Catatan Super Ustd. Prof. Dr. Ing- Fahmi Amhar

fahmi-amhar.jpg (202×249)
Klo orang cerdas, perkataannya pasti berbobot dan berisi, apa yang ada di pikiran dituangkan dalam barisan kata2 yang membuat kita berpikir dan menghentak kesadaran. Mengamati dari status2 berbobot Ustdz Fahmi, rasanya sayang jika hanya sekedar dibaca n numpang lewat, habis itu dilupakan dan tak perlu diingat. Darinya kadang kudapat banyak pelajaran berharga. Walaupun request friend-ku tak diterima beliau, tak apalah.. :) yang penting aku bisa masih memetik hikmah dari tulisan2 beliau di dunia maya, khususnya status2 di FB. Maka dari itulah, sedikit kupadat-kan dengan catatan ini. Mengumpulkan yang terserak dari mozaik2 kehidupan. Semoga ada kebaikan yang bisa kita dapatkan..
===========
Orang biasanya cenderung mendukung dan kurang kritis pada berita atau pendapat yang merugikan lawannya. Tapi ini jadi masalah kalau terjadi pada pengemban dakwah ideologis. Berita atau pendapat yang merugikan penguasa, dan dianggap “dharbul alaqot” bisa saja berasal dari “hoax” orang bodoh, sentimen orang fasik atau provokasi orang dengan maksud tertentu.
Kalau kita tanpa sikap kritis mendukung berita atau pendapat yang sebenarnya “hoax” (omong kosong asal bunyi) dari orang-orang bodoh, maka dampak yang muncul bukan dharbul alaqot, tetapi justru kesan bahwa pengemban dakwah adalah orang-orang bodoh.
Kalau kita tanpa sikap kritis mendukung berita atau pendapat yang sebenarnya hanya sentimen dari orang-orang fasik, maka dampak yang muncul bukan dharbul alaqot, tetapi justru kesan bahwa pengemban dakwah ada dalam satu barisan dengan orang-orang fasik itu, yang melontarkan berita atau pendapat itu karena sakit hati, karena sama-sama “belum kebagian”.
Kalau kita tanpa sikap kritis mendukung berita atau pendapat yang sebenarnya hanya provokasi orang dengan maksud tertentu, maka dampak yang muncul bukan dharbul alaqot, tetapi justru kesan bahwa pengemban dakwah ternyata orang-orang yang mudah terprovokasi.
Jadi, selalu tunjukkan bahwa para pengemban dakwah selalu memiliki cara pandang yang khas, yaitu cara pandang Islam, dan tetap menjaga akurasi setiap berita dan netralitas pada setiap pendapat.
=============
Hal yang sama sebenarnya terjadi di pihak lawan. Karena mereka sudah “ideologis” anti-Islam, maka setiap berita atau pendapat yang merugikan Islam, langsung mereka dukung, mereka forward, mereka kutip terus, termasuk di kasus Norwegia. Mereka kehilangan sikap kritis dan netral lagi. Akibatnya kita bisa melihat, bahwa sebenarnya mereka orang-orang bodoh, atau fasik, atau memang punya maksud tertentu.
Tentunya kita tidak ingin seperti mereka, karena kita muslim.

*****************
“Untuk mengalahkan musuh, kekuatan dan kecepatan saja tidak cukup. Engkau butuh ketajaman naluri”. Ini nasehat guru besar kungfu tingkat tinggi. Di dunia dakwah & bisnis, ketajaman naluri memandu kita sehingga tidak cuma reaktif – “on-time”, tetapi bahkan proaktif – “in-time”.
Ketajaman naluri membuat kita mengenali sebuah RUU yang akan mencelakakan ummat, sekalipun nyaris semua orang memandang positif RUU itu; atau mengenali seorang agen penjajah, sekalipun nyaris semua orang mengelu-elukannya.
===========
Ikan yang berenang menentang arus, adalah ciri ikan yang sehat dan tahu tujuan.
Ikan yang mengikuti air mengalir, boleh jadi adalah ikan yang sakit.
Dan air selalu mengalir ke tempat yang lebih rendah.
Jadi “mengikuti air mengalir” berarti menurunkan level kualitas kita.

===========
Jodoh itu salah satu misteri yang diberikan Allah di dunia.
Teman saya ada yang pacaran dari SMA, ditambah kuliah dll total pacaran 10 tahun. Lalu nikah. Setelah 9 tahun nikah, cerai.
Ada teman ke-2, ketemu istrinya ya pas nikah saja, karena wali istrinya, calon istrinya, dan dia sendiri percaya total kepada mak comblang. Proses ke KUA bahkan diwakilkan karena teman ke-2 ini masih dinas jauh di pemboran minyak. Alhamdulillah, sekarang sudah 37 tahun, dan baik-baik saja. Mereka bukan orang harakah.
Tapi ada juga teman ke-3, dicarikan Ustadz terpercaya. Kedua keluarga bagian dari harakah. Ternyata nikah mereka cuma bertahan 2 tahun, meski sudah dapat momongan. “Chemistry”-nya tidak matched, jadi sering salah paham dan berlarut-larut.
Yang paling membuat sedih teman ke-4, sama-sama tokoh harakah, berdua menulis buku tentang keluarga, berdua memberi training jodoh dan konsultasi parenting, punya anak banyak, setelah hampir 15 tahun berkeluarga, cerai.Ini semua kisah nyata. Jadi tidak ada kepastian, kalau orang harakah pasti aman …
Jodoh itu ibarat tanaman, harus dirawat, harus diperjuangkan, harus terus dimohonkan doa dengan penuh keihlasan, meski dia telah kita nikahi puluhan tahun.
saya punya 2 teman SMA, cowok.
Yang pertama penampilan ok, pelajar teladan, gaul, S1 di Jerman, kerja di BUMN top.
Yang kedua penampilan pas-pasan, ranking tak terdengar, kuper, S1 Indonesia, PNS Omar Bakri.
Yang menyamakan keduanya: hingga usia 44 tahun ini keduanya sama-sama belum dapat jodoh. Katanya sama-sama gagal ta’aruf dengan orang-orang yang memenuhi spesifikasinya.
Pengalaman saya, jadi makcomblang itu bisa dianggap hal yang ringan, bisa pula dipandang hal yang berat. Apakah kita benar-benar mengenal dua pihak yang kita comblangi? Kata Nabi, kita baru benar-benar kenal seseorang bila kita pernah satu kafilah dengannya, atau pernah bekerja bersamanya, atau pernah utang piutang dengannya. Lha benarkah orang yang kita comblangi itu benar-benar kita kenal dengan salah satu cara Nabi tersebut?
Ternyata, dari kasus-kasus yang berakhir dengan perceraian itu (apalagi yang nikahnya cuma bertahan singkat), itu makcomblangnya (sekalipun ustad), tidak pernah mengenal calon mempelai dengan cara yang dianjurkan nabi. Mereka merasa “sudah mengenal” karena sama-sama dalam satu barisan dakwah.
pernikahan memang kadang dianggap jalan satu arah. Jadi status di KTP tidak cuma “KAWIN” tapi “TERLANJUR KAWIN”. Bgmn rasanya seorang wanita, terlanjur dapat suami yang pemalas: malas ke masjid, malas kerja, malas mencari ilmu, malas bant…uin pekerjaan rumah tangga . Karena wanita ini bekerja, akhirnya dia yang nanggung nafkah. Tapi mau cerai, malu. Sudah punya anak lagi. Cerai memang hal yang halal, tetapi dimurkai Allah. Dan sekali lagi, dalam sistem kufur sekarang ini, cerai menimbulkan banyak masalah & komplikasinya.
===========
Ada kawan nanya, tolong bantuin jawab ya? —» “Pak, sholat DHUHA 2 rakaat dengan 6 rakaat bagusan mana?, trus, PUASA senin-kamis dengan puasa Daud baik mana?, trus kalau SEDEKAH 10 ribu dengan 100 ribu afdhol yang mana?”. eee… setelah dijawab, dia nanya lagi, “kalau punya ISTRI 1 dengan 4 lebih baik yang mana ya pak?”
statistik “pria” : “wanita” hampir sama;
tetapi statistik “pria shaleh+mampu” : “wanita” sangat njomplang. Jadi angka 1:7 atau 1:9 itu antara pria shaleh+mampu dengan wanita.Dengan sistem yang ada sekarang, sangat sulit membentuk pria ya…ng shaleh + mampu. Yang shaleh biasanya dhuafa, dan yang mampu biasanya tidak shaleh … he he …
Banyak hal yang mubah tetapi ahsan di sistem khilafah, sekarang ini tetap mubah tetapi menjadi kurang ahsan. Antara lain adalah polygami. Yang lainnya: menikahi ahli kitab, punya anak buanyak ….
Di dalam Daulah Islam, menikahi ahli kitab adalah dakwah di lingkungan privat, setelah di lingkungan publik sudah penuh dengan dakwah. tetapi di Daulah Kufur, menikahi ahli kitab adalah mendatangkan fitnah di lingkungan privat, setelah di lingkungan publik penuh dengan sekulerisme.
Demikian juga, punya anak buanyak dalam Daulah Islam adalah memberikan “input” untuk sistem pendidikan Islami yang akan menghasilkan generasi mujtahid dan mujahid. Tetapi punya anak buanyak dalam Daulah Kufur hanya memberikan input untuk sistem pendidikan sekuler yang alumninya belum tentu bermanfaat bagi kemuliaan Islam dan kaum muslimin.
Jadi, dalam sistem sekarang, mau berpolygami, menikahi ahli kitab atau punya anak buanyak, harus dipikir masak-masak dulu, sudah punya ilmunya atau belum.
==========
Sampai hari ini ada lima nama di Facebook yg ana sering menyengaja membuka wall-nya untuk mendapat inspirasi: Abdul Qodir Jaelani, Jamil Azzaini, Felix Siauw-Full, Hariadi Adalah Fatih Karim, Samsul Arifin.
Ada dua nama yg sering juga ana sengaja buka wall-nya untuk cari ilmunya: Fahmi AmharM Shiddiq Al JawiAdi Victory.
Ada 1 nama yg tak ana buka wall-nya tp koq selalu muncul saat ana buka FB:Muhammad Rosyidi Aziz

===========
Subhanallah, hari ini kurs Dinar Rp. 2,021,474. Agustus 2008 (persis 3 tahun lalu) masih Rp. 1,145,260. Ini bukan dinarnya yang naik, tetapi Rupiah yang membusuk kira-kira 25% per tahun! Jadi kalau SBY bilang inflasi cuma 1 digit, itu ilusi lah. Ayo, nafkahkan Rupiah kita secepatnya, daripada disimpan cuma membusuk.
===========
“Tidak ada media berita yang benar-benar netral”. Media dipengaruhi visi, dibatasi sumberdaya, diburu waktu. Kemarin saya mengirim tulisan bantahan atas pernyataan Prof. Sofjan Siregar (lihat note saya). Detik.com tidak memuatnya. Media yang lain (yang meng-copas Sofjan Siregar) mencabut tulisannya, tapi juga tidak memuat tulisan saya. Cover both side memang masih cita-cita
=============
Dalam masalah hukum boleh ada keputusan otoritas untuk menjaga persatuan. Ini disebut TABBANNI dalam sistem Islam. Tetapi masalah yang ditabbanni hanya masalah hukum, bukan masalah fakta ilmiah. Fakta ilmiah serahkan pada ahlinya, untuk diuji secara ilmiah, tidak bisa diputuskan oleh otoritas.
misalnya soal:
apakah bumi yang memutari matahari atau sebaliknya?
apakah vaksin bermanfaat untuk kesehatan atau tidak?
apakah hilal terjadi setelah ijtima’ atau bisa kapan saja?
apakah bom bali itu dari high-explosive C4 atau bom ikan ?
apakah gempa+tsunami 2004 itu alami atau konspirasi?
apakah ekonomi Indonesia memburuk atau membaik?
apakah korupsi makin banyak atau makin sedikit?
dst.

Ini sekedar tambahan fakta saintifik yang harus dibuktikan secara ilmiah, bukan oleh otoritas:
benarkah ka’bah itu pusat bumi atau sekedar metafora?
benarkah garis tanggal sebaiknya dipindah ke Mekkah?
benarkah Neil Amstrong telah mendengar adzan di bulan?
benarkah pendaratan Apollo ke bulan hanya mitos?
benarkah ada sumur di Siberia yang “tembus” sampai neraka?
benarkah ada evolusi spesies?
benarkah 911 memang bukti kehebatan pejuang al-Qaidah?
benarkah ada gunung magnet di Saudi?

** banyak umat Islam sekarang begitu ada berita yang positif pada iman Islam, terus langsung percaya, tidak cross-check lagi, bahwa sanad berita itu lemah/palsu, dan matan berita itu bertentangan dengan akal sehat.
kalau ttg garis tgl itu (tanggal masehi), sbnrnya mslh sains atau mslh politik? Krn faktanya garis tgl bs belok ktk melewati negara yg bl garisnya lurus mk negara tsb mjd terbelah.
Dan apakah dlm penanggalan islam jg ada garis tgl? Klo ada, brarti beda dong hari rayanya.

garis tanggal itu saintifik, hasil Meridian Conference 1884, yang juga dihadiri utusan Khilafah Utsmani, yang juga menyetujui konvensi itu.
Penanggalan Islam dengan metode hisab astronomi, pasti akan menyebabkan garis tanggal, yang sayangnya tiap bulan akan berpindah. Ini sangat bermasalah. Karena itu, menurut saya, kalender sebaiknya dibuat dengan metode urfiah saja. Dengan metode urfi, seluiruh dunia bisa punya satu kalender. Pada 29 Sya’ban urfi (yang akan sama), dirukyat 1 Ramadhan.
============
Ya Allah, izinkan aku memuliakan Ramadhan, seperti para syuhada perang Badar yang makin bagus jihadnya, seperti dua Umar ketika makin serius mengurus rakyatnya, seperti para ahli Baitul Hikmah ketika makin fokus dalam riset-risetnya, dan seperti para aghniya Daulah Khilafah ketika makin mulus mengeluarkan shadaqahnya. Mohon maaf kepada semuanya, dan selamat ibadah Ramadhan.
============
Tiadanya Khilafah membuat kalender di dunia Islam tidak seragam. Walaupun memakai astronomi yang sama, tetapi kriteria masuk tanggalnya beraneka. Ada yang dengan umur bulan, ada yang wujudul hilal, ada yang imkanur rukyat. Markaz Falaknya juga beda. Akibatnya di Timur tengah Sabtu sudah 29 Sya’ban, di Indonesia baru Ahad 29 Sya’ban.
paling aman pakai kalender urfiah (tanpa astronomi). Dengan kalender urfiah, seluruh dunia bisa sama. Dalam kalender ini, bulan ganjil = 30 hari, bulan genap = 29 hari, kecuali Zulhijjah di tahun-tahun kabisat Hijriyah. Sya’ban (bulan ke 8) mestinya 29 hari, karena kemudian ada perintah rukyat, lebih sering istikmal, jadinya di masa Nabi, dari 9 tahun puasa, 7 tahun Ramadhan 29 hari (karena Sya’bannya lebih sering istikmal jadi 30 hari).
Semakin kita tahu persoalan, semakin kita berhati-hati dalam menyalahkan pihak yang berbeda dengan kita … karena boleh jadi, mereka benar, dan kita yang salah.
info lebih lanjut tentang calender Islam, silakan baca di http://en.wikipedia.org/wi​ki/Islamic_calendar
apalagi kalau kita berdiam diri, tidak berusaha menegakkan kembali khilafah sedunia, pasti makin jauh dari cita-cita lah persatuan umat Islam sedunia. Kalau umat Islam sedunia bersatu di bawah satu khalifah, tidak akan Israel berani seenaknya membantai kaum muslimin di Palestina, tidak seenaknya juga USA berani menjarah kekayaan alam negeri-negeri Islam.
=========
Di manapun, otoritas ilmiah, ekonomi ataupun hukum, bisa dikalahkan oleh otoritas yang mendapat legitimasi politik. Sehebat apapun capaian ilmu kita, sekaya apapun kita, sebenar apapun kita menurut hukum, bila penguasa politis memutuskan yang berbeda, ya dia akan menjadi yang sah.
==========
Yang mengaku penganut rukyat, juga harus mengerti hisab. Kalau hisabnya berbeda-beda, ya harus disatukan oleh Khalifah setelah mendengarkan keterangan para ahli ilmu hisab. Kalau tidak, ya seperti sekarang ini. Akan ada yang merukyat 1 Ramadhan pada Sabtu sore 30 Juli 2011. Padahal ijtima’ baru akan terjadi pada 31 Juli pukul 01.40 wib; atau 30 Juli pukul 21.40 waktu Saudi.
Dari dulu Saudi menggunakan kalender Ummul Qura, dengan kriteria hisab Ijtima’ sebelum fajar. Menurut kalender ini, 31 Juli sudah 1 Ramadhan. Kalender Saudi juga menunjukkan Sabtu 30 Juli itu sudah 29 Sya’ban, karena start Sya’ban-nya juga beda. Dan seperti biasa, akan ada yang mengklaim melihat hilal. Tetapi tidak pernah ada bukti fisik seperti foto. Capek juga, selama tidak ada Khalifah yang menstandardisasi kriteria kesaksian rukyat yang diterima.
Ustad bukannya metode satu-satunya yg dinyatakan dalam nash hanya ru’yat hilal saja utk penentuan awal dan akhir ramadhan ?
benar, tetapi kapan rukyatnya kan tetap harus hisab. lagipula perintah rukyat itu hanya terkait untuk Ramadhan/Syawal dan Zulhijjah. Ini bukti bahwa bulan yang lain tidak dirukyat.
Seandainya tidak pakai hisab sama sekali, akan timbul kekacauan. Misalnya kalau Jum’at sore ini ada yang mengaku melihat hilal, apakah kita wajib percaya? Sekarang ini baru tgl 27 Sya’ban.
============
Kita memang harus jadi orang-orang yang visioner, optimis dan semangat. Tetapi kita tidak perlu memutarbalikkan fakta, mengarang data, dan membuat opini seolah-olah realita.
Jadi hati-hati kalau mengutip cerita, apalagi kalau cerita itu bombastis, sekalipun seolah-olah berpihak pada perjuangan Islam. Kadang-kadang ada cerita palsu (hoax) yang memang diluncurkan oleh musuh-musuh Islam untuk menguji kecerdasan para pejuang Islam. Ingat dongeng tentang “Neil Armstrong mendengar adzan di bulan”? atau “Lady Diana ingin tahu lebih banyak tentang Islam”?
Tentang cerita “di zaman khilafah guru digaji 15 Dinar sebulan” pun saya kritis. Kalau kita baca Tarikhul Khulafa ataupun riwayat para salafus saleh, ternyata banyak juga guru yang gratisan. Jadi jangan dianggap semua guru di zaman khilafah digaji segitu. Yang digaji segitu hanya guru yang terpilih, yang benar-benar jayyid jiddan.
Begitu juga tentang “penulis dihonori emas seberat bukunya” itu juga sebenarnya insidental, tidak merata untuk semua buku, ke semua penulis atau di semua khalifah. Ya sekarang saja kalau kebetulan ada penghargaan untuk penulis top, bisa saja dikasih hadiah senilai emas seberat flashdisknya …. he he he :-)
tentang kisah dracula itu koq terus terang agak kabur mana yang fakta dan mana yang fiksi. Udah campur aduk. Sama seperti kisah 1001 malam … Jangankan itu, yang dekat saja, tentang kisah kesultanan Pajang (dengan Jaka Tingkirnya) dan Mataram (dengan Sutawijaya) sudah terlalu banyak fiksinya. Beberapa peneliti bahkan menduga, sosok Sutawijaya itu jangan-jangan tidak benar-benar pernah ada, karena semua kisah itu ditulis di zaman Sultan Agung, generasi ke-3 setelah Sutawijaya.
‎@Felix: ya yang memang fakta sampaikan sebagai fakta, yang fiksi sampaikan itu bumbu fiksi, yang kita masih ragu ya sampaikan bahwa kita belum yakin — masih diteliti lebih jauh.
@Farid: solusinya jelas: ketulusan kita dan keberanian kita menyampaikan apa adanya, sekalipun data tidak selalu menggembirakan kita. Khilafah tidak akan berdiri lebih cepat di atas cerita-cerita fiktif, sekalipun sekilas menggembirakan kita. Khilafah akan berdiri di atas dalil, keimanan, kerja keras, kerja cerdas dan keihlasan kita.

Epi Taufik Ardiwinata Siregar Bekerjalah dengan rencana, bicaralah dengan data….teunyambung.com :-)
Epi Taufik Ardiwinata Siregar Btw, ada bagian pendapat Ust. Fahmi yg saya sepakat, ada bagian yg kurang sepakat tapi bukan pada substansinya, hanya dalam cara memandang contoh2 yg diungkapkan di atas. Cuma kalau ditulis disini mesti panjang dan cape, jd disimpen di memory aja dulu hehehehehhe
==========
Barangsiapa belum pernah berpengalaman mengurusi / melayani orang banyak dengan aneka urusan, setidaknya sebagai pengurus RT yang sesungguhnya, apalagi RT kawasan bermasalah, dia akan sulit memiliki empati yang diperlukan tentang apa itu politik, transformasi politik dan sebuah perjuangan yang memerlukan tak cuma keihlasan namun juga pengetahuan dan kesabaran.
==========
Fenomena da’i instan: (1) ikut training sekali langsung berani bikin training sendiri – tanpa benar-benar menyiapkan diri; (2) tergantung dengan powerpoint – bukan kalimat berisi ilmu dari hati; (3) powerpointnya dapat dari orang, kadang mbajak – jarang bikin sendiri; (4) kalau dakwahnya kurang laku, menyalahkan audiens, yang katanya sudah terlalu kapitalis – tidak introspeksi bahwa dia yang kurang jayyid.
aktivis dakwah juga malah jadi batu sandungan, kalau dakwah hanya modal semangat, tetapi tidak diiringi dengan kesabaran, minimal kesabaran untuk belajar dan berproses.
===========
Doa kita dijawab Allah dengan sekian banyak peluang amal yang bersliweran di depan kita setiap hari – dan sayangnya sering kita remehkan. Misalnya, kita tidak menyangka, bahwa seorang bertampang sederhana yang tidak jadi kita beri tempat duduk ketika menunggu di halte bus tadi ternyata adalah kepercayaan seorang ulama yang sekaligus pengusaha besar.
===========
Lebih baik punya mimpi yang agak kurang masuk akal tetapi disertai aksi riel yang masuk akal; daripada punya mimpi yang masuk akal tetapi aksi rielnya tidak masuk akal …
Aksi riel para pejuang syariah & Khilafah yang sejati pertama-tama adalah menempa diri menjadi pribadi yang mempesona, imannya produktif, membawanya mengejar ilmu “sampai ke Cina”, terus mengamalkannya, ibadahnya seperti sufi, muamalahnya syar’i, wawasan politiknya mendalam, ke sekitarnya selalu menebar manfaat; lantas dia tidak pernah takut-takut untuk amar ma’ruf nahi munkar; bicaranya santun – tetapi argumentasinya kuat, dan kalau diperlukan tegaspun bisa; dan dia tak pernah lelah untuk mengajak saudara maupun sahabatnya agar bersama-sama merubah situasi zaman edan ini, dengan suatu amal yang nyambung dengan perubahan yang diinginkan, bersama-sama dalam sebuah jama’ah yang juga nyambung dengan dimensi perubahan itu.
Bagi banyak orang, melanjutkan kehidupan Islam yang akan membawa keamanan, keadilan, kesejahteraan, dan kemajuan peradaban di dalam bingkai Khilafah adalah kurang masuk akal … tetapi selama aksi riel para pejuang syariah dan khilafah itu masih masuk akal, maka itu jauh lebih baik daripada bermimpi menegakkan Indonesia yang besar dengan demokrasi, tetapi aksi rielnya justru menyuburkan korupsi ..
===========
Ada yang heran, ketika ada aktivis dakwah koq juga sukses dalam studi, menonjol dalam karier, punya waktu berwisata dengan keluarga, dsb. Lho ??? Kalau teladannya Rasulullah, ya harus bisa! Pengemban dakwah bukan sosok yang “dakwah mulu”, lalu lupa sekolah, lupa kerja, lupa keluarga …
===========
Modal semangat & ihlas saja tidak cukup untuk mensukseskan perjuangan. Yang juga vital adalah modal sabar, sabar duduk mengkaji ilmu & sabar menjalani proses yang kadang sangat lama dan melelahkan.
modal finansial itu biasanya nomor 3 atau 4. No 1 modal internal (mental, kesabaran). No 2 modal sosial (teman). Kalau dua ini sudah ada, modal yang lain bisa dicari.
Modal tanpa moral sama dengan Kadal.
Kadal tanpa modal tetap saja Kadal … :-)

===========
Saya mau tanya sama prof Fahmi menyangkut tulisan antum tentang Iran, saya paling banyak ketemu orang Iran yang sekuler, bahkan sangat sekuler sekali di malaysia, ketika saya tanya kenapa mereka sekuler, jawab mereka karena di Iran terlalu dikukung, maka akibatnya jadi begini.., saya ingin pencerahan bagaimana menjawab pernyataan yang demikian dari prof..
Memang transisi itu tidak mudah. Ketika revolusi Islam terwujud, pendidikan termasuk salah satu yang diubah secara revolusioner. Tetapi kita tidak berada di ruang hampa. Bagaimana mengubah mindset dari jutaan guru yang sudah ada? guru yang berpuluh tahun dibesarkan dan dididik secara sekuler selama rezim Syah? Itulah PR kita kalau khilafah berdiri nanti! Merevolusi pikiran jutaan guru (di Indonesia ada 3,5 juta guru SD-SMA), juga ratusan ribu polisi, puluhan ribu hakim, dll.
Well, walaupun sudah puluhan tahun revolusi Islam Iran berlansung, mereka tidak bisa merubah sistem pendidikannya untuk merobah mindset rakyatnya.. apa itu kesimpulan yang boleh saya ambil sementara?
sistem, kurikulum, pola rekrutmen guru dsb sudah dirubah. Tapi ketika awal revolusi itu, kan sudah terlanjur ada jutaan guru di lapangan. Mereka kan perlu dididik ulang, dsb. Itu yang perlu waktu. Itu pula masalah yang terjadi di awal era Bani Umayyah dulu, sehingga umat Islam terkena banyak fitnah.
===========
Agar cepat sukses, bekalil diri selalu dengan multiple-I: Iman – Islam – Ideologi – Inisiatif – Informasi – Inspirasi – Intelegensi – Innovasi – Indonesia …….. dan tak lupa: InsyaAllah; karena kalau tidak : ….. Innalillah ….
===========
mulai tour Magelang-Solo-Yogya-Semarang. Memadukan silaturahmi dengan dakwah dan kerja, meski libur panjang kontribusi tetap nyata.
===========
Ternyata di negeri ini susah cari kader untuk jadi ilmuwan, jadi pengusaha, jadi ustadz (apalagi “ustadz oposisi”) :-) Yang paling mudah cari kader untuk jadi “penikmat”. Penikmat ilmu banyak, tetapi bukan ilmuwan. Penikmat hasil usaha banyak, tetapi bukan pengusahanya. Demikian juga penikmat tausiyah banyak, tetapi bukan jadi ustadz yang memberi tausiyahnya.
Mana ada perubahan dirintis orang banyak dan massa? Semua perubahan pasti oleh orang sedikit tapi kalkulatif. Yang lain cuma pengikut.
mungkin definisi sedikit banyak ini yang harus diperjelas. Kalau dari 1000 mahasiswa cuma ada 1 yang pingin jadi pengusaha, 3 pingin jadi ustadz, dan nol yang pingin jadi ilmuwan, ini masuk kategori apa ya?
Jangankan yang mahasiswa yang belum tahu mau jadi apa, banyak juga sarjana yang habis diwisuda kalau ditanya, “Rencana setahun kedepan mau ngapain mas?” – jawabnya, “Wah belum tahu ya, masih cari-cari, mungkin juga ngelanjutin S2″ … padahal kalau dari awal mereka sudah punya visi yang jelas, sekolah akan lebih semangat …
OFP/STMDP/STAID dulu punya visi yang besar dan jelas, cuma tidak in-line dengan visi para Menteri Ekonomi maupun visi para eksekutif di industri/LPNK yang nantinya akan memakainya. Mungkin karena mereka nyaris sudah dikuasai WB/IMF lewat berbagai utang LN. Saya sudah menyadari hal ini sejak tahun 1991, ketika dalam pertemuan OFP/STMDP se-Eropa, saya mengusulkan agar para mahasiswa OFP/STMDP diberi kesempatan magang 3-4 bulan di industri strategis di Indonesia. Ternyata, meski BPIS saat itu notabene masih di bawah Menristek Habibe, magang seperti ini suatu hil yang mustahal. Padahal, saya di Austria bisa magang ataupun kerja parttime hingga di 4 tempat, termasuk di IBM-Austria; teman-teman ada yang di Airbus, Phillips, Mercedes, dsb. Aneh sekali.
===========
Sekarang koq yang dipopulerkan cuma “Keajaiban Sedekah”, “Keajaiban Shaum Sunnah”, “Keajaiban Tahajud”. Mana ya: “Keajaiban Menepati Janji”, “Keajaiban Berlaku Adil”, “Keajaiban Menuntut Ilmu”, “Keajaiban Memperjuangkan Syari’ah”
Mengharap keajaiban dari Allah boleh koq, bahkan hanya kepada-Nya kita boleh berharap keajaiban itu, kalau ke yang lain malah syirik. Tetapi dengan amal apa berharap keajaiban itu? Dengan amal yang wajib atau yang sunnah dulu? Atau malah dengan yang bid’ah? Dalam hadits banyak kisah-kisah keajaiban yang diceritakan Nabi. Yang paling top adalah kisah 3 orang yang terjebak dalam sebuah gua. Semoga masih ingat. Juga ada keajaiban yang dialami Umar bin Khattab & Saad bin Abi Waqash. Ada keajaiban yang dialami Ali bin Abi Thalib.
Di beberapa tempat, timbul kesinisan, karena yang mensponsori acara itu pejabat, rajin sholat dhuha, rajin shoum sunnah, tetapi rajin juga menerima duit yang gak jelas … :-(Maka lalu karyawan bawah usul, bagaimana kalau bikin acara “Keajaiban Harta yang Halal” …
===========
Kalau orang hidup menjadi “penerima”, maka ada suatu titik di usianya di mana dia habis harapannya. Namun kalau orang hidup menjadi “pemberi”, maka harapannya hanya akan habis bersamaan dengan usianya.
Contoh penerima: jadi PNS, usia mau pensiun, koq disuruh sekolah. Pasti males lah, mau buat apa? Mau naik pangkat? Lha, pas sekolahnya selesai sudah pensiun duluan …
Tapi kalau dia bertype pemberi: meski mau pensiun, ketika disuruh sekolah tetap semangat. Insya Allah, masih banyak yang bisa saya sumbangkan untuk anak-cucu berupa ilmu. Agar bisa nyumbang banyak, ya kulakan dulu, sekolah dulu …

Catatan: tentu saja kantornya salah, kalau nyuruh orang yang mau pensiun sekolah dengan biaya APBN. Tetapi kalau tawaran sekolah itu datang dari luar, dan gratis, ya gak apa-apa lah …
Qur’an mengajarkan bahwa manusia diciptakan Tuhan itu untuk menjadi “pemakmur di muka bumi” (Khalifatul fil Ardh); sedang Nabi Muhammad mengatakan bahwa tangan di atas (sebagai pemberi) itu lebih baik dari tangan di bawah (sebagai penerima).
===========
Ada 2 yang membuatku sedih, dan 2 senang:
Yang membuat sedih: (a) yang tak lagi memiliki ghirah Islam; (b) yang ghirah islamnya tinggi tetapi tak sabar untuk mengkaji dan asal comot informasi yang mendukung pendapatnya;
Yang membuat senang: (a) yang ghirah Islamnya tak menahannya dari berpikir cerdas, kritis & kreatif; (b) yang semula tak berghirah Islam tetapi ilmunya memaksanya ke sana.

Yang membuat sedih: mereka yang ingin dukungan
bahwa Ka’bah pusat bumi;
bahwa Mekkah Mean Time harus menggantikan GMT;
bahwa bumi pusat tata surya (bukan matahari);
bahwa imunisasi itu berakibat buruk dan merupakan konspirasi Barat;
bahwa tsunami Aceh 2004 itu akibat percobaan nuklir AS;
bahwa kalau zakat dioptimalkan pasti cukup untuk mengentaskan kemiskinan di Indonesia;
dst ….

Tentang: bahwa imunisasi itu berakibat buruk dan merupakan konspirasi Barat boleh diklarifikasi Oom. Mungkin ada bacaan untuk menentramkan? Anak kedua saya gak lanjut imunisasinya ya karena mencoba untuk mengurangi mudhorot.
Saya dulu di-imunisasi lengkap, juga gak apa-apa kan?
Kamu sendiri gimana Am? Apa termakan isu: wah, kalau tidak diimunisasi pasti lebih jenius lagi … :-)
Memang di Barat sendiri ada gerakan anti-imunisasi, sebagian juga karena over-capitalized-health-sy​ stem. Tetapi imunisasi sebagai sebuah metode kesehatan sebenarnya sangat ilmiah dan kuat, selama diterapkan sesuai aturan pakai. Misalnya, vaksinnya disimpan dengan benar, terus yang mau diimunisasi juga tidak dalam keadaan sakit.
Di sisi lain, penggerak anti-imunisasi, sering menyandarkan sepenuhnya pada metode herbal yang dijuluki Thibbun-Nabawi, sekali lagi juga tanpa ilmu yang lengkap. Kadang-kadang jadi malah terkesan, stigma pada imunisasi juga dalam rangka “pelaris” produk thibbun-nabawinya.

Budirman Ini Apakah sy salah satunya yg membuat sedih prof.. krn sy menganggap bahwa imunisasi itu haram krn ada zat haram yg di gunakan yakni plasenta bayi.. bgmn ust menjelaskan hal ini?
‎@Budirman: (1) berobat dengan zat yang haram, kalau itu memang metode kesehatan yang ilmiah, itu dihalalkan. Nabi pernah memberikan air kencing onta pada orang-orang Badui yang menderita demam. (2) Metode kesehatan itu ada yang preventif dan ada yang kuratif. Yang preventif tidak harus menunggu sakit. Dan pada semua metode kesehatan ini, ada hal-hal yang semula haram, bisa menjadi halal, kalau itu mutlak diperlukan. Contoh: melihat aurat, itu haram. Tetapi kalau untuk pemeriksaan kehamilan atau khitan (info: mereka semua tidak sakit!), wajib melihat aurat, maka ini dihalalkan.
Budirman Ini tanya lg ust.. fakta hadist Nabi di atas khan “mengobati”, bukan “mencegah”? bgmn mendudukkan masalah ini ust? jgn sampai ada yg bertanya, bgmn dg orang2 korea/jepang yg meminum dr yg haram sprti bangkai kalajengking sampai mayat bayi untuk OBAT KUAT krn telah terbukti (berdsrkn pengalaman mrka) baik kuat organ kelamin atau KUAT organ vital lainnya seperti jantung, boleh gak?
@Budirman: ya itu tadi: melihat aurat itu haram. Bagaimana dengan orang yang meng-khitan, kan lihat aurat? Padahal yang akan dikhitan kan tidak sakit? Apakah boleh? Coba dipikirkan sendiri …
Sedang tentang mitos orang Jepang makan mayat bayi, itu mitos, tidak ilmiah, dan saya meragukan apakah faktanya ada atau hanya hoax di internet. Kalau bangkai kalajengking hukumnya sama dengan air kencing onta. Tetapi tentang “obat kuat”, maka dia tidak termasuk metode kesehatan preventif. Imunisasi bukan obat kuat. Caranya saja beda. Imunisasi itu memasukkan kuman penyakit yang telah dilemahkan dengan dosis tertentu. Dan ini bukan berdasarkan mitos belaka, tetapi hasil riset yang teruji bertahun-tahun. Imunisasi berhasil memusnahkan penyakit cacar (small pox) yang dulu membunuh puluhan juta manusia.

Khalid Bin Walid Aslm prof. kira2 bagaimna menurt bapk tntng fenomena ujan darah, ikan dsb, kan banyak teori yg bermunculan
@khalid: hujan darah itu bukan darah, tetapi debu mineral tertentu yang terbawa angin hujan. Ikan juga bisa terangkat oleh tornado, dan jatuh di tempat lain sebagai hujan ikan. Sebagai muslim yang ghirah Islamnya tinggi, mestinya kita justru ketika melihat fenomena, itu tertantang untuk meneliti dan mencari penjelasannya secara ilmiah. Allah menantang di QS al-Ghasiyah, “Maka mengapa kamu tidak menyelidiki, bagaimana unta diciptakan, langit ditinggikan, gunung ditancapkan dan bumi dihamparkan”. Kita disuruh menyelidiki, tidak sekedar bertashbih, mengatakan “Allah Maha Kuasa” atau “Allah Menciptakannya dengan “Kun”, Jadilah, maka jadilah”.
Ada yang sudah kuliah di jurusan favorit sebuah PTN top, tapi ditinggal begitu saja. Alasannya: ilmu itu tidak wajib, sedangkan yang wajib seperti membaca Qur’an atau bahasa Arab saja dia belum bisa … :-(
Ada yang sudah jadi guru PNS di sebuah SMA terkenal, tiba-tiba juga ditinggal begitu saja, alasannya karena malas mengajar dengan mengikuti kurikulum sekuler serta sebagai PNS wajib disumpah dengan Pancasila … :-(

Ybs merasa sudah “hijrah”, meninggalkan maksiat.
Dia merasa, sekolah di kedokteran itu maksiat, karena belum bisa membaca al-Qur’an, padahal ilmu kedokteran tidak akan menyelematkannya di padang Mahsyar nanti, sedang Quran bisa memberi syafaat.
Yang PNS merasa mengajar fisika itu maksiat, karena kurikulumnya mewajibkan mengajarkan hukum kekekalan massa, padahal yang kekal hanya Allah.
Ya itulah, pemikiran menghasilkan perbuatan.
Kalau pemikirannya error, perbuatannya juga error.

===========
Anak usia 5 tahun merawat ibunya yang lumpuh!
Dari satu sudut: Pemerintah belum punya sistem deteksi dini problema masyarakat, atau sistem deteksi dini itu belum berfungsi, jadi harus nunggu laporan pers.
Dari sudut yang lain: anak 5 tahun itu, 20 tahun yang akan datang akan menjadi sosok pribadi yang kuat dan spiritualitas yang tinggi.

==========
Banyak orang yang mudanya tidak top di sekolah, ujiannya jeblok, tetapi dia menjadi orang sukses. Kuncinya satu: dia menyesali diri. Dia berpikir, andaikata aku belajar, bangun lebih bagi, dan lebih taat kepada Allah, tentu Allah akan mengguyurkan berkah atasku …
==========
Kalau suatu saat jadi orang swasta, enaknya aku nawarin jasa apa ya?
Bikin NA-RUU? RPP? RSNI? Reorg? Renstra? Lakip? atau Proposal S3? Jurnal? DUPAK? Laporan Kunker? Pidato Menteri? Presentasi Pejabat? :-)

fakta: di dunia pemerintahan saat ini justru yang amburadul ya kerjaan yang saya tulis itu … Kerjaan serius tetapi diserahkan ke orang yang tidak serius, tidak fokus, tidak bagus … :-)
Kata Kwik Kian Gie: sewaktu jadi Menko Perekonomian dulu, dia sudah semalaman gak tidur bikin pidato Menteri, besoknya yang terletak di podium adalah pidato yang bukan bikinannya. Kata stafnya: “Pak, di sini sudah tradisi, pidato Menko Ekuin dibuatkan Bank Dunia”
==========
sekian dulu.. :)
sebenarnya masih banyak, tapi semoga yg sedikit ini bisa bermanfaat!!
[www.globalmuslim.web.id]

Tulisan Terkait lainnya:




0 comments for Catatan Super Ustd. Prof. Dr. Ing- Fahmi Amhar

Leave comment

Gamis Murah

Hak Cipta Hanya Milik Allah SWT, Menyadur dan Menyebarkan isi Website ini Sangat di anjurkan | jawara web | seacrh engine | butik muslim | situs islam | islamic wallpaper | situs berita global