Preman mabuk ikut dibatkan dalam operasi Densus 88 di Kendal dan Batang
JAKARTA – Paman dan keponakan bersekongkol untuk bertindak kejam dan keji kepada warga muslim di Kendal dan Batang. Itulah kalimat yang bisa diungkapkan dari peristiwa beberapa pekan lalu di Kendal dan Batang.
Adalah Edi Joko Purwanto alias Edi Pesek dan Syaiful Bagus Prasetyo alias Gentong. Nama paman dan keponakan tersebut. Dari beberapa informasi yang berhasil dihimpun voa-islam.com, Edi Pesek adalah anggota Densus 88 yang sering berkeliaran di sekitar Semarang, Kendal dan Batang. Sementara Gentong, sang keponakan Edi adalah preman, pemabuk dan penjudi, serta informan Densus 88 dalam memata-matai aktivis Islam dan sering ikut penggrebekan yang dilakukan Densus 88.
saiful denjing 88
Gentong dan Edi Pesek
Keduanya, Gentong dan Edi Pesek, ikut dalam penggrebekan dan penculikan terhadap Purnawan Adi Sasongko alias Iwan di rumahnya kecamatan Rowosari, Kendal. Selain menculik Iwan, keduanya juga ikut “pasukan burung hantu” dalam operasi penculikan terhadap Supiyanto dan pembunuhan terhadap Untung Hidayat alias Abu Roban di desa Babadan, kecamatan Limpung, Batang, Rabu (8/5/2013) sore.
Dengan bangganya Gentong menceritakan kepada teman-temanya, bahwa dia ikut serta menganiaya dan menyiksa muslim yang ditangkap di Kendal dan Batang. Teman-teman Gentong yang saat itu berada dibengkel motor, sudah memperingatkan agar tidak bangga telah menganiaya terduga teroris. Pasalnya, menurut teman-teman Gentong, do’a orang-orang seperti mereka akan dikabulkan Allah. Namun Gentong tidak menggubris nasehat teman-temannya tersebut.
Akhirnya, taqdir Allah Ta’ala yang telah tertulis di lauh al mahfudz , dan ganjaranNya di dunia tiba menimpa pria berusia 29 tahun ini. Sabtu 11 Mei 2013 sekitar pukul 15.00 WIB dengan kondisi terpengaruh alkohol, Gentong yang sedang naik sepeda motor tertabrak mobil. Kecelakaan itu terjadi di jalan pantura desa Surodadi, kecamatan Gringsing, Batang. Kecelakaan itu sendiri membuat robek dada dan wajahnya.
Meski segera dilarikan ke Rumah Sakit Islam (RSI) Kendal, nyawa Gentong tak tertolong. Dan setelah mengalami pendarahan di kepalanya yang cukup banyak, Gentong akhirnya mati dalam keadaan maksiyat kepada Allah Ta’ala. Pemuda dengan tangan bertato dan tidak memiliki pekerjaan tetap tersebut segera dikuburkan di desa Karangdowo, pada Sabtu ba”da Isya malam itu juga.
(azmuttaqin/arrahmah/www.globalmuslim.web.id]