Pendirian Ibnu Hajar Mengenai Hadits Ahad yang Diperkuat oleh Qarinah

Oleh:Titok Priastomo

Tentang hadits ahad yang diperkuat oleh qarinah (indikasi yang menguatkan), para ulama berbeda pendapat, apakah ia dapat menghasilkan al ‘ilmu atau tetap dhonn. Dalam konteks ini, kata al ‘ilmu biasa digunakan oleh para ulama dengan pengertian: keyakinan yang pasti yang sesuai (dengan fakta -pent) yang tidak mengandung keraguan (syakk) tidak pula kesamaran (syubhah). [1] Maka kata al ‘ilmu di sini semakna dengan kata al yaqin (yakin) atau al qath’ (pasti).

Pendirian al Hafidz Ibnu Hajar
ibnu hajar al asqalaniAl Hafidz Ibnu Hajar al ‘Asqalani termasuk salah seorang ulama yang menyatakan bahwa hadits ahad yang diperkuat oleh qarinahdapat menghasilkan ‘ilmu nadhariy. Dalam kitab kecilnya, Nukhbatul Fikr, Ibnu Hajar menyatakan, “kadang kala, di dalamnya (yaitu khabar ahad) terdapat apa yang menghasilkan ‘ilmu nadhariy dengan qarinah, berdasarkan pendapat yang terpilih (‘alal mukhtar)”[2]. Indikasi-indikasi yang dapat mengangkat hadits ahad dari tatarandhann ke taraf ‘ilmu nadhariy menurut beliau ada tiga: pertama, jika hadits tersebut terdapat dalam salah satu dari dua kitab shahih, yakni shahih Bukhari dan Muslim; kedua, hadits yang bersangkutanmasyhur, memiliki beberapa jalur shahih yang saling berjauhan, tidak mengandung perawi yang lemah dan selamat dari ‘illatketiga, jika secara berturut-turut (estafet) diriwayatkan oleh para Imam selevel Malik, Syafi’i dan Ahmad.[3]
Pengertian ‘Ilmu Nadhari Menurut Ibnu Hajar
Yang mereka maksud dengan nadhar dalam istilah ‘ilmu nadhariy adalah penelaahan atau penelitian. Berdasarkan hal ini, ‘ilmu nadhariy dapat diartikan sebagai keyakinan yang dihasilkan setelah melalui proses penelitian. Sebagai konsekuensinya, ‘ilmu atau keyakinan jenis ini tidak dihasilkan dari suatu hadits kecuali pada diri orang-orang yang memiliki kapasitas untuk melakukan penelitian terhadap hadits tersebut. Lain halnya dengan ‘ilmu yang bersifat dharuriy‘Ilmu atau keyakinan yang bersifat dharuriy -yang menurut Ibnu Hajar dihasilkan oleh hadits mutawatir- dapat ditangkap tanpa melalui proses penelaahan dan penelitian. Oleh karenanya, ‘ilmu dharuriy dapat dicapai oleh kebanyakan orang yang mendengar suatu hadits mutawatirtanpa membutuhkan kemampuan untuk melakukan penelitian yang cermat terhadap hadits tersebut.
Pengertian di atas diuraikan sendiri oleh Ibnu Hajar di dalam Nuzhatun Nadhar. Ibnu Hajar menyatakan: “dharuriy menghasilkan ‘ilmu tanpa istidlal (penarikan kesimpulan melalui dalil), sedangkan nadhariy menghasilkannya, hanya saja melalui proses istidlal. Dharuriy dapat dicapai oleh setiap orang yang mendengar, sementara nadhariy tidak dicapai kecuali oleh orang yang memiliki kemampuan untuk melakukan penelitian.”[4]
‘Ilmu Nadhari Menurut Ibnu Hajar Tidak Qath’i
Akan tetapi, terdapat indikasi bahwa Ibnu Hajar menggunakan kata al ‘ilmu tidak dalam pengertian umum yang semakna dengan al qath’ atau al yaqin. Tampaknya, dalam bahasa Ibnu Hajar, hanya ‘ilmu dharuriyyang mencapai taraf al yaqin, yaitu pembenaran yang tidak menerima keraguan. Sementara ‘ilmu nadhariy, dalam istilah beliau, masih memungkinkan adanya keraguan. Dengan demikian, Ibnu Hajar nampaknya menggunakan kata al ‘ilmu hanya dengan pengertian tashdiq (kepercayaan/pembenaran) secara mutlak, tidak khusus untuk menyebut tashdiq jazim (pembenaran yang pasti) sebagaimana yang dilakukan oleh kebanyakan ulama. Sebagai bukti, kami akan memaparkan beberapa pernyataan Ibnu Hajar yang menunjukkan pemahaman tersebut.
Pertama, Ibnu Hajar menyatakan bahwa indikasi yang mengangkat apa yang dihasilkan oleh hadits ahad daridhann menjadi ‘ilmu nadhariy adalah: (1). jika hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan atau Muslim; (2). jika hadits memiliki beberapa jalur shahih yang masing-masing berjauhan; dan (3). jika hadits diriwayatkan oleh pada para imam besar secara berturut-turut. Kemudian, beliau mengatakan: “mungkin saja ketiga jenis (indikasi) itu terkumpul pada sebuah hadits, maka dalam kondisi demikian kepastian akan kebenarannya tidaklah jauh.”[5]
Kata “tidak jauh” di sini seolah mengindikasikan bahwa jika ketiga qarinah tadi terkumpul dalam suatu hadits, maka hadits itu sangat dekat dengan kepastian, yaitu bahwa ia hampir dapat dipastikan benar-benar berasal dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka, Dr. Abdullah bin Dhaifillah ar Rahili dalam ta’liqnya (catatan kaki) berkomentar: “pernyataan beliau (Ibnu Hajar) : “dalam kondisi demikian kepastian akan kebenarannya tidaklah jauh”Saya (Dr. ar Rahili) mengatakan: maka pada tingkatan ini ia menjadi setara dengan mutawatir.”[6] Inilah pemahaman Dr. Abdullah ar Rahili terhadap pernyataan Ibnu Hajar, yakni bahwa hadits ahad yang disertai oleh ketiga qarinah tersebut kualitasnya setara dengan hadits mutawatir.
Sementara Kami melihat suatu hal yang berbeda dari pernyataan Ibnu Hajar tersebut. Kami membaca bahwa Ibnu Hajar menganggap qarinah-qarinah tersebut hanya membawa hadits ahad sampai pada taraf mendekatiqath’i, alias tidak jauh dari qath’i. Pernyataan Ibnu Hajar ini justru menunjukkan bahwa apa yang dihasilkan oleh hadits ahad –meski disertai ketiga qarinah itu- tetap belum sampai pada level qath’i, namun hanya mendekati saja.
Kedua, Ibnu Hajar menyatakan bahwa kualitas ilmu yang dihasilkan oleh hadits mutawatir bersifat yaqiniy,dan bahwa nadhariy tidak termasuk yaqini. Dalam Nukhbatul Fikr beliau mengatakan, “yang pertama adalah mutawatir, yang dengan persyaratannya menghasilkan ilmu yaqini.”  Kemudian dalam Nuzhatun Nadhar danan Nukat ‘ala Nuzhatun Nadhar, beliau menjelaskan bahwa sifat yaqini dari ‘ilmu yang dihasilkan oleh khabar mutawatir ini dengan sendirinya mendiskualifikasi jenis ‘ilmu yang bersifat nadhariy dari karakter ‘ilmu yang dihasilkan oleh hadits mutawatir. Beliau mengatakan : “wa huwa al mufidu lil‘ilmil yaqiniy, fa akhrajan nadhariyya”, artinya, “dan ia menghasilkan ilmu yaqini, maka (batasan yaqini ini) mengeliminasi ‘ilmu nadhariy”. Konsekuensi yang jelas kita dapat dari penjelasan ini adalah bahwa apa yang beliau sebut sebagai ‘ilmu nadhariy itu tidak setara dengan ‘ilmu yaqiniAl yaqin sendiri beliau artikan sebagai : “pembenaran yang pasti, yang sesuai dengan realitas.”[7] Jika dalam peristilahan beliau ilmu nadhariy tidaklah setara dengan‘ilmu yaqini, maka jelaslah bahwa menurut beliau ‘ilmu nadhariy tidak sampai pada derajat qath’i.
Yang ketiga, bahwa ilmu nadhariy tidak sampai derajat yaqin atau qath’ beliau ungkap sendiri secara jelas dalam an Nukat ‘ala Kitabibnish Shalah. Tatkala mengomentari sebagian ulama yang berpendapat bahwa khabar ahad yang disertai qarinah dapat menghasilkan ‘ilmu, Ibnu Hajar menyatakan: “Ibnush Shalah dan pendahulunya tidak menyatakan bahwa hadits-hadits ini menghasilkan ilmu qath’iy sebagaimana yang dihasilkan oleh khabar mutawatir. Sebab, mutawatir menghasilkan ilmu dharuriy yang tidak menerima keraguan (tasykik), sementara selain mutawatir menghasilkan ilmu nadhariy yang masih menerima keraguan (tasykik).”[8]
Mengenai hadits-hadits yang diriwayatkan dalam kitab Shahih Bukhari dan Muslim, Ibnu Shalah berkata, “dan ilmu yakini nadhariy dihasilkan dengannya”, Ibnu Hajar berkomentar: seandainya beliau memberi batasan sampai ilmu nadhariy saja, niscaya akan lebih tepat. Sedangkan ilmu yaqini, maka maknanya adalah qath’i, itulah mengapa ada yang mengingkarinya. Alasannya karena suatu yang qath’i tidak mungkin ditarjih satu dengan yang lainnya. Tarjih hanya mungkin terjadi pada aspek pemahaman yang dikandungnya (dalalah -pent). Padahal kita dapat menjumpai para ulama dalam bidang ini – baik dulu maupun sekarang- menguatkan (mentarjih) sebagian hadits dalam dua kitab shahih di atas hadits yang lain dalam keduanya dengan pentarjihan pada aspek penukilan (tsubut -pent). Seandainya semua dapat dipastikan (qath’i) niscaya tidak ada jalan untuk melakukan tarjih. Ibnu Shalah sendiri sebelumnya telah mengakui hal ini tatkala menguatkan shahih bukhari di atas muslim. Maka dari itu, yang benar adalah bahwa dalam masalah ini cukup dikatakan bahwa ia menghasilkan ‘ilmu nadhariy, sebagaimana yang kami nyatakan.[9]
Dari ungkapan ini jelaslah, bahwa meski pun Ibnu Hajar berpendapat bahwa hadits ahad yang disertaiqarinah, seperti hadits riwayat Bukhari dan Muslim, dapat berfaidah ‘ilmu nadhariy, namun beliau juga menolak jika ‘ilmu nadhariy ini disetarakan dengan ilmu yaqini atau qath’i. Jadi jelas, menurut beliau, apa yang beliau sebut sebagai ‘ilmu nadhariy itu tidak sampai derajat yaqin atau qath’.
Keempat, Ternyata Ibnu Hajar menyamakan antara ‘ilmu nadhariy dengan dhann yang rajih. Ini terlihat nyata ketika Ibnu Hajar menyatakan bahwa perbedaan pendapat di antara orang yang mengatakan bahwa hadits ahad yang disertai qarinah dapat menghasilkan ‘ilmu nadhariy dengan orang yang mengatakan bahwa ia hanya menghasilkan dhann hanyalah perbedaan yang bersifat lafdzi, alias tidak substansial. Artinya, sebenarnya para ulama yang berbeda pendapat itu bersepakat dalam maksud, namun berbeda dalam peristilahan yang mereka gunakan. Beliau mengatakan, “Di dalamnya -yaitu di dalam khabar ahad yang terbagi menjadi: masyhur, ‘aziz dan gharib- kadang terdapat khabar yang menghasilkan ‘ilmu nadhariy karena disertai qarinah, berdasarkan pendapat yang dipilih (‘alal mukhtar), berbeda dengan orang yang menolaknya. Dan perbedaan pendapat ini menurut penelitian bersifat lafdzi, sebab orang yang menyebutkan ‘ilmu mengikatnya dengan batasan nadhariy, yaitu yang dihasilkan melalui istidlal, sedangkan orang yang menolak untuk mengatakan ilmu mengkhususkan lafadz ilmu pada mutawatir saja, selain mutawatir menurutnya bersifat dhanni, akan tetapi ia tidak menolak bahwa khabar yang disertai qarinah lebih kuat dari yang kosong tanpa qarinah.”[10] Nah, dari sini kita dapat memahami bahwa dalam persepsi Ibnu Hajar, perbedaan antara ilmu nadhariy dan dhann yang rajih itu hanya perbedaan yang bersifat lafdzi, tidak substansial. Artinya, keduanya adalah sama, yakni kualitas pembenaran yang kuat (rajih), tapi tidak sampai pada level qath’i.
Kesimpulan
Berdasarkan uraian di atas, kita dapat mengatakan bahwa menurut Ibnu Hajar, hadits ahad yang disertaiqarinah dapat menghasilkan ‘ilmu nadhariy. Kata al ‘ilmu tidak digunakan oleh Ibnu Hajar dengan pengertianal yaqin alias tashdiqul jazim al muthabiq, melainkan hanya tashdiq (pembenaran/kepercayaan) saja.Menurut beliau, ‘ilmu dharuriy menghasilkan kepastian (al qath’) dan tidak mengandung keraguan (tasykik). Sementara itu, ‘ilmu nadhariy tidak bersifat yaqiniy alias tidak pasti (qath’), di dalamnya masih mungkin adatasykik (keraguan). Ibnu Hajar menyamakan antara apa yang dimaksud dengan ‘ilmu nadhariy dengan dhannyang rajih, sehingga perdebatan seputar hadits ahad yang disertai qarinah beliau anggap sebagai perselisihan yang bersifat lafdzi, tidak substansial. Ibnu Hajar menyatakan bahwa jika ketiga qarinah yang beliau sebut dalam Nuzhatun Nadhar itu bersatu dalam suatu hadits, maka ketiga qarinah itu hanya akan menghantarkannya sampai pada taraf ‘ilmu nadhariy yang tidak jauh dari qath’i. Jadi menurut beliau, hadits ahad tetap tidak sampai pada derajat qath’i meski disertai qarinah, namun hanya mendekati saja. Wallahu a’lam. [titok, 29/11/13]
Rujukan
Al Asqalani, Ibnu Hajar. 1984. An Nukat ‘ala Kitabibnish Shalah. Madinah: al Jami’ah al Islamiyyah
_________________.  2006. Nukhbatul Fikr fi Mushthalah Ahlil Atsar. Bairut: Dar Ibni Hazm
_________________.  2001. Nuzhatun Nadhar Syarh Nukhbatil Fikr. Riyad: tp
Ash Shan’ani, Muhammad bin Ismail. 2010. Taudhihul Afkar lima’ani Tanqihil Andhar. Kairo: Maktabah Ibni Taimiyah

[1] Ash Shan’ani, Taudhihul Afkar lima’ani Tanqihil Andhar (Kairo: Maktabah Ibni Taimiyah, 2010), hal. 62.
[2] Ibnu Hajar, Nukhbatul Fikr fi Mushthalah Ahlil Atsar  (Bairut: Dar Ibni Hazm, 2006), hal. 81. Dicetak bersama Tsamaratun Nadhar, Qashabus Sukkar dan Isbalul Mathar
[3] Ibnu Hajar, Nuzhatun Nadhar Syarh Nukhbatil Fikr (Riyad: tp, 2001), hal. 60 – 64
[4] Ibid., hal. 42.
[5] Nuzhatun Nadhar, hal. 64.
[6] Ibid., Lihat catatan kaki nomor 90 dalam Nuzhatun Nadhar yang ditahqiq olehnya.
[7] Ibid., hal 41
[8] Ibnu Hajar, An Nukat ‘ala Kitabibnish Shalah (Madinah: al Jami’ah al Islamiyyah, 1984), hal. 378 -379.
[9] Ibid., hal. 379
[10] Nuzhatun Nadhar, hal. 59.
[www.globalmuslim.web.id]

Tulisan Terkait lainnya:




0 comments for Pendirian Ibnu Hajar Mengenai Hadits Ahad yang Diperkuat oleh Qarinah

Leave comment

Gamis Murah

Hak Cipta Hanya Milik Allah SWT, Menyadur dan Menyebarkan isi Website ini Sangat di anjurkan | jawara web | seacrh engine | butik muslim | situs islam | islamic wallpaper | situs berita global