Tak Tegak Syariah Secara Sempurna Tanpa Khilafah

bendera-islam-300x197.jpg (300×197)“Tak Tegak Syariah Secara Sempurna Tanpa Khilafah“, ada yang menyerang selogan ini, peryataan tersebut dianggap sesat dan menghina Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wa sallam. Alasannya, karena pernyataan dalam slogan tersebut bersifat mutlak, tanpa batasan waktu. Padahal, khilafah belum ada pada masa Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wa sallam. Jika syariah dianggap tidak bisa tegak secara sempurna tanpa khilafah, berarti Rasulullah shollallaahu ‘alahi wa sallam, dan kaum muslimin yang meninggal pada masa beliau, belum melaksanakan syariah Islam secara sempurna. Padahal, Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wa sallam adalah pembawa syariat yang sempurna dan suri tauladan yang telah mencontohkan penerapan syariah secara sempurna. Itulah kritik mereka.

Kritik atas Kritik
Serangan di atas sebenarnya tidak berpijak pada kesalahan substansi atau maksud dari pernyataan yang diserang (atau disesatkan), namun hanya bertumpu pada masalah redaksi, yaitu penafian kesempurnaan tegaknya syariat selama tidak ada sesuatu yang disebut “khilafah“, padahal -menurut mereka- fakta yang ditunjuk (madlul) oleh kata khilafah ini belum ada pada masa Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wa sallam. Pihak yang menyerang tidak mau ambil pusing terhadap maksud, tidak mau tahu terhadap apa makna kata khilafah yang ada dalam slogan tersebut. Yang menjadi tujuannya adalah ingin menyematkan label “sesat” pada apa yang terkadung dalam slogan tersebut, bahkan memvonis orang yang menyatakan slogan tersebut sebagai orang yang telah melakukan salah satu dosa di antara dosa-dosa besar, yakni menghina Rasulullaah shollallaahu ‘alaihi wa sallam, hanya karena persoalan diksi (pilihan kata) yang -menurut asumsinya- tidak benar. Padahal, kritik tersebut sangat lemah, lebih tepatnya, terlalu dipaksakan. Ini ditilik beberapa segi:

1. al-Khilafah secara konvensional sebenarnya memiliki pengertian Khilafatur Rasul 

Kata khilafah secara bahasa merupakan mashdar dari khalafa. Khalafa artinya menggantikan orang lain, maka khalafahu artinya: menggantikan kedudukannya. Sedangkan khilafah merupakan nama dari aktivitas/pekerjaan “menggantikan” dan orang yang melakukan penggantian itu disebut khalifah.sebagai mana dinyatakan oleh Al-Qalqasyandi di dalam Ma’atsirul Inafah : “dia menggantikan (khalafa) kedudukan orang lain di tengah kaumnya, menggantikannya (melalui) suatu penggantian (khilafah), maka dia adalah seorang pengganti (khalifah)” (khalafahu fii qaumihii, yakhlufuhuu khilaafatan, fahuwa khaliifatun).
Dengan makna bahasa ini, siapa saja yang menjadi pengganti orang lain bisa disebut khalifah dari orang tersebut, dalam konteks apa pun. Akan tetapi, semenjak Abu Bakar Ash-Shiddiq menggantikan kedudukan Nabi shollallaahu ‘alaihi wa sallam sebagai pemimpin, penegak dan penjaga agama, maka beliau kemudian disebut dengan gelar khalifatu Rasulillah (pengganti kedudukan rasulullah) atau al-khalifah saja. Sejak saat itu pula, kepemimpinannya disebut sebagai khilafah (penggantian). Abu Zahroh dalam Tarikhul Madzahibil Islamiyyah menjelaskan kenapa kepemimpinan ini disebut khilafah, “Dinamakan khilafah karena orang yang menduduki jabatannya bertindak sebagai penguasa tertinggi bagi kaum muslimin, menggantikan (yakhlufu) Nabi saw dalam masalah mengatur urusan kaum muslimin.
Jadi, perlu ditegaskan bahwa khilafah merupakan sebutan bagi urusan kepemimpinan yang diambil-alih oleh seorang imam dari Nabi shollallaahu ‘alaihi wa sallam. Urusan khilafah mencakup segala urusan yang pernah dilakukan oleh Nabi shollallaahu ‘alaihi wa sallam sebagai seorang pemimpin dan penegak syariat di tengah kehidupan umat.
Maka dari itu, khilafah yang biasa diucapkan orang itu sebenarnya adalah al-khilafah an-Nabawiyyah (penggantian terhadap kenabian) sebagaimana disebutkan oleh Abu Zahroh dalam Tarikhul Madzahib, atau khilafatun Nubuwwah (pengganti kenabian) sebagaimana disebut oleh al-Mawardi al-ahkamus-sulthaniyyah, atau khilafatur Rasul (pengganti Rasul) sebagaimana disebut oleh Al-Iiji dalam al-Mawaqif, atau khilafah ‘an shohibisy-Syar’i(penggantian terhadap pemilik syariat) sebagaimana diungkapkan oleh Ibnu Khaldun dalam Muqaddimahnya, atau khilafah ‘anin Nabi saw (penggantian atas nabi) sebagaimana dikatakan oleh Rasyid Ridho dalam kitabnya al-khilafah awil Imamatul ‘Udhma. Intinya semua sama, bahwa khilafah sebenarnya adalahpenggantian atau pengambil-alihan peran nabi shollallaahu ‘alaihi wa sallam dalam hal kepemimpinan.
Maka, perkataan “tak tegak syariah secara sempurna tanpa khilafah”, sebenarnya memiliki pengertian: “tak tegak syariah secara sempurna tanpa adanya penggantian/pengambil-alihan peran Rasulullah (khilafatur Rasul) sebagai pemimpin dan penegak syariatdi tengah umat. Tentu semua orang akan tahu bahwa perkataan ini hanya mungkin dikatakan tatkala Rasul telah wafat sehingga umat Islam membutuhkan pennggati beliau untuk melaksanakan tugas yang pernah beliau emban sebagai pemimpin dan penegak syariah. Ini sudah otomatis dipahami oleh mereka yang mengerti, tidak mencari-cari masalah, dan tidak terlalu memaksakan diri serta bersemangat untuk menyesat-nyesatkan perkataan orang lain dan menuduhkan dosa besar kepada orang lain.
Jika ada subuah rumah yang memiliki tiang yang patah, maka apakah salah jika dikatakan “rumah ini tidak tegak sempurna tanpa adanya pengganti bagi tiang yang patah ini”, apakah ini perkataan yang keliru? Nah, tatkala Rasulullah saw yang menegakkan syariat Islam di tengah umat Islam itu sudah wafat, apakah salah jika orang mengatakan, “syariat Islam tidak tegak sempurna tanpa adanya khilafah, yakni penggantian/pengambil-alihan tugas Rasulullah dalam memimpin dan menegakkan hukum syara’”, apakah ini perkataan yang sesat??Apakah ini dosa besar karena tergolong penghinaan terhadap Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wa sallam?? Apakah orang harus bertobat karena mengucapkannya?

2. ditilik dari pengertian khilafah secara konvensional sebagai kepemimpinan umum atas umat Islam 

Sejak masa pemerintahan Abu Bakar tersebut, kata khilafah secara konvensional (‘urfiy) menjadi memiliki pengertian khusus, sebagaimana dikatakan oleh Dr.Sholah ash-Showi, dalam al-Wajiz fii fiqhil Khilafah: “kemudian setelah itu, menurut konvensi umum (al-’urf al-’aam), kata khilafah digunakan untuk menyebut pemerintahan umum (wilayah ‘aamah) atas kaum muslimin, pemerintahan yang dalam menjalankan seluruh urusannya tunduk terhadap hukum-hukum agama”.
Nah, meskipun kepemimpinan Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wa sallam tidak disebut khilafah, namun kepemimpinan beliau itu secara konsep sama dengan khilafah. Karena -sebagaimana yang telah diuraikan- khilafah hanyalah pengganti dari kepemimpinan yang beliau jalankan.
Berdasarkan makna umum dari khilafah itu, apakah sesat dan tergolong menghina Nabi jika kita mengatakan “tak tegak syariah secara sempurna tanpa khilafah” dengan pengertian khilafah sebagai pemerintahan umum (wilayah ‘aamah) atas kaum muslimin, pemerintahan yang dalam menjalankan seluruh urusannya tunduk terhadap hukum-hukum agama?? Artinya: “tak tegak syariah secara sempurna tanpa pemerintahan umum atas kaum muslimin yang tunduk kepada hukum-hukum agama dalam menjalankan tugas-tugasnya” apakah ini perkataan yang sesat??
Mengacu kepada makna ‘urfiy dari khilafah, pernyataan bahwa “tak tegak syariah secara sempurna tanpa khilafah” adalah benar, sesuai realitas dari syariah Islam. Tak tegak sempurna berarti tidak tegak secara utuh. Artinya, tanpa pemerintahan umum atas umat Islam itu (khilafah), ada sebagian hukum syara’ -meski tidak seluruhnya- yang tidak bisa diterapkan. Ambil contoh adalah hukum tentang wajibnya umat ISlam di dunia untuk memiliki satu kepemimpinan umum yang dipegang oleh seorang imam. Kewajiban ini tidak akan bisa terealisasi tanpa adanya khilafah. Tanpa khilafah, tidak ada negara yang mengemban misi penyebaran Islam melalui dakwah dan jihad, mendatangi dan mengerahkan kekuatan ke negeri kufur, untuk menarik mereka kedalam Islam, atau membiarkan mereka tetap kafir dengan menuntut mereka untuk tunduk kepada Islam seraya membayar jizyah, atau memerangi mereka sampai lumpuh kekuatan yang menjadi penghalang sampainya Islam ke wilayah itu. Sejak khilafah tidak lagi mengemban tugas jihad itu, lalu khilafah runtuh, tak ada lagi satu pun negara di dunia Islam yang mengemban tugas semacam itu.
Dan sutu hukum yang jelas-jelas  tak akan tegak  tanpa keberadaan khilafah adalah hukum tentang wajibnya khilafah itu  sendiri. Ya, selain bagi orang yang mengingkarinya, khilafah merupakan bagian dari syariah Islam, dimana tanpa khilafah, maka hukum wajibnya khilafah itu tidak mungkin terealisasi.

3. Kata khilafah yang dimaksud dalam slogan itu merupakan sinonim dari kata imamah dan imaratul mu’minin 

Untuk membuktikan hal ini, saya akan berhujjah dengan perkataan ulama.
Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah-nya menulis, “Kami telah menjelaskan hakekat dari lembaga ini, bahwasannya ia adalah wakil dari pemilik syariat dalam menjaga agama dan mengurusi dunia dengan agama tersebut, dinamakan khilafah atau imamah, dan orang yang menjabatnya disebut khalifah atau imam.
Dalam kitab Bada’i’us Suluk dinyatakan, “mengenai hakekat khilafah. Masalah pertama yang diketengahkan adalah pembahasan yang menunjukkan bahwa apa yang dimaksud dengan khilafah dan imamah adalah kembali kepada konsep perwakilan asy-Syari’ dalam menjaga agama dan mengurusi urusan dunia,…, dan yang mereka maksudkan ketika menyebut kata imamah sesungguhnya adalah khilafah“.
Rasyid Ridha, dalam kitab Al-Khilafah, menyatakan: “al-khilafah, al-imamah al-’udhma dan imaratul mu’minin adalah tiga kata yang memiliki satu makna”.
Abdul Wahhab Khalaf dalam as-Siyasah asy-Syar’iyyah menyatakan, “al-Imamah al-kubra, al-khilafah dan imaratul mu’minin merupakan kata-kata yang bersinonim merujuk kepada makna yang sama”.
Prof. Abu Zahroh menulis, “Madzhab-madzhab politik semuanya berporos pada masalah khilafah, yaitu al-imamah al-kubra. Dinamakan khilafah karena orang yang menduduki jabatannya bertindak sebagai penguasa tertinggi bagi kaum muslimin, menggantikan Nabi saw dalam masalah mengatur urusan kaum muslimin. Dinamakan juga sebagai al-Imamah karena khalifah pada waktu lalu disebut imam, dikarenakan taat kepadanya adalah wajib, karena orang-orang berjalan di belakangnya layaknya mereka mengerjakan shalat dibelakang orang yang mengimami mereka dalam shalat tersebut”.
Prof. Wahbah az-Zuhaili menyatakan, “Al-imamah al-‘Udhma, khilafah atau imarotul mu’minin semuanya memerankan arti yang sama dan menunjukkan pengertian sebuah fungsi yaitu kekuasaan pemerintahan tertinggi.
Jika Khilafah dan Imamah itu sinonim. Berarti jika mengatakan “tak tegak syariah secara sempurna tanpa khilafah” dianggap sesat, dan menghina Nabi ‘alaihish sholatu wassalam, maka mengatakan “tak tegak syariah secara sempurna tanpa imamah” pun juga dianggap sesat dan menghina beliau. Ingat, kata imamah secara istilah merupakan sinonim dari kata khilafah.
Bagaimana dengan Dr. Sholah ash-Showi yang menyatakan dalam al-Wajiz fii Fiqhil Khilafah: “imamah menurut ahlus sunnah wajib, satu di antara kewajiban yang terbesar, kefardhuan di antara kefardhuan yang paling penting dan paling dikuatkan, bahkan, agama tidak tegak tanpanya (laa qiyaama lid diin illaa bihaa) (hal. 11). Dan jelas, dalam halaman sebelumnya, Ash-Showi menyatakan: “al-imamah, al-khilafah dan imarotul mu’minin, itu semuanya merupakan sinonim (mutarodifah)” ??
Bagaimana pula dengan Prof. Muhammad bin Umar Bazmul yang menyatakan dalam kitab mudzakkarah al-Jama’ah wal Imamah: “tidak ada Islam tanpa jama’ah, tidak ada jama’ah tanpa imamah, tidak ada imamah tanpa ketaatan”?padahal kata imamah itu sinonim dengan khilafah, apa ini juga sesat?
Dan ingat, para ulama mendefinisikan imamah sebagai:  “pengganti (khilafah) dan wakil (niyabah) dari Rasulullah saw dalam menegakkan pemerintahan umat setelah beliau (wafat)” (Al-Khathabi dalam Ma’alimus Sunan).
“kepemimpinan umum dalam urusan agama dan dunia sebagai pengganti Nabi saw. (khilafat ”anin nabi saw)” (Ibnu ‘Abiddiin, Raddul Muhtar).
“kepemimpinan umum dalam urusan agama dan dunia sebagai pengganti Nabi saw (khilafatun nabi)” (At-Taftazani, Syarhul Maqashid)
Maka, jika semua itu dianggap sesat, wah sungguh naif,
wastaghfirullaahal ‘adhim wal hamdulillaah 

Tulisan Terkait lainnya:




0 comments for Tak Tegak Syariah Secara Sempurna Tanpa Khilafah

Leave comment

Gamis Murah

Hak Cipta Hanya Milik Allah SWT, Menyadur dan Menyebarkan isi Website ini Sangat di anjurkan | jawara web | seacrh engine | butik muslim | situs islam | islamic wallpaper | situs berita global