Tafsir QS al-Furqan [25]: 74-76 : Sifat-sifat ‘Ibâd al-Rahmân (8) -"Mohon Dianugerahi Istri dan Anak Yang Shaleh"


wanita-solehah.jpg (439×265)Oleh: Rokhmat S Labib, M.E.I.
Dan orang-orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya, mereka kekal di dalamnya. Surga itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman. (TQS al-Furqnn [25]: 74-76).
Ayat ini merupakan ayat terakhir yang menggambarkan tentang sifat-sifat yang dimiliki ‘ibâd al-Rahmân,hamba-hamba Dzat Yang Maha Penyayang. Setelah itu kemudian dilanjutkan dengan balasan yang akan diberikan Allah SWT kepada mereka. Balasan tersebut tak lain adalah surga yang kekal abadi. Sebaik-baik tempat menetap dan tempat kembali. Sungguh balasan yang amat menguntungkan bagi siapa pun yang mengerjakannya.
Mohon Dianugerahi Istri dan Anak Yang Shaleh
Allah SWT berfiman: Wa al-ladzîna yaqûlûna Rabbanâ hab lanâ min azwâjinâ wa dzurriyatinâ qurrat a’yun (dan orang-orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati [kami]). Kata al-ladzîna masih menunjuk kepada ‘ibâd al-Rahmân yang disebutkan dalam ayat sebelumnya. Mereka diberitakan memanjatkan doa dan permohonannya kepada Allah SWT.  Doa yang mereka panjatkan adalah agar dikaruniai azwâj (istri-istri) dan dzurriyyah (keturunan) yang menjadiqurrah a’yun.
Kata qurrah a‘yun merupakan kinâyah (kata kiasan) dari al-surûr wa al-farah (rasa senang dan gembira). Kataqurrah berasal dari al-qarr yang berarti al-bard (dingin). Sebab, tetesan airmata kebahagiaan itu dingin. Demikian al-Alusi dalam tafsirnya.
Ditegaskan Fakhruddin al-Razi, tidak ada keraguan bahwa yang dimaksud dengan qurrah a’yun bagi mereka adalah dalam perkara agama. Bukan dalam urusan dunia, seperti harta dan ketampanan atau kecantikan. Penafsirkan demikian memang dikemukan oleh para mufassir.
Mujahid, sebagaimana dikutip al-Alusi, berkata, “Seorang Mukmin yang benar apabila melihat keluarganya ikut bersamanya dalam ketaatan, maka perasaannya senang dan hatinya gembira. Ibnu Katsir mengatakan, istri-istri dan anak-cucu yang dipinta itu adalah orang-orang yang taat dan menyembah Allah, serta tidak menyekutukan-Nya dengan yang lain. Mufassir tersebut juga mengutip penjelasan Ikrimah yang berkata, “Yang mereka inginkan bukanlah kecantikan atau ketampanan. Namun yang mereka inginkan adalah istri-istri dan anak-cucunya itu menjadi orang-orang yang taat.” Abdurrahman bin Zaid bin Aslam juga berkata, “Mereka meminta kepada Allah agar istri dan anak-cucunya diberikan petunjuk kepada Islam.” Al-Khazin menafsirkanqurrah a’yun sebagai orang-orangyang baik dan bertakwa, sehingga menjadi penyenang hatinya. Dikatakan juga oleh Wahbah al-Zuhaili. Menurutnya, “Yang dimaksud dengan qurrah a’yun adalah kegemberaan dan kesenangan. Sesungguhnya orang Muslim akan senang hatinya dengan ketaatan keluarga dan anak-anaknya kepada Tuhan agar mereka bisa menyusulnya di surga.”
Permohonan mereka itu menunjukkan sifat mereka yang tidak egois dan hanya peduli terhadap nasib mereka sendiri. Mereka juga peduli terhadap nasib keluarga dan keturunannya. Maka mereka pun mengharapkan istri dan anak-cucu mereka masuk surga. Oleh karena itu, hati mereka menjadi senang dan tenteram manakala istri dan anak-cucunya menjadi orang-orang yang beriman, shalih, dan taat kepada-Nya. Mereka pun berdoa kepada Allah sebagaimana diberitakan dalam ayat ini. Doa inilah yang dipanjatkan oleh para nabi terhadap anak-anak mereka, seperti Ibrahim sebagaimana diberitakan dalam firman-Nya: "Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shaleh (TQS al-Shaffat [37]: 100). Demikian pula Zakaria yang berdoa: "Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa" (TQS Ali Imran [3]: 38). Tentu tidak hanya berdoa. Berbagai upaya lain juga dilakukan agar istri dan anak-cucunya bisa menjadi orang-orang shalih dan bertakwa.
Pemimpin bagi Kaum Bertakwa
Allah SWT berfirman: wa [i]j’alnâ li al-muttaqîna imâm[an] (dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa). Ini merupakan permohonan mereka selainnya. Mereka memohon agar dijadikan sebagai imâmbagi orang-orang yang bertakwa.
Menurut al-Asfahani, secara bahasa kata imâm berarti al-mu`tamm bih (orang yang diikuti), baik oleh manusia maupun para penulis dan lainnya yang meneladani ucapan dan perbuatannya; baik dalam kebaikan maupun kebatilan.
Pengertian itulah diambil para mufassir dalam menafsirkan ayat ini. Ibnu ‘Abbas, al-Hasan, al-Sudi, Qatadah, dan al-Rabi’ bin Anas berkata: Mereka menjadi para pemimpin yang diteladani dalam kebaikan. Ibnu Abbas, sebagaimana dikutip al-Qurthubi, ayat ini berarti: “Jadikanlah kami sebagai para pemimpin petunjuk.” Ini sebagaimana firman Allah Swt: Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar (TQS al-Sajdah [32]: 24).
Dikatakan al-Qurthubi dan al-Syaukani, maksud permohonan mereka dalam ayat ini agar dijadikan sebagaiqudwah (teladan) yang diteladani dalam kebaikan. Menurut al-Qurthubi, itu tidak bisa terjadi kecuali dia menjadi da’i yang bertakwa dan panutan. Inilah yang dituju oleh dai. Menurut al-Baidhawi, maksud ayat ini adalah:“Mereka meneladani kami dalam urusan agama; di samping juga tambahan ilmu dan taufiq untuk beramal.”Dikatakan Ibnu Zaid, ini sebagaimana firman Allah SWT kepada Nabi Ibrahim as: "Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia" (TQS al-Baqarah [2]: 124).

Balasan bagi ‘Ibâd al-Rahmân
Kemudian dalam ayat berikutnya Allah Swt berfirman: Ulâika yujzawna al-ghurfah bimâ shabarû (mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka). Kata ulâika(mereka) menunjuk kepada ‘ibâd al-Rahmân yang memiliki berbagai sifat yang indah serta perkataan dan perbuatan yang mulia.
Terhadap mereka, akan diberikan balasan berupa al-ghurfah. Diterangkan al-Razi, secara bahasa kata al-ghurfah berarti al-‘uliyyah (ruangan, kamar yang tinggi). Setiap bangunan yang tinggi, itu adalah al-ghurfah.Sehingga yang dimaksud dengannya adalah al-darajât al-rafî’ah (tingkatan-tingkatan yang tinggi). Dikatakan  juga oleh al-Razi, menurut para mufassir, al-ghurfah merupakan sebuah surga. Kata al-ghurfah dengan pengertian tempat tinggi surga juga disebutkan dalam firman-Nya: Wahum fî al-ghurufât âminûn (dan mereka aman sentosa di tempat-tempat yang tinggi dalam surga, TQS Saba’ [34]: 37). Juga dalam QS al-Zumar [39]: 20).
Balasan tersebut diberikan kepada mereka lantaran kesabaran mereka. Disebutkan: bimâ shabarû (karena kesabaran mereka). Kata: shabarû (telah melakukan kesabaran) menunjuk kepada semua keyakinan, sikap, perbuatan, dan perkataan mereka yang dijelaskan dalam ayat-ayat sebelumnya.
Kemudian disebutkan juga balasan lainnya: Wa yulaqqawna fîhâ tahiyyat[an] wa salâm[an] (dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya). Dhamîr al-hâ` menunjuka kepada al-ghurfah. Artinya, di dalam surga mereka disambut dengan tahiyyat[an] wa salâm[an]. Menurut al-Razi, al-tahiyyah adalah doa untuk perbaikan; sedangkan al-salâm merupakan doa untuk keselamatan. Hasil al-tahiyyah dikembalikan pada berbagai kenikmatan surga yang kekal tak terputus. Sedangkan al-saâmdikembalikan kenikmatan karena terhindar dari berbagai bahaya.
Dijelaskan juga oleh al-Razi, al-tahiyyah dan al-salâm bisa berasal dari Allah sebagaimana diberitakan dalam QS Yasin [36]: 58. Bisa pula dari malaikat (lihat al-Ra’d [13]: 23). Juga, disampaikan oleh sesama mereka.
Di dalam surga yang penuh kenikmatan itu mereka tinggal selama-lamanya. Allah SWT berfirman: khâlidîna fîhâ (mereka kekal di dalamnya). Artinya, mereka tidak mati di dalamnya dan tidak keluar darinya. Demikian penjelasan al-Baidhawi dalam tafsirnya. Bahwa mereka kekal di salam surga di beritakan dalam banyak ayat.
Kemudian ditegaskan: Hasunat mustaqarr[an] wa muqâm[an] (surga itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman). Menurut Ibnu Katsir, frasa tersebut berarti  hasunat manzhar[an] wa thâbat maqîl[an] wa manzil[an] (bagus pemandangannya dan tempat istirahat dan tempat tinggal yang baik). Keadan ini berkebalikan dengan neraka, yang disebutkan dalam ayat sebelumnya sebagai: Innahâ sâat mustaqarr[an] wa muqâm[a] (sesungguhnya Jahanam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman, TQS al-Furqan [25]: 66).
Demikianlah sifat-sifat para hamba Dzat Yang Maha Penyayang itu. Demikian pula balasan yang akan mereka terima. Kesabaran yang melakukan di dunia mengantarkan mereka mendapatkan kenikmatan Allah SWT tiada tara di surga. Sungguh keuntungan besar bagi mereka yang dengan penuh kesabaran memiliki sifat yang digambarkan dalam ayat ini dan ayat-ayat sebleumnya. Semoga kita termasuk di dalamnya. Wal-Lâh a’lam bi al-shawâb.
Ikhtisar:
  1. Di antara doa ‘Ibâd al-Rahmân adalah: (1) memohon agar istri-istri dan anak-cucunya dijadikan sebagai orang-orang shalih dan taat; (2) dijadikan sebagai pemimpin dalam kebaikan bagi orang yang bertakwa
  2. Balasan yang akan diberikan mereka adalah surga yang tinggi [www.globalmuslim.web.id]

Tulisan Terkait lainnya:




0 comments for Tafsir QS al-Furqan [25]: 74-76 : Sifat-sifat ‘Ibâd al-Rahmân (8) -"Mohon Dianugerahi Istri dan Anak Yang Shaleh"

Leave comment

Gamis Murah

Hak Cipta Hanya Milik Allah SWT, Menyadur dan Menyebarkan isi Website ini Sangat di anjurkan | jawara web | seacrh engine | butik muslim | situs islam | islamic wallpaper | situs berita global