Tafsir QS al-Furqan [25]: 67: Sifat-sifat ‘Ibâd al-Rahman (3) - "Tidak Isrâf"

Oleh: Rokhmat S. Labib, M.E.I.
Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian (TQS al-Furqan [25]: 67)..

Sifat yang dimiliki iIbâd al-Rahmân, para hamba Dzat Yang Maha Penyayang memang benar-benar terpuji. Dalam ayat ini, sifat yang dijelaskan adalah dalam
membelanjakan dan menafkahkan harta yang dikaruniakan Allah SWT kepada mereka.

Tidak  Isrâf
Allah Swt berfirman:  wa al-ladzîna idzâ anfaqû lam yusrifû (dan orang-orang yang apabila membelanjakan [harta], mereka tidak berlebih-lebihan). Kata al-infâq yang dimaksudkan dalam ayat ini adalah membelanjakan harta. Diceritakan ayat ini, para hamba Dzat Yang Maha Penyayang itu dalam membelanjakan hartanya tidak isrâf (melampaui batas). Dalam ayat ini disebutkan: lamyusrifû.
Secara bahasa, kata al-isrâf berasal dari kata al-saraf. Dijelaskan al-Asfahani, kata al-isrâf berarti tajâwaz al-hadd fî kulli fi’l yaf’aluhu al-insân (tindakan melampaui batas pada semua perbuatan yang dikerjakan manusia), meskipun yang lebih populer digunakan dalam hal infak (membelanjakan harta).
Karena pengertiannya adalah tajâwaz al-hadd (melampaui batasan), maka amat penting diketahui tentanghadd (batasan) yang menjadi miqyâs (tolok ukur, standar). Dengan batasan tersebut maka dapat diketahui, apakah suatu pembelanjaan harta sudah terkategorikan sebagai al-isrâf atau belum. Oleh karena kata tersebut dalam Alquran, maka batasan yang dimaksud adalah syara'. Bukan akal, adat, kebiasaan, begitu juga bukan kesederhanaan yang menjadi standar hidup. Dengan demikian, apabila seseorang membelanjakan harta untuk sesuatu yang diharamkan Allah disebut sebagai al-isrâf, melampaui batas..
Inilah pendapat para ulama, seperti Ibnu ‘Abbas, Mujahid, Qatadah, dan al-Dhahhak. Al-Hasan al-Basri –dalam kitab tafsir Ibnu Katsir— berkata. “Dalam infak fi sabilillah tidak tidak ada sarâf (melampaui batas). Iyas bin Muawiyah juga berkata, “Semua yang kalian langgar pada perintah Allah SWT, itu adalah sarâf.
Untuk makna yang serupa, dalam ayat lain digunakan kata al-tabdzîr (lihat QS al-Isra’ [17]: 26-27). Alquran dengan tegas mengharamkan tindakan isrâf dan tabdzîr. Berkenaan dengan isrâf, Allah SWT berfirman:Janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan (TQS al-A’raf [7]: 31, al-An'am [6]: 141). Sedangkan tentang al-tabdzîr, disebutkan dalam firman-Nya: Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan (TQS al-Isra’ [17]: 26-27).
Bahwa Allah SWT tidak menyukai al-musrifîn (orang-orang melakukan al-isrâf) merupakan qarînah (indikasi) yang jelas tentang haramnya perbuatan tersebut. Dan sebagaimana ditegaskan ayat ini, para hamba al-Rahman itu tidak mengerjakan perbuatan terlarang tersebut.

Tidak Kikir
Di samping tidak membelanjakan harta dalam kemaksiatan, mereka juga tidak bersifat kikir. Allah SWT berfirman:  wa lam yaqtarû (dan tidak [pula] kikir). Secara bahasa, al-qatr berarti taqlîl al-nafqah (meminimkan nafkah). Kata ini semakna dengan al-bukhl, lawan  dari al-isrâf.
Sedangkan secara syar’i, al-qatr berarti menahan diri dari membelanjakan harta dalam ketaatan kepada Allah SWT. Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Barangsiapa yang tidak mau membelanjakan pada perkara yang wajib atasnya, sungguh dia telah berbuat kikir.” Dikatakan juga oleh Mujahid, “Seandainya ada seseorang membelanjakan hartanya sebesar gunung emas dalam ketaatan kepada Allah, tidak dikategorikan sebagai al-saraf. Sebaliknya, membelanjakan hartanya hanya satu sha’ urusan maksiat, maka terkategorikan sebagai al-saraf. Pendapat yang sama juga diikuti oleh Ibnu Juraij dan Ibnu Zaid.
Jika para hamba Allah SWT tidak bersifat kikir, karena perbuatan tersebut memang terlarang. Larangan ini disebutkan dalam nash lain, seperti firman Allah SWT: Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat (TQS. Ali Imran [3]: 180).
Secara spesifik, orang-orang yang tidak membayar zakat diancam dengan siksaan yang keras. Rasulullah SAW bersabda: Tidak ada seorang pun yang memiliki emas dan perak, lalu tidak mengeluarkan zakatnya, kecuali akan dipakaikan kepadanya pakaian dari api neraka; yang dengan pakaian itu di neraka, pinggang, punggung, dan keningnya meleleh. Setiap bagian tubuh tadi hancur dikembalikan lagi seperti semula (HR al-Khamsah kecuali al-Tirmidzi).

Hanya Membelanjakan Harta dalam Ketaatan
Kemudian ayat ini diakhiri dengan firman-Nya:  Wa kâna bayna dzâlika qawâm[an] (dan adalah [pembelanjaan itu] di tengah-tengah antara yang demikian). Kata qawâm[an] berarti ‘ad-l[an] (adil). Dalam konteks ayat ini, kata tersebut berarti dalam koridor ketaatan. Al-Nahas sebagaimana dikutip al-Syaukani dalam tafsirnya, berkata,“Termasuk paling bagus dalam penafsiran ayat ini adalah: Sesungguhnya orang yang membelanjakan hartanya selain dalam ketaatan kepada Allah adalah al-isrâf (melampaui batas); barangsiapa yang menahan diri tidak mau menafkahkan hartanya dalam ketaatan Allah adalah al-iqtâr (kikir); Dan barangsiapa yang menafkahkan hartaya dalam ketaatan kepada Allah SWT adalah al-qawâm.
Sebagaimana sifat-sifat lainnya yang telah dijelaskan dalam ayat sebelumnya, sifat ‘ibâd al-Rah dalam ini juga dalam kerangka pujian. Sehingga ini menjadi dorongan bagi siapa pun untuk memiliki sifat ini, yakni membelanjakan harta dalam ketaatan, baik dalam perkara wajib, mandub, atau mubah.
Mengenai keutamaan infak dalam perkara wajib dan mandub telah banyak dijelaskan dalam nash lainnya. Dalam beberapa ayat, tindakan tersebut disebut sebagai qardh hasan (utang yang baik). Sebagai layaknya utang, Allah SWT berjanji akan membayar kepada pelakunya dengan balasan berlipat ganda (lihat QS al-Baqarah [2]: 245), dihapus dosanya (lihat QS al-Maidah [5]: 12, al-Taghabun [64]: 17), diberikan pahala yang banyak (lihat QS al-Hadid [57]: 11). Ditegaskan pula bahwa perumpamaan menafkahkan harta di jalan Allah adalah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir melahirkan seratus biji (lihat QS al-Baqarah [2]: 261).
Dari Abu Huraira ra, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang bersedekah dengan sebiji kurma yang berasal dari  usahanya yang halal lagi baik (Allah tidak menerima kecuali dari yang halal lagi baik), maka sesungguhnya Allah menerima sedekah tersebut dengan tangan kanan-Nya kemudian Allah menjaga dan memeliharanya untuk pemiliknya seperti seseorang  di antara kalian yang menjaga dan memelihara anak kudanya. Hingga sedekah tersebut menjadi sebesar gunung (Muttafaq ’alaih).
Demikianlah sifat para hamba Allah Yang Maha Penyayang dalam soal harta. Mereka tidak membelanjakan harta mereka dalam kemaksiatan. Mereka juga tidak kikir dalam berinfak pada perkara yang diperintahkan. Sebaliknya, mereka hanya membelanjakan hartanya dalam ketaatan kepada-Nya. Semoga kita termasuk di dalamnya, yakni terhindar dari sifat isrâf dan iqtâr, dan giat menafkahkan harta di jalan-Nya. Wal-Lâh a’lam bi al-shawâb.

Ikhtisar:
  1. ‘Ibâd al-Rahmân, hamba Dzat Yang Maha Penyayang dalam soal harta  memiliki sifat yang spesifik
  2. Sifat mereka dalam soal harta: (1) tidak bersifat isrâf dan tabdzîr, yakni membelanjakan harta dalam kemaksiatan; (2) tidak iqtâr (kikir, bakhil), yakni enggan menginfakkan harta dalam ketaatan; (3) hanya membelanjakan harta mereka dalam ketaatan.

Tulisan Terkait lainnya:




0 comments for Tafsir QS al-Furqan [25]: 67: Sifat-sifat ‘Ibâd al-Rahman (3) - "Tidak Isrâf"

Leave comment

Gamis Murah

Hak Cipta Hanya Milik Allah SWT, Menyadur dan Menyebarkan isi Website ini Sangat di anjurkan | jawara web | seacrh engine | butik muslim | situs islam | islamic wallpaper | situs berita global