Caleg “Indonesia Idol” 2014

Maraknya artis menjadi calon legislator (caleg) merupakan sebuah kegagalan dari budaya politik di Indonesia.
Panggung idola tak hanya di layar kaca. Rupanya, pentas idola juga akan digelar dalam pemilihan anggota legislative tahun 2014. Bagaimana tidak, banyak artis tampil sebagai calon anggota legislatif. Apakah para caleg selebritas itu dapat menjawab aspirasi masyarakat?
Setiap artis punya alasan mengapa mereka banting stir jadi politikus. Aktor film Donny Damara, bakal calon legislatif Partai Nasional Demokrat (Nasdem) menerangkan ikutnya ia sebagai caleg karena ingin mendorong pembangunan infrastruktur dengan memangkas birokrasi.
“Saya mau memastikan jika dari sini Rp 10, sampai di daerah juga Rp 10," ujar Donny Damara di Jakarta.
Lain Donny lain pula alasan pemain sinetron dan presenter Mandala Shoji. Ia beralasan ingin menghijaukan Indonesia. “Saya ingin menanam pohon. Tapi apa bisa di semua wilayah? Apa bisa di bekas lahan tambang?” kata dia.
Sederet nama artis papan atas meramaikan perebutan kursi DPR. Ada Anang Hermansyah, Eko Patrio, Cornelia Agatha, Marisa Haque, Ikang Fauzi, Emilia Contesa dll.
Kordinator Forum Masyarakat Peduli Parleman Indonesia (Formapi), Sebastian Salang, keberadaan caleg artis yang akan maju di Pemilu 2014 diyakini tidak akan membawa perubahan baik kinerja DPR.
Menurutnya, partai politik menjadikan artis sebagai caleg hanya sebagai pendorong untuk memperoleh suara. "Partai pragmatis untuk mendulang suara yang besar. Artis-artis yang populer dipakai untuk menghasilkan suara yang besar dan kursi di DPR," ujar Salang dalam jumpa pers di kantor sekretariat Formapi di Matraman, Jakarta Timur, Minggu (28/4/2013).
Salang menilai kebanyakan caleg yang diajukan minim kompetensi terhadap tugas DPR yakni anggaran, legislasi dan pengawasan. "Mayoritas artis direkrut tanpa melalui pembinaan parpol, meski ada beberapa yang sudah membina diri sejak lama di parpol," sebutnya.

Dari catatan Formapi, hanya PKS, PKPI dan PBB yang tidak menyodorkan artis sebagai calegnya. Sementara partai lain utamanya PAN paling banyak menyodorkan artis. PDIP memiliki 5 artis, Demokrat (5), Golkar (3), PAN (9), PKB (7), Gerindra (9), Hanura (3), Nasdem (6) dan PPP dengan 4 caleg artis.
Sedangkan pengamat politik dari Universitas Airlangga Surabaya, Haryadi menilai, penyebab kalangan artis yang memilih berpindah ke ranah politik karena merasa pamornya mulai memudar hingga berpikir untuk mencari lahan baru, yaitu mencoba peruntungan di dunia politik.
Menurutnya, tujuan utama artis menjadi caleg untuk mendapatkan lahan baru untuk mengeruk materi."Biasanya artis yang lari ke sana adalah mereka yang sudah tidak laku, artinya pamornya sudah turun," tegas Haryadi.
Hal itulah yang membuat mereka memutuskan untuk ikut bergabung di ranah politik. "Jujur saja, saat ini profesi menjadi anggota dewan bukan hanya sekadar lahan politik, tapi juga lahan ekonomi yang memikat," tandas Haryadi.
Kegagalan Parpol
Pengamat komunikasi politik Effendi Gazali mengatakan, maraknya artis menjadi caleg  merupakan sebuah kegagalan dari budaya politik di Indonesia.“Partai politik gagal menciptakan kader, dan di parlemen partai politik gagal menjaga marwah dari DPR,” tuturnya kepada Media Umat, Sabtu (27/4) Jakarta.
Menurutnya, begitu putus asakah parpol sehingga tidak mampu lagi menciptakan kader. Dan bahkan, menurutnya, parpol tidak menghargai proses internal mereka sendiri. “Ini akan menimbulkan perkelahian loh,” imbuhnya.
Ini bisa terjadi, lanjutnya, karena sudah ada kader, tibaa-tiba ada artis masuk.“Ini akan menghilangkan kepercayaan diri kader partai itu sendiri,” paparnya.
Apakah artis bisa memberi sumbangsih? Effendi menuturkan beberapa berhasil. Namun, menurutnya, tidak sedikit dari mereka yang kadang datang, kadang enggak. “Terus kalau bicara diketawain sama teman-temannya di komisi,” bebernya.
“Yang paling bahaya kalau menganggap jika menjadi anggota DPR itu sebagai sambilan, inilah yang saya katakan menghilangkan marwah DPR,” terangnya.
Hal yang sama diterangkan, Yahya Abdurrahman. Menurutnya, adanya caleg artis membuktikan kalau parpol itu tidak memiliki platfom/garis perjuangan dan ide-ide perjuangan.  “Kenapa? Sebab memilih artis karena popularitasnya, yang akan memikat suara,” bebernya.
Ketua Lajnah Siyasiyah DPP Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) ini menilai hal itu karena tidak adanya proses kaderisasi dari parpol dan bahkan dikuatkan dengan banyaknya partai yang membuka pendaftaran caleg.
“Ini seperti ajang Indonesia Idol saja, ada pendaftaran, terus diselekasi lalu jadilah mereka yang menang karena dipilih,” imbuhnya.
Yahya menuduh bahwa seperti itulah  demokrasi yang tidak bersandar dengan mencalonkan seseorang itu yang benar-benar layak.
“Demokrasi memang hanya bertumpu pada popularitas, tidak bertumpu konsepnya pada orang-orang yang layak,” terangnya.
Kalau seperti ini kondisinya, menurut Yahya, sama saja dengan menggadaikan nasib umat. “Bagaimana bisa menyerahkan nasib umat pada orang-orang yang kehidupannya kayak gituh kok, yang terjadi akan seperti artis putus nyambung-putus nyambung pernikahannya,” paparnya.
Kualitas artis, terang Yahya, nyatanya tidak terdengar kiprahnya di legislasi, karena modal mereka cuma popular. “Memang ada satu dua artis yang modalnya selain popular dan punya kemampuan, namun itu hanya sebagian kecil,” pungkasnya.[] fatih mujahid
BOKS
Mahalnya jadi Caleg
Besarnya animo untuk menjadi caleg bukan tanpa modal yang sedikit.Setidaknya para calon anggota legislatif itu harus merogoh koceknya dalam-dalam. Hasil penelitian disertasi doktornya, Wakil Ketua DPR Pramono Anung mengatakan, modal menjadi calon legislator tergantung latar belakang si kandidat.
Figur publik dan artis biasanya menyiapkan dana maksimal Rp 600 juta.Sementara birokrat dan pengusaha, setidaknya menyediakan Rp 6 milyar.“Anggaran artis lebih sedikit karena sudah punya modal popularitas,” kata dia.
Pramono mengakui biaya calon selama kampanye tak sebanding dengan pendapatan bersih anggota DPR, yang rata-rata Rp 50 juta per bulan. Namun, seorang pengusaha yang terpilih menjadi anggota DPR bisa memanfaatkan kemudahan akses informasi tentang kebijakan pemerintah. Bermodal jaringan bisnis, mereka dapat mengantisipasi kebijakan yang diterbitkan pemerintah.
Direktur Eksekutif Pol-Tracking Institute Hanta Yuda menyatakan, tingginya biaya politik pada Pemilu 2014 bakal berdampak pada korupsi politik. Ia menegaskan, tidak sedikit dari calon legislatif yang berharap uangnya kembali.“Karena biaya politik tinggi bakal meningkatkan political cost dan juga memunculkan money politics,” kata Hanta.
Memulai debut sebagai calon legislator dari Partai NasDem, Taufik Basari, yang juga pengacara, hanya menyiapkan dana Rp 200 juta. Sejak awal ia bertekad menghindari politik biaya tinggi. Jika dana yang dihabiskan terlalu banyak, ujar Taufik, legislator hanya berpikir mengembalikan modal selama kampanye.[] FM
[www.globalmuslim.web.id]

Tulisan Terkait lainnya:




0 comments for Caleg “Indonesia Idol” 2014

Leave comment

Gamis Murah

Hak Cipta Hanya Milik Allah SWT, Menyadur dan Menyebarkan isi Website ini Sangat di anjurkan | jawara web | seacrh engine | butik muslim | situs islam | islamic wallpaper | situs berita global