Pemerintah Sudan Tidak Mewakili Islam

sudan-court2Berita:
Seorang hakim Sudan telah menghukum gantung seorang wanita Kristen karena murtad, meskipun telah dilakukan banding oleh banyak kedutaan besar Barat karena merasa kasihan dan menghormati kebebasan beragama. Kasus ini, dianggap menjadi yang pertama dari yang sejenis yang terjadi di Sudan, yang melibatkan seorang wanita yang nama Kristennya adalah Mariam Yahia Ibrahim Ishag. “Kami memberimu tiga hari untuk kembali ke Islam tetapi Anda bersikeras untuk tidak kembali ke Islam,” kata Hakim Abbas Mohammed Al-Khalifa kepada wanita itu pada hari Kamis, dengan memanggilnya dengan nama Muslim ayahnya, Adraf Al-Hadi Mohammed Abdullah. “Saya menjatuhkan anda hukuman mati dengan digantung.” Khalifa juga menghukum cambuk Ishag hingga 100 cambukan karena “berzina”. Ishag, yang merupakan aktivis HAM mengatakan dia hamil dan berusia 27 tahun, dan bereaksi tanpa emosi saat Abbas menyampaikan keputusannya di pengadilan distrik Khartoum Haji Yousef. Sebelumnya dalam persidangan, seorang pemimpin agama Islam berbicara dengan Ishag di dalam kurungan penjara selama sekitar 30 menit. Kemudian dia mengatakan kepada hakim: “Saya seorang Kristen dan saya tidak pernah murtad.” Pemerintah Sudan memperkenalkan hukum Islam pada tahun 1983, namun hukuman ekstrim selain cambuk jarang terjadi. (Sumber: Al Jazeera)
Komentar:
Sekali lagi, hukum Syariah Sudan yang sewenang-wenang menyebabkan kontroversi. Meskipun Sudan adalah negara dengan mayoritas Muslim, konstitusinya tidak jelas dan didasarkan pada pemikiran sekuler serta beberapa aspek Islam. Kata-kata dalam konstitusi itu mengindikasikan Shariah adalah dasar tetapi ambiguitasnya meninggalkan detail yang diperlukan untuk menyelesaikan perselisihan antar-agama, serta isu-isu modern. Menerapkan setiap aturan hukum secara tidak konsisten akan selalu menghasilkan penindasan atau kezaliman lain. Setiap pemerintah yang melanggengkan hal ini jelas melayani agendanya sendiri dan tidak melayani kepentingan terbaik masyarakat dan kita harus jelas menegaskan bahwa semua pemerintahan Muslim saat ini salah dalam hal ini.
Perzinahan merupakan dosa besar dalam Islam dan tentu saja Hudud harus diambil Hukum Syariah, namun seiring dengan Hudud suasananya harus benar dan menjaga seluruh tingkatan masyarakat. Tempat di mana hukum Hudud tidak hanya ditakuti, namun juga diakui dan dikagumi oleh kaum Muslim dan non-Muslim, juga di mana pemikiran masyarakat lebih tinggi dan rakyat menyadari kehormatan seorang wanita dan oleh karenanya menghargai pemisahan gender (segregasi) dan peraturan berpakaian Islam, dan juga menjadi yakin akan adanya kejahatan yang muncul dari pencampuran gender yang bebas dan hubungan di luar nikah. Juga efek yang lebih luas dari kemurtadan akan diakui dengan tidak perlu lagi meminta maaf ketika menghadapi liberalisme sekuler Barat.
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan.”(QS Al Baqarah: 208)
Ini membuktikan bahwa tidak ada konsep dengan hanya mengikuti beberapa aspek dari hukum Islam, baik sebagai individu maupun sebagai umat.
Tidak mengherankan jika media Barat dengan nafsu darahnya yang jahat terhadap Islam meliput kasus ini terus-menerus pagi hingga malam, bukan karena keprihatinan mereka terhadap Mariam dan anak-anaknya sebagaimana yang kita percayai, tapi kerena keinginan mereka untuk menjelek-jelekkan segala aspek dari hukum Syariah dan melenyapkannya dari hati dan pikiran umat Islam sebagai salah satu hukuman yang sadis dan biadab. Bahkan tindakan arif yang indah dengan menyusui anak selama dua tahun berani ditertawakan oleh apa yang disebut sebagai ideolog berpendidikan, dan semua ini karena pemerintah Sudan gagal untuk menegakkan Islam secara keseluruhan, yang seharusnya dunia bisa menyaksikan kemajuan sosial, pendidikan, keadilan dan toleransi. Sebaliknya penerapan Syariah yang salah bersama dengan pengawasannya yang juga diharuskan oleh Syariah, lebih jauh telah membuat Islam menjadi bahan ejekan, kebencian dan suatu penyimpangan peradaban. Ini merupakan suatu kebalikan dari apa yang yang telah diungkapkan oleh Hukm Syariah untuk dicapai, dan pernah dicapai selama lebih dari 1400 tahun.
Hanya dengan kembalinya Khilafah Rashidah yang dijanjikanlah yang akan memberikan perlindungan bagi Hukum Syariah Islam.
Ditulis untuk Kantor Media Pusat Hizbut Tahrir oleh
Um Mohammed
[www.globalmuslim.web.id]

Tulisan Terkait lainnya:




0 comments for Pemerintah Sudan Tidak Mewakili Islam

Leave comment

Gamis Murah

Hak Cipta Hanya Milik Allah SWT, Menyadur dan Menyebarkan isi Website ini Sangat di anjurkan | jawara web | seacrh engine | butik muslim | situs islam | islamic wallpaper | situs berita global