Pondok Pesantren Ahsanu ‘Amala: Cetak yang Apa Adanya jadi Apa Seharusnya

Yayasan Pondok Pesantren Ahsanu ‘Amala, Beji, Depok, Jawa Barat
Siapa bilang Pondok Pesantren tidak berpolitik dan peka terhadap peristiwa politik aktual? Kalau melihat Piagam Penolakan RUU Ormas, ternyata yang membubuhi tanda tangan kebanyakan adalah pimpinan ponpes. Salah satunya adalah Ponpes Ahsanu ‘Amala.
Mewakili Yayasan Pondok Pesantren Ahsanu ‘Amala, KH MD Sirajuddin membubuhi tanda tangan pada piagam tersebut, Jumat (29/3) pada aksi sekitar 5.000 massa Hizbut Tahrir Indonesia bersama ulama dan umat Islam menolak disahkannya RUU Ormas yang menjadikan Pancasila sebagai asas setiap organisasi masyarakat.
Ahsanu ‘Amala adalah yayasan kemanusiaan yang berdiri pada 27 Mei 1993, di Depok Jawa Barat. Didirikan oleh Brigjen TNI (purn) H Santoso Kasran, KH Dr Manarul Hidayah, Guru Besar Universitas Indonesia Prof  Dr  Slamet Djais (alm) dan KH MD Sirajuddin.
Ahsanu ‘Amala didirikan lantaran keempat tokoh dan ulama tersebut prihatin terhadap keadaan sosial umat, terutama masih banyaknya anak-anak yatim dan dhuafa yang telantar khususnya di bidang pendidikan.
Santri Ahsanu ‘Amala berasal dari kalangan yatim piatu yang sebagian besar adalah anak eks pengungsi dari wilayah konflik dan desa tertinggal di Poso, Ambon, Aceh, eks Timor Timur, Nusa Tenggara Timur, Mentawai. Serta anak gelandangan, anak pemulung dan anak-anak dhuafa dari Pemalang, Tegal, Cilacap, Bandung dan Jabodetabek.
Fasilitas
Ahsanu ‘Amala berdiri di atas tanah wakaf seluas 1.214 meter persegi di Jalan Cahaya Titis, Tanah Baru, Beji, Depok, Jawa Barat. Di atas tanah tersebut berdiri tiga gedung yakni Gedung A, B dan C dan mushala.
Gedung A terdiri atas dua lantai.  Lantai bawah berfungsi sebagai sekretariat, perpustakaan dan pondokan (tempat tinggal santri putri). Sedangkan lantai atas berfungsi sebagai kelas belajar.
Gedung B terdiri dari tiga lantai. Lantai satu sebagai aula, lantai dua asrama santri putra, sedangkan lantai tiga dijadikan ruang kelas belajar sekaligus difungsikan sebagai ruang rapat.
Gedung C sedang dalam proses pembangunan yang rencananya tiga lantai.Gedung C rencananya akan digunakan untuk ruang kelas baru berjumlah enam kelas, laboratorium bahasa dan sarana penunjang lainnya di atas tanah seluas 214 meter persegi wakaf dari masyarakat.
Prestasi
Prestasi yang dicapai Ahsanu ‘Amala di antaranya adalah pada 1995 dinobatkan oleh Ainun Habibie  (istri Menteri Riset dan Teknologi BJ Habibie) sebagai pesantren berbasis Iptek. Karena menerapkan sistem Iptek yang orientasinya ke agribisnis.
Bahkan menjadi inspirasi Ainun untuk membuka pesantren serupa di SMA Puspitek-nya. Marwah Daud Ibrahim juga terinspirasi dan membuka pesantren serupa di Gorontalo.
Kemudian pada 1999, berubah haluan, orientasinya menjadi beternak 5.000 ekor ayam Arab di atas lahan 4.000 meter, yang per harinya mampu memproduksi dan menjual sekitar 3.000 ekor telur.
Pada  Mei 2007 Departemen Agama menjuluki Ahsanu ‘Amala sebagai Pesantren Mandiri Teladan.  Sehingga Depag mengumpulkan 71 pesantren terpilih se-Indonesia untuk belajar ternak ayam Arab ke Ahsanu ‘Amala. Namun akhir 2007, tidak lagi berternak lantaran semua ayamnya dimusnahkan ketika maraknya isu flu burung.
Sedangkan prestasi yang pernah diraih santri adalah juara II lomba baca puisi se-Depok; juara I lomba kaligrafi sekecamatan Beji; juara II MTQ se-Depok dan juara II lomba pidato Bahasa Inggris se-Jabodetabek.
Alumni
Dari sejak berdirinya hingga sekarang, Ahsanu ‘Amala telah menghantarkan lebih dari 2.150 santri menyelesaikan pendidikan hingga ke jenjang SLTA.Bahkan 25 persennya dapat menyelesaikan studi hingga sarjana.
Alumni pertama yang yatim dari Bandung yakni Ayi Sumarna sampai mendapat gelar sarjana hukum Islam, pernah menjadi Imam besar di Kompleks Perwira Angkatan Darat, Condet, Jakarta Timur.  Rifai dari Poso, kuliah sampai jadi insinyur di ITB kembali ke Poso. Anwar lulus  Ahsanu ‘Amala 1998 dikuliahkan ke Univeristas Sebelas Maret Solo jadi arsitek.
Silvi, dhuafa,  lulus Ahsanu ‘Amala 2001, disekolahkan sampai lulus Institut Teknologi Bandung. Zakaria lulus Ahsanu ‘Amala pada 1998, kemudian dikuliahkan di Gunadarma Depok,  sekarang kerja di PPATK.
Yang sukses berwira swasta juga ada, yaitu Hambali yang lulus Ahsanu ‘Amala  pada 2001, kuliah di Al Qudwah dan sekarang bisnis travel haji dan umrah di Depok.
“Itu yang sukses, kalau yang biasa-biasa saja setelah lulus Ahsanu ‘Amala, ada yang bekerja di air isi ulang, penggilingan padi, tetapi yang dibilang sukses atau biasa semua paham Islam dan berupaya mengamalkannya sebaik-baiknya,ahsanu ‘amala” beber KH Sirajuddin.
Karena motto di Ahsanu ‘Amala adalah menjadikan sesuatu yang apa adanya menjadi sesuatu yang apa seharusnya.[] joko prasetyo
BOKS
KH MD Sirajuddin, Pimpinan Yayasan  Ponpes Ahsanu ‘Amala
Untuk Apa Baca Alquran Kalau tidak Direalisasikan?
Saya lahir di Tegal, 26 Agustus 1968. Mendalami Islam di pesantren tradisional di Balamoa Tegal Pimpinan KH Abdul Jalil, sebelumnya  lebih banyak ngaji ke paman sehingga baru kelas 4 sekolah dasar sudah hafal tasrifan dan belajar safinatun najah, nahwu sharaf. Kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah, Jakarta Timur, di bawah asuhan KH Hasyim Adnan.
Saya mengamati Hizbut Tahrir sejak 2000-an di televisi. Setiap kali demo-demo, bagus, rapi tidak anarkis dan kooperatif. Menurut saya itu merupakan ciri-ciri Islam. Lama-lama saya mencari jalan untuk bisa bertemu dengan aktivisnya. Alhamdulillah, dua tahun lalu Ustadz Nur Iman, aktivis HTI Depok, datang ke sini bawa Media Umat.
Sejak itu kami sering diskusi hingga sekarang saya ingin menjadi penghuni rumah Hizbut Tahrir. Karena  menurut saya Hizbut Tahrir adalah rumah yang ideal bagi orang yang mempunyai nurani, yang punya selera tinggi, yang ingin hidup antara hati dan mulutnya sama. Yang berjuang menegakkan syariah bukan hanya dalam level individu dan jamaah tetapi juga negara.
Karena saya berpikir, tiap hari orang baca Alquran. Kemudian hanya dibaca doang tanpa diamalkan, dosanya sangat besar. Yang menurut istilah saya, the big munafik! Kalau baca Alquran kemudian tidak direalisasikan, hukum Islam diinjak-injak, kemudian kita tidak ada reaksi, tidak berontak, untuk apa? Allah SWT berfirman dalam Alquran Surat Al Kahfi ayat 57:
Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat dari Rabbnya lalu dia berpaling daripadanya dan melupakan apa yang dikerjakan oleh kedua tangannya? Sesungguhnya Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka, (sehingga mereka tidak) memahaminya, dan (Kami letakkan pula) sumbatan di telinga mereka; dan kendatipun kamu menyeru mereka kepada petunjuk, niscaya mereka tidak akan mendapat petunjuk selama-lamanya.
Saya tidak takut ditinggalkan jamaah karena mau bergabung dengan Hizbut Tahrir yang memperjuangkan tegaknya syariah dan khilafah. Seandainya ada orang yang takut dengan syariah Islam, dengan khilafah kemudian mereka mundur, Alhamdulillah, seleksi alam terjadi.
Tetapi enggaklah, kalau saya lihat dari jamaah itu sesungguhnya haus akan syariah Islam. Karena sudah benci dengan kezaliman yang begini lama. Sudah benci dengan demokrasi yang semakin parah. Jadi sebenarnya orang haus dengan kebenaran.[] joy
[www.globalmuslim.web.id]

Tulisan Terkait lainnya:




0 comments for Pondok Pesantren Ahsanu ‘Amala: Cetak yang Apa Adanya jadi Apa Seharusnya

Leave comment

Gamis Murah

Hak Cipta Hanya Milik Allah SWT, Menyadur dan Menyebarkan isi Website ini Sangat di anjurkan | jawara web | seacrh engine | butik muslim | situs islam | islamic wallpaper | situs berita global