Ponpes Putri Al Hasan, Panti, Jember, Jawa Timur Pencetak Pemimpin Umat

Ponpes Putri Al Hasan, Panti, Jember, Jawa Timur
Pencetak Pemimpin Umat
Angin segar pegunungan terasa menyambut kehadiran Media Umat di Pondok Pesantren Al Hasan yang terletak di Desa Kemiri, Kecamatan Panti, yang lokasinya berada di lereng gunung Argopuro. Tepatnya sebelah barat laut Kota Jember.
Awal berdirinya Al Hasan bukanlah di lokasi yang sekarang, tapi ada di Dusun Delima, di sebelah utara lokasi sekarang,  masih satu desa. Sama-sama di Desa Kemiri. Pendiriannya, dimulai dengan dirintisnya Madrasah Ibtidaiyah Bustanul Ulum oleh
Kyai Hasan Baisuni, ayahanda Nyai Faridah Hasba, sekitar tahun 1954.
Berdiri di atas  area seluas 900 meter persegi, yang berada di tepi Kali Putih, Desa Kemiri, peninggalan orang tua Kyai Hasan. Setelah itu ada beberapa wali murid yang menitipkan putranya untuk mondok di Kyai Hasan.
Pada saat itu belum dibangun pondok (penginapan). Santri generasi awal itu menginap di mushala. Kemudian menyusul beberapa santri yang lain, ikut mondok di sana. Barulah secara perlahan pondok Bustanul Ulum dirintis.
Kyai Hasan kemudian mendirikan lembaga pendidikan Madrasah Tsanawiyah Bustanul Ulum sebagai lanjutan dari MI Bustanul Ulum. Nama Bustanul Ulum digunakan karena  mengikuti Ponpes Bustanul Ulum di Mlokorejo Puger, dimaksudkan sebagai cabang. Seiring waktu santripun bertambah jumlahnya. Baik santri putra maupun santri putri.
Sebagai rasa penghormatan dan tanda bakti kepada ibundanya, Kyai Hasan Baisuni membangun sebuah masjid di lokasi ponpes yang kemudian diberi nama sesuai nama ibu Kyai Hasan. Masjid “Siti Aminah”. Masjid inilah yang kemudian menjadi pusat pengajaran di Ponpes Bustanul Ulum.
Ketika Kyai  Hasan wafat, pada tahun 1984, putra putrinya bersepakat untuk mengubah nama ponpes Bustanul Ulum ini dengan menyesuaikan  nama ayahanda mereka. Jadilah ponpes yang berada di Dusun Delima, Desa Kemiri, Kecamatan Panti Jember itu menjadi Ponpes Al Hasan.
Ponpes Al Hasan dikelola secara bersama oleh putra putri Kyai Hasan. Ponpes putra diasuh oleh KH Muzammil Hasba, ponpes putri diasuh oleh Nyai Faridah Hasba. Kemudian Nyai Faridah merintis pendirian TK, yang diberi nama sesuai nama nenek beliau, TK “Aminah”.
Hijrah Setelah Musibah
Pada saat banjir bandang menerpa Kecamatan Panti di awal tahun 2006,  tepat pergantian tahun baru Masehi, ponpes Al Hasan ikut hanyut terbawa arus air bah. Dan yang tersisa hanyalah masjid “Siti Aminah”. Cukup lama Nyai Faridah dan  keluarga besar ponpes Al Hasan mengungsi di rumah adik Nyai Faridah di Kecamatan Sukorambi.
Pasca banjir ponpes Al Hasan direlokasi ke tempat yang lebih aman, kurang lebih satu kilometer di selatan lokasi yang lama. Di atas lahan kopi seluas dua hektar, Al Hasan yang baru, dibangun.
Di sebelah kanan jalan dibangun berjajar masjid, aula, mini market kemudian kompleks pondok putri. Kompleks pondok putri terdiri dari pondok putri tiga lantai, mushala untuk aktivitas santri putri, kemudian kompleks kediaman Kyai dan Nyai. Nyai Faridah tinggal di sana untuk mendedikasikan ilmunya, sudah puluhan tahun aktif mengajar para santri putri yang kini berjumlah lebih dari 200 santri.
Di sebelah barat jalan dibangun berjajar kompleks lembaga pendidikan formal. Terdiri dari SMU Plus Al Hasan, SMK Al Hasan dan MTS Al Hasan. Sementara lokasi SD Bustanul Ulum dan TK Aminah tetap di lokasi yang lama. Selokasi dengan masjid ”Siti Aminah”di Dusun Delima.
Di kompleks yang baru, santri ponpes putri Al Hasan semakin bertambah banyak. Bukan hanya berasal dari kecamatan Panti, tetapi dari berbagai daerah di Jember. Ada beberapa santri putri berasal dari Lumajang dan Probolinggo. Bahkan pernah ada santri dari Vietnam.
Pondok Salaf dengan Pendidikan Formal
Pengajaran di Al Hasan sebagaimana pondok salaf umumnya, mengajarkan kitab-kitab kuning di pendidikan diniyah. Pagi hari setelah subuh para santri putri mengkaji kitab tafsir Jalalain. Kemudian mereka mendapat kesempatan menyiapkan diri mengikuti pendidikan formal di MTS atau SMU dan SMK yang semuanya ada di lingkungan Al Hasan.
Siangnya pendidikan diniyah dilanjutkan. Mereka mengkaji kitab Minhajul Abidin, Bidayatul Hidayah, Safinatun Najah, Sulam Taufik. Malamnya mengkaji kitab Kifayatul Ahyar, Minhus Saniah, Ta’lim muta’allim dan Bulughul Maram.
Seminggu sekali, pada Sabtu malam, para santri mendapat kesempatan ba’tsul masaail. Layaknya alim ulama’, mereka menyiapkan berbagai literatur untuk menjelaskan hukum suatu masalah yang ditetapkan. Sehari sebelumnya, para santri secara bergilir mendapat kesempatan belajar pidato atau khithoba dengan didampingi para ustadzah.
Alumni Siap Memimpin Umat
Hal yang menjadi keunggulan dari ponpes putri Al Hasan di antara kelebihannya adalah dari sisi keberadaan para alumninya. Mereka tidak hilang begitu saja manakala telah mengakhiri masa mondok di Al Hasan. Banyak di antara alumni putri dari ponpes Al Hasan berkiprah pada pembinaan umat. Menjadi pengelola TPQ, memimpin majelis-majelis taklim atau bahkan menyelenggarakan pendidikan diniyah di lingkungan sekitar rumah mereka.
Mereka mendapat wadah di Ikatan Madrasah Diniyah Al Hasan (IMADA) yang berkoordinasi sebulan sekali di Al Hasan. Bisa dikatakan diniyah yang diselenggarakan alumni ponpes putri Al Hasan ini adalah cabang dari PP Al Hasan meskipun tidak berbentuk pondok pesantren. Jumlahnya ada puluhan.
Alumni yang memiliki kesempatan menggerakkan majelis taklim muslimat juga tidak sedikit. Terutama yang masih di sekitar Kecamatan Panti. Hampir setiap majelis taklim muslimat yang ada di kecamatan Panti, apalagi di Desa Kemiri digerakkan oleh alumni ponpes putri Al Hasan. Misalnya majelis taklim di Karang Kebon, di Ledokan.
Maka, tak heran ketika para alumni ini melihat sendiri bagaimana andil Nyai Faridah pada perjuangan penegakan khilafah bersama Muslimah Hizbut Tahrir tampak nyata, mereka tidak keberatan memberikan kesempatan kepada aktivis Muslimah Hizbut Tahrir untuk mengisi di majelis taklim mereka dengan materi syariah dan khilafah.
Demikian juga ketika masalah pergaulan bebas menjangkiti remaja di Desa Kemiri, para alumni mengikuti arahan Nyai Faridah untuk semakin giat membina ibu-ibu agar bisa mendidik anaknya dengan benar sesuai akidah dan syariah Islam. Menjaga keluarga mereka dari serangan virus liberalisme buah dari ideologi kapitalisme.[]ummu ka’ab/joy
BOKS
Nyai Hj Faridah Hasba, Pimpinan Ponpes Putri Al Hasan
Al Khilafah Wa’dullah
Nyai Hj Faridah Hasba adalah generasi kedua Ponpes Al Hasan yang dulunya dikenal dengan Ponpes Bustanul Ulum. Ia yang mengasuh ponpes putri. Nyai yang kini berusia 57 tahun ini sangat memiliki kepeduliaan pada masalah umat. Nyai mengibaratkan umat saat ini ibarat orang yang sedang sakit kanker stadium 4. Obatnya hanya dengan khilafah.
Pengasuh Al Hasan ini sangat meyakini bahwa khilafah adalah janji Allah sebagaimana dalam Alquran surat An Nuur ayat 55. “Bila Allah telah berjanji, tidak mungkin Allah mengingkari janji itu. Bila sampai saat ini khilafah belum juga tegak, ini hanya masalah waktu. Jangan sampai kemudian menjadi ragu, apalagi menghalang-halangi perjuangan penegakan khilafah. Dakwah menegakkan khilafah adalah sebagai bentuk ikhtiyar kita, menjemput janji Allah. Mengupayakan agar pertolongan Allah segera datang,” ungkapnya.[]ummu ka’ab/joy
 
www.globalmuslim.web.id
]

Tulisan Terkait lainnya:




0 comments for Ponpes Putri Al Hasan, Panti, Jember, Jawa Timur Pencetak Pemimpin Umat

Leave comment

Gamis Murah

Hak Cipta Hanya Milik Allah SWT, Menyadur dan Menyebarkan isi Website ini Sangat di anjurkan | jawara web | seacrh engine | butik muslim | situs islam | islamic wallpaper | situs berita global