Partai Islam dan Kader, Tak Ideologis

Oleh: Agus Trisa, aktivis HTI Surakarta
Diakui atau tidak, negeri ini memang butuh politisi yang andal. Politisi yang andal adalah mereka yang memiliki visi jauh ke depan dan memiliki ideologi yang jelas yang bisa membawa bangsa ini bangkit dari keterpurukan. Namun, melihat perilaku beberapa politisi yang ada saat ini, tampaknya itu hanya utopia belaka.
Kebanyakan politisi tidak memiliki kredibilitas secara politis maupun ideologis.Alasan "ingin berperan aktif dan riil dalam memperbaiki bangsa" kiranya menjadi alasan yang cukup kuat untuk bisa terjun ke dalam politik praktis sekuler.
Untuk bisa "berperan aktif" mau tidak mau, tentu harus ikut dalam pemilu sekuler. Untuk ikut dalam pemilu sekuler, tentu harus ikut masuk dalam partai politik peserta pemilu sekuler. Lebih dari itu, partai yang ditumpanginya, juga harus menang pemilu.
Intinya, yang penting menang dulu. Kalau sudah menang, jabatan apa pun bisa didapat. Jika jabatan sudah didapat, maka itulah saatnya “berperan aktif”.Masalah ideologi, itu urusan belakangan. Bahkan kata sebagian orang "sekarang bukan zamannya mempertahankan ideologi, tapi bagaimana kita berperan aktif". Padahal, ideologi yang dianut seseorang mencerminkan kepribadiannya; apakah islami ataukah tidak.
Kepribadian manusia tersusun atas dua hal, yaitu pola pikir dan pola sikap.Orang yang memiliki kepribadian islami, tentu pola pikir dan pola sikapnya juga islami. Maksudnya, apa yang dia pikirkan lalu dia hasilkan, itu selalu berdasarkan akidah Islam. Dan apa yang diperbuat atas sikap-sikapnya, juga berdasarkan akidah Islam.
Tidak bisa setengah-setengah. Jika setengah-setengah, itu artinya kepribadiannya sekuler. Di satu sisi memiliki pola sikap yang islami, tetapi pola pikirnya jauh dari Islam. Atau sebaliknya. Orang seperti ini, jelas bukan berkepribadian Islam. Jika dia seorang politisi, tentu dia adalah politisi sekuler.
Fenomena kepindahan politisi dari satu partai ke partai lain yang marak belakangan ini menunjukkan bahwa ikatan yang terjadi antara partai dengan kadernya, bukanlah ikatan ideologi. Ikatan antara kader dengan partai, bisa bermacam-macam.
Bisa karena materi (misal kedudukan, harta, atau yang lainnya), bisa juga hanya karena memanfaatkan partai untuk bisa maju dalam pesta demokrasi lima tahunan. Ya, sekali lagi alasannya "ingin berperan aktif dan riil dalam memperbaiki bangsa."
Di sana ada Misbakhun, politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang kemudian bergabung dengan Golkar. Padahal, PKS adalah partai yang sering disebut dengan partai dakwah. Sedangkan Golkar, nyata-nyata bukanlah partai dakwah.
Di sisi lain, ada Yusuf Supendi, pendiri Partai Keadilan (cikal bakal PKS). Yusuf Supendi kini bergabung dengan Hanura (Hati Nurani Rakyat) yang jelas-jelas tidak menyatakan diri sebagai partai dakwah (partai berbasis Islam).
Tidak hanya itu, yang lebih mencengangkan, menangnya Lukas Enembe dan Klemen Tinal yang diusung PKS dan Partai Demokrat dalam pemilukada Papua menunjukkan bahwa motivasi untuk bisa berkuasa, bukanlah motif ideologi (dalam hal ini adalah Islam).
Bagaimana bisa partai yang berbasis Islam (dan disebut partai dakwah), tetapi mengusung orang non-Islam dalam sebuah ajang pemilihan kepala daerah? Apa ikatan yang terjalin? Tentu bukan ikatan ideologi.
Walhasil, Indonesia butuh orang-orang atau politisi yang benar-benar ideologis. Memegang teguh ideologi, tanpa goyah oleh badai dan ombak yang besar. Politisi semacam inilah yang dibutuhkan. Bukan politisi yang mudah terbeli oleh kondisi dan keadaan. Wallahu a’lam.
[www.globalmuslim.web.id]

Tulisan Terkait lainnya:




0 comments for Partai Islam dan Kader, Tak Ideologis

Leave comment

Gamis Murah

Hak Cipta Hanya Milik Allah SWT, Menyadur dan Menyebarkan isi Website ini Sangat di anjurkan | jawara web | seacrh engine | butik muslim | situs islam | islamic wallpaper | situs berita global