Detik-Detik Perang Salib Di Varna Tahun 1444


Tahun 1444, koalisi Tentara Eropa yang bergabung dalam pasukan Salib, kalah telak dalam pertempuran dengan pasukan Utsmaniyah. Perjanjian damai antara Utsmani dan Hongaria yang disepakati sebelumnya, dikhianati. Islam pun berjaya di kawasan Eropa.
------------------------------------------
 Jakarta,-  Medio Agustus 1442,hari-hari kegiatan Kardinal Sizarini makin sibuk. Dia berkunjung ke kerajaan Eropa di wilayah Balkan. Satu demi satu kerajaan kala itu, di kunjunginya. Sizarini adalah seorang Kardinal. Dia utusan dari Paus Ogen IV, yang bermarkas di Roma, Italia.

Agustus 1442 itu, Sizarini bertamu ke Kerajaan Hongaria. Lagislas, sang Raja menyambutnya ramah. Sizarini dan Lagislas pun melakukan perbincangan penting. Sizarini mengungkit seputar perjanjian yang dibuat Lagislas dengan Murad II, sang Sultan Utsmaniyah. Orang Barat menyebutnya sebagai Ottoman.

Memang sebulan sebelumnya, Juli 1442, sebuah peristiwa besar berlangsung. Perjanjian damai ditandatangani antara dua raja besar. Legislas dan Murad II melakukan akta perdamaian. Perjanjian itu dibuat di Sisjaden, sebuah wilayah di Hongaria. Dalam perjanjian itu disepakati dua pihak, Hongaria dan Utsmaniyah untuk berhenti bertempur selama 10 tahun. Keduanya damai. Akta perjanjian dibuat dalam dua bahasa, Hongaria dan bahasa Arab.

Setelah menandatangani perjanjian, Legislas pun disumpah dengan menggunakan Injil. Sementara Murad II, juga disumpah dengan dasar Al Quran.

Perjanjian damai itu lahir setelah sebelumnya dua pihak itu saling perang, sejak tahun 1938. Kala itu Hongaria takluk di tangan tentara Utsmani. 30 ribu tentara Hongaria menjadi tawanan tentara Utsmaniyah. Beberapa ribu diantaranya malah sempat masuk Islam. Karena kemenangan Utsmani itu, pasukan Islam itu pun kemudian merangsek merambah wilayah Balkan lainnya. Setelah Hongarian, sebuah kota di Serbia, Belgrade, jadi sasaran berikutnya.

Tapi tatkala memasuki Belgrade, perlawanan besar datang. Tentara Eropa kemudian bergabung menjadi satu dan mengatasnamakan sebagai Pasukan Salib. Paus Ogen IV, merestui langsung pembentukan Pasukan Salib ini. Pasukan itu koalisi dari Kerajaan Hongaria, Polandia, Serbia, Genoa, Venesia, Romawi dan Burgundi. Mereka berkumpul menjadi satu melawan tentara Utsmani yang bakal merebut Belgrade tadi.

Pasukan Salib di bawah komando seorang Jenderal Hongaria, John Hunyadi. Sementara Utsmaniyah dikomdani langsung oleh Murad II itu. Dalam pertempuran itu, pasukan Utsmani berhasil ditahan. Di Perjanjian itu, Utsmani diwajibkan menyerahkan Serbia dan mengakui George Brancovites sebagai Raja Serbia. Murad II juga diperintahkan untuk mengembalikan wilayah Hongaria dan Walachia (kini Romania). Bagi Murad II, hal itu pilihan yang sulit. Pasalnya, dalam pertempuran itu, pasukan Salib berhasil menawan Mahmud Syalabi, menantunya sendiri. Mahmud inilah pemimpin pasukan Utsmani kala itu. Murad kemudian membayar uang tebusan sebanyak 60.000 duqiyah untuk membebaskan Mahmud.

Alhasil kesepakatan damai pun terjadi. Hongaria dan Utsmani sepakat berdamai, tak ada perang selama 10 tahun.
fotoPerjanjian damai ini ternyata mengusik hati Paus Ogen IV. Dia pun mengirim Sizarini tadi untuk mengulas perjanjian itu dengan Legislas. Paus meminta orang-orang Kristen untuk membatalkan perjanjian. Sizarini kemudian menjelaskan pula pada kerajaan-kerajaan di Eropa untuk segera menyerang kaum Muslim dari tanah Eropa. Menurut Sizarini, perjanjian di Sisjaden itu sangat tidak sah, karena tanpa persetujuan Paus Ogen IV, sebagai perwakilan resmi umat Kristen. Ternyata upaya Sizarini berbuah. Raja-raja di Eropa pun sepakat untuk melanggar perjanjian itu. Termasuk Legislas juga. 
*****
Begitu selepas menandatangi perjanjian dengan Legislas, Murad II pun kembali ke Anatolia. Ini adalah ibukota Dinasti Utsmaniyah kala itu. Murad II ini adalah ayahnya Mehmed II atau lebih dikenal dengan Sultan Muhammad Al Fatih (Sang Penakluk). Di era Al Fatih itulah Konstantinopel ditaklukkan di tangan Islam.

Begitu kembali ke Anatolia, perasaan Murad II makin kecut. Setelah kalah perang, dia mesti mendengar berita duka cita lagi. Anaknya paling besar, Ahmed, meninggal secara mendadak. Berita kematian anaknya itu membuat Murad II terpukul.

Kejadian itu makin membuatnya sedih. Pasalnya dua tahun berikutnya, anaknya yang kedua, Ali bin Murad, juga gugur dibunuh oleh seorang Turki yang merupakan kaki tangan Romawi. Dua anaknya yang meninggal inilah yang membuat Murad II sedih bukan kepalang. Dia pun memutuskan pensiun dini sebagai Sultan Utsmani. Murad II kemudian mengasingkan diri ke sebuah kota kecil. Murad II menghabiskan waktunya untuk ber-taq’arub dengan Allah SWT. Dia meninggalkan kegiatan keduniawian.

Tahta Kesultanan kemudian diserahkan kepada anak ketiganya, Mehmed. Di umur 12 tahun, Mehmed pun dilantik menjadi Sultan. 
****
Upaya Sizarini berbuah. Raja-raja Eropa sepakat bersatu lagi. Mereka membentuk tentara Salib. Pasukan pun dikumpulkan. 30 ribu tentara gabungan dari kerajaan Hongaria, Serbia, Ceko, Polandia, Bohemia langsung disiapkan. Wallachia (kini Romania) menyumbang 8000 pasukan. Kerajaan Lithuania, Knight of Rhodes (Pasukan Kepausan), Kesatria Teutonik, Kekaisaran Romawi Suci Germana, Kroasia, Burlagia, masing-masing menyumbang 1000 tentara.

Di pihak pasukan Salib ini, komandannya ditunjuk 3 orang. John Hunyadi dari Hongaria, Władysław III dari Polandia, dan Mircea II dari Wallachia. Ketiganya menyusun strategi perang untuk mengusir pasukan Islam dari tanah Eropa. Paus Ogen IV sendiri sudah memberkati pasukan yang bakal diberangkatkan.

Koalisi pasukan ini kemudian bergerak. Danau Varna, sebuah wilayah di Bulgaria, disepakati sebagai titik pertemuan antara seluruh pasukan Salib.
fotoKapal Pasukan Kepausan, Venesia dan Genoa kemudian memblokade Darnadella. Ini memudahkan tentara darat untuk maju menuju Varna. Kapal Kepausan, Venesia dan Genoa telah memblokade Dardanella. Tujuannya agar tentara Hongaria mudah melaju menuju Varna. Disitulah mereka akan bertemu dengan armada Kepausan dan berlayar menuju Konstantinopel, ibukota Romawi. Rencananya, Konstantinopel itulah yang dijadikan pusat bagi pasukan Salib untuk menyerbu pasukan Islam dan mengusirnya dari bumi Eropa.

Pergerakan pasukan Salib pun berlangsung cepat. Mereka menuju titik kumpul di Varna tadi. Pasukan dari Bulgaria bergabung di tengah jalan. Tentara Nikopolis juga sama. Dikomandani Fruzhin, putra Ivan Shisman, sang Raja Bulgaria. Mereka membawa 7000 pasukan yang berkumpul di dekat Nikopolis. Daerah ini, pada tahun 1393, menjadi pusat Perang Salib. Kala itu pasukan Kristen kalah total. Di pihak Utsmaniyah, dipimpin Beyazid I. Semangat kaum Salib makin membara untuk membalas kekalahan seabad yang lalu itu. 

******
Ketika pasukan Salib tengah sibuk menyiapkan pasukan, di Adrianopole, sebuah kota di Turki yang menjadi pusat Utsmani, berita itu terdengar juga. Mehmed II yang kala itu menjadi Sultan, kebingungan. Karena dirinya baru berusia 15 tahun. Umur segitu dia belum siap menghadapi pertempuran melawan Pasukan Salib. Alhasil Mehmed II pun mengirim surat kepada ayahnya Murad II, yang asyik melakukan taqarub.

Di surat itu Mehmed II meminta ayahnya untuk turun lagi ke Anatolia dan memimpin pasukan Utsmani untuk menghadapi serbuan Pasukan salib. Tapi di surat itu Murad II tak bergeming. Sang ayah menjawab bahwa tampuk Kesultanan sudah diserahkan kepada Mehmed I.
Mehmed I tak menyerah. Dia mengirim surat lagi dan disampaikan kepada utusan. Isinya serupa. Tapi Murad II tetap tak  bergeming. Dia tak mau sibuk dengan urusan Kesultanan. Dia tegas menyatakan bahwa anaknya itulah yang menjadi Sultannya kini.

Tapi Mehmed II tak kehilangan akal. Dia mengirim surat lagi kepada ayahnya untuk ketiga kalinya. Di surat ini, Mehmed II bersikap tegas kepada ayahnya. "Siapakah yang saat ini menjadi Sultan, saya atau ayahanda? Bila ayahanda yang menjadi Sultan, datanglah kemari dan pimpin pasukanmu. Tapi bila Engkau menganggap saya yang menjadi Sultan, maka dengan ini saya memerintahkan ayahanda segera datang kemari dan memimpin pasukan saya!"

Begitu membaca surat Mehmed I yang ketiga, Murad II tak berkutik. Dia langsung turun gunung dan menuju Anatolia. Murad II kemudian memimpin pasukan Utsmani lagi. Dia kaget tatkala mendengar Hongaria melanggar perjanjian yang telah disepakati.
fotoMurad II dan pasukan Utsmani pun siap meladeni tantangan Tentara Salib itu. Murad II sempat membacakan ayat Al Quran di depan pasukannya. Murad II mengutip surat At Taubah ayat 12 yang berisikan:"Jika mereka merusak sumpah (janji)nya sesudah mereka sepakati, dan mereka mencerca agamamu, maka perangilah pemimpin-pemimpin orang kafir itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang tidak dapat dipegang janjinya, agar mereka berhenti."
Alhasil, 9 November 1444, sekitar 50 ribu pasukan Utsmani telah berkumpul di Varna. Kala itu untuk mengumpulkan pasukan perang, Utsmani tak terlalu kerepotan. Situasinya hampir serupa dengan mengajak orang pergi ke kondangan di era kini. Karena beranjak berperang, adalah kewajiban setiap muslim. Hal inilah yang membuat Lord Kinross, seorang sejarahwan Inggris terkagum. Dalam bukunya The Ottoman Centuris: The Rise and The Falla of Turkish Empire, dia mengutip pernyataan seorang pengembara kala itu, Bertrand de Broquire. Dia mengatakan: "Pasukan Utsmani sangat cepat gerakannya. 100 pasukan Kristen akan jauh lebih gaduh dari 10 ribu pasukan Utsmani. Tatkala genderang perang telah ditabuh, maka dengan segera mereka bergerak, mereka tidak akan pernah berhenti melangkah hingga komando dikeluarkan. Mereka adalah pasukan terlatih, dalam semalam mereka mampu melakukan tiga kali lipat perjalanan yang dilakukan oleh musuh-musuhnya orang-orang Kristen". 
*****
10 November 1444, kedua pasukan antara Utsmani dan Pasukan salib sudah berhadap-hadapan. Keduanya berada dalam posisi siap tempur. Munculnya pasukan Utsmani di Varna dengan begitu cepat, tak diduga-duga pasukan Salib.

Murad II, memimpin di depan barisan pasukan Utsmani. Di atas kudanya, ujung tombaknya ditusukkan sebuah kertas yang berisikan perjanjian antara dirinya dan Ladislas, raja Hongaria. Murad II memampangkan perjanjian yang dilanggar sendiri oleh pihak Kristen. Tindakan Murad II mengusung perjanjian yang dilanggar itu langsung menyulut semangat tentara Islam.

Malam sebelumnya, petinggi Pasukan Salib mengadakan rapat. Hunyadi, Kardinal Sizarini mengusulkan agar mereka menggunakan taktik penarikan cepat. Tapi pasukan Salib sudah terjebak di antara Laut Hitam, Danau Varna, lereng curam berhutan dataran tinggi Frangga dan dikeliling pasukan Utsmani.
fotoSizarini mengusulkan taktik bertahan menghadapi Utsmani. Mereka berniat bertahan sampai datang bala bantuan dari pasukan Kristen lainnya. Usulan Sizarini itu didukung komandan dari Kroasia, Ceko dan lainnya. Tapi John Huyadi menolak. Dia berniat melawan Utsmani secara langsung, tanpa harus bertahan.

Alhasil di 10 November 1444 pagi hari, seluruh pasukan salib sudah berbaris di Varna. Pasukan Salib membelah menjadi tiga posisi. Di tengah, sayap kanan dan sayap kiri.

Sementara di pihak Utmani, pasukan Yanisari, sebuah pasukan khusus yang sangat ditakuti karena begitu terlatih, sudah siap berada di baris depan. Murad II memimpin pasukan Utsmani dalam perang itu. Di sayap kanan, pasukan Kapikulu dan Sipahi dari Rumelia siap menghadapi Pasukan Salib. Sementara pasukan Yanisari lainnya, kavileri Akinci dikerahkan juga di dataran tinggi Frangga. Mereka mengepung pasukan Salib dari berbagai sisi.

Pertempuran pun meletus di pagi itu. Perang berlangsung selama 3 hari berturut-turut. Di sayap kanan, pasukan Salib ternyata berantakan. Tentara Islam berhasil menang.

Dalam perang hari kedua, Murad II sempat bertemu langsung dengan Ladislas, raja Hongaria. Keduanya berduel satu lawan satu. Sultan dan Raja bertarung sendiri. Dalam duel itu Murad II berhasil melumpuhkan Ladislas. Ladislas tersungkur akibat pukulan telak ujung tombak Murad II. Itulah yang membuatnya jatuh dari kudanya. Murad II tak memberi ampun. Melihat Ladislas tersungkur, dari atas kudanya Murad II menyatakan hukuman atas Ladislas karena berkhianat atas perjanjian yang telah dibuat. Murad II menegaskan hukuman yang akan diterima buat seorang pengkhianat.

Murad II kemudian memerintahkan pasukan Yanisari yang ada disekitar untuk memenggal kepala Ladislas. Hukuman itu sebagai bentuk pengkhianatan yang telah dilakukan. Kepala Ladislas pun di ekesekusi dalam pertempuran itu. Begitu terpenggal, pasukan Islam kemudian mengangkatnya di ujung tombak dengan mengucapkan takbir berkali-kali. Serempak takbir yang berkumandang, disertai ujung tombak berisikan kepala Ladislas, makin menyiutkan pasukan Salib yang masih tersisa.

Setelah itu, pasukan Utsmani melakukan serangan besar-besaran mengarah ke pasukan Salib. Barisan pasukan Salib sudah kocar-kacir. Tentara Kristen dikejar pasukan Utsmaniyah dengan cara yang teratur.

Sayap kanan pasukan Salib, berusaha melarikan diri ke benteng kecil Galata di sisi lain Danau Varna. Tapi dalam pelarian itu, banyak yang tewas di rawa sekitar Danau Varna. Disitulah Kardinal Sizarini juga ditemukan tewas, karena melarikan diri.Hanya pasukan Talotsi yang berhasil menarik balik Wagenburg.

Pasukan sayap Utsmaniyah lainnya menyerang pasukan Hongaria dan Bulgaria yang dipimpin Michael Szilagyi. Prajurit Sipahi, milik tentara Utsmani berhasil memukul mundur tentara salib ini. Kepanikan melanda bala tentara Salib. John Hunyadi menerapkan strategi menghindari pasukan Utsmaniyah.

Tapi sikap lain diperankan Wladyslaw, jenderal perang Polandia. Dia sempat maju ke barisan utama pasukan Utsmani dengan membawa dua kavileri pasukannya. 500 pasukan Salib dibawanya menuju perkemahan Utsmaniyah. Wladyslaw sudah dilarang Hunyadi melakukan aksi itu. Karena Hunyadi paham aksi itu merupakan tindakan bunuh diri.

Namun Wladyslaw nekad. Dia berusaha menyerbu prajurit elit Utsmani, Yanisari, dan mengambil tawanan. Tapi dia terperangkap. Władysław jatuh dan dibunuh oleh prajurit Yanisari. Kepalanya dipenggal. Kavileri Salib yang tersisa dihancurkan pasukan Utsmani.
Hunyadi kemudian menarik mundur pasukan salib yang tersisa. Sejak itulah pasukan Salib kalah telak. Sejak kekalahan ini, pasukan Salib tak memiliki daya kekuatan melawan Utsmani, setidaknya untuk jangka waktu 10 tahun ke depan.

Kekalahan telak pasukan salib ini membawa berita buruk bagi seluruh belantara Eropa. Mereka begitu takut dengan kekuatan pasukan Utsmani kala itu.

Sebaliknya, kemenangan Utsmani di perang Varna ini makin membuat sumringah pasukan Islam. Di Adrianapole, Mehmed II menerima kabar kemenangan itu dengan mengucap syukur kepada Allah SWT. Kemenangan melawan pasukan Salib ini, menjadi point penting bagi Mehmed II untuk menaklukkan Konstantinopel, ibukota Romawi.

Mehmed II memang kemudian berhasil menjebol tembok Konstantinopel di tahun 1453. Upaya itu berkat sang ayahnya, Murad I, berhasil melumpuhkan tentara Salib hingga tak mampu melawan pasukan Utsmani. 
[mahkamah/www.globalmuslim.web.id]

Tulisan Terkait lainnya:




0 comments for Detik-Detik Perang Salib Di Varna Tahun 1444

Leave comment

Gamis Murah

Hak Cipta Hanya Milik Allah SWT, Menyadur dan Menyebarkan isi Website ini Sangat di anjurkan | jawara web | seacrh engine | butik muslim | situs islam | islamic wallpaper | situs berita global