Harapan Kosong Demokrasi, Semua Ada Masanya

Ada foto politik yang unik, menarik dan menggelitik di tahun 2003. Ini sangat menginspirasi saya. Lima orang tokoh politik negeri ini berfoto bersama, saling mengulurkan tangan tanda kesatuan. Wajah mereka sangat gembira. Baju mereka seragam. Sama-sama kuning. Sungguh harmonis dan bersemangat. 

Itu 2003. Bagaimana dengan sekarang? Tahu sendiri lah.Tulisan yang mengulas foto ini juga banyak. Tapi yang ingin saya tekankan adalah tentang masa. semua itu ada waktunya. Apalagi di dunia politik praktis seperti di Indonesia.

Coba Anda bayangkan kalo di masa tahum 1995 kita berbicara di depan publik tentang ide-ide reformasi. Bagaimana kira-kira? Tentu sangat berat. Jangankan di depan publik, sekedar bicara saja akan tidak aman. Dan berbicara tentang keberhasilan pembangunan adalah mudah dan ringan.

Kemudian mari kita ingat massa tahun 1998. Bagaimana kalau kita bicara reformasi? tentu ringan sekali. Hampir semua orang sedang eforia reformasi. Coba Anda bayangkan kalo kita bicara tentang harapan kosong demokrasi? wah, pasti dianggap orang aneh. Saya masih ingat, disuruh menyebarkan sebuah buletin jumat yang isinya mengkritik demokrasi. Berisi tentang harapan kosong demokrasi. Beraat sekali rasanya untuk menyebarkan. "Yah, Ustad, reformasi kan baru sedang gegap gempita. Masak tulisan begini sudah dikeluarkan? Nantilah kalo sudah jalan, dan tidak  terbukti, baru kita serang." Saya sangat malas menyebarkannya. Setumpuk buletin hanya tersebar separonya. Astaghfirullah.

Dan sekarang ini adalah tahun 2014. Menjelang pemilu. Bagaimana kalau kita bicara tentang reformasi saat ini. Tentu sangat aneh. Lalu apa sekarang yang sedang ngetrend? Jangankan bicara ide golput, golputnya menang sudah sejak beberapa tahun yang lalu. Bicara tentang harapan kosong pemilu, bahkan dibicarakan oleh rakyat kecil di warung-warung makan, gang-gang dan rumah-rumah.

Dan yang paling mengerikan adalah: bicara tentang pemberantasan korupsi dan undang-undang saja terasa sangat hambar dan terlambat, astaghfirullahaladzim.

Sekarang lihat foto politik yang unik dan menggelitik itu lagi. tahun 2003. kemudian lihat gambar-gambar mereka sekarang di tahun 2014. Beda sekali bukan?

Memang semua ada waktunya. Sesungguhnya tokoh-tokoh dan pejabat itu sudah ada sejak dulu. Kiprahnya juga telah dikenal. Tapi umat ini perlu waktu untuk memastikan bahwa mereka sebenarnya tidak mampu. bahkan jahat terhadap umat. Perlu waktu.

Sejak jaman Suharto, kita telah bicara harapan kosong demokrasi. pembicaraan kita terasa sangat lucu. Saat reformasi lebih terasa lucu lagi. Apalagi bicara khilafah. Tapi jangan khawatir, waktu terus berjalan. hinga tiba waktunya begitu ringan orang-orang mencaci maki para politikus, pejabat dan demokrasi. Khilafah terus bergulir sebagai sebuah konsep. Sementara demokrasi bukanlah konsep tapi tengah berjalan. Dan demi waktu, demokrasi gagal membuktikan.

Bagaimana sempat-sempatnya menyerang konsep khilafah yang belum terwujud? Padahal waktu pembuktian demokrasi hampir habis. Semua perlu waktu, semua ada massanya. Teruslah bersabar, berdoa, bertawakal dan terus berjuang. Biarlah Allah sendiri yang menentukan saatnya. Saat waktu masanya..
[mbah Marijon]
[www.globalmuslim.web.id]

Tulisan Terkait lainnya:




1 comments for Harapan Kosong Demokrasi, Semua Ada Masanya

  1. setuju semua ada waktunya, maka hidupkanlah selalu Islam dalam setiap pergantian waktu itu,

    kini adalah era demokrasi maka lakukan juga Islamisasi demokrasi terus dan terus,

    hingga ketika demokrasi runtuh maka Islam tetap tegak dan langsung siap siaga berdiri mengambil alih kekuasaan menggantikan demokrasi DENGAN KILAT

Leave comment

Gamis Murah

Hak Cipta Hanya Milik Allah SWT, Menyadur dan Menyebarkan isi Website ini Sangat di anjurkan | jawara web | seacrh engine | butik muslim | situs islam | islamic wallpaper | situs berita global