Blavatsky Dan Theosofi Cikal Bakal Gerakan Liberalis

Salah satu "prestasi" pemerintahan Megawati Soekarnoputri yang tidak akan dilupakan bangsa ini adalah obral besar-besaran aset bangsa bernama BUMN ke pihak asing. Salah satu aset berharga yang dijualnya bernama Indosat, sebuah BUMN yang bergerak dibidang telekomunikasi yang akhirnya jatuh ketangan Singapore Technologies Telemedia, anak peruahaan Singapore Technologies. Padahal, bukan rahasia lagi jika Singapura adalah basis Yahudi di Asia Tenggara. Setelah jatuh ke tangan Singpura, logo Indosat diubah menjadi Hexagram alis Bintang David, sama sebangun dengan logo Singtel dan juga simbol Israel.
sejarawan Betawi Ridwan Saidi menyatakan jika hal itu sebenarnya tidak perlu diherankan karena di masa penjajahan kolonial Belanda, lahan seluas 4000 meter persegi dimana kini berdiri Gedung Indosat, dulunya dimiliki oleh tokoh Yahudi-Kabalah bernama Madame Blavatsky, pendiri gerakan Theosofi dunia. bahkan jalan raya didepannya pun, Koningsplein West, dinamakan dengan Blavatsky Boulevard, yang sekarang kita keal dengan nama jalan Merdeka Barat. Di jalan itu berjajar 8 vila dengan sebuah bangunan utama. Siapa perempuan yang dipanggil Madame Blavatsky tersebut?

Di bawah ini adalah daftar urutan nomor Loji dari pusat Freemasonry Belanda, ketika dibangun di Nusantara:
1. Loji 31 : La Constante et Fidele, Semarang (pada 31-11-1960 berubah jadi LojiAgung Indonesia)
2. Loji 46 . Mata Hari, Padang (bubar pada 17-03- di masa Jepang)
3. Loji 53 : Mataram, Djokjakarta (dibubarkan Jepang)
4. Loji 55 : 1'Union Frederic Royal, Surakarta (dibubarkan Jepang)
5. Loji 61 : Prins Frederik, Kutaraja-Aceh (berhenti beroperasi pendudukan Jepang)
6. Loji 65 : Arbeid Adelt, Makassar (berhenti beroperasi sejak Jepang)
7. Loji 70 : Deli, Medan (Ditutup pada 1962 oleh Keppres Presiden Soekarno)
8. Loji 82 : Tidar, Magelang (idem)
9. Loji 83 : Fraternitas, Salatiga (tidak beroperasi sejak Jepang)
10.Loji 84 : Sint Jan, Bandung (tidak beroperasi sejak Jepang)
11.Loji 87 : Humanitas, Tegal (tidak beroperasi sejak Jepang)
12.Loji 89 : Malang, Malang (berhenti beroperasi sejak Jepang)
13.Loji 92 : Blitar (berhenti beroperasi sejak pendudukan )
14.Loji 109 : De Dageraad, Kediri (berhenti beroperasi sejak Jepang)
15.Loji 110 : Het Zuiderkruis, Batavia (Tutup tahun 1955)
16.Loji 111 : De Broederketen, Batavia (Tutup tahun 1948)
17.Loji 129 : De Driehoek, Jember (berhenti beroperasi sejak Jepang)
18.Loji 149 : Palembang (Tutup tahun 1958)
19.Loji 151 : De Hoeksteen, Sukabumi (berhenti beroperasi pendudukan Jepang)
20.Loji 153 : Serajoedal, Purwokerto (berhenti beroperasi pendudukan Jepang)
21.Loji 165 : De Witte Roos, Batavia (Tutup tahun )
22.Loji 182 : Purwa Daksina, Batavia (Ditutup oleh Keppres Presiden Soekarno tahun 1962)
23.Loji 183 : Dharma, Bandung (Idem)
24.Loji 192 : Bhakti, Semarang (Idem)
25.Loji 193 : Pamitran, Surabaya (Idem)

Nenek Moyang Pluralisme
Helena Petrovna Blavatsky (1831-1891) berasal dari keluarga bangsawan Dolgorukov dan keluarga militer Von Hahn di Rusia. Sosoknya keras dan misterius, kehidupannya diwarnai kisah-kisah mirip mitos seperti mengendarai kuda Kosak tanpa pelana menyeberangi Stepe, pengembaraan seorang diri di Mesir dan pegunungan Tibet mencari dan berguru pada dukun-dukun, para mistikus, para shaman setempat, sehingga dia konon mampu melakukan hal-hal ghaib seperti mengeluarkan benda-benda dan surat-surat dari sesuatu yang kosong. seperti halnya Siti Baba dari India. Sebab itu, Blavatsky selain tokoh Theosofi juga dipuja-puja oleh gerakan-gerakan supranatural lainnya seperti oleh pengikut Reiki.
Pengembaraan seorang diri perempuan pula diberbagai lokasi sulit merupakan hal yang luar biasa di zamannya. Pada tahun 1853, saat perjalanannya dari Tibet ke Inggris, Madame Blavatsky mengunjungi Batavia terlebih dahulu dan mukim selama setahun. Di sini dia mendirikan organisasi Theosofi dan mengajarkannya pada elit kolonial dan masyarakat Hindia Belanda, termasuk kaum ningrat pribumi.
Sejak itu, gerakan Theosofi yang memiliki simbol Bintang David (Hexagram) ini berkembang di Indonesia, berdampingan dengan gerakan Freemansory Belanda, juga Rosikrusian. Menurut penelusuran Ridwan Saidi, anggaran dasar Theosofi tak beda dengan anggaran dasar Freemansory.
Suatu gerakan "The Theosofist" di New York pada tahun 1881 memuat berita jika Baron van Tengnagel diberi mandat untuk mendirikan sebuah loji Freemansory di Pekalongan. Dia berhasil mendirkan loji ini namun ditutup kembali karena mendapat reaksi keras dari masyarakat Pekalongan, ALHAMDULILLAH.
loji-loji Freemansory juga dipakai oleh para anggota Theosofie. Loge "Broederketen" yang terletak dekat Waterloopien (Lapangan Banteng) pada tahun 1926 atas izin Theosofi dipergunakan oleh Thabrani untuk menyelenggarakan Kongres Pemusa I yang diboikot oleh ormas-ormas pemuda, terutama Jong Islamieten Bond, demikian penuturan Ridwan Saidi.
Sebab itu, disebabkan gerakan Freemansory Hindia Belanda (Vrijmetselaren) memiliki kedekatan yang erat dengan gerakan Theosofi, maka jaringan mereka di Nusantara sesungguhnya satu jaringan yakni jaringan Yshudi di Nusantara.
Salah satu yang menonjol dari gerakan ini adalah sikap anti Islamnya dan menjunjung tinggi asas Pluralisme. Sejarawan Monas University, M. C. Ricklefs menulis jika para bangsawan jawa yang menjadi anggota gerakan Theosofi bersikap anti Islam dan memandang jika Barat lebih tinggi dari Islam. Banyak anggota Boedhi Oetomo menjadi berasal dari gerakan Theosofi. Bapak dari Soekarno presiden pertama Indonesia juga anggota dari gerakan Theosofi.

Cikal Bakal Gerakan Liberal
Gerakan yang didirikan oleh lavatsky ini merupakan cikal bakal dari gerakan Pluralisme yang sekarang diusung oleh gerakan liberal seperti Jaringan Islam Liberal (JIL), Feminisme, dan semua orang yang erpandangan jika semua agama itu sama saja (Pluralisme).
Dalam salah satu catatan akhir pekannya (CAP) berjudul "Kebangkitan Kembali Theosofi Indonesia" Adian Husaini, menyatakan jika gerakan ini sesungguhnya tengah bangkit. "secara terbuka, kelompok ini mengkampanyekan ide-idenya dengan menerbitkan majalah bernama THEOSOFI INDONESIA", tutur Husaini.
Kini ada juga perkumpulan Theosofi bernama "Persatuan Warga Theosofi Indonesia" (Perwathin). Pengurus besarnya kini beralamat di Jl. Anggrek Nelly Murni, Blok A-104 Jakarta. Alamat redaksi majalahnya di Metro Permata I Blok I 3/7 Jl. Raden Saleh, Karang Mulya-Ciledug.

Majalah Theosofi Indonesia menulis:
Perhimpunan Theosofi didirikan pada 1875, merupakan suatu badan internasional yang tujuan utamanya adalah persaudaraan universal berdasar pada realisasi bahwa hidup, dalam berbagai bentuk yang berbeda, manusia dan non-manusia, merupakan satu kesatuan yan tak terbagi.

Perhimpunan Theosofi tidak memaksakan kepercayaan apa pun pada anggota-anggotanya, yan disatukan karena pencarian kebenaran dan keinginan untuk belajar tentang makna dan tujuan eksistensi dengan melibatkan diri dalam studi perenungan, mekurnian hidup dan pengabdian dengan penuh kasih;

Theosofi menawarkan sebuah filsafat yang membuat hidup jadi lebih dimengerti dan menunjukkan bahwa keadilan dan cinta kasih membimbing alam semesta ini;
Ajarannya membantu mengembangkan kodrat spiritual yang masih laten dalam diri manusia tanpa ketergantungan dan rasa takut.

Perwathin berdiri pada 31 Juli 1963 dan disahkan sebagai badan hukum oleh pemerintah dengan SK Menteri Kehakiman tanggal 30 November 1963 no. J.A/146/23 dan tanggal 7 Desember 1971 no. J.A/5/203/5 Berita Negara no. 2 tahun 1972 Tambahan Berita Negara RI tanggal 7 Januari 1972 no. 2.

Visi Perwathin adalah:
Mengadakan inti persaudaraan antar sesama manusia dengan tidak memandang bangsa, kepercayaan, kelain, kaum atau warna kulit.

Memajukan pelajaran mencari persamaan di dalam agama-agama, filsafat dan ilmu pengetahuan

Menyelidiki hukum-hukum alam yang belum dapat diterangkan dan kekuatan-kekuatan di dalam manusia yang masih terpendam.

Hal ini selaras dengan cita-cita Blavatsky ratusan tahun silam. Dalam wawancara yang dimuat di majalah Theosofi edisi ke-3, yang diterjemahkan oleh Matius Ali, Blavatsky mengatakan jika moto Theosofi ialah "Tidak ada agama atau religi yang lebih tinggi dari kebenaran.", Blavatsky sendiri menjelaskan jika Theosofi merupakan, "Kearifan ilahi (Theosofia) atau kearifan para dewa, sebagai Theogonia, asal-usul para dewa. Kata Theos berarti seorang dewa dalam bahasa Yunani, salah satu dari makhluk-makhluk ilahi yang pasti bukan "Tuhan" dalam arti yang kita pakai sekarang. Karena itu, Theosofi bukanlah "Kebijaksanaan Tuhan", seperti yang diterjemahkan sebagian orang tetapi "Kebijaksanaan Ilahi" seperti yang dimiliki oleh para dewa."
Dengan visi dan misi seperti itu jelas gerakan ini menganut asas Pluralisme, yang sekarang diusung oleh gerakan-gerakan liberalis yang salah satu tokohnya adalah Nurcholish Madjid dan Abdurrahman Wahid. tidak aneh jika gerakan liberalis sekarang ini amat dekat dengan Zionis-Yahudi, walau bisa saja tokoh-tokohnya bergelar titel "Kiyai Haji".

1. Widwan Saidi-Rizki Ridyasmara; akta dan Data Yahudi di Indonesia; 2006; h.6-7
2. M. C. Ricklefs; Sejarah Indonesia Modern 1200-2004; 2007; h.279
3. idem; h.375
4. Hidayatullah.com; 24 Oktober 2005
[www.globalmuslim.web.id]

Tulisan Terkait lainnya:




0 comments for Blavatsky Dan Theosofi Cikal Bakal Gerakan Liberalis

Leave comment

Gamis Murah

Hak Cipta Hanya Milik Allah SWT, Menyadur dan Menyebarkan isi Website ini Sangat di anjurkan | jawara web | seacrh engine | butik muslim | situs islam | islamic wallpaper | situs berita global