Arab Idol, zionisme Yahudi di negeri-negeri Muslim
GAZA  – Kafe dan restoran di Gaza dan Tepi Barat dipenuhi para fans yang bersorak meneriakkan nama Mohammed Assaf (22) pada Sabtu (25/5/2013) malam, lansir Ma’an.
Assaf adalah pemuda Palestina yang berpeluang memenangkan kontes lagu di ajang pencarian bakat Arab Idol tahun ini. Sejak Maret, pemuda asal Gaza yang disebut-sebut memliki karakter suara kuat ini telah mengikuti kontes Arab Idol, yang konsernya digelar setiap akhir pekan.
Di kota Gaza dan Ramallah pun sama, para penggemar Assaf membawa spanduk yang menyeru kepada pemirsa untuk mengetik “nomor 3″ pada ponsel mereka dan mengirimnya ke hotlineArab Idol, memberikan suara untuk Assaf.
mohammed assaf no.3

Seperti Pop Idol lainnya yang diusung Barat, setiap pekan Arab Idol mengeliminasi satu peserta yang mendapat suara paling sedikit. Sabtu (25/5) malam, Assaf termasuk salah satu dari mereka yang lolos. Assaf pun masuk dalam jajaran 7 peserta yang bertahan dalam kompetisi yang berbasis di Beirut tersebut.

“Dia layak untuk menang,” kata Maya (19), seorang remaja pendukung Assaf yang menyaksikan pertunjukannya di sebuah kafe di Gaza.
“Suaranya kuat dan penampilannya bahkan lebih baik, tidak ada yang seperti dia! Assaf bersaing untuk meningkatkan profil Palestina dan Gaza. Saya mendukung dia dan bangga dia berasal dari sini,” tambahnya sambil tersenyum.
Kompetisi Arab Idol, yang disiarkan dari studio Beirut oleh MBC Saudi, merekrut penyanyi muda yang dianggap berbakat dari seluruh negeri Arab untuk bersaing.
Assaf, yang mewakili Palestina, menjadi terkenal di media “Israel” dan tidak hanya menarik perhatian para pemuda, tetapi juga politisi terkemuka Tepi Barat.
Dia telah menerima panggilan telepon pribadi dari Presiden Mahmoud Abbas, menurut kantor berita WAFA, dan telah disahkan halaman Facebook untuknya dari pengurus utama Salam Fayyad.
Assaf memulai karir musiknya menyanyikan lagu-lagu nasionalis Palestina di kota kelahirannya, Khan Younis, yang ditayangkan di TV Palestina. Langkahnya mengikuti Arab Idol kemudian dianggap memberi pengaruh pada pertahanan politik Palestina.
Assaf, yang rumahnya dihiasi dengan foto-foto pemenang Arab Idol, dilahirkan di Misrata Libya pada tahun 1990. Dia mulai bernyanyi pada usia lima tahun setelah kembali ke Gaza ketika ayahnya menyelesaikan pekerjaan akuntansi di Afrika Utara.
Assaf melakukan perjalanan ke Libanon setelah melintasi perbatasan Gaza ke Mesir. Dia menetap di Beirut dengan kontestan lainnya sejak kompetisi dimulai. Popularitasnya bisa diraba, dengan berbagai poster raksasa yang menampilkan gambarnya di Gaza.
Ayahnya, Jaber Assaf (55), turut bersorak untuk anaknya bersama para penggemarnya di Gaza. Dia tampak sangat senang anaknya menjadi bintang, tapi dia juga takut tidak ada masa depan bagi karirnya di Palestina.
Ibu Assaf, Umm Shadi (50), mengatakan, “Politik mengalahkan semuanya di sini.”
Dengan pengaruh Hamas, tidak ada lembaga musik yang terakreditasi di Gaza. Jaber menyatakan bahwa jika Assaf ingin mengejar karir musiknya, “dia tidak bisa tinggal di Gaza, karena seni dibatasi di sini.”
Ajang pencarian bakat ini juga pernah diadakan di Indonesia yang dikenal dengan Indonesian Idol. Seperti kita ketahui, Indonesian Idol dibawa ke negeri ini oleh perusahaan hiburan Amerika bernama Fremantle Media. Fremantle Media adalah perusahaan yang dimiliki oleh seorang kapitalis Yahudi, Rupert Murdoch.
Assaf yang menjadi idola di acara Arab Idol mengingatkan kita pada Fatin yang baru menang sebagai juara 1 pada acara X Factor Indonesia. Seperti American Idol, X Factor dibentuk oleh Simon Cowell dan diproduksi Fremantle Media. Simon Cowell sendiri berlatar belakang Yahudi dengan ibu seorang Kristiani. Dan dua sejoli antara Simon Cowell dan Rupert Murdoch adalah para kreator yang sangat gigih mengkreasi acara pencarian bakat yang kemudian disebar ke negara-negara muslim.
fatin-shidqia-lubis-x-factor-indonesia

Sesungguhnya ajang-ajang pencarian bakat seperti ini mempunyai misi yang tersembunyi yang tak tampak dengan kasat mata. Diperlukan kemampuan menganalisa dari orang yang ahli dan mempunyai semangat keberpihakan kepada Islam dan kaum muslimin. Muhammad Pizaro Novelan Tauhidi, koordinator Kajian Zionisme Internasional (KaZI) memberikan opininya kepada redaksi arrahmah.com mengenai hal itu, untuk membuka wawasan muslim Indonesia pada, apa dan siapa sesungguhnya yang berada dibalik ajang-ajang seperti itu.

Berikut ini kami sajikan analisanya yang mudah dan cukup bisa dipahami, namun tetap dalam, karena dikutip langsung berdasarkan informasi dari sang zionis. Semoga bermanfaat.
Ketahuilah wahai muslim Indonesia, ada skenario zionis Yahudi pada ajang acara pencarian bakat dan sejenisnya. Ajang pencarian bakat sebenarnya tidak lepas dari program Yahudi. Mereka sadar cara paling ampuh melumpuhkan para pemuda muslim adalah menjauhkan mereka dari gaya hidup Islam dan mendekatkan mereka pada hedonisme dan hiburan. Hal inilah yang dikatakan Gleed Stones mantan Perdana Menteri Inggris.
Dia mengatakan: “Percuma kita memerangi umat Islam, dan tidak akan mampu menguasainya selama di dada pemuda-pemuda Islam ini bertengger Al-Qur’an. Tugas kita sekarang adalah mencabut Al-Qur’an di hati-hati mereka, baru kita akan menang dan menguasai mereka. Minuman keras dan musik lebih menghancurkan ummat Muhammad dari pada seribu meriam, oleh karena itu, tanamkanlah dalam hati mereka rasa cinta terhadap materi dan seks.”
Maka, cara ampuh yang mereka tempuh untuk memerangi umat Islam adalah dengan mempromosikan ajang pencarian bakat ke negeri-negeri muslim. (banan/azmuttaqin/arrahmah/www.globalmuslim.web.id)