HT Dakwah di Kampus, Pengusung Demokrasi Resah

Gerak dakwah Hizbut Tahrir Inggris di berbagai kampus mendapat tempat di hati mahasiswa. Namun dalam waktu yang bersamaan membuat resah para pengusung demokrasi dan liberalisme.
Keresahaan tersebut tercermin dalam tulisan kolumnis surat kabar Pakistani Dawn Huma Yusuf dalam artikel yang dimuat situs blog-nya NY Times, Latitude, Jumat (19/4).
Radical Islamist groups have more and more clout on campuses (kelompok Islam radikal semakin berpengaruh di kampus-kampus),” keluhnya dalam artikel yang berjudul The Law of Extremes.
Salah satu buktinya, ungkap Huma, University of Leicester baru-baru ini menjadi tuan rumah dialog yang merupakan bagian dari kegiatan mingguan untuk kesadaran Islam, dengan tema Does God Exist? (Apakah Tuhan itu ada?) dengan menghadirkan narasumber Hamza Tzortzis, yang dideskripsikan sebagai pembicara kontroversi, anti-Semit, menentang gay (homoseksual) dan menolak sistem demokrasi.
Di tempat acara itu, para peserta akan melihat spanduk dengan tulisan tangan yang menyerukan peserta laki-laki dan perempuan agar menggunakan pintu masuk yang terpisah. Dan selama berlangsungnya dialog, peserta laki-laki dan perempuan duduk di tempat masing-masing yang terpisah.
Penulis artikel tersebut berusaha mengalihkan fakta bahwa universitas kini tengah menyelidiki untuk mengetahui apakah mahasiswa laki-laki dan perempuan terpaksa duduk terpisah, yang dianggapnya sebagai perilaku yang dilarang. Ia mengutip jawaban narasumber yang menilai bahwa spanduk dibuat untuk memudahkan proses pemisahan antara jenis kelamin, dan tidak untuk memaksakannya.
Namun penulis artikel di blog tersebut menilai bahwa pernyataan “untuk memudahkan” itu adalah sesuatu yang dipaksakan.
Ia menyimpulkan bahwa perdebatan di University of Leicester merupakan bukti yang meyakinkan bahwa kelompok Islam radikal memiliki pengaruh yang lebih di sejumlah perguruan tinggi. Sementara para pejabat tinggi akademik tengah berjuang untuk mencari tahu bagaimana untuk meresponnya.
Keresahan serupa sebelumnya ditunjukkan oleh seorang editor senior di Inggris.  “Para ekstremis Islam terlibat di lebih dari 200 kegiatan universitas pada tahun lalu. Sehingga hal ini memicu kekhawatiran baru tentang radikalisi di kampus,” ungkap Tom Whitehead dalam artikelnya yang berjudul Extremists Attend More than 200 University Events (para ekstrimis terlibat di lebih dari 200 kegiatan universitas).
Dalam artikel yang  dimuat situs surat kabar Inggris The Telegraph, Sabtu (12/1), editor rubrik keamanan (security editor) harian The Daily Telegraph tersebut menyimpulkan situasi di universitas-universitas Inggris dengan mengatakan: “Telah berlangsung puluhan kegiatan dengan menghadirkan para pembicara dari Hizbut Tahrir, yang disebutnya sebagai kelompok fanatik dan intoleransi, serta kontroversial dan dilarang oleh Federasi Kemahasiswaan atau National Union of Students (NUS).
Whitehead menambahkan bahwa para ekstrimis diundang di sejumlah kegiatan, meskipun Menteri Dalam Negeri Theresa May mengkritik cara universitas dalam menanggulangi bahaya radikalisasi dan ekstremisme.
Ia menegaskan, terkait banyaknya tersebar kegiatan Hizbut Tahrir pada sejumlah universitas di Inggris melalui penelitian yang dilakukan oleh kelompok kampanye hak-hak mahasiswa (campaign group Student Rights), yang menemukan total 214 kegiatan universitas yang menampilkan pembicara ekstrimis pada tahun lalu. Dan dikatakan bahwa pembicara yang paling terkenal adalah Hamza Tzortzis, yang telah dihadirkan di lebih dari 48 kegiatan.
Whitehead menambahkan, Hamza Tzortzis dalam setiap kesempatan terus menyerukan pembentukan sebuah negara Islam, dan juga menyatakan permusuhannya terhadap nilai-nilai Barat.
Redaktur senior tersebut membuktikan banyaknya kegiatan Hizbut Tahrir, meskipun sejumlah hambatan dan rintangan diletakkan di depannya. Ia mengatakan bahwa kegiatan Hizbut Tahrir adalah 6 persen dari total kegiatan di universitas. Padahal, kebijakan NUS adalah tidak memberikan platform pada Hizbut Tahrir. Seperti yang diungkap dari hasil penelitian bahwa ada delapan kegiatan yang dipindahkan dan sepuluh dibatalkan setelah adanya keberatan.
Sampai di situ tulisannya terbilang proporsional. Namun pada paragraf berikutnya, entah berniat atau tidak untuk mengacaukan masalah dan menyesatkan pembaca, maka dikemukan sesuatu yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan Hizbut Tahrir dengan mengait-kaitkan HT dengan teroris.
Begitulah curangnya para pengusung demokrasi, bila secara intelektual kalah, maka dilancarkanlah fitnah. Namun akan efektifkah menjauhkan mahasiswa dari ide Islam? Insya Allah tidak.[] bajuri/joy [www.globalmuslim.web.id]

Tulisan Terkait lainnya:




1 comments for HT Dakwah di Kampus, Pengusung Demokrasi Resah

  1. luar biasa, tetaplah berjuang,,
    InsyaAllah, khilafah islamiyah akan segera tegak,,
    bersabarlah whai syabab,, :)

Leave comment

Gamis Murah

Hak Cipta Hanya Milik Allah SWT, Menyadur dan Menyebarkan isi Website ini Sangat di anjurkan | jawara web | seacrh engine | butik muslim | situs islam | islamic wallpaper | situs berita global