Marhaban Yaa Ramadhan 1434 H

Pengantar: Ramadhan 1434 H segera tiba. Sepantasnya kaum Muslim bergembira menyambutnya. Sebab di dalamnya penuh dengan pahala. Apa yang harus dilakukan dan bagaimana kaum Muslim bisa meraih ketakwaan. Simak dalam Fokus berikut.
Marhaban Yaa Ramadhan 1434 H
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.(TQS. al-Baqarah[2]: 183).
Sebentar lagi Ramadhan 1434 H tiba. Sebagaimana dituntunkan oleh Rasulullah Muhammad SAW, sudah sepantasnya kaum Muslim menyambutnya dengan rasa suka cita dengan keimanan penuh.
Di dalamnya ada ibadah yang sangat mulia, banyak sekali hadiah pahala.
Sebagai Muslim yang taat dan patuh, momentum Ramadhan tidak akan sia-siakan. Sebagaimana ditunjukkan dalam semangat Rasulullah dan para sahabat dalam menyambut bulan Ramadhan, mereka  sangat serius mempersiapkan diri agar bisa memasuki bulan Ramadhan dan melakukan segala amalan di dalamnya dengan penuh keimanan, keikhlasan, semangat dan kesungguhan.
Hal tersebut termaktub dalam sebuah hadits
Ramadhan adalah bulan yang awalnya adalah rahmah, pertengahannya adalah maghfirah dan akhirnya adalah pembebasan dari api neraka. Siapa saja yang meringankan hamba sahayanya, Allah akan mengampuninya dan membebaskannya dari api neraka. Perbanyaklah pada dalam Ramadhan empat perkara, dua perkara yang Tuhan ridhai dan dua perkara yang kalian butuhkan.Dua perkara yang Tuhan ridhai adalah kesaksian Lâ ilâha illâ Allâh Muhammad Rasûlullâh dan permohonan ampunan kalian kepada-Nya. Adapun dua perkara yang kalian butuhkan adalah: kalian meminta kepada Allah surga dan berlindung kepada-Nya dari api neraka. (HR Ibn Khuzaimah dalam Shahih Ibn Khuzaimah dan al-Baihaqi di dalam Syu’âb al-Imân).
Sudah sepantasnya kaum Muslim menyambutnya dengan rasa haru, rasa suka cita dan semangat membara yang penuh keikhlasan dengan bekal iman.
Tidak mudah menanamkan rasa bangga terhadap ibadah, ketika ibadah itu tanpa persiapan ilmu, fisik dan mental. Makanya, persiapan menjelang Ramadhan harus matang.
Persiapan ilmu bisa dilakukan dengan meningkatkan ilmu dengan mempelajari fiqih-fiqih sekitar ibadah Ramadhan, dikombinasikan dengan fikriyah dan ruhiyah dengan memperbanyak membaca Alquran, sirah Rasulullah, dzikir dan doa.
Persiapan fisik dan mental bisa dilakukan dengan menyiapkan jiwa dengan cara membangkitkan suasana keimanan dan spirit, atau semangat ketakwaan pada diri mulai dari menjaga kebersihan, memakan makanan halal dan tahyyib, serta dengan memperbanyak ibadah, khususnya puasa sunnah.
Al-Hafizh Ibn Rajab mengatakan, “Dikatakan tentang puasa pada bulan Sya’ban, bahwa puasa seseorang pada bulan itu merupakan latihan untuk menjalani puasa Ramadhan. Hal itu agar ia bisa memasuki puasa Ramadhan tidak dengan berat dan beban. Sebaliknya, dengan puasa Sya’ban, ia telah terlatih dan terbiasa melakukan puasa. Dengan puasa Sya’ban sebelumnya, ia telah menemukan lezat dan nikmatnya berpuasa. Dengan begitu, ia akan memasuki puasa Ramadhan dengan kuat, giat dan semangat.
Jangan lupa sebagaima dicontohnya oleh Rasulullah kepada sahabat Abdullah ibnu Mas’ud ra, agar memulai puasa dengan penampilan baik dan tidak dengan wajah yang cemberut. (HR. Al-Haitsami).
Memperbanyak puasa Sya’ban, bahkan menyambungnya hingga bulan Ramadhan.  Ummul Mukminin, Aisyah ra. menuturkan: “Aku tidak melihat Rasulullah berpuasa sebulan penuh, kecuali Ramadhan dan aku tidak melihat beliau lebih banyak berpuasa dibandingkan dengan pada bulan Sya’ban” (HR al-Bukhari dan Muslim).
Sebagaimana Firman Allah SWT;
"Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri" (TQS AR- Ra’du 11).
Maka, jelas sekali keberhasilan seorang Muslim dalam menjalani seluruh amal shalih pada bulan Ramadhan dan akhirnya dapat meraih seluruh kebaikan bulan Ramadhan, sangat dipengaruhi oleh sejauh mana mempersiapkan diri, kepada perubahan hakiki:
Bulan yang paling Rasul SAW sukai untuk berpuasa di dalamnya adalah Sya’ban, kemudian beliau menyambungnya dengan (puasa) Ramadhan. (HR Abu Dawud, an-Nasa’i dan Ahmad).
Maka, berpuasa sunnah di bulan Sya’ban memiliki keutamaan yang sangat besar, lebih besar daripada puasa pada bulan lainnya. Sedemikian penting dan utamanya sampai ‘Imran bin Hushain menuturkan, bahwa Rasul SAW pernah bertanya kepada seorang sahabat:
Apakah engkau berpuasa pada akhir bulan ini (yakni Sya’ban)?” Laki-laki itu menjawab, “Tidak.” Lalu Rasulullah SAW bersabda kepadanya, “Jika engkau telah selesai menunaikan puasa Ramadhan, maka berpuasalah dua hari sebagai gantinya. (HR Muslim).
Jadi puasa sunnah di bulan Sya’ban, di samping akan mendapatkan pahala yang besar dan keutamaan di sisi Allah, juga merupakan sarana latihan guna menyongsong datangnya Ramadhan.
Para ulama di masa lalu sangat memperhatikan pelaksanaan semua amal kebaikan pada bulan Sya’ban. Mereka, sejak memasuki bulan Sya’ban, telah memperbanyak membaca Alquran, menelaah dan memahami isinya dan men-tadabbur-i kandungannya. Bahkan Habib ibn Abi Tsabit, Salamah bin Kahil dan yang lain menyebut bulan Sya’ban ini sebagai Syahr al-Qurân.
Maksimalkan Waktu…
Kurang beberapa hari lagi Ramadhan tiba, ayo kita maksimalkan waktu yang bersisa di bulan Sya’ban ini untuk betul-betul menyiapkan diri memasuki bulan Ramadhan. Bukan hanya untuk diri sendiri, ayoo ajak keluarga, terutama anak-anak untuk membiasakan ibadah mulia ini, tak lupa orang-orang yang ada di sekitar kita guna menyongsong datangnya bulan Ramadhan. Perbanyak puasa sunnah, baca Alquran dan telaah kandungannya, perbanyak sedekah dan amal shalih lainnya, termasuk bergiat melakukan shalat tahajjud. Harapannya, ketika Ramadhan persiapan sudah matang sehingga mampu menjalani Ramadhan dengan penuh makna.
Bulan Ramadhan adalah bulan ketaatan. Bulan Ramadhan adalah bulanmurâqabah. Ramadhan juga adalah bulan pengorbanan di jalan Allah. Di dalamnya setiap Muslim dituntut untuk berkorban dengan menahan rasa lapar dan dahaga demi meraih derajat takwa.
Takwa adalah puncak hikmah dari ibadah shaum pada bulan Ramadhan.Perwujudan takwa secara individu tidak lain adalah dengan melaksanakan semua perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya. Adapun perwujudan takwa secara kolektif adalah dengan menerapkan syariah secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan. Puasa Ramadhan tentu kurang bermakna, jika tidak ditindaklanjuti oleh pelaksanaan syariah secara kaffah dalam kehidupan, karena justru itulah sesungguhnya wujud ketakwaan yang hakiki.
Terakhir, simak dan renungkan kembali penggal pesan-pesan Rasulullah yang disampaikan di penghujung bulan Sya’ban, sesaat sebelum memasuki bulan Ramadhan:
Wahai manusia, kalian telah dinaungi bulan yang agung, bulan penuh berkah, bulan yang di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Allah telah menjadikan puasa pada bulan itu sebagai suatu kewajiban dan shalat malamnya sebagai sunnah. Siapa saja yang ber-taqarrub di dalamnya dengan sebuah kebajikan, ia seperti melaksanakan kewajiban pada bulan yang lain.Siapa saja yang melaksanakan satu kewajiban di dalamnya, ia seperti melaksanakan 70 kewajiban pada bulan lainnya.
Bulan Ramadhan adalah bulan sabar; sabar pahalanya adalah surga. Ia juga bulan pelipur lara dan ditambahnya rezeki seorang mukmin. Siapa saja yang memberikan makanan untuk berbuka kepada orang yang berpuasa, ia akan diampuni dosa-dosanya dan dibebaskan lehernya dari api neraka. Ia akan mendapatkan pahala orang itu tanpa mengurangi pahalanya sedikit pun.
Ibadah Ramadhan harus juga menjadi bagian muhasabah atau evaluasi untuk diri setiap Muslim. Semoga Allah SWT senantiasa menerima ibadah Ramadhan kita juga  amal shalih lainnya sebagai bagian dari penegakan syariat Islam.Wassalam. [] Abee
[www.globalmuslim.web.id]

Tulisan Terkait lainnya:




0 comments for Marhaban Yaa Ramadhan 1434 H

Leave comment

Gamis Murah

Hak Cipta Hanya Milik Allah SWT, Menyadur dan Menyebarkan isi Website ini Sangat di anjurkan | jawara web | seacrh engine | butik muslim | situs islam | islamic wallpaper | situs berita global