Teror Film Amerika


terminator-2-judgment-day-poster-publicity-one-sheet-photo-arnold-schwarzenegger

Kita semua juga sudah tahu kalau selama ini Amerika punya dua subyek keahlian yang sampai saat ini belum tertandingi oleh negara manapun; teknologi persenjataan dan film.
YANG pertama, soal teknologi per-dar-der-dor-an, siapa yang tidak kenal teknologi star wars, atau kepiawaian helikopter Apache. Atau kecanggihan pesawat siluman Stealth? Pesawat ini sering sekali dipakai jika Amerika sedang perang seperti di Iraq atau di Afghanistan. Bukan apa-apa, bayangkan saja kalau jarak Surabaya-Jakarta yang kurang lebih jauhnya 600 KM bisa ditempuh dengan hitungan hanya sekitar 15 menit aja. Belum lagi kelengkapan persenjataan en sistem radarnya.
Selain itu, persenjataan Amerika juga terkenal dengan Pentagonnya. The Five-Side Building dirancang sedemikian rupa dengan sistem pertahanan tercanggih yang mungkin baru bisa dipakai oleh negara-negara lain beberapa tahun ke depan. Kita tentu tahu internet. Nah, jaringan maya di komputer ini sudah dipakai oleh militer Amerika sejak akhir taon 80-an. Nah lagi, kita malah baru familiar sekitar 6 tahun-an belakangan ini, iya kan?
Ke-gape-an Amerika yang lain yakni urusan memproduksi film. Siapa pula yang meragukan film-film Amerika? Mulai dari film klasik seperti Gone with The Windsampai serial James Bond yang begitu “sakral”-nya. Atau juga film animasi macam Finding Nemo yang heboh. Semuanya meledak jadi bom trend. Mulai dari Touchstone, Maverick, Warner Bros, Tristar, Walt Disney, 20th Century Fox dan lainnya masih banyak lagi adalah nama-nama paten pembuat film-film box-office.
Film-film Amerika memang bukan sekadar film tok. Di negara Paman Sam, film sudah jadi industri. Amerika adalah gudangnya film dunia. Dan pusat film Amerika seperti kita tahu berada di Hollywood . Film Amerika menjadi industri yang paling berpengaruh di dunia dan menjadi kiblat bagi perfilman seluruh dunia. Apa yang populer di Amerika akan mewabah ke seluruh dunia.
Biasanya film Hollywood tidak cuma berdiri sendiri, tapi dikemas dalam satu paket. Misalnya saja dengan menyisipkan soundtrack yang kalau filmya oke punya dan diprediksi bakalan nyedot banyak penonton maka yang mengisisoundtrack ibaratnya juga jagoan kelas dunia. Lihatlah Twilight 3, Kristina Perry yang menyanyikan A Thaousand Years sama ngetopnya dengan Robert Pattinson dan Krsiten Stewart. Atau ketika ketika Spider-Man 2 dirilis? Ada grup band yang tengah dianggap di Amerika ketika itu—Dashboard Confessional yang membawakan musik bergaya emo.
Film Amerika juga tampak kokoh karena didukung oleh penghargaan-penghargaan bergengsi yang diberikan kepada sineas-sineas negerinya yang sudah susah-payah merilis sebuah film. Academy Award atau The Red Carpet Oscar adalah sesuatu yang diidamkan oleh semua insan film di Amerika—termasuk (sorry ya!) bintang film cabul sekalipun (hah, geleng-geleng kepala nih!).
Contoh lainnya lagi adalah, ingat dengan tertralogi Batman? Kita seantero dunia, termasuk indonesia mengalami Batmania, t-shirt, topi, sticker dan yang lainnya yang berhubungan dengan Batman, jadi sering sekali kita lihat. Kalau sudah begitu, film bukan lagi sekadar hiburan belaka, tapi juga suatu komoditas dagangan dan memberikan nilai-nilai bagi penggemarnya.
Tentu kita tidak punya kepentingan bicara soal film kualitas penyutradaraaannya atau kekuatan para pemain dan rentetan alur cerita yang macam-macam. Ada hal lain yang kita resensi dari film-film Amerika yang sampai ke mata, telinga dan hati kita, yakni soal kekalahan telak kebudayaan kita. Tidak usahlah membicarakan yang lebih luas perihal kebudayaan kaum muslimin yang mana, nilai-nilai ke-indonesia-an kita sudah kalah disengor lewat film-film Amerika ini.
Ya, jujur saja kalau kita saat ini kalah telak dari budaya-budaya asing. Film-film Hollywood masuk ratusan bahkan ribuan judul setiap tahunnya. Tidak peduli kualitasnya sampah atau bagaimana, tetap saja ditonton. Kalaupun tidak lewat bioskop, satu atau dua tahun kemudian, tuh film tiba-tiba saja nongol di televisi dan jadi konsumsi kita semua. Atau lebih cepat daripada semua itu; men-downloadnya.
Padahal, sebagian besar film Amerika cuma menampilkan bak-bik-buk, adegan-adegan panas, dan alur cerita “yang tidak jelas”. Maksud tidak jelas di sini adalah begini. Semua film Amerika yang masuk bisa sangat mengilhami kita untuk melakukan copycat—penjiplakan. Kenapa memangnya? Nah, karena sekali lagi film itu adalah budaya yang bisa menular dan para artis Amerika adalah “nabi”-nya. Sedangkan kita—yah, mengaku sajalah, adalah plagiator sejati.Mending yang dikasih lihat itu budaya bagus seperti semangat belajar dan pantang menyerahnya anak-anak muda Amerika, nah ini bagaimana kalau yang ditutorialkan itu adalah tema-tema dan budaya seperti yang dipertontonkan di film American Pie misalnya yang hanya mengurus masalah seks bebas? Hancur!
Jelas, jelas kita layak gelisah dan khawatir dengan kondisi gawat- seperti ini.Lama kelamaan, kita bisa makin dibikin termehek-mehek. Perlu diketahui saja, untuk mencegah film-film seperti itu, tidak gampang! Kenapa memangnya? Semuanya bermuatan politis. Apalagi di zaman seperti sekarang. Sekadar infomasi, film-film yang masuk ke negara kita ini diperhitungkan dengan ekspor bangsa yaitu tekstil ke negeri Amerika. Pakaian dibarter dengan nilai budaya bobrok! Tentu harga yang bikin sakit dan tidak sesuai. Sangat tidak sesuai. Tapi apa mau dikata, Amerikalah yang berkuasa. Indonesia sudah negara miskin, juga tidak punya harga diri, sampai-sampai menolak film-film sampah juga tidak mampu. [sa/islampos/www.globalmuslim.web.id]

Tulisan Terkait lainnya:




0 comments for Teror Film Amerika

Leave comment

Gamis Murah

Hak Cipta Hanya Milik Allah SWT, Menyadur dan Menyebarkan isi Website ini Sangat di anjurkan | jawara web | seacrh engine | butik muslim | situs islam | islamic wallpaper | situs berita global