Hati-hati Menebar Janji

Foto: Hati-hati Menebar Janji

Saat ini janji-janji begitu mudah diucapkan. Hampir seluruh parpol peserta pemilu dan para caleg berlomba mengobral janji-janji mereka. Beragam janji manis dengan entengnya dilontarkan seolah tanpa beban. Faktanya, janji-janji yang sama juga dilontarkan oleh mereka sejak pemilu-pemilu sebelumnya. Faktanya pula, janji-janji manis di mulut mereka kebanyakan pahit dirasakan oleh rakyat. Pasalnya, janji sering tinggal janji, tanpa pernah ada buktinya.

Padahal jelas, Allah SWT telah memerintahkan kita untuk memenuhi janji-janji kita, sebagaimana firman-Nya (yang artinya): Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah janji-janji itu (TQS al-Maidah [5]: 1). Allah SWT pun berfirman (yang artinya): Penuhilah oleh kalian janji itu karena sesungguhnya janji itu akan dimintai pertanggung jawaban (TQS al-Isra’ [17]: 34). Allah SWT bahkan memuji siapa saja yang memenuhi janjinya, sebagaimana firman-Nya (yang artinya): Sebenarnya siapa yang menepati janji (yang dia buat) dan bertakwa maka Allah menyukai orang-orang yang bertakwa.” (TQS Ali Imran [3]: 76).

Selain itu, Abu Bakar ash-Shiddiq ra pernah berkata dalam khutbahnya setelah Rasulullah SAW wafat, “Rasulullah SAW pernah berdiri di samping kami seperti aku berdiri saat ini—seraya Abu Bakar ra. menangis—dan berkata, ‘Kalian harus selalu jujur karena jujur itu selalu bersama kebaikan. Keduanya ada di surga.’”  Muadz bin Jabbal ra  juga bertutur, “Rasulullah SAW pernah berkata kepada diriku, ‘Aku mewasiatkan kepada engkau agar selalu bertakwa kepada Allah, berkata jujur, menunaikan amanah, memenuhi janji…’” (An-Nawawi, Riyadh Shalihin, I/94).

Sebaliknya, jika memang kita khawatir janji itu tidak terpenuhi atau kita khawatir mengkhianati janji kita, maka selayaknya kita tidak boleh banyak mengumbar janji karena janji serupa dengan utang yang mesti dibayar.

Allah SWT telah mencela orang-orang yang ucapannya tidak sesuai dengan tindakannya, sebagaimana firman-Nya (yang artinya): Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengucapkan sesuatu yang tidak kalian laksanakan. Sungguh besar kebencian Allah saat kalian mengucapkan sesuatu yang tidak kalian laksanakan (TQS ash-Shaff [61]: 2-3).

Rasulullah SAW bahkan memasukkan perbuatan tidak memenuhi janji sebagai salah satu tanda orang munafik. Beliau bersabda sebagaimana dituturkan oleh Abu Hurairah ra, “Tanda munafik itu ada tiga: jika bicara banyak berdusta; jika berjanji sering mengingkari; jika diamani banyak mengkhianati.” (Mutaffaq ‘alaih). Dalam riwayat Imam Muslim ditambahkan, “…meskipun dia berpuasa, shalat dan mengaku dirinya Muslim.”

Rasulullah SAW juga bersabda, sebagaimana dituturkan oleh Amr bin al-Ash ra, “Ada empat perkara yang siapa saja memilikinya maka dia benar-benar seorang munafik. Siapa saja yang memiliki salah satunya berarti dia memiliki salah satu sifat munafik hingga dia mencampakkannya: jika diamanahi, dia khianati; jika berbicara, dia berdusta; jika berjanji, ia mengingkari; jika bersengketa, ia berbuat curang/jahat.” (Mutaffaq ‘alaih).

Karena itu, menepati atau memenuhi janji adalah keharusan, kecuali ada uzur atau alasan. Jika saat berjanji memang ada niatan untuk tidak memenuhi atau menepati janji tersebut maka itulah salah satu perbuatan munafik (Al-Ghazali, Bidayah al-Hidayah, I/15).

Demikian pula dusta dalam ucapan dan sumpah; keduanya termasuk ke dalam dosa dan aib. Abu Bakar ash-SHiddiq ra menuturkan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, “Kalian mesti menjauhi dusta karena dusta bersama dengan kejahatan; keduanya ada di neraka.” Abu Umamah ra. juga menuturkan bahwa Rasululullah saw. pernah bersabda, “Sesungguhnya dusta adalah salah satu pintu kemunafikan.”

Adapun Imam al-Hasan ra. berkata, “Dikatakan bahwa perbuatan munafik itu adalah berbeda antara sembunyi dan terang-terangan; antara ucapan dan tindakan; dan antara masuk dan keluar. 
Sesungguhnya pangkal perbuatan munafik adalah dusta.” Imam al-Hasan ra. juga berkata, “Sungguh besar pengkhianatan jika kamu berbicara kepada saudaramu dengan suatu ucapan, lalu saudaramu itu membenarkannya, sementara kamu malah berdusta.” (Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulum ad-Din, I/292-231).

Apalagi jika pengkhianatan janji itu dilakukan oleh para pemimpin dan para calon pemimpin masyarakat. Rasulullah SAW bersabda, “Setiap pengkhianat memiliki panji pada Hari Kiamat kelak sesuai dengan kadar pengkhianatannya. Ingatlah, tidak ada pengkhianatan yang lebih besar dari (pengkhianatan) seorang pemimpin masyarakat.” (HR Muslim). Wallahu a’lam [] abi

http://hizbut-tahrir.or.id/2014/04/14/hati-hati-menebar-janji/

==============================
Raih Amal Sholih dengan Ikut Serta Menyebarkan Status ini.
==============================
Jika Saudara/i ingin mengkaji Islam dan berdakwah bersama HIZBUT TAHRIR INDONESIA silahkan mengisi form yang kami sediakan di www.hizbut-tahrir.or.id/rekrutmen

Syabab Hizbut Tahrir di daerah terdekat akan segera menghubungi anda.
==============================
Website : www.hizbut-tahrir.or.id
Youtube : http://www.youtube.com/htiinfokom
Facebook : https://www.facebook.com/Htiinfokom
Twitter : https://twitter.com/hizbuttahrirID
=============================== 
Hati-hati Menebar Janji

Saat ini janji-janji begitu mudah diucapkan. Hampir seluruh parpol peserta pemilu dan para caleg berlomba mengobral janji-janji mereka. Beragam janji manis dengan entengnya dilontarkan seolah tanpa beban. Faktanya, janji-janji yang sama juga dilontarkan oleh mereka sejak pemilu-pemilu sebelumnya. Faktanya pula, janji-janji manis di mulut mereka kebanyakan pahit dirasakan oleh rakyat. Pasalnya, janji sering tinggal janji, tanpa pernah ada buktinya.

Padahal jelas, Allah SWT telah memerintahkan kita untuk memenuhi janji-janji kita, sebagaimana firman-Nya (yang artinya): Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah janji-janji itu (TQS al-Maidah [5]: 1). Allah SWT pun berfirman (yang artinya): Penuhilah oleh kalian janji itu karena sesungguhnya janji itu akan dimintai pertanggung jawaban (TQS al-Isra’ [17]: 34). Allah SWT bahkan memuji siapa saja yang memenuhi janjinya, sebagaimana firman-Nya (yang artinya): Sebenarnya siapa yang menepati janji (yang dia buat) dan bertakwa maka Allah menyukai orang-orang yang bertakwa.” (TQS Ali Imran [3]: 76).

Selain itu, Abu Bakar ash-Shiddiq ra pernah berkata dalam khutbahnya setelah Rasulullah SAW wafat, “Rasulullah SAW pernah berdiri di samping kami seperti aku berdiri saat ini—seraya Abu Bakar ra. menangis—dan berkata, ‘Kalian harus selalu jujur karena jujur itu selalu bersama kebaikan. Keduanya ada di surga.’” Muadz bin Jabbal ra juga bertutur, “Rasulullah SAW pernah berkata kepada diriku, ‘Aku mewasiatkan kepada engkau agar selalu bertakwa kepada Allah, berkata jujur, menunaikan amanah, memenuhi janji…’” (An-Nawawi, Riyadh Shalihin, I/94).

Sebaliknya, jika memang kita khawatir janji itu tidak terpenuhi atau kita khawatir mengkhianati janji kita, maka selayaknya kita tidak boleh banyak mengumbar janji karena janji serupa dengan utang yang mesti dibayar.

Allah SWT telah mencela orang-orang yang ucapannya tidak sesuai dengan tindakannya, sebagaimana firman-Nya (yang artinya): Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengucapkan sesuatu yang tidak kalian laksanakan. Sungguh besar kebencian Allah saat kalian mengucapkan sesuatu yang tidak kalian laksanakan (TQS ash-Shaff [61]: 2-3).

Rasulullah SAW bahkan memasukkan perbuatan tidak memenuhi janji sebagai salah satu tanda orang munafik. Beliau bersabda sebagaimana dituturkan oleh Abu Hurairah ra, “Tanda munafik itu ada tiga: jika bicara banyak berdusta; jika berjanji sering mengingkari; jika diamani banyak mengkhianati.” (Mutaffaq ‘alaih). Dalam riwayat Imam Muslim ditambahkan, “…meskipun dia berpuasa, shalat dan mengaku dirinya Muslim.”

Rasulullah SAW juga bersabda, sebagaimana dituturkan oleh Amr bin al-Ash ra, “Ada empat perkara yang siapa saja memilikinya maka dia benar-benar seorang munafik. Siapa saja yang memiliki salah satunya berarti dia memiliki salah satu sifat munafik hingga dia mencampakkannya: jika diamanahi, dia khianati; jika berbicara, dia berdusta; jika berjanji, ia mengingkari; jika bersengketa, ia berbuat curang/jahat.” (Mutaffaq ‘alaih).

Karena itu, menepati atau memenuhi janji adalah keharusan, kecuali ada uzur atau alasan. Jika saat berjanji memang ada niatan untuk tidak memenuhi atau menepati janji tersebut maka itulah salah satu perbuatan munafik (Al-Ghazali, Bidayah al-Hidayah, I/15).

Demikian pula dusta dalam ucapan dan sumpah; keduanya termasuk ke dalam dosa dan aib. Abu Bakar ash-SHiddiq ra menuturkan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, “Kalian mesti menjauhi dusta karena dusta bersama dengan kejahatan; keduanya ada di neraka.” Abu Umamah ra. juga menuturkan bahwa Rasululullah saw. pernah bersabda, “Sesungguhnya dusta adalah salah satu pintu kemunafikan.”

Adapun Imam al-Hasan ra. berkata, “Dikatakan bahwa perbuatan munafik itu adalah berbeda antara sembunyi dan terang-terangan; antara ucapan dan tindakan; dan antara masuk dan keluar.
Sesungguhnya pangkal perbuatan munafik adalah dusta.” Imam al-Hasan ra. juga berkata, “Sungguh besar pengkhianatan jika kamu berbicara kepada saudaramu dengan suatu ucapan, lalu saudaramu itu membenarkannya, sementara kamu malah berdusta.” (Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulum ad-Din, I/292-231).

Apalagi jika pengkhianatan janji itu dilakukan oleh para pemimpin dan para calon pemimpin masyarakat. Rasulullah SAW bersabda, “Setiap pengkhianat memiliki panji pada Hari Kiamat kelak sesuai dengan kadar pengkhianatannya. Ingatlah, tidak ada pengkhianatan yang lebih besar dari (pengkhianatan) seorang pemimpin masyarakat.” (HR Muslim). Wallahu a’lam [] abi

[www.globalmuslim.web.id]

Tulisan Terkait lainnya:




0 comments for Hati-hati Menebar Janji

Leave comment

Gamis Murah

Hak Cipta Hanya Milik Allah SWT, Menyadur dan Menyebarkan isi Website ini Sangat di anjurkan | jawara web | seacrh engine | butik muslim | situs islam | islamic wallpaper | situs berita global