Ajaran Walisongo: Mengucapkan & Ikut Hari Raya Natal Bisa Menjadi Kafir

 Sekarang ini Natal bukan hanya urusannya umat Kristen tetapi telah menjadi urusan umat Islam pula. Kenapa? Tidak banyak yang menyadari bahwa semakin mewabah dimana-mana umat Islam telah sengaja diprovokasi, dijebak dan dijerumuskan untuk terlibat dalam kegiatan Natal. Berikut adalah pernyataan mereka di Majalah Kristen Bahana, Januari 2008 “Gereja bertekad bahwa kebahagiaan Natal haruslah dirayakan dan dibagikan ke sesama, tanpa peduli agama, ras dan suku.”

Maka Istilah Natal bersama bukan lagi sekedar bermakna kebersamaan perayaan Natal antara umat Kristen Katolik atau umat Kristen Protestan atau umat Kristen dari aliran yang lain, tetapi juga melibatkan umat Islam atau umat non Kristen lainnya.

Tak sedikit diantara umat Islam yang ikut-ikutan kegiatan Natal. Awalnya, tak banyak diantara umat Islam yang bersedia menghadiri. Namun sering perjalanan waktu dan pengaburan pemahaman, mulai banyak diantara umat yang ikut merayakan. Ucapan selamat Natal yang semula difatwakan Haram oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan banyak diikuti oleh umat, kini fatwa itu seolah dibuang begitu saja. Keikutsertaan sebagian mereka makin mendapatkan pembenaran ketika ada satu dua orang tokoh umat Islam yang ikut menghadiri, ikut memberikan ucapan selamat, dan bahkan ikut membuat 'fatwa' bolehnya mengucap selamat Natal.

Jauh-jauh hari sebelum muncul polemik boleh tidaknya umat Islam mengucapkan selamat Natal atau menghadiri perayaan Natal, ternyata para Walisongo yang hidup sekian ratus tahus silam sudah mengantisipasi dan membuat peringatan keras. Jauh sebelum MUI membuat Fatwa Keharaman Keikutsertaan Umat Islam dalam Perayaan Natal, Walisongo sudah membuat fatwa serupa. Bahkan jauh lebih keras.

Telisik punya telisik, pernyataan Walisongo tentang keharaman keikutsertaan umat Islam dalam perayaan Natal bisa dirujuk pada sebuah kitab yang dikenal dengan sebutan “Kropak Farara” atau “Lontar Ferrara”. Lontar Ferrara adalah karya tulis yang memuat petuah keagamaan yang diyakini berasal dari Jaman Kawalentersebut (Jaman Kewalen atau Jaman Kuwalen adalah ungkapan masyarakat Jawa dan juga ungkapan populer yang termuat dalam sejumlah naskah klasik Jawa untuk menyebut era dimana yang diyakini para anggota Wali Sanga hidup). Naskah ini ditulis di atas daun “Tal” (Lontar) yang terdiri dari 23 lembar berukuran 40 x 3,4 cm dan saat ini tersimpan di Perpustakaan Umum Ariostea di Ferrara, Italia (G. W. J. Drewes, Perdebatan Walisongo Seputar Makrifatullah, Terjemahan dari An Early Javanese Code of Muslim Ethics penerjemah: Wahyudi, Surabaya: Alfikr, 2002, p. 1). Oleh karena itu maka naskah ini sering diidentifikasi sebagai “Lontar Ferrara” atau “Kropak Ferrara”. Naskah ini secara sistematik berisi tentang panduan hidup agar menjadi muslim yang kaffah dan pada saat yang sama juga bertujuan menarik para pemeluk Islam baru dan harapan agar masyarakat Jawa membebaskan diri dari penyembahan berhala. Naskah ini ditulis dalam kondisi dimana komunitas muslim masih berjumlah sedikit.

Bagian awal dari Lontar Ferrara yang bercerita tentang sarasehan para wali diperkirakan ditulis dari era sekitar awal abad XVIII. Sedangkan teks lainnya yang berisi tentang wejangan keagamaan dan ini merupakan bagian terbesar dari isi naskah, tidak diragukan mencerminkan abad XVI atau bahkan abad XV. Teks kedua ini banyak menggunakan kosa kata bahasa Jawa kuno, mirip dengan bahasa dalam kitab Pararaton. Teks kedua ini pun nampak merupakan salinan dari naskah lain yang lebih tua usianya.[5] Jelasnya dapat dikatakan bahwa sebagian besar isi Lontar Ferrara memberikan gambaran tentang prototype ajaran keagamaan yang dikembangkan di sekitar era Wali Sanga.

Di antara isi Lontar Ferrara adalah wejangan Walisongo tentang peringatan umat akan perilaku-perilaku kekufuran atau perilaku-perilaku yang bisa menyebabkan seorang muslim terjerumus dalam kekafiran atau murtad. Diantara puluhan poin yang disebut sebagai perilaku-perilaku yang harus dihindari oleh seorang mukmin agar tidak terjerumus dalam kekafiran tersebut antara lain adalah sebagai berikut:

lamun ana wong Islam asih ing kafir atawa aidep ing kafir, milu satingkahing kapir (Bersahabat dengan orang kafir, memandang baik terhadap kekafiran, dan mengikuti semua perilaku kafir)
atanapi milua ing pujiane wong kapir (mengikuti pepujian atau upacara keagamaan orang kafir (atanapi milua ing pujiane wong kapir)
Pada dua poin peringatan Walisongo di atas, nampak sekali peringatan keras Walisongo terhadap perbuatan nawaqidul Islam. Menurut Walisongo, mengikuti upacara dan perayaan orang kafir disebut sebagai salah satu ciri perilaku yang bisa menyebabkan keimanan seorang mukmin batal. Mengikuti perilaku-perilaku orang kafir juga termasuk bagian dari hal-hal yang bisa membuat seseorang kafir. Ternyata, jauh-jauh hari Walisongo sudah memperingatkan umat Islam untuk tidak dekat-dekat dengan segala model perayaan hari-hari raya keagamaan orang kafir. Sehingga berdasarkan penjelasan Walisongo tersebut, merayakan hari Natal bisa disebut sebagai perbuatan yang bisa menyebabkan seorang muslim menjadi kafir. Sedangkan mengucapkan selamat Natal merupakan bagian kecil dari perayaan itu sendiri.

Di dalam Lontar Ferrara, masih banyak lagi peringatan-peringatan keras Walisongo tentang perbuatan-perbuatan yang bisa mengeluarkan seorang mukmin dari keimanan, dimana perbuatan-perbuatan yang diperingatkan oleh Walisongo tersebut ternyata justru dilestarikan oleh sebagian umat yang mengklaim pengikut Walisongo. Na'udzubillah.

Diantara perilaku yang harus dihindari oleh seorang mukmin agar tidak terjerumus dalam kekafiran tersebut, menurut Walisongo, antara lain adalah sebagai berikut:
  • Ikut menyembah berhala (kaya wong anembah brahala)
  • Ikut mengeluarkan sesaji (milua ababanten)
  • Merendahkan wahyu Allah, baik dengan menyangkal kebenaran maupun keberadaannya. Misalnya menganggap bahwa Al Quran yang terdiri dari 30 juz itu bukanlah wahyu dari Allah, menyelewengkan dalil Allah, atau memaki kebenaran kalam Allah (anginaa sastra Pangeran, den paidoa, atawa den alpaa, kang kuran tigang puluh jus iku, deng sengguha dudua andikaning Allah. Atawa anaha analibana dalil, ing Pangeran iku atawa anglewihana, andikaning Pangeran)
  • Menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal sebagaimana yang dibicarakan dalam empat madzhab (angalalena kang haram atawa ngramna kang halal kang saujaring patang madahab)
  • Menganggap sunat hal yang wajib dan menganggap wajib hal yang sunat (kang perlu den arani sunat, kang sunat diarani parlu)
  • Menuduh kafir terhadap saudaranya yang muslim (wong Islam den aranana kapir, nora ta atut saking pangucape kang angucap iku dadi kapir)
  • Senang apabila dianggap kafir atau berfikir sebagai orang kafir dan membantu semua perbuatan orang kafir (siang sapa suka ingaran kapir dadi kapir)
  • Meremehkan sunnah Nabi. Hal ini dicontohkan ketika ada orang diminta untuk mencukur rambut, memotong kuku karena itu adalah perintah Rasulullah. Tetapi orang itu kemudian mengatakan bahwa dirinya menolak meskipun itu adalah dicontohkan oleh Nabi sekali pun. Penulis lontar ini menganggap bahwa itu merupakan perilaku kufur (ata wong akona akurisa adastara kaki sira, atugela kuku iku laku abcik, lakunira baginda Rasulullah, den saurana ta mangkene saki lapane nora ingsun agelem kadi ujarira iku, yen lakuni Rasulullah, pan ingsun ora arep, yen ingsun aidepa kupur wong iku)
  • Mengatakan bahwa dirinya sudah bertemu Allah, bidadari surga dan memakan buah-buahan surga (angucap yen wus sanpe ing Pangeran utawa angucap ya wis atetamu lan widadari atawa angucapa yan wus amangan wowohaning suwarga kabeh iku kupur)
  • Melebihkan imam-imam dibandingkan para Nabi, menganggap para wali lebih agung dari Nabi, melebihkan mereka dari Nabi Muhammad (imam kang agung-agung iku, angalahaken para nabi, atawa wali den lewihakna saking nabi, den lewihakna saking baginda Muhammad, kapir)
  • Dan lain sebagainya.
[md/www.globalmuslim.web.id]

Tulisan Terkait lainnya:




0 comments for Ajaran Walisongo: Mengucapkan & Ikut Hari Raya Natal Bisa Menjadi Kafir

Leave comment

Gamis Murah

Hak Cipta Hanya Milik Allah SWT, Menyadur dan Menyebarkan isi Website ini Sangat di anjurkan | jawara web | seacrh engine | butik muslim | situs islam | islamic wallpaper | situs berita global