Ma’al Hadīts asy-Syarīf: Siapa Saja Yang Menjadikan Akhirat Misi Hidupnya

Photo: ‎Inilah Janji Yang Lebih Besar dari Runtuhnya Constantinople

Jika Sulthan Al Fatih pernah ber-Khutbah menjelang penaklukan Konstantinopel :

"Jika penaklukan kota Konstantinopel sukses, maka sabda Rasulullah SAW telah menjadi kenyataan dan salah satu dari mukjizatnya telah terbukti, maka kita akan mendapatkan bagian dari apa yang telah menjadi janji dari hadits ini, yang berupa kemuliaan dan penghargaan. Oleh karena itu sampaikanlah pada para pasukan satu persatu, bahwa kemenangan besar yang akan kita capai ini, akan menambah ketinggian dan kemuliaan Islam. Untuk itu, wajib bagi setiap pasukan, menjadikan syariat selalu didepan matanya dan jangan sampai ada diantara mereka yang melanggar syariat yang mulia ini. Hendaknya mereka tidak mengusik tempat-tempat peribadatan dan gereja-gereja. Hendaknya mereka jangan mengganggu para pendeta dan orang-orang lemah tak berdaya yang tidak ikut terjun dalam pertempuran."

================

Bagian mereka telah ia raih dg kemulyaan Al Fatih Sang Penakluk disaat kejatuhan Constantinople....
Kini kita masih punya kesempatan yg lebih besar lagi dari singgasananya Heraklius Constantinople itu, yaitu akan mengalahkan SELURUH SISTIM HIDUP (Liyudzhirohuu 'aladdiini kullih...) .

Pertanyaannya utk mengalahkan semua sistim hidup didunia ini apakah dg Kerajaan Saudi?, dg Republik Iran? , dg sistim Komunis?, dg sistim Demokrasi?, atau dg kejeniusan akal kita tanpa mencontoh perjuangan Rosulullah?????

Jawabnya adalah mustahil dg itu semua, akan tetapi hanya dg Khilafah dan menegakkannyapun harus mengikuti Manhaj Rosulullah, bukan yg lain.

Inilah yg merupakan janji besar, lebih besar dari runtuhnya Constantinople....

Kejadian ini dg izin Allah swt insyaAllah TERJADI, karena hal ini janji Allah swt dan Rosulullah saw, sebagaimana :
__________________
Pertama. Dari Sauban radhiyallahu ‘anhu berkata: Bersabda Rasulullah SAW:

إِنَّ اللهَ زَوَى لِي اْلأَرْضَ فَرَأَيْتُ مَشَارِقَهَا وَمَغَارِبَهَا وَإِنَّ أُمَّتِي سَيَبْلُغُ مُلْكُهَا مَا زُوِيَ لِي مِنْهَا

“Sesungguhnya Allah telah mengumpulkan (memperlihatkan) bumi kepadaku. Sehingga, aku melihat bumi mulai dari ujung Timur hingga ujung Barat. Dan umatku, kekuasaannya akan meliputi bumi yang telah dikumpulkan (diperlihatkan) kepadaku….” (HR. Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dan Tirmidzi)
Sabda beliau, “umatku, kekuasaannya akan meliputi bumi yang telah dikumpulkan (diperlihatkan) kepadaku” belum terrealisasikan hingga sekarang. Sebab, kaum Muslim belum pernah menguasai bumi mulai ujung Timur hingga ujung Barat hingga sekarang. Dan ini akan terjadi di masa yang akan datang. Sehingga ini menjadi isyarat akan berdirinya negara bagi kaum Muslim yang akan menaklukkan bumi mulai dari ujung Timur bumi hingga ujung Baratnya.

Kedua. Dari Ibnu Umar radhiyallahu ’anhu berkata: Aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda:

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمْ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ

”Jika kalian telah berjual-beli dengan cara ’înah (penjualan secara kredit dengan tambahan harga); dan kalian telah mengambil ekor sapi, lalu kalian (lebih) suka bertani, hingga kalian meninggalkan jihad, maka (ketika itu) Allah menimpakan kepada kalian kehinaan, Allah tidak akan mecabutnya sampai kalian kembali ke agama kalian.” (HR. Abu Dawud)

Sabda beliau, ”sampai kalian kembali ke agama kalian” artinya adalah sampai kalian kembali melaksanakan ajaran agama, dan menerapkannya untuk semua urusan kehidupan kalian.

Dengan demikian, hadits ini merupakan bisyârah (kabar gembira) dari Rasulullah SAW bahwa kaum Muslim akan kembali lagi menerapkan agamanya secara kâffah, menyeluruh, setelah sebelumnya mereka meninggalkannya.

Ketiga. Dari Abu Qabil yang berkata: Kami berada di sisi Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiyallahu ’anhu. Lalu, ia ditanya tentang manakah di antara dua kota yang akan ditaklukkan pertama, Konstantinopel atau Roma. Kemudian ia mengambil kotak yang ada hiasannya, ia mengeluarkan surat dari kotak tersebut, ia berkata: Abdullah Berkata, ”Pada saat kami sedang menulis di sisi Rasulullah SAW, tiba-tiba Rasulullah SAW ditanya, manakah di antara dua kota yang akan ditaklukkan pertama, Konstantinopel atau Roma. Rasulullah SAW bersabda:

مَدِينَةُ هِرَقْلَ تُفْتَحُ أَوَّلاً يَعْنِي قُسْطَنْطِينِيَّةَ

”Kota Heraklius yang akan ditaklukkan pertama—yakni Konstantinopel.” (HR. Ahmad)

Ketika Rasulullah SAW ditanya tentang penaklukkan dua kota, Konstantinopel dan Rumiyah—yaitu Roma ibu kota Italia—beliau tidak menafikan (membantah) penaklukkan Roma. Namun beliau hanya mengatakan bahwa Konstantinopel akan ditaklukkan pertama. Ini menunjukkan bahwa Roma akan ditaklukkan setelahnya. Sementara hingga saat ini, Roma belum ditaklukkan oleh kaum Muslim. Dengan demikian, hadits ini merupakan bisyârah (kabar gembira), bahwa kaum Muslim akan menaklukkan ibu kota Italia tersebut. Dan tidak terbayangkan bahwa kaum Muslim akan menaklukkannya sebelum kembalinya Khilafah yang menghidupkan kembali jihad di jalan Allah dan penaklukkan kota (melakukan futuhat).

Keempat. Dari Nu’man bin Basyir, dari Hudzaifah radhiyallahu ’anhu berkata: Rasulullah SAW bersabda:

تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلاَفَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلاَفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ثُمَّ سَكَتَ

“Akan ada fase kenabian di tengah-tengah kalian. Dengan kehendak Allah, ia akan tetap ada, kemudian Dia akan mengakhirinya, jika Dia berkehendak untuk mengakhirinya. Kemudian akan ada fase Khilafah berdasarkan metode kenabian. Dengan kehendak Allah, ia akan tetap ada, kemudian Dia akan mengakhirinya, jika Dia berkehendak untuk mengakhirinya. Kemudia akan ada fase penguasa yang zalim. Dengan kehendak Allah, ia akan tetap ada, kemudian Dia akan mengakhirinya, jika Dia berkehendak untuk mengakhirinya. Lalu akan ada fase penguasa diktator. Dengan kehendak Allah, ia akan tetap ada, kemudian Dia akan mengakhirinya, jika Dia berkehendak untuk mengakhirinya. Selanjutnya akan datang kembali Khilafah berdasarkan metode kenabian. Kemudian belia SAW diam.” (HR. Ahmad dan Ath-Thabarani)

Hadits ini menjelaskan bahwa Khilafah akan tegak kembali setelah fase penguasa yang zalim (mulkan ’adhan), dan fase penguasa diktator (mulkan jabariyan). Dan Khilafah yang akan tegak itu adalah Khilafah ‘ala minhaji an-nubuwah, Khilafah yang sesuai dengan metode kenabian, yakni Khilafah yang menilai dirinya seperti Khilafah pada masa Khulafaur Rasyidin. Sehingga dengan izin Allah, Khilafah yang akan tegak adalah Khilafah Rasyidah.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Source hadits dari:
(al-aqsa.org/Abu Ibrahiem Full)

Visit more: http://www.bringislam.web.id/2014/05/inilah-janji-yang-lebih-besar-dari-runtuhnya-constantinopel.html

Like page: Islam Will Dominate‎


Ma’al Hadīts asy-Syarīf: Siapa Saja Yang Menjadikan Akhirat Misi Hidupnya


Dari Anas bin Malik berkata bahwa Rasulullah saw bersabda:
مَنْ كَانَتْ الْآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ، وَمَنْ كَانَتْ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهُ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنْ الدُّنْيَا إِلَّا مَا قُدِّرَ لَهُ
Siapa saja yang menjadikan akhirat sebagai misinya, maka Allah puaskan hatinya, Allah kumpulkan apa yang masih tercerai, dan Allah berikan padanya dunia yang siap melayaninya. Siapa saja yang menjadikan dunia sebagai misinya, maka Allah menjadikan kemiskinan di antara kedua matanya, Allah cerai-beraikan apa yang terkumpul, dan Allah tidak memberikan padanya dunia, kecuali apa yang telah ditetapkan kepadanya.” (HR. At-Tirmidzi).
Dalam “Tuhfatul Akhwadzi bi Syarhi Jāmi’ at-Tirmidzi” dikatakan:
Sabda Rasulullah saw “hammahu, misinya”, yakni tujuan dan niatnya. Sementara dalam “al-Miskāh”: “Siapasaja yang niatnya mencari akhirat”.
ja’alallahu ghināhu fi qalbihi, Allah menjadikan hatinya puas”, yakni Allah menjadikan hatinya puas dengan merasa cukup agar tidak disibukkan dalam mencari tambahan.
wa jama’a lahu syamlahu, Allah kumpulkan apa yang masih tercerai”, yakni mengumpulkan urusannya yang tercerai-berai dengan menjadikannya seperangkat pemikiran melalui penyiapan sebab-sebabnya di mana ia tidak merasakan.
wa atathu ad-dunya, dan Allah berikan padanya dunia”, yakni apa yang telah ditetapkannya dan membagikan dunia untuknya.
wa hiya rāghimah, yang siap melayaninya”, yakni dunia itu tunduk dan patuh sehingga untuk mencarinya tidak membutuhkan kerja keras, namun dunia mendatanginya dengan mudah apapun pekerjaannya.
wa man kānat ad-dunya hammahu, siapa saja yang menjadikan dunia sebagai misinya”. Dalam “al-Miskāh”: “Siapasaja yang niatnya mencari dunia”.
ja’alallhu faqrahu baina ‘ainaihi, Allah menjadikan kemiskinan di antara kedua matanya”, yakni dorongan butuh pada kerja keras (diselimuti kesibukan), seperti adanya benda besar yang diletakkan di antara matanya.
wa farraqa ‘alaihi syamlahu, Allah cerai-beraikan apa yang terkumpul”, yakni mencerai-beraikan apa-apa yang telah dikumpulkan (hartanya tidak berkah, dan rencananya selalu gagal).
wa lam ya’tihi min ad-dunyā illa mā quddira lahu, Allah tidak memberikan padanya dunia, kecuali apa yang telah ditetapkan kepadanya”, yakni dunia enggan mendatanginya, sehingga tidak akan mendapatkan tambahan yang dicarinya, apapun pekerjaan dan usaha yang lakukannya.
Imam Ibnu al-Qayyim semoga Allah merahmatinya mengatakan: “Jika seorang hamba di waktu pagi dan sore tidak memiliki misi lain selain untuk Allah semata, maka Allah SWT yang akan menanggung seluruh kebutuhannya, dan menanggung semua keinginannya. Sehingga, ia mengosongkan hatinya hanya untuk mencintai-Nya, lisannya untuk selalu mengingat-Nya, dan anggota tubuhnya untuk senantiasa menaati-Nya. Jika seorang hamba di waktu pagi dan sore, sementara dunia sebagai misinya, maka Allah membebaninya dengan keprihatinan, kesedihan dan kesulitan. Bahkan Allah berlepas diri darinya.
Sungguh kecintaan terhadap dunia dan kesibukan dengan dunia telah melupakan dan memalingkan manusia dari menaati Allah, dan dari menyembah kepadanya dengan sebenar-benarnya menyembah. Sehingga datang berurutan ayat-ayat dan hadits-hadits, yang diantaranya adalah hadits yang sedang kita bicarakan ini, untuk mengingatkan kita dari apa yang kita lupakan, dan untuk menghasilkan kekuatan pendorong yang akan menambah ketenangan hati kita, serta mengarahkan kita untuk meninggalkan dan bersikap zuhud terhadapnya, karena berharap apa yang ada di sisi Allah, yaitu ridha Allah di dunia dan kenikmatan di akhirat.
Kami menutup kajian ini dengan firman Allah SWT: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (TQS. Ali Imran [3] : 14).
Dengan memohon kepada Allah Dzat Yang Mahakuasa semoga Allah tidak menjadikan dunia sebagai misi terbesar kita; dan tidak pula sebagai puncak pengetahuan kita.
Sumber: hizb-ut-tahrir.info, 16/5/2014.
[www.globalmuslim.web.id]

Tulisan Terkait lainnya:




0 comments for Ma’al Hadīts asy-Syarīf: Siapa Saja Yang Menjadikan Akhirat Misi Hidupnya

Leave comment

Gamis Murah

Hak Cipta Hanya Milik Allah SWT, Menyadur dan Menyebarkan isi Website ini Sangat di anjurkan | jawara web | seacrh engine | butik muslim | situs islam | islamic wallpaper | situs berita global