim gedung Dephan telah ditabrak oleh sebuah pesawat perlu itu diteliti ulang. [syarif/alj/www.suara-islam.com]

Syabab.Com - Pemerintah China baru-baru ini telah melarangan pelaksanaa sholat tarawih secara berjamaah bagi warga Muslim XInjiang China. Sebuah larangan yang tak berlasan mecerminkan sikap tidak toleransi China terhadap penganut Muslim di negeri tersebut. Alasan yang mengada-ada, Pemerintah China melarang muslim Uighur melaksanakan ibadah Shalat Tarawih secara berjamaah, karena khawatir akan menimbulkan ketegangan dan merusak keharmonisan hubungan sosial.

Larangan itu disampaikan Pemerintah China sejak Jum’at (5/9) lalu. Dalam pernyataannya seperti dikutip situs pemerintah China, Pemerintahan China beralasan pelarangan itu untuk mencegah para pemeluk agama tertentu mengadakan perkumpulan dalam skala besar yang berpotensi memanaskan keadaan, kata pemerintah China seperti dilansir oleh AFP baru-baru ini.

Di beberapa daerah di Xinjiang, Pemerintah lokal juga melarang wanita muslimah memakai cadar dan para laki-laki muslim menggenakan kain sorban.

Memasang iklan atau pengumuman-pengumuman mengenai bulan suci Ramadhan di tempat-tempat publik juga ikut dilarang di beberapa daerah di Xinjiang, termasuk mengedarkan rekaman video, menyiarkan rekaman Al Quran dengan loudspeker dan penggunaan beduk atau drum khusus dalam festival menyambut Ramadhan juga ikut dilarang.

Menanggapi perlakukan pemerintah China tersebut, Jubir Konggres Uighur Internasional Dilxat Raxit, mengatakan bahwa larangan-larangan yang diterapkan pemerintah China terhadap muslim Uighur hanya akan meningkatkan tensi ketegangan pada kaum muslim di Xinjiang.

"Ini pelanggaran serius yang menodai hak asasi manusia untuk memiliki suatu keyakinan tertentu," kata Raxit di pengasingannya di Jerman. Di sisi lain, menurutt Raxit, pelarangann itu hanya akan berbuah semakin memperuncing konflik di Xinjiang.

Muslim Uighur adalah kelompok minoritas muslim di wilayah Xinjiang China bagian Barat Daya. Jumlah mereka sekitar 8 juta jiwa. Sejak tahun 1955, Xinjiang memiliki otonomiii sendiri, namun kawasan ini terus menerus menjadi target pengawasan aparat keamanan China.

Bagi pemerintah China, kawasan ini memiliki posisi yang sangat strategis karena lokasinya yang terletak dekat dengan Asia Tengah, kawasan yang menjadi sumber cadangan gas dan minyak.

Kesadaran masyarakat Xinjiang kian hari semakin tinggi terhadap Islam. Beberapa gerakan Islam juga aktif di kawasan tersebut. Beberapa waktu lalu beberapa gerakan Islam dilarang di negeri tersebut. Bahkan pihak pemerintah China pun melakukan propaganda melalui spanduk-spanduk mereka.

Pelarangan yang dilakukan oleh pemerintah China hanya semakin menunjukkan bagaiaman ketidaktoleransian pemerintah tersebut terhadap penganut Muslim. Ini juga menunjukkan ketakutan mendalam pemerintah China terhadap pengaruh Islam yang semakin tinggi di kawasan tersebut.

Kebiasaan upaya pelarangan terhadap aktivitas kaum Muslim ini sebenarnya menunjukkan kekalahan intelektual negeri China menghadapi para pengemban dakwah di negeri tersebut. Seperti biasa, bila dengan debat sudah tidak sanggup dihadapi, maka pelarangan paksa mereka coba lakukan untuk menghentikan pertumbuhan Islam di kawasan tersebut. [m/si/syabab.com]

Islam adalah rahmatan lil ‘alamin. Oleh karenanya, kejayaan Islam akan menentukan kejayaan dunia secara keseluruhan. Demikian sebaliknya, jika Islam terpuruk, maka kondisi dunia secara umum juga mengalami keterpurukan. Dan pada saat ini, kondisi umat Islam penuh dengan fitnah dan teror yang dilakukan oleh musuh-musuh Allah.

Hal ini disampaikan oleh tokoh kristolog Irena Handono dalam peluncuran bukunya yang berjudul “Menyikap Fitnah dan Teror” di Aula Universitas Al Azhar Indonesia, Jakarta, Sabtu (6/9).

Buku tersebut berisi tentang kondisi umat Islam yang selalu mendapat fitnah dan teror mulai dari zaman Rasulullah Muhammad saw hingga kondisi kekinian.

Salah satu teror yang melanda kaum muslimin hari ini adalah melalui pemikiran. Musuh-musuh Islam berusaha memasukkan pemikiran-pemikiran Barat ke dalam tubuh umat Islam.

Hal ini terjadi pula di negeri Indonesia dimana mayoritas penduduknya muslim. Masyarakat Indonesia sudah banyak teracuni ide dan pemikiran Barat yang diemban oleh negara Amerika Serikat dan sekutunya. “Bahkan kita lebih Amerika dibanding Amerika sendiri,” ujar mantan biarawati itu.

Hadir dalam peluncuran buku tersebut mantan Wakil Presiden Tri Sutrisno. Dalam sambutannya, Tri Sutrisno mengatakan Irena Handono melalui bukunya sedang mengingatkan pada kita agar waspada akan fitnah dan teror yang dialami umat Islam. Tri Sutrisno juga berpesan, supaya umat Islam bisa berjaya maka syaratnya harus bersatu padu, jangan berpecah-belah.

Selain Tri Sutrisno, beberapa tokoh hadir pada acara tersebut antara lain Ketua DDII Zahir Khan, Ulama Papua Zaaf Fadzlan, dan beberapa tokoh lainnya. Hadir pula artis Dorce Gamalama sebagai pembawa acara. [ihsan/www.suara-islam.com]

Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur melarang kuis Ramadhan yang sering ditayangkan sejumlah TV. “Mengandung unsur judi dan haram, “katanya

Hidayatullah.com--Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur melarang kuis Ramadhan yang ditayangkan di sejumlah stasiun televisi karena dianggap menodai kesucian Ramadhan dan mengandung unsur judi yang diharamkan oleh Islam.

"Kami mengimbau manajemen tempat hiburan, restoran, televisi dan para politisi juga menghormati momentum Ramadhan," kata Rais Syuriah PWNU Jatim KH Miftachul Akhyar dikutip Antara, hari Ahad.

Pengasuh Pesantren Miftachussunnah, Kedungtarukan, Surabaya itu melihat adanya unsur judi dari adanya kewajiban membayar biaya tertentu dari pihak peserta melalui pulsa telepon `premium call` dengan hadiah mimpi-mimpi kemewahan yang dikemas sedemikian rupa.

Jika tidak hati-hati, ibadah puasa akan dikotori dengan judi melalui kuis Ramadhan yang menguntungkan penyelenggara dengan menerima sejumlah uang tertentu dari para peserta.

"Letak unsur judinya terlihat pada harga yang lebih dari tarif SMS biasa," kata Miftahul.

Misal, tarif SMS adalah Rp250 (pascabayar) dan Rp350 (prabayar), namun untuk mengirim SMS kuis tertentu menjadi Rp2.000 (pascabayar) dan Rp2.100 (prabayar).

"Sehingga (keuntungan penyelenggara) mencapai miliaran rupiah," katanya.

Selain kuis Ramadhan, NU Jatim juga mengharamkan petasan karena petasan dapat mengancam jiwa, mencederai orang, mengganggu orang dan merupakan perbuatan sia-sia.

"Islam tak melarang adanya kegembiraan dalam menyambut Ramadhan, walau hanya sesaat, tapi bila sudah bersifat `tabdzir` (sia-sia) akibat membakar uang dan menghilangkan nyawa manusia, maka nilai pahalanya tidak ada sama sekali, justru dosa yang ada," katanya.

Ia mengatakan NU Jatim juga menolak prilaku yang mengganggu kekhidmatan puasa seperti "sweeping" (razia) untuk menertibkan hal-hal yang "menodai" ibadah puasa Ramadhan di lokalisasi, pedagang minuman keras, dan tempat perjudian.

"Penggunaan kekerasan justru akan menimbulkan fitnah bahwa Islam itu identik dengan kekerasan," katanya.
Imbauan juga disampaikan NU Jatim kepada para calon gubernur (cagub) dan wakilnya atau calon bupati/wali kota dan wakilnya agar jangan menjadikan bulan suci Ramadhan 1429 H untuk ajang kampanye.[ant/www.hidayatullah.com]

Akibat krisis ekonomi, orang kaya tetap kaya dan yang miskin tetap miskin. Demikian penilitian yang dirilis Boston Consulting Group (BCG

Hidayatullah.com—“Yang Kaya Makin Kaya, Yang Miskin Makin Miskin”, demikian kutipan lagu milik Rhoma Irama. Setidaknya ini yang menggambarkan gonjang-ganjing pasar finansial dunia. Sebagaimana diketahui, kekayaan personal di seluruh dunia meningkat sebesar 5 persen menjadi 109,5 triliun dolar, demikian menurut laporan kekayaan global yang dirilis Boston Consulting Group (BCG), Ahad (7/9) kemarin.

Kenaikan ini merupakan yang keenam kalinya secara berturut-turut. Pertumbuhan tercepat terjadi di kalangan rumah tangga negara-negara berkembang, seperti China dan negara-negara Teluk serta di kalangan keluarga yang memang sudah kaya.

Kekayaan itu juga kian terkonsentrasi hanya di kalangan orang-orang terkaya.

Sebanyak 1 persen dari seluruh rumah tangga memiliki 35 persen dari total kekayaan dunia tahun lalu.

Sementara itu, sebanyak 0,001 persen orang super kaya dengan pemilikan aset sedikitnya mencapai 5 juta dolar, menguasai kekayaan senilai 21 triliun dolar atau seperlima kekayaan global.

Planet Bumi juga terus mencetak dengan cepat jutawan-jutawan baru. Lompatan terbesar pada 2007 berasal dari negara-negara berkembang di Asia dan Amerika Latin.

Secara keseluruhan, jumlah rumah tangga jutawan meningkat 11 persen menjadi 10,7 juta rumah tangga tahun lalu.

BCG mencatat bahwa, orang kaya tetap kaya, mereka telah melakukan penyesesuian sebagai akibat adanya krisis finansial.

Tahun ini, aset-aset tersebut diubah ke berbagai investasi yang lebih konservatif, semakin banyak uang disimpan di pasar-pasar dalam negeri dan sejumlah individual telah membatasi investasi baru.

Namun demikian, BCG memperingatkan bahwa prediksi bagi pasar kekayaan dan bank yang melayani mereka, akan suram akibat krisis finansial sekarang ini.

BCG, yang memberikan nasehat kepada bank dan para menejer kekakayaan, meramalkan kekayaan personal akan tetap tumbuh, namun dalam kecepatan yang lebih lambat.
Pada tahun ini, dengan bursa Wall Street mengalami salah satu kemuduran terburuk dalam beberapa dekade, pertumbuhan nilai aset diperkirakan hanya akan meningkat kurang dari 1 persen. [ant/rtr/www.hidayatullah.com]

Oleh: Yahya Abdurrahman

Pengantar Redaksi:
Dalam perjalanan dakwahnya di seluruh dunia hampir setengah abad, Hizbut Tahrir (HT) telah sering dihadapkan pada berbagai tantangan, rintangan, kendala, bahkan tuduhan keji dan fitnah; baik dari pihak Barat kafir, rezim penguasa sekular, maupun dari kalangan Muslim sendiri.
Tantangan, rintangan, kendala, bahkan fitnahan dari Barat kafir terhadap HT lebih disebabkan oleh ketakutan mereka terhadap kebangkitan ideologi Islam dan tegaknya kembali Khilafah Islamiyah yang sedang diperjuangkan oleh gerakan-gerakan Islam, antara lain oleh HT. Karena itu, HT dipandang sebagai salah satu gerakan yang mengancam eksistensi mereka pada masa depan.
Tantangan, rintangan, kendala, bahkan fitnahan dari para rezim sekular terhadap HT lebih disebabkan karena mereka adalah kaki-tangan Barat kafir, yang merasa terancam kedudukannya.
Sedangkan tantangan, rintangan, kendala, bahkan fitnahan dari kalangan Islam sendiri terhadap HT lebih disebabkan antara lain karena: (1) kesalahpahaman akibat tidak sepenuhnya mendalami HT; (2) kedengkian terhadap eksistensi HT.
Karena itu, tulisan berikut ditulis dengan maksud untuk menjawab sejumlah ‘tuduhan miring’ yang selama ini dialamatkan pada HT. Dengan begitu, diharapkan kesalahpahaman atau kedengkian sebagian kalangan Islam terhadap HT bisa diminimalisasi dan bahkan dihilangkan. Dengan itu pula, HT berharap dapat menjalin ukhuwah Islam dan kerjasama dakwah lebih erat dengan berbagai kalangan umat Islam, yang sama-sama berjuang demi tegaknya kembali syariat Islam secara total dalam kehidupan, tentu melalui tegaknya institusi Khilafah Islamiyah yang diwariskan oleh para generasi terbaik umat ini.

Tuduhan 1:
HT hanya berwacana, tidak melakukan aksi real.


Penjelasan:
Jika dikatakan bahwa HT mengemukakan wacana, tepatnya gagasan, ide atau pemikiran tertentu, memang iya. Tetapi, jika dikatakan bahwa HT hanya berwacana, yang seolah tidak melakukan apa-apa, jelas keliru.
Pertama, Hizbut Tahrir (HT) itu sendiri justru didirikan sebagai tindakan nyata atas seruan Allah dalam surat Ali Imran: 104. Di dalam nas tersebut, Allah telah menggariskan tugas jamaah dakwah adalah menyerukan (mendakwahkan) Islam dan melakukan amar makruf nahi munkar.
Menyerukan Islam itu bisa meliputi, ajakan kepada orang non-Muslim agar memeluk Islam, dan memulai kembali kehidupan Islam. Ajakan kepada orang non-Muslim agar memeluk Islam itu lebih efektif jika dilakukan oleh negara yang menerapkan syariat Islam. Dengan kata lain, ketika Khilafah sudah tegak, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Rasul pada tahun ke-8/9 H, yang dikenal dengan ‘Am al-Fath. Dan itu nota bene terjadi setelah berdirinya negara Madinah. Sedangkan ajakan memulai kembali kehidupan Islam (isti’nâf al-hayâh al-Islâmiyyah) itu dilakukan saat sebelum dan setelah berdirinya Khilafah. Inilah yang dilakukan oleh HT. Meskipun dari keduanya, aktivitas terakhir inilah yang menjadi prioritas aktivitas HT saat ini.
Sedangkan amar makruf nahi munkar itu meliputi semua kemakrufan dan kemunkaran. Dan karena fakta kemakrufan dan kemunkaran itu ada yang bersifat individu, kelompok atau negara, maka amar makruf nahi munkar tersebut harus meliputi semuanya. Karena HT memandang sumber kemakrufan dan kemunkaran yang paling efektif dalam mewujudkan kemakrufan dan menangkal kemunkaran itu adalah negara, maka aktivitas tersebut harus bersifat siyasi (politik). Inilah yang menjadi alasan, mengapa aktivitas HT adalah aktivitas politik, sehingga bisa menjangkau sumber kemakrufan dan kemunkaran tersebut. Selain adanya sejumlah nas yang mengharuskan aktivitas seperti ini.
Kedua, seruan kepada Islam, baik untuk menyeru orang non-Muslim agar memeluk Islam maupun menyeru orang Muslim agar memulai kembali kehidupan Islam, serta amar makruf dan nahi munkar adalah aktivitas ideologis, berbasis pada ide atau pemikiran tertentu, yaitu Islam. Itu artinya, bahwa jamaah dakwah tersebut harus bercirikan ideologis, bukan pragmatis. Fakta hanyalah obyek yang hendak diubah menurut ide atau pemikirannya. Ia tidak akan menjadikan fakta sebagai sumber untuk membangun aktivitasnya. Inilah yang dilakukan oleh HT. Maka, HT pun tidak menolak jika dikatakan berwacana, meski sekali lagi tidak hanya berwacana. Bahkan, HT pun menyatakan dirinya sebagai entitas pemikiran (kiyan fikri).
Tetapi, lebih dari semuanya itu, apa yang dilakukan oleh HT semata-mata hanya meneladani perbuatan Rasul saw. ketika beliau mengemban dakwahnya, tanpa melakukan penyimpangan sedikitpun darinya, meski hanya seutas rambut. Dengan kata lain, karena itulah yang dicontohkan Nabi, maka HT pun melakukan seperti itu.
Sebab, aktivitas Rasul saw. dalam mengemban dakwah Islam itu merupakan penjelasan bagaimana dakwah tersebut harus diemban. Tharîqah (metode) dakwah Rasul saw. merupakan hukum syariat yang harus kita pegang kuat-kuat; kita haram menyalahinya.
Dakwah Rasul saw. pada masa lalu — yang wajib diikuti oleh setiap jamaah dakwah — dan diamalkan HT saat ini di antaranya:
Pertama, Tatsqîf (pembinaan/pengkaderan), baik yang dilakukan secara intensif (murakkaz) ataupun kolektif (jamâ‘i). Ini adalah aksi real. Hasil-hasilnya juga dapat diindera dan nyata. Pembinaan intensif akan menghasilkan kader-kader dakwah yang berkepribadian Islam. Kader-kader ini akan melakukan pembinaan hingga membentuk kader baru. Sedangkan pembinaan umum akan mewujudkan pemahaman umat terhadap ideologi Islam, baik menyangkut konsep maupun metode implementasinya; sekaligus menciptakan kesadaran umat untuk mengadopsi, menerapkan, dan memperjuangkan Islam agar bisa diterapkan secara nyata untuk mengatur kehidupan.
Kedua, ash-Shirâ‘ al-Fikrî (pergolakan pemikiran), yaitu menjelaskan batilnya pemikiran/pemahaman (mafâhîm), tolok ukur (maqâyis), keyakinan (qanâ‘ât), serta sistem yang ada sejak dari pangkalnya; kemudian menjelaskan mafâhîm, maqâyis, qanâ‘ât (2MQ) serta sistem yang sahih, yakni Islam.
Ini akan membentuk opini umum Islam—yang dibangun di atas pengertian dan pemahaman Islam—di tengah-tengah masyarakat. Dari sini akan lahir kesadaran masyarakat tentang buruknya 2MQ dan realitas yang ada, kemudian mereka akan terdorong untuk bersama-sama melakukan perubahan ke arah Islam. Semua itu real dan dapat diindera; seperti meningkatnya kesadaran, pengertian, pemahaman, dan sambutan umat terhadap seruan penegakan syariat Islam saat ini.
Ketiga, Al-Kifâh as-Siyâsî (perjuangan politik), yaitu aktivitas menghadapi segala bentuk penjajahan dan para penjajah sekaligus membongkar strategi mereka. Aktivitas ini ditujukan untuk menyelamatkan umat dari bahaya kekuasaan mereka dan membebaskan umat dari pengaruh dominasi mereka. Aktivitas ini juga mencakup aktivitas mengungkap kejahatan dan pengkhianatan para penguasa kaum Muslim, menyampaikan nasihat dan kritik kepada mereka, dan berusaha meluruskan mereka setiap kali merampas hak umat atau melalaikan kemaslahatan umat. Semua itu merupaklan aksi real dan hasilnya juga real, dapat diindera dan dirasakan.
Keempat, Tabanni Mashâlih al-Ummah, yaitu mengangkat dan menetapkan kemaslahatan umat dengan cara melayani, mengatur, dan memelihara seluruh urusan umat sesuai dengan hukum-hukum Islam. Hasilnya, umat akan memahami dan menyadari kemaslahatan yang seharusnya mereka terima dan rasakan, yang justru sering diabaikan oleh penguasa dan sistem yang ada. Umat akan menyadari kebutuhan real mereka akan tegaknya penguasa dan sistem yang menjamin kemaslahatan mereka.
Inilah fungsi dan tugas kelompok (partai) politik, mendidik umat agar memahami hak-hak mereka, dan mengingatkan penguasa agar tidak merampas hak-hak itu dari mereka. Dengan begitu, tugas ri‘âyah yang menjadi tugas negara, bukan tugas jamaah dakwah (partai politik) itu betul-betul akan dijalankan oleh para penguasa tadi, laksana pengurus dan pelayan rakyat. Nah, dalam hal ini HT berfungsi menjadi uyun al-ummah wa lisanuha (mata dan lidah umat). Semua itu juga merupakan bentuk aksi real dan hasilnya pun real.
Kelima, Thalab an-Nushrah (mobilisasi dukungan), yaitu menggalang dukungan dan bantuan dari pihak-pihak yang memiliki kekuatan, kekuasaan, dan pengaruh di tengah-tengah umat; tentu setelah mereka didakwahi dengan dakwah Islam serta disadarkan akan pentingnya syariat Islam diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan. Hasilnya adalah: Pertama, diperolehnya himâyah (perlindungan) terhadap dakwah dan para pengembannya sehingga aktivitas dakwah tetap bisa berjalan; kedua, memperoleh mandat kekuasaan untuk menerapkan hukum-hukum Allah. Aktivitas ini juga merupakan aksi real dan hasilnya pun real.
Kesimpulannya, HT hanya melakukan aktivitas yang diserukan Allah. HT tidak menjadikan aktivitas yang boleh tetapi tidak diserukan Allah kepada jamaah sebagai aktivitas rutinnya. HT tidak akan melakukan aktivitas yang dilarang dilakukan oleh jamaah. Semua ini karena HT hanya mengambil teladan yang diberikan oleh Rasul saw., tidak lebih. Aktivitas yang dilakukan HT adalah sama dengan aktivitas yang dilakukan Rasul saw. bersama jamaah dakwahnya ketika berdakwah di Makkah; yang berbeda hanya cara dan sarananya saja. Semua yang dilakukan Rasulullah saw. bersama jamaah dakwahnya, sebagaimana yang—insya Allah—senantiasa diteladani oleh HT adalah aksi real.

Tuduhan 2:
HT hanya berpolitik; tidak mempedulikan akidah, ibadah, dan akhlak.

Penjelasan:
Anggapan itu muncul karena persepsi politik yang cenderung stereotype, dan tidak dipahami sebagaimana yang dikehendaki oleh Islam. Islam menggariskan politik (siyâsah) sebagai aktivitas ri‘âyah as-syu’ûn al-ummah dâkhliyy[an] wa khârijiyy[an] (pengaturan dan pemeliharaan segenap urusan umat, baik di dalam maupun luar negeri). Pengertian politik (siyâsah) seperti inilah yang dipahami HT dari hadis Rasulullah saw., sebagaimana dituturkan Abu Hurairah ra.:

Dulu Bani Israil selalu dipimpin/diurus oleh para nabi. Setiap kali seorang nabi meninggal, datang nabi lain menggantikannya. Sesungguhnya tidak ada nabi sesudahku; yang ada adalah para khalifah yang banyak. (HR Muslim).

Rasulullah saw. juga bersabda:

Siapa saja yang tidak memperhatikan kaum Muslim secara umum bukanlah bagian dari mereka (kaum Muslim).

Memperhatikan urusan kaum Muslim menurut hadis ini adalah wajib karena adanya qarînah (indikasi) laysa minhum (tidak termasuk bagian dari kaum Muslim), tentu dalam rangka mengatur dan melayani urusan mereka sesuai dengan hukum-hukum Islam. Inilah aktivitas politik real yang dikehendaki Islam.
Perkara yang harus diperhatikan, diatur, dan dipelihara adalah seluruh urusan kaum Muslim secara umum; baik yang menyangkut akidah maupun syariah (ibadah, makanan, minuman, pakaian, akhlak, muamalat, dan ‘uqûbât [persanksian]); dengan tidak memisahkan antara persoalan duniawi dan ukhrawi. Semuanya itu akan sempurna jika syariat Islam diterapkan dalam segala aspeknya oleh negara. Untuk itu, setiap jamaah dakwah, termasuk HT, sejatinya harus mengemban dakwah Islam untuk tujuan ini, yakni tegaknya syariat Islam dalam sebuah institusi Khilafah Islam. Sebab, hanya dengan tegaknya syariat Islam dalam institusi Khilafah Islam inilah seluruh urusan, kepentingan, dan kemaslahatan kaum Muslim tadi dapat diwujudkan.
Pendek kata, setiap jamaah dakwah justru harus berpolitik dalam arti yang sesungguhnya. Itulah yang telah, sedang, dan akan terus dilakukan oleh HT pada masa lalu, kini, dan masa datang.
Hanya saja, karena aktivitas politik tadi bersifat ideologis (pemikiran), yang hendak digunakan untuk mengubah masyarakat, maka justru yang ditanamkan HT pertama kali adalah keyakinan terhadap ide (pemikiran). Ini bisa meliputi akidah ataupun hukum syara’. Dengan keyakinan terhadap ide (pemikiran) yang ditanamkannya, maka aktivitas politik yang berjalan akan konsisten dan tetap pada pakem ideologis, bahkan jauh dari ciri opurtunistik. Lalu, keyakinan yang mana, yang tidak diperhatikan oleh HT?
Mungkin karena HT tidak melakukan kajian tentang akidah secara “mendalam”. Jika itu persoalannya, tidak lebih karena HT memandang, bahwa umat Islam saat ini masih memiliki akidah Islam. Hanya saja, HT memandang akidah yang mereka miliki itu harus diluruskan. Dalam hal ini, ada enam persoalan utama yang dianggap menjadi biang dari rapuhnya akidah kaum Muslim. Maka, keenam persoalan itu harus dipecahkan dan diselesaikan oleh HT, sebagaimana yang dilakukan oleh al-Qur’an dan as-Sunnah, jauh dari perdebatan ahli kalam: (1) Qadha’ dan Qadar, (2) Qadar, (3) Tawakal, (4) Rizki, (5) Ajal dan kematian, dan (6) Hidayah dan Dhalalah.
Karena itu, di dalam dakwahnya, HT tampak menonjol dalam aktivitas tashhîh (pelurusan/pemurnian) akidah, yang dari sana lahir hubungan dengan Allah yang begitu kuat. Selain itu, juga menghubungkan, di satu sisi antara problem manusia dengan hukum Allah, dan dorongan akidah yang menjadi pangkal lahirnya hukum tersebut, di sisi lain. Dengan begitu, dakwah ini menjadi dinamis —dan tidak pernah kehilangan ruh— dalam seluruh medan kehidupan.
Di samping itu, dalam kitab-kitab lain yang dikeluarkan oleh HT, pembahasan mengenai akidah Islam ini sangat menonjol. Hanya saja, HT tidak memahami secara sempit akidah Islam sebatas sebagai akidah rûhiyah semata. Akan tetapi, HT memahami akidah Islam dalam maknanya yang sangat luas, yakni sebagai akidah rûhiyah sekaligus sebagai akidah siyâsiyah. Artinya, HT tidak hanya berbicara tentang bagaimana membangun keimanan secara benar dan lurus, tetapi lebih dari itu, bagaimana akidah ini bisa direfleksikan oleh kaum Muslim dalam bentuk penerapan syariat Islam secara total dalam kehidupan. Sebab, penerapan syariat Islam secara total dalam kehidupan—mencakup hukum-hukum ibadah, akhlak, makanan dan pakaian, muamalat (ekonomi, politik, pemerintahan, pendidikan, sosial, budaya, dan keamanan), serta ‘uqûbât/persanksian (seperti hukum cambuk/rajam bagi pezina, hukum potong tangan bagi pencuri, hukum qishâsh, dll)—justru merupakan ekspresi keimanan kaum Muslim yang sesungguhnya. Semuanya itu hanya mungkin diwujudkan dalam sebuah intitusi Khilafah Islam. Itu berarti, mau tidak mau, setiap jamaah dakwah harus bersentuhan dengan politik. Itulah yang juga dilakukan oleh Rasulullah saw. dengan mendirikan negara di Madinah al-Munawwarah.
Karena itu, justru HT selalu berusaha menjelaskan bagaimana seharusnya umat ini membangun keimanan mereka secara benar. Dengan begitu, mereka diharapkan memiliki keimanan yang lurus, kuat menghunjam di dalam jiwa, produktif, dan berpengaruh. Maka tidak heran jika HT mengawali pembinaan masyarakat dan para kadernya dengan akidah Islam. Bahkan, bab pertama dalam kitab Nizhâm al-Islâm—yang merupakan kitab pertama yang wajib dikaji oleh setiap aktivis dan kader HT—berbicara mengenai Tharîq al-Imân, yakni bagaimana setiap Muslim harus menapaki jalan keimanan yang benar dan lurus.
Jika demikian yang selalu diupayakan dan diperjuangkan oleh HT selama ini, lalu bagaimana mungkin HT dianggap tidak mempedulikan akidah?
Sementara itu, dalam masalah ibadah (ritual), HT cukup dengan memberikan panduan agar ibadah itu lurus dan tidak menyimpang, yang nota bene ibadah itu bersifat tawqîfiyyah; harus diambil apa adanya sesuai dengen ketentuan yang dinyatakan dan ditunjukkan oleh nash. Manusia tidak boleh menambah, atau mengurangi ketentuan ibadahnya, bahkan mereka-reka sendiri. Sebab, ibadah adalah penyembahan kepada Allah dan hanya Allah sajalah yang mengetahui bagaimana hamba harus menyembah (beribadah) kepada-Nya.
Dengan panduan tersebut, HT menyerahkan sepenuhnya kepada para aktivis (syabâb)-nya dan umat agar mengadopsi hukum-hukum ibadah yang lebih rinci. Meski itu semua tetap harus didasarkan pada pendapat yang dinilai paling kuat dalilnya, baik penilaian itu diperoleh sendiri dengan menganalisis dalil ataupun dengan bertaklid kepada mujtahid yang dipercayai kadar keilmuannya.
HT berpendapat, Khalifah sekalipun hendaknya tidak mengadopsi hukum tertentu dalam ibadah ritual ini, kecuali ibadah yang berkaitan dengan kesatuan kaum Muslim dan penampakkan syiar keagamaan seperti shaum Ramadhan, shalat Id, zakat, dan jihad. Di luar itu, pengadopsian hukum tertentu dalam masalah ibadah akan menimbulkan kesempitan (haraj) bagi kaum Muslim, sementara haraj itu tidak boleh ada dalam agama ini.
Dan karena HT didirikan bukan sebagai mazhab agama, melainkan sebagai kelompok (partai) politik, maka gagasan, ide dan pemikirannya tentu dalam konteks apa yang seharusnya diemban oleh sebuah kelompok (partai) politik, bukan mazhab. Maka, mencoba membandingkan HT dengan mazhab di dalam Islam tentu tidak pada tempatnya.
Pendek kata, anggapan bahwa HT tidak mempedulikan masalah ibadah jelas tidak benar dan bertentangan dengan fakta.
Tentang akhlak, HT berpandangan bahwa akhlak adalah bagian dari hukum syara’. Karena akhlak tidak bisa dipisahkan dengan perintah dan larangan Allah. Karena itu, akhlak wajib direalisasikan pada diri setiap Muslim seluruh aktivitasnya agar sempurna sesuai dengan Islam. Inilah yang juga dibahas dalam salah satu buku wajib HT, yakni Nizhâm al-Islâm.
Dalam rangka membangun individu Muslim yang berkepribadian Islam, sudah menjadi keharusan membentuk dan meluruskan akidah, ibadah, muamalat, dan akhlaknya. Sebab, secara syar‘i, kita tidak boleh hanya memfokuskan diri pada akhlak semata. Bahkan sebelum segalanya, harus diwujudkan lebih dulu keyakinan akidah. Satu hal yang mendasar tentang akhlak adalah bahwa akhlak wajib dibangun berdasarkan akidah Islam, dan seorang Mukmin wajib mempunyai sifat akhlak dengan prinsip, bahwa itu adalah perintah dan larangan Allah.
HT tidak pernah mengabaikan akhlak. Bahkan HT membina para syabâb (aktivis)-nya dan umat umumnya agar menjadi Muslim yang berkepribadian Islam, bukan sekadar berakhlak Islam. Sebab, setiap Muslim wajib memiliki akidah yang lurus, kuat, dan produktif; taat dan rajin beribadah; berakhlak terpuji; dan senantiasa terikat dengan syariat dalam seluruh aspek kehidupannya. HT memandang, kaum Muslim bukan hanya harus senantiasa khusyuk dalam ibadah, jujur, bertutur sopan, gemar menebar senyum, amanah, bersikap welas asih, dan lain-lain—yang merupakan bagian dari akhlak Islam; tetapi juga mereka wajib berpolitik, menjalankan bisnis, menyelenggarakan pemerintahan, dan lain-lain berdasarkan syariat Islam.

Tuduhan 3:
HT, Ingkar Sunnah dan Hadis Ahad.

Penjelasan:
Ingkar sunnah, atau dalama bahasa Melayu disebut anti hadits, adalah komunitas yang jelas menolak hadits sebagai sumber hukum Islam. Pada ulama’ sepakat, bahwa menolak Sunnah sebagai sumber hukum, sama dengan menolak al-Qur’an. Sama-sama dinyatakan kufur, orangnya disebut Kafir. Berbeda dengan menolak satu hadits sahih sebagai salah satu sumber hukum. Dalam hal ini, para ulama’ memvonis orang tersebut sebagai orang Fasik. Lebih berbeda lagi, ketika menolak satu hadits untuk dijadikan sebagai dalil untuk kasus tertentu, baik karena sumbernya masih diperdebatkan, atau karena faktor dalalah (konotasi)-nya yang memang dianggap tidak relevan. Yang terakhir ini jelas boleh.
Dalam konteks hadits Ahad, HT tidak pernah menolak hadits Ahad. Jika persoalannya menolak atau tidak, jelas HT tidak pernah menolak. Tetapi, jika masalahnya: apakah hadits Ahad itu bisa digunakan sebagai dalil akidah atau tidak? Juga apakah hadits Ahad itu bisa dijadikan dalil hukum syara’ atau tidak? Tentu, jawabannya bukan menolak atau tidak, melainkan bisa dan tidak sebagai dalil. Dalam konteks akidah, hadits Ahad itu sendiri memang tidak bisa digunakan sebagai dalil. Pertama, fakta akidah itu sendiri yang harus qath’i, atau yakin seratus persen. Kedua, fakta hadits Ahad yang hanya bisa mengantarkan pada ghalabah adh-dhann (dugaan kuat). Artinya, fakta akidah seperti ini —yang nota bene harus yakin seratus persen— jelas tidak bisa dibangun dengan dalil yang hanya bisa mengantarkan pada keyakinan di bawah seratus persen, sementara yang dibutuhkan harus seratus persen. Jadi, masalahnya seperti itu. Bukan soal menerima atau menolak hadits Ahad. Selain itu, dalam hal ini para ulama’ juga terbelah menjadi dua kelompok: ada yang menganggap hadits Ahad bisa dijadikan dalil akidah, dan ada yang tidak. Kembali kepada kesimpulan mereka, apakah hadits Ahad tersebut menghasilkan dhann (dugaan), atau ‘ilm (keyakinan). Maka, menuduh HT dengan menolak hadits Ahad, karena hadits tersebut tidak digunakan sebagai dalil akidah adalah tuduhan yang menyesatkan. Sebab jelas bertentangan dengan fakta.
Adapun dalam konteks hukum syara’, jika pertanyaannya: apakah khabar Ahad bisa dijadikan dalil hukum syara’? Jawabnya pasti bisa. Dalam hal ini, para ulama’ tidak ada perbedaan pendapat.
Disamping itu, HT berpedoman pada nash-nash yang dinyatakan oleh Allah dalam al-Qur’an yang banyak mengecam akidah kaum Kafir, misalnya, surat an-Nisa’: 157, al-An’am: 116, 148, Yunus: 36, 66, an-Najm: 23 dan 28. Kesemuanya dengan jelas mengecam akidah mereka, karena mereka hanya mengikuti dhann (dugaan). Konteks nash-nash tersebut memang ditujukan kepada orang Kafir, yang sekaligus menjadi indikasi adanya larangan yang tegas (nahy jazim) kepada kaum Muslim untuk tidak berakidah seperti mereka. Yang itu berarti, berakidah seperti orang Kafir tersebut jelas haram.
Agar kaum Muslim bisa menjauhkan diri dari larangan tersebut, maka mereka harus meninggalkan hal-hal yang bisa mengantarkan mereka ke sana. Termasuk di dalamnya adalah menggunakan hadits Ahad sebagai dalil dalam berakidah. Secara faktual juga tidak bisa dibantah, bahwa akibat penggunaan dalil seperti ini umat Islam dahulu telah terjebak dalam aksi Kafir-Mengkafirkan, karena adanya ikhtilaf yang dipicu oleh dalil itu sendiri. Logikanya jelas, masalah akidah adalah masalah iman dan kufur; siapa yang tidak mengimani apa yang diimani satu kelompok, maka dianggap kafir. Demikian sebaliknya.
Karena itu, dalam Muqaddimah ad-Dustur, HT menyatakan, bahwa sekalipun negara tidak mengadopsi mazhab akidah tertentu, tetapi negara tetap harus menentukan dalil mana yang bisa digunakan dan tidak dalam berakidah untuk menjauhkan kaum Muslim dari perkara yang dilarang oleh Allah SWT. sebagaimana yang dinyatakan dalam nash-nash di atas.

Tuduhan 4:
HT adalah Muktazilah Gaya Baru yang Cenderung Mendewakan Akal.

Penjelasan:
Kesimpulan HT adalah Neo-Muktazilah adalah cara pengambilan kesimpulan yang sama, sebagaimana cara pengambilan kesimpulan sebelumnya. Semuanya menyesatkan. Intinya, agar masyarakat menjauhkan diri dari HT.
Tuduhan seperti ini, bisa jadi lahir karena kebodohan tentang Muktazilah dan HT itu sendiri, sehingga menyamakan dua fakta yang berbeda, tetapi ironinya dianggap sama; atau karena faktor su’ an-niyyah (niat jahat). Wallahu a’lam.
Jika HT dituduh Neo-Muktazilah karena sama-sama menggunakan akal, maka pertama, kesimpulan ini adalah kesimpulan mantik; kedua, dengan adanya perbedaan antara HT dan Muktazilah dalam memandang akal, sebenarnya sudah cukup untuk meruntuhkan tuduhan tersebut.

Memposisikan akal
Satu hal yang menonjol, Muktazilah sangat mengedepankan akal dalam segala hal. Mereka juga tidak membatasi ruang lingkup kerja akal.
Batasan mengenai akal itu sendiri belum dipahami dan tetap menjadi persoalan di kalangan ulama’ kaum Muslim, termasuk ahli filsafat dari dulu hingga sekarang. Hal itu tampak jelas dari, misalnya, anggapan al-Ghazali bahwa akal itu seperti cermin; juga dari pandangan filosof Muslim dan mutakallimin yang membagi akal menjadi tujuh macam akal seperti yang telah disimpulkan oleh al-Amidi dan al-Jurjani, padahal akal itu faktanya hanya satu.
Karena itu, demi kebaikan manusia, kehidupan dan alam semesta, harus dipahami fakta akal, proses berpikir, dan metode berpikir. Di sinilah HT melakukan analisis terhadap fakta akal, wilayah kerja akal, dan metode berpikir (menggunakan akal) yang benar.
Setelah meneliti dan menganalisis fakta akal, HT memandang bahwa akal (al-‘aql), pemikiran (al-fikr), dan kesadaran (al-idrâk) adalah satu realita yang sama; yaitu sebagai proses pemindahan fakta ke dalam otak, dengan perantaraan indera, yang didukung oleh adanya informasi awal, yang dengan itulah fakta ditafsirkan.
Dengan demikian, dalam pandangan HT, akal atau pikiran itu terdiri dari empat komponen: (1) fakta inderawi; (2) indera; (3) otak; (4) informasi awal. Walhasil, aktivitas berpikir (menggunakan akal) harus melibatkan keempat komponen ini, yang jika salah satunya tidak ada, tidak akan pernah terjadi yang namanya proses atau aktivitas berpikir.
Dari batasan tersebut, HT kemudian mengklasifikasikan fungsi akal menjadi dua: (1) idrak, dan (2) fahm. Dalam konteks idrak, akal berfungsi untuk menghukumi fakta yang memang bisa diindera, baik secara langsung maupun melalui tanda-tandanya, yang kemudian ditopang dengan informasi awal tentang fakta tersebut. Seperti kesimpulan, bahwa alam itu makhluk, karena bersifat terbatas, tidak abadi dan azali. Sedangkan dalam konteks fahm, akal hanya berfungsi memahami fakta berdasarkan informasi yang akurat tentang fakta tersebut, sementara faktanya itu sendiri tidak bisa diindera. Contoh, pedihnya adzab Akhirat itu adalah fakta (bukan imajinasi) yang bisa dipahami oleh akal melalui informasi Allah, sementara akal tidak pernah bisa menjangkau fakta (kenyataan adzab) tersebut. Tetapi, fakta tersebut nyata, karena sumber informasinya akurat, dan pasti benar.
Maka, dalam pembahasan akidah, HT tidak terlibat dalam perdebatan, misalnya: apakah sifat Allah sama dengan dzat-Nya, ataukah tidak; sesuatu yang nota bene menjadi perdebatan panjang antara Ahlusunnah di satu sisi, dan Muktazilah di sisi lain. Perdebatan seperti ini dianggap keliru oleh HT, karena yang dibahas adalah fakta yang tidak bisa dijangkau oleh akal, sementara dalil naqli juga tidak ada yang membahasnya. Semuanya ini tentu karena HT mempunyai batasan yang jelas tentang akal, wilayahnya, kapan bisa digunakan dan tidak, termasuk mana yang bisa di-idrak, dan mana yang hanya bisa di-fahm saja.
Dalam konteks hukum syara’, dimana akal hanya bisa berfungsi untuk memahami, HT pun telah meletakkan akal bukan sebagai hakim, sebagaimana Muktazilah, yang menyatakan bahwa akal bisa menentukan baik dan buruk, termasuk terpuji dan tercela. Tetapi, HT memandang:

Kebaikan adalah apa yang dinyatakan baik oleh syara’, sedangkan keburukan adalah apa yang dinyatakan buruk oleh syara’.

Demikian juga:

Perkara terpuji adalah apa yang diridhai oleh Allah, sedangkan perkara tercela adalah apa yang dimurkai oleh Allah.

Jadi, tuduhan bahwa HT mendewa-dewakan akal itu jelas menyesatkan. Sebaliknya, HT telah meletakkan akal sesuai dengan proporsi yang seharusnya dimainkan oleh akal. Intinya, HT tidak menghalangi akal untuk menghukumi sesuatu yang sesungguhnya bisa dilakukan oleh akal; sebaliknya, HT Tidak membebaskan (artinya mencegah, red.) akal untuk menghukumi sesuatu yang tidak mampu dijangkau oleh akal.

Memposisikan persoalan Qadha’ dan Qadar.
Jika bukan karena fenomena akal, barangkali tuduhan di atas dibangun karena, menurut mereka, HT beranggapan bahwa manusialah yang menentukan perbuatannya. Sesuatu yang lazim dibahas oleh ulama’ usul dalam persoalan Qadha’ dan Qadar. Benarkah HT mempunyai pandangan yang sama dengan Muktazilah dalam isu kebebasan berkehendak (free will)?
Muktazilah memang sering disebut Qadariah, karena gagasannya tentang qadar, yang menolak dikaitkannya perbuatan manusia dengan takdir. Menurut mereka, manusia itu bebas bekehendak untuk melakukan atau tidak melakukan perbuatan; manusia sendirilah yang menciptakan perbuatannya, bahkan termasuk khasiat suatu benda yang terkait dengan perbuatannya. Misalnya, memukul dengan alat pemukul adalah perbuatan manusia, termasuk rasa sakit yang ditimbulkan dari pukulan yang menggunakan alat pemukul tadi. Teori seperti ini dalam istilah Muktazilah lazim disebut Af’al wa tawalludu al-af’al (perbuatan dan efek yang ditimbulkan perbuatan).
Pandangan inilah yang menyeret Ahlussunnah dan kelompok-kelompok lain. Dari sinilah kemudian berkembang apa yang kemudian dikenal dengan istilah Qadha’ dan Qadar.
Kesalahan yang paling fatal dalam konteks ini adalah karena masing-masing pihak yang terlibat dalam polemik tersebut tidak pernah memisahkan: perbuatan (al-af’al), di satu sisi, dan efek yang ditimbulkan oleh perbuatan (tawalludu al-af’al), di sisi lain. Kesalahan yang kedua, mereka mengaitkan pembahasan perbuatan manusia tersebut dengan perbuatan Allah.
Ketika melihat faktanya seperti ini, HT kemudian memisahkan antara fakta perbuatan dan efek yang dihasilkannya, melalui alat yang digunakannya. Kemudian mendudukan pembahasan tersebut hanya membahas obyek yang bisa dijangkau oleh akal manusia, yaitu perbuatan manusia. Maka disimpulkan, bahwa perbuatan manusia itu ada dua kategori:
Pertama, yang tidak bisa dipilih oleh manusia (mujbar); posisi manusia berada dalam lingkaran yang menguasai dirinya. Di sini, manusia tidak memiliki peran apa-apa. Inilah yang disebut qadha’. Dalam hal ini, baik dan buruknya sepenuhnya dinisbatkan kepada Allah. Dalam konteks seperti ini manusia tidak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah pada Hari Akhirat kelak. Manusia, misalnya, tidak akan dihisab oleh Allah karena gempa atau tsunami yang telah menimpanya, yang menghancurkan harta dan menghilangkan jiwanya; ia juga tidak akan dihisab karena tiba-tiba mobilnya mogok di tengah jalan—tanpa dia sendiri kuasa mengatasinya—sehingga menimbulkan kemacetan total dan tentu saja merugikan orang banyak.
Kedua, yang bisa dipilih oleh manusia (mukhayyar); posisi manusia berada dalam lingkaran yang dia kuasai. Di sini, manusia bisa berperan apa saja. Tentu ini bukan wilayah qadha’, sehingga tidak bisa menisbatkan semuanya kepada Allah. Sebaliknya, baik dan buruknya sepenuhnya merupakan pilihan manusia. Maka, manusia akan dimintai pertanggungjawaban kelak di Akhirat. Manusia beriman atau kafir, misalnya; duduk atau berdiri; makan-minum yang halal atau yang haram; menikah atau berzina; menerapkan hukum Allah atau hukum manusia; dan sebagainya; semua itu berada dalam ikhtiar (pilihan) manusia sepenuhnya. Karena itu, pilihan manusia dalam wilayah ini akan dihisab di hadapan Allah kelak pada Hari Akhir.
Itu di satu sisi, tentang fakta perbuatan manusia. Di sisi lain, fakta perbuatan manusia juga tidak bisa dilepaskan dari alat yang digunakan untuk melakukan perbuatan. Dan dengan menggunakan alat tersebut, muncullah efek perbuatan, seperti rasa sakit yang diakibatkan oleh pukulan yang menggunakan kayu. Apa yang oleh Muktazilah disebut tawallud al-af’al itu dianggap keliru oleh HT. Sebaliknya, yang tepat adalah khashiyat al-asyya’ (khasiat benda), karena faktanya memang demikian. Inilah yang kemudian disebut oleh HT dengan menggunakan istilah qadar.
Khasiat itu sendiri adalah karakteristik khas yang dimiliki oleh benda sebagai ciptaan Allah. Contoh: api mempunyai karakteristik khas bisa membakar dan panas; sementara air mempunyai karakteristik khas bisa membasahi dan memadamkan api. Begitu seterusnya. Semua potensi itu adalah ciptaan Allah yang melekat pada sesuatu sebagai sunatullah. Manusia tidak akan dihisab oleh Allah Swt. berkaitan dengan semua karakteristik yang telah diciptakan Allah pada benda, termasuk pada dirinya sendiri.
Yang dihisab oleh Allah Swt. dalam konteks khashiyat adalah pemanfaatan manusia atas khasiat-khasiat itu. Contoh: manusia tidak akan dihisab oleh Allah karena memiliki hasrat seksual; yang akan dihisab adalah pemanfaatan hasrat seksual tersebut—apakah di jalan yang halal dengan cara menikah atau di jalan yang haram dengan cara berpacaran, berzina, atau melacur.
Dari sini tampak jelas bahwa HT sangat berbeda dengan Muktazilah. Bahkan bisa dikatakan, HT melakukan koreksi atas kesalahan Muktazilah, termasuk Ahlussunnah, sekaligus memberikan solusi yang benar atas persoalan qadhâ’ dan qadar yang diperdebatkan oleh para mutakallimin sejak Abad I Hijriah itu.
Jadi, HT tidak bisa disamakan dengan Muktazilah; keduanya sangat jauh berbeda. Karena itu, tuduhan bahwa HT adalah Neo-Muktazilah merupakan tuduhan yang sangat keliru dan menyesatkan. Ini juga membuktikan, bahwa tuduhan tersebut sekaligus membuktikan kebodohan pihak penuduh terhadap fakta Muktazilah dan HT, atau karena faktor lain, yaitu su’ an-niyyah (berniat jahat).

Tuduhun 5:
HT adalah Organisasi Sempalan, Militan, dan Teroris.

Penjelasan:
Sampai saat ini, batasan dan definisi terorisme masih sangat kabur. Yang lebih menonjol, istilah terorisme itu digunakan oleh Barat untuk mencap semua pihak yang beroposisi dengan Barat. Istilah itu terutama ditujukan Barat kepada Islam dan kaum Muslim yang bersebrangan dengan mereka.
Namun, ada satu ciri terorisme yang hampir disepakati oleh berbagai kalangan, yaitu adanya unsur kekerasan yang dapat mengakibatkan tersebarnya teror/ketakutan di tengah-tengah masyarakat.
Sedangkan istilah militan, dalam kamus bahasa Inggris Collin Cobuild, adalah menunjuk kepada seseorang atau pada sikap yang sangat percaya pada sesuatu dan aktif mewujudkannya dalam perubahan sosial politik. Sangat sering cara-cara itu bersifat ekstrem dan tidak bisa diterima oleh orang lain.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Balai Pustaka, militan artinya bersemangat tinggi, penuh gairah, atau berhaluan keras.
Sedangkan Saad Edin Ibrahim, dalam penelitiannya, mendefinisikan “Islam militan” sebagai perilaku kolektif kelompok kekerasan menentang negara dan aktor-aktor lain atas nama Islam. Karena problem itu, S. Yunanto dkk., dalam penelitiannya, mengajukan batasan “militan” dengan merujukkannya pada sekelompok orang yang teguh, bersemangat tinggi, yang dalam memperjuangkan tujuan atau kepentingannya kerap mengunakan kekerasan.
Jadi, teroris dan militan identik dengan penggunaan kekerasan.
Mengenai penggunaan kekerasan, sikap HT sangat jelas dan diketahui siapapun, termasuk kalangan Barat sendiri. HT memandang penggunaan kekerasan dalam upaya memperjuangkan dan mendakwahkan Islam telah menyalahi metode dakwah Rasul saw. dan karenanya haram hukumnya. Tidak ada ruang bagi kekerasan atau militansi dalam metodologi dakwah HT, karena HT berusaha untuk selalu berjalan di atas manhaj dakwah Rasulullah saw.
Di samping itu, HT berkeyakinan bahwa perubahan masyarakat yang diidamkan harus dimulai dari perubahan pemikiran. HT tidak mungkin memaksa seseorang atau masyarakat untuk berubah atau melakukan perubahan dengan kekerasan dan teror. HT dan para syabâb-nya sangat berpegang teguh dengan syariat dalam masalah ini. Syariat telah mengharamkan penggunaan kekerasan dan teror untuk mendakwahkan Islam dan memperjuangkan penerapan hukum-hukum Islam di tengah-tengah kehidupan.
Siapapun yang jujur akan mengakui, bahwa sejak berdirinya hingga sekarang, HT adalah entitas pemikiran dan politik yang berupaya mengubah pemikiran masyarakat melalui diskusi dan perdebatan intelektual. HT hanya menyandarkan aktivitasnya pada perjuangan yang bersifat pemikiran dan politik. HT berpegang dengan hukum Islam yang melarang penggunaan kekerasan, teror, dan pergolakan bersenjata menentang rezim kufur sebagai metode menegakkan kembali hukum-hukum Allah di muka bumi di dalam institusi Khilafah Islamiyah.
HT tetap berpegang teguh untuk melakukan perjuangan yang bersifat pemikiran dan politik tanpa kekerasan. HT tidak akan pernah terpancing untuk menggunakan kekerasan atau mengangkat senjata meskipun perjuangannya yang hanya bersenjatakan pemikiran itu telah direspon oleh rezim penguasa di banyak negara dengan kekerasan, siksaan, teror, penjara, sampai pembunuhan. Banyak kader-kader HT—yang hanya karena pemikiran dan aktivitas politiknya—dibunuh dan ribuan lainnya dijebloskan ke dalam penjara oleh rezim penguasa. Namun, HT tetap berpegang teguh dengan syariat untuk tidak menggunakan kekerasan, teror, dan pergolakan senjata.
Kenyataan ini sudah dipahami oleh hampir semua kalangan, tidak terkecuali oleh lembaga-lembaga Barat sendiri. Karena itu, tidak aneh jika banyak artikel dari berbagai media—seperti Reuters, Itar-Tass, Pravda, AFP, al-Hayat, Ascosiated Press, RFERL, dan sebagainya—telah menyatakan dengan jelas bahwa HT merupakan organisasi non-kekerasan yang telah mengesampingkan pergolakan bersenjata/ kekerasan sebagai bagian dari metode perjuangannya. Tidak aneh pula jika The Second State Security Court Turki di Ankara dalam putusannya tanggal 13 Maret 2004 menyatakan, “Tidak ada bukti untuk menunjukkan bahwa organisasi ini (Hizbut Tahrir) telah menggunakan satu pun bentuk kekerasan. Jadi, mustahil memandang Hizbut Tahrir sebagai organisasi teroris. Jika Hizbut Tahrir menggunakan kekerasan, ia baru dapat dideskripsikan sebagai organisasi teroris. Atas dasar ini, Hizbut Tahrir tidak bisa dilarang dengan anggapan sebagai organisasi teroris.”

Soal Sempalan.
Tuduhan sebagai gerakan sempalan terhadap HT lebih ditujukan untuk menjelekkan HT dan menjauhkannya dari umat. Dengan itu, hendak ditanamkan bahwa HT telah menyimpang dari Islam dan keluar dari jamaah kaum Muslim.
Pada faktanya, semua pemikiran dan hukum yang dikembangkan dan didakwahkan oleh HT merupakan pemikiran dan hukum Islam yang didasarkan pada al-Quran, as-Sunnah, Ijma Sahabat, dan Qiyas syar‘i.
HT memandang semua pemikiran dan hukum yang tidak dibangun berdasarkan dalil syariat sebagai pemikiran dan hukum selain Islam. HT menolak semua pemikiran dan hukum selain Islam itu.
Siapapun yang pernah berinteraksi dengan HT akan mengetahui bahwa semua ide dan hukum yang diambil dan diserukan HT selalu didasarkan pada dalil-dalil syariat. Siapapun yang mendalami dan mengkaji pemikiran dan hukum-hukum yang telah ditelorkan oleh para ulama kaum Muslim terdahulu dan tertuang dalam karya-karya mereka, lalu membandingkannya dengan apa yang diadopsi oleh HT, insya Allah akan menemukan benang merah dan ikatan sangat kuat di dalamnya.
Dengan demikian, HT adalah bagian integral kaum Muslim yang sangat berpegang teguh dengan dalil-dalil dan hukum-hukum syariat; teguh memegang dan melestarikan khazanah keilmuan warisan generasi terdahulu dari umat ini.
Walhasil, tuduhan bahwa HT adalah gerakan sempalan yang menyempal dari Islam dan kaum Muslim adalah ahistoris dan bertentangan dengan fakta yang ada.
Wallâh a‘lam bi ash-shawâb.


Catatan kaki:

Ibid., hlm. 58
1. Lihat rinciannya dalam Manhaj Hizb at-Tahrîr fî at-Taghyîr, Hizbut Tahrir. 1989; An-Nabhani, at-Takattul al-Hizbi, Hizbut Tahrir, cet. iv (mu’tamadah). 2001; An-Nabhani, Dukhûl al-Mujtama’, Hizbut Tahrir. 1953

2. HR Al-Hakim, Thabrani, Abu Nu’aim dan al-Bayhaqi marfu’, Al-Hakim dari Hudzaifah hadis no. 7889, dan dari Ibn Mas’ud (tanpa ‘amat[an]) hadis no. 7902 (Mustadrak ‘alâ Shahîhayn, iv/ 352, 356, cet. I, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, Beirut. 1990). Hadis senada diriwayatkan oleh At-Thabrani, dari Abu Dzar hadits no. 471 (Mu’jam al-Awsath, 1/151); dari Hudzaifah hadits no. 7473, (Mu’jam al-Awsath, 1/151, Dar al-Haramayn, Kaero. 1415). Al-’Ajluni, Kasyf al-Khafâ’, 2/368, cet. iv, Muassasah ar-Risalah, Beirut. 1405

3. An-Nabhani, Nizhâm al-Islâm, hlm. 61, min mansyurat Hizb at-Tahrir, cet. vi (mu’tamadah). 2001

4. Lihat: QS. Al-Hajj [22]: 78

5. An-Nabhani, Nizhâm al-Islâm, hlm. 131

6. Ibid, hlm. 136

7. Al-Ghazali, al-Mustashfâ min ‘Ilm al-Ushûl, hlm. 22

8. AL-Amidi, al-Mubayyan, hlm. 106-108. al-Jurjani, at-Ta’rifât, 196-197

9.An-Nabhani, at-Tafkîr, hlm. 6, ashdarahu Hizb at-Tahrîr, 1973, cet. I

10. An-Nabhani, at-Tafkîr, hlm. 26, Hizb at-Tahrir, 1973, cet. I; Nizhâm al-Islâm, hlm. 42, min mansyurat Hizb at-Tahrir, cet. VI (mu’tamadah). 2001
Collin Cobuild, English Dictionary for Advance Learners, hlm. 997, Harper Collins Publishers. 2001

11. S. Yunanto, dkk., Gerakan Militan Islam di Indonesia dan di Asia Tenggara, hlm. 9, The Ridep Institut Kerjasama dengan Freidrich-Ebert-Stiftung (FES), Jakarta. 2003

Semoga tulisan ini bisa sedikit menjawab artikel berjudul “Tiada Khilafah Tanpa Tauhid dan Jihad” (yang sangat memojokkan Hizbut Tahrir).

Bagi sebagian kalangan, pemahaman jihad kelihatan menakutkan. Apalagi dengan berbagai komentar yang terkesan menyudutkan, terutama seputar pengertian atau esensi jihad. Tulisan ini tidak memberikan komentar secara langsung tentang jihad, tapi lebih dititikberatkan kepada pemahaman tentang jihad itu sendiri. Tentu saja dalam perspektif Islam.

Pengertian dan Hakikat Jihad
Menurut arti bahasa, jihad adalah bersungguh-sungguh. Jahada fi al amri, artinya berusaha dengan sungguh-sungguh. Dengan mendasarkan pada pengertian bahasa tersebut, oleh sebagian tokoh agama dan intelektual, kata jihad diimplementasikan dalam banyak aspek. Maka, menurut mereka, semua kegiatan kebaikan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh adalah jihad. Menuntut ilmu, bekerja, atau berbagai kegiatan lain, bila dilakukan secara sungguh-sungguh dan bertujuan baik semua adalah jihad.
Tetapi, jihad tidak boleh dibatasi pengertiannya hanya menurut arti bahasa saja. Karena, di samping arti bahasa jihad juga memiliki makna istilah yang digali dari nash-nash syar’i yang menjelaskan tentang perintah jihad. Berdasarkan istilah syar’i itulah jihad memiliki makna yang spesifik yang berbeda dengan makna lughawinya (bahasa). Menurut Syekh Taqiyyudin an-Nabhany dalam kitabnya Syakhshiyyah Islamiyyah jilid II, jihad diartikan sebagai “qitaalu al-kuffari fii sabilillahi li i’lai kalimatillahi”, yaitu memerangi orang-orang kafir di jalan Allah dalam rangka meninggikan kalimat Allah (Islam). Jadi, jihad adalah mengangkat senjata untuk melawan atau memerangi orang-orang kafir, dalam rangka membela kehormatan Islam dan kaum muslimin. Juga, jihad haruslah dilakukan semata-mata dengan niat untuk menegakkan kedaulatan Islam. Bukan untuk hal yang lain. Misalnya, berniat semata untuk mendapatkan rampasan perang, kedudukan, pujian dan sebagainya.

Oleh karena itu dalam pelaksanaannya, jihad harus dilakukan sesuai dengan tuntunan hukum syara’i tentang masalah tersebut. Tidak boleh serampangan, sekadar mengikuti kehendak pribadi atau kelompok.

Pengertian jihad secara syar’i inilah yang acapkali sering dikaburkan, sehingga hakikat jihad itu sendiri menjadi kabur. Oleh karena itu, jihad harus dikembalikan pada makna syar’inya yang benar, dan tidak boleh menempatkannya pada pengertian bahasa, kecuali pada konteks tertentu yang memang berkait dengan makna bahasa saja.
Ditinjau dari segi kewajiban melaksanakannya, jihad dibedakan atas Jihad ofensif dan defensif. Jihad ofensif adalah jihad yang diemban oleh Daulah Islamiyah dalam rangka menyebarkan risalah Islam ke suatu negara, dan dilakukan sebagai jalan terakhir setelah upaya persuasif (dakwah) mengalami hambatan atau halangan yang bersifat fisik. Artinya, ketika proses penyebaran risalah Islam melalui dakwah yang dilakukan oleh negara Khilafah kepada bangsa-bangsa lain, mendapat reaksi penolakan, tidak mau tunduk bahkan melawan dengan kekuatan (militer), maka saat itulah dilancarkan jihad ofensif. Tetapi, jika mereka membuka diri terhadap dakwah, tidak menentang ketika dijelaskan kepada mereka tentang kebenaran ajaran Islam serta kesalahan keyakinan yang mereka peluk dengan seperangkat argumentasi yang menggugah akal, menyentuh perasaan dan menentramkan jiwa, mereka tidak akan diperangi. Terlebih lagi bila mereka mengubah dan meninggalkan aqidah mereka dengan memeluk aqidah Islam, mereka akan menjadi bagian dari umat Islam.

Jihad tidak pula akan dikobarkan, meskipun mereka menolak masuk Islam, karena memang tidak ada paksakan dalam hal memeluk agama Islam, tetapi mereka bersedia tunduk terhadap kekuasaan Islam. Mereka tergolong sebagai ahlu zhimmah, yang harus tunduk kepada seluruh hukum-hukum islam, kecuali yang menyangkut perkara ibadah, pakaian dan makanan-minuman serta yang terkait dengan keyakinan mereka. Jadi, hanya bila mereka menolak dan menghalangi dakwah, serta tidak mau tunduk sebagai ahlu zhimmah, mereka akan diperangi. Dan, peperangan terhadap mereka atau dalam kasus yang seperti itu termasuk dalam jihad ofensif. Inilah jihad sebagaimana yang ditegaskan Allah dalam Al-Qur’an.

“Perangilah oleh kamu sekalian orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari akhir, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan Allah dan Rasul-Nya, dan tidak beragama dengan agama yang haq (Islam), yaitu dari orang-orang yang diberi Al-kitab kepada mereka, hingga mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.”
(QS. At-Taubah: 29)

Adapun jihad defensif adalah berperang untuk membela dan mempertahankan diri dari serangan atau ancaman musuh kafir. Dengan kata lain, jihad yang dikobarkan ketika kaum muslimin diserang oleh musuh-musuh islam, merampas harta dan mengusir mereka dari kampung halamannya. Dalam keadaan seperti ini, wajib atas setiap muslim yang diserang untuk mengangkat senjata demi membela kehormatan diri, mempertahankan harta, dan jiwa. Jihad seperti ini wajib dilaksanakan sebagaimana seruan Al-Qur’an.

“Perangilah oleh kamu sekalian di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu. Dan janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidaklah menyukai orang-orang yang melampaui batas.”
(QS.Al-Baqarah: 190)

Dalam keadaan diserang, kaum muslimin wajib untuk melakukan tindakan pembalasan secara tegas, baik balas membunuh atau balas mengusir mereka, orang-orang yang menyerang itu.

“Dan bunuhlan mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka mengusir kamu”
(QS. Al-Baqarah: 191)

Berdasarkan penjelasan di atas, tampak bahwa jihad defensif lebih menuntut individu per individu untuk mengamalkannya, atau merupakan jihad fardiy. Maksudnya, jihad yang wajib dilakukan oleh setiap muslim secara otomatis, tanpa memerlukan adanya fatwa atau perintah pemimpin lebih dulu. Ini terjadi bila kaum muslimin diserang. Pada saat itu, wajib atasnya untuk melakukan jihad. sekalipun tentu saja tetap diperlukan seorang yang bertindak sebagai pemegang komando atau pemimpin pertempuran.
Sedangkan jihad ofensif menuntut amal jama’iy, yaitu dilakukan dengan terlebih dulu ada pdari kepala negara. Umat Islam tidak dibenarkan bertindak secara individual. Dalam keadaan seperti ini, Khalifah, atau Amirul Mukminin akan terlebih dulu mengambil keputusan, tentang kepada siapa jihad ofensif akan dilakukan. Juga, menyangkut seorang yang ditunjuk sebagai panglimanya yang bertanggung jawab untuk mengatur seluruh operasi pertempuran.

Jihad, Jalan Menuju Kemuliaan
Seluruh uraian di atas lebih menegaskan bahwa jihad adalah perintah agama. Siapa pun yang mengaku muslim tidak boleh sama sekali melecehkan perkara jihad. Jihadlah yang membawa risalah Islam di masa Rasul SAW tersebar hingga seluruh jazirah Arab hanya dalam tempo 10 tahun. Jihad pula yang mengantarkan umat Islam meraih kejayaannya selama lebih dari 1000 tahun lamanya. Melalui jihad, tegaklah peradaban Islam nan agung, memberikan keamanan dan kesejahteraan bagi segenap manusia. Dan dari peradaban yang agung itu terpancar kemuliaan Islam, sekaligus tegak wibawa kaum muslimin.

Kini, ketika payung dunia Islam, khilafah Islamiyyah, telah runtuh. Jihad tidak lagi tegak. Dengan mudah musuh-musuh Islam melecehkan kaum muslimin, menindas, mencabik-cabik harkat dan martabatnya, mengusir bahkan membantainya. Palestina, Bosnia, Kosovo, Moro, bahkan Ambon adalah sederet bukti betapa lemahnya umat Islam untuk sekadar membela diri sekalipun. Bagaimana mungkin, di tengah situasi seperti ini, masih ada sebagian umat islam yang justru melecehkan ajaran Jihad?

Secara individual, jihad merupakan jalan untuk meraih syahadah. Di sisi Allah, setinggi-tinggi derajat kematian, adalah syahid di medan jihad. Rasulullah SAW. bersabda:

“Setinggi-tinggi derajat kematian adalah kematian para syuhada. Orang yang mati syahid akan diampuni semua dosanya, dijamin masuk sorga tanpa hisab, Di akhirat akan didampingi 70 bidadari, dan ia sendiri mampu memberi syafaat kepada seluruh keluarganya.
(Al-Hadits)

Melihat ini, semestinya tak ada seorang muslim pun yang tidak ingin mati syahid. Hanya mereka yang hatinya telah tertambat pada gemerlapnya dunia dan mengabaikan pahala akhirat, merekalah yang membenci jihad.

Khatimah
Sebagai contoh dalam uraian jihad diatas adalah situasi saudara kita di maluku. Jihad di Maluku adalah jihad defensif, yang dilakukan secara otomatis begitu serangan musuh terjadi. Tidak lagi memerlukan fatwa untuk menetapkan jihad di sana. Dan faktanya, serangan itu memang ditujukan kepada orang Islam yang dilakukan oleh orang-orang Kristen. Siapa saja yang mengatakan bahwa yang terjadi di Maluku pada umumnya, dan di Ambon khususnya bukan konflik agama, tidaklah sesuai dengan kenyataan. Dan mereka yang menolak seruan jihad berarti tidak memahami tuntunan agama sekaligus realitas yang dihadapi oleh umat Islam di sana. Ia bisa saja mengatakan jihad tidak perlu, oleh karena ia tinggal di sini dalam keadaan aman. Apa yang akan dilakukannya bila seandainya tiba-tiba rumahnya dibakar, istri dan anak perempuannya diperkosa kemudian dibantai. Dia sendiri akhirnya terusir dari kampung halamannya sendiri?

Jihad memang tindakan kekerasan, karena yang dihadapi adalah langkah kekerasan. Kekerasan patutlah dihadapi dengan kekerasan. Itu pula yang dilakukan oleh Polisi, bukan?

Jadi, yang mengatakan bahwa jihad bukan untuk melakukan kekerasan, jelas tidak logis. Uang dan doa memang diperlukan tapi itu hanyalah sarana atau penguat dalam jihad. Uang tidak akan punya arti apa-apa ketika yang diperlukan adalah kekuatan dan keberanian menahan serangan musuh.

Jadi, jihad bukanlah kejahatan. Bukan pula tindak kriminal. Yang melakukan tindakan kriminal adalah yang membantai. Jihad adalah jalan menuju kemuliaan. Maka, seruan jihad harus terus dikumandangkan, walaupun orang-orang kafir, orang-orang munafik membencinya. Orang Islam tidak perlu khawatir, karena demikianlah cara untuk menegakkan kewibawaan dan kemuliaan Islam.

Wallahua’lam bi al-shawab.
[Buletin Al-Islam - Edisi 3]

Dicopy dari wewewedotislamgauldotkom
Posted in Politik, Tsaqofah by Hasna Hawwa on the May 8th, 2007
Judul aslinya : Jihad Bukan Kejahatan

Powered by Blogger.