Felix Siauw: "Barat Belajar dari Kekalahan di 1453 " (1)


Sosoknya masih muda. Matanya sipit. Khas seperti orang Tionghoa. Karena dia memang orang China asli. Dia menganut Islam sejak berusia 18 tahun. "Karena saya sudah mencari, dan Islam adalah agama yang paling logis," tuturnya. Itulah Felix Siauw. 

Suatu siang di pertengahan Mei 2012 lalu, sesosok Felix berjalan pelan di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) di jalan Sudirman, Jakarta.  Dia sengaja diundang untuk memberi ceramah di salah satu perusahaan minyak asal China. Kebetulan perusahaan itu berkantor di gedung BEI itu. 

Selintas, sosok Felix tak seperti uztadz kebanyakan. Tak ada janggut di dagu. Tak ada sorban di kepala. Dia berbatik dan bersandal ria saja. Tak ada para "pengawal"nya. Dia datang sendiri. Tangan kanannya menenteng sebongkah kotak berisi buku-buku karyanya, "Muhammad Al Fatih 1453". Itulah buku karangannya. Tangan kirinya sibuk menyeret koper, yang juga berisi buku dan laptop untuk bekal ceramahnya. 

Bila sekilas melihat tampangnya, tentu khalayak tak akan yakin dia seorang Ustadz. Tapi begitu dia berceramah, hampir seluruh yang mendengar, takjub dibuatnya. Felix berceramah berlandaskan kisah sejarah. Dia fasih menceritakan tentang epos di tahun 1453. Kisah itu adalah perjuangan Muhammad Al Fatih memimpin penaklukan Islam atas Konstantinopel. Felix berceramah bak mempresentasikan makalah. Tak heran dia pun melabelkan dirinya sebagai enterpreuner Islam. 

Kisah yang disampaikan Felix memang luar biasa. Bila tak percaya, silahkan saja simak tausiah-nya yang tersebar lebar di youtube. Ketik saja "felix siauw" sebagai key word-nya. Anda akan bisa menyimak bagaimana pemaparan Felix mengkisahkan kepahlawanan Muhammad Al Fatih dalam merebut Konstantinopel, yang kala itu adalah kota kebanggaan Barat. 
Selain menuliskan sebuah buku, Felix pun berkeliling Indonesia dan luar negeri, hanya untuk men-saleskan kisah 1453 itu. Bisa dibilang, dia fanatik luar biasa atas kisah itu. Buktinya, ketiga anaknya, diberi nama "Muhammad Al Fatih 1453". Begitulah. "Saya sampai kerepotan mengurus akta kelahiran anak saya, karena ada angka 1453-nya," paparnya sambil tersenyum. 

Nah, untuk tahu bagaimana sebenarnya kisah 1453 itu, simak petikan wawancara khusus Irawan Santoso dari MAHKAMAH dengan Felix Siauw, beberapa waktu lalu.  

Bagaimana situasi di tahun 1453 kala terjadi perang dua adidaya antara Utsmaniyah versus Romawi itu? 
Sebelum menceritakan 1453, kita perlu lihat dulu kejadian sebelum di tahun itu. Tahun 1453 memang dikatakan Barat bahwa saat itu merupakan pertengahan dari abad gelap mereka, menuju abad pencerahan. Karena tidak ada perdebatan di kalangan sejarahwan bahwa masa gelap itu berakhir dari abad 15. Mereka menspesialisasi abad gelap itu di tahun 1453. Tahun yang sama dengan kejatuhan Konstantinopel. Kenapa saya bisa katakan begitu? Karena dulu kala Islam bangkit, di abad 7, muncul di tanah Arabia, ada dua generasi yang berganti. Dari era Khulafaur Rasyidin hingga Umayyah dan berganti ke Abbasiyah.

Jadi sewaktu Muhammad Al Fatih itu menaklukkan Konstantinopel, dia sebenarnya masih dalam ke-khilafahan Abbasiyah. Karena kekehilafahan Abbasiyah ini sejatinya tidak ada (pasukan perang). Karena mereka secara de jure memegang tampuk kepemimpinan Islam di seluruh dunia, tapi kekuatan dia sebenarnya tidak ada. Karena mereka sudah dalam masa "malas berperang". Mereka lagi dalam suasana kemewahan. Mereka bisa dibilang sempat meninggalkan jihad. Karena mereka sudah memasuki titik puncak. Dalam setiap peradaban memang pasti selalu mengalami titik puncak seperti itu itu. Istilahnya golden age (masa emas).

Nah, kala golden age itu para khalifah-khalifah itu jadi terlena. Ketika terlena itu, khalifah-khalifah itu kemudian membuat sebuah kebijakan, yang intinya mereka tidak ingin pusing. Kebijakan itu adalah menempatkan budak-budak mereka di perbatasan. Mereka menjaga budak-budak ini. Konsep ini hampir sama juga dengan di Eropa. Di sana juga para bangsawan ditempatkan di pinggiran wilayah. Mereka inilah yang menjaga perbatasan. Nah, di Islam itulah yang dikenal Mamluk.

Mamluk itu bisa anda ceritakan juga? 
Mamluk ini siapa? Kalau diceritakan memang panjang. Mamluk ini berasal dari kata "abdunmamluk" artinya budak yang dimiliki. Siapa Mamluk ini? Merujuk pada orang-orang Turki. Karena dulunya orang-orang Turki ini budaknya orang Arab. Mereka ditempatkan dipinggiran, kemudian diberi legitimasi oleh seorang Sultan. Bila dalam era sekarang, Sultan-sultan itu ibarat Gubernuran. Setingkat Wali (Gubernur). Para Mamluk ini beri kewenangan di pinggiran untuk berperang dengan orang-orang kafir.
fotoHal inilah yang kemudian memunculkan Dinasti Mamluk. Dinasti Mamluk ini sangat banyak. Ada di Mamluk Mesir, ada pula Mamluk di daerah Asia kecil. Inilah yang kemudian memunculkan Bani Saljuk. Mereka ini asli orang-orang Turki. Termasuk Salahuddin Al Ayubbi ini keturunan Mamluk Turki juga. Lambat laun, ternyata Bani Saljuk ini sangat perkasa dan mampu membentuk pasukan tempur yang hebat. Makanya secara de jure Abbasiyah yang berkuasa, tapi secara de facto yang punya kekuatan itu adalah kegubernuran Utsmani ini.

Jadi kala itu Utsmaniyah masih sebagai propinsi saja? 
Iya mereka masih propinsinya Abbasiyah. Makanya ketika Sholat Jumat, yang selalu disebut dalam doa adalah para Khalifah di Baghdad. Mereka dimuliakan dan ditakuti. Ketika Baghdad ditaklukan dan berpindah ke Mesir, para khalifah itu juga tetap disebut (dalam Sholat Jumat). Karena memang Khalifah ini pusat kekuasaan. Setiap penaklukan memang perlu minta ijin kepada khalifah.

Bagusnya orang-orang Utsmani ini, mereka tidak melakukan kudeta, walaupun mereka memiliki kekuatan. Mereka tetap melayani khalifah, karena khalifah sebagai amirul mukminin.   
Saking kuatnya Utsmani, sebenarnya secara de facto yang memimpin itu adalah Utsmani. Mereka yang face to face dengan Asia Kecil termasuk Konstantinopel.

Lalu tentang Konstantinopel itu sendiri, bagaimana petanya? 
Jadi sebelum Muhammad Al Fatih menyerang Konstantinopel, Konstantinopel itu adalah sebuah wilayah yang sudah dikeliling oleh wilayah Islam. Karena Islam sudah nyeberang selat Dardanel menguasai wilayah Balkan. Serbia, Bosnia itu sudah dikuasai. Jadi sebelah barat sudah ditaklukan Islam, sebelah Timur juga sudah dikuasai. Jadi Konstantinopel itu ibarat duri dalam daging. Tapi kenapa Konstantinopel masih bisa hidup? Karena mereka dibantu orang-orang Genoa. Orang-orang Genoa ini punya perkemahan di Laut Mati.

Jadi Konstantinopel ini terjepit di tengah, tapi masih punya logistik-logistik dari beberapa wilayah, termasuk Malta itu. Jadi bagi orang Barat, Konstantinopel ini patut dipertahankan, karena kalau kota ini jatuh, mereka habis. Karena bila Konstantinopel jatuh, pasti kota Roma akan bahaya.
Jadi clash ini bukan sekedar perang Timur dan Barat. Tapi sudah perang Islam dan Kristen. Hegemoninya disitu. Jadi perseteruan diantara dua agama ini memang sudah dari dulu. Termasuk dalam Perang Salib itu, yang memang dimulai oleh orang Kristen di tahun 1095. Kemudian terjadi perang peradaban. Puncaknya adalah di tahun 1453 itu yang ditandai dengan runtuhnya Romawi Timur ditangan Islam.

Perang ini apakah juga terkait dengan perekonomian? 
Iya tentu saja. Bagaimana pun Konstantinopel itu adalah pintu masuk buat orang-orang Eropa. Karena kapal-kapal dagang mereka bersandar di sana. Konstantinopel jadi pusat perdagangan orang Eropa saat itu. Karena Konstantinopel itu gerbang antara Barat dan Timur. Jadi posisi kota itu sangat penting.

Jadi begitu kota itu takluk di tangan Islam, aktivitas perdagangan mereka terganggu. Makanya banyak catatan negatif yang ditulis oleh para pedagang. Inilah yang banyak dikutip oleh Roger Crowly (penulis buku "1453 Detik-Detik Jatuhnya Konstantinopel ke tangan Islam"-red). Efeknya justru banyak sekali diperoleh oleh Barat. Ketika Konstantinopel takluk, Barat justru mendapatkan pencerahan pemikiran.

Seperti apa pencerahan pemikiran yang Barat dapatkan itu? 
Ya sebelum Islam masuk ke daerah Barat itu, mereka kan menganggap agama itu sebagai pembelenggu. Budak. Makanya ketika mereka Rennaisance, orang-orang Barat mengatakan "gantung raja yang terakhir dengan menggunakan usus pendeta yang terakhir". Karena mereka menilai agama itu membuat kita menjadi jumud. Tidak bisa melakukan apa pun. Mereka tidak  menemukan kebebasan berpikir dengan adanya agama mereka. Ketika mereka meneliti kimia, dianggap salah. Kemudian dibakar. Ketika ada yang mengatakan bumi itu bulat, dianggap menentang gereja dan dipenjara. Ada yang mengatakan matahari itu pusat tata surya, lalu dibunuh. Nah, dengan kejadian ini orang-orang Barat menyimpulkan tidak akan bisa maju bila terus dibelenggu dengan agama itu.

Hal itulah yang membuat mereka mencerahkan. Setelah melihat Islam. Dan itu mereka akui sendiri.

Justru setelah Barat kalah pada 1453, malah membuat mereka cerah?
Barat itu kan baru mulai muncul di abad 15. Para pemikir Barat baru muncul di abad 17, seperti Isac Newton dan lainnya itu. Jangan lupa, Newton itu mengambil rujukan dari mana? Dia mengutip dari kitab orang Muslim semua. Artinya Islam berperan besar dalam kebangkitan barat. Makanya mereka mengatakan kita (Barat) tak akan menemukan kebangkitan bila tak melihat Islam.

Makanya sejak itu ramai penerjemahan kitab-kitab (buku-buku) karya orang Islam ke bahasa Romawi, Yunani dan lainnya. 

fotoKembali ke peristiwa di 1453. Kita tahu salah satu kekuatan pasukan Utsmaniyah adalah pasukan elit bernama Janissari. Bisa digambarkan bagaimana pasukan itu? 
Bisa dikatakan pasukan elit pertama kali di dunia itu adalah bentukan Islam. Umar Bin Khattab yang pertama kali membentuk pasukan elit. Kemudian itu disempurnakan oleh Sultan Muhammad Al Fatih. Contohnya, saat ini kalau militer bermain drumband, itu pertama kali dilakoni oleh pasukan Janissari. Mereka bermain musik dalam rangka memberikan semangat kepada pasukan dan membuat ketakutan kepada musuh. Ketika pengepungan Konstantinopel, musik-musik yang dimainkan oleh pasukan Janissari itu diakui membuat takut tentara Konstantinopel. Roger Crowly juga menggambarkan itu.

Lagu-lagu itu yang dimainkan dengan tamborine dan alat lainnya, di lengkapi dengan teriakan-teriakan "Allahu Akbar", "Laillah ha Illaullah" membuat ciut nyali pasukan Romawi. Itu gambaran secara institusi.

Lalu ada yang menggambarkan juga, wajar bila memang Utsmaniyah menguasai dunia karena memang mereka memiliki pasukan elit seperti itu. Pasukannya itu sanggup tidur ditanah, kemudian bangun di pagi hari, tak takut mati. Ketika diajak perang tidak sulit, sama seperti diajak kondangan saja. Begitu perang, juga pasukannya maju dengan semangat. Mereka seperti singa, bukan seperti manusia kala bertempur. Malah ada yang menggambarkan, 100 pasukan Islam bila disuruh bergerak pasti akan lebih senyap dan lebih cepat dibanding 100 pasukan Kristen. Tidak ada sumpah serapah diantara pasukannya. Begitu gambarannya. 

Ini yang kemudian diadopsi secara utuh oleh Barat. Barat kemudian membentuk pasukan-pasukan elit juga. Setelah mereka melihat Janissari itu. Barat hanya memiliki knight saja. Ketika Perang Salib, Barat memang membentuk pasukan juga. Tapi di dalamnya adalah para perampok, para pendosa dan lainnya. Nah, Islam tidak seperti itu. Pasukan Islam adalah pasukan khusus.

Situasi waktu itu, sebelum Utsmaniyah berperang, tak sulit mengumpulkan pasukan. Sempat dibuka pendaftaran untuk siapa saja yang ingin ikut berperang. Di utamakan para pemuda yang belum menikah. Jadi saat itu, bagi siapa yang mendaftar kemudian ditolak karena tidak memenuhi syarat, pasti akan malu sekali. Itu ibarat sebuah dosa. Dan tidak ada orang tua, yang anaknya tidak masuk dalam pasukan itu. Karena masuk dalam pasukan itu adalah sebuah status yang tinggi sekali.

Apa yang mendasari masyarakat Islam saat itu berlomba-lomba untuk ikut berperang menaklukan Konstantinopel itu? 
Masyarakat kala itu sudah mengenal pula materilistis. Tapi yang sangat mendasari adalah adanya sebuah Hadist Nabi Muhammad SAW, "Suatu saat Konstantinopel takluk ditangan Islam, ditangannya-lah sebaik-baiknya pasukan, dan dialah sebaik-baiknya pemimpin". Nah dengan Hadist itu saja orang ramai-ramai bergerak, semua berburu nafsu untuk ikut berperang. Tidak ada yang tidak ingin ikut berperang.


Bersambung....
[www.globalmuslim.web.id]

Tulisan Terkait lainnya:




0 comments for Felix Siauw: "Barat Belajar dari Kekalahan di 1453 " (1)

Leave comment

Gamis Murah

Hak Cipta Hanya Milik Allah SWT, Menyadur dan Menyebarkan isi Website ini Sangat di anjurkan | jawara web | seacrh engine | butik muslim | situs islam | islamic wallpaper | situs berita global