Mujahidin Cilik Suriah

Sambil memegang AK47, dia berdiri di depan barikade para pejuang di Kota Aleppo.
Perang yang telah berlangsung dua tahun di Suriah memaksa warganya untuk selalu siaga setiap saat. Mereka harus siap membunuh atau dibunuh dalam medan perang yang tidak lagi kenal ampun.
Di saat seperti ini, baik wanita dan anak-anak terpaksa bertahan hidup dengan cari aman dengan mengungsi atau tinggal dan bertempur. Sebuah foto yang dipublikasikan DailyMail, Kamis 28 Maret 2013, setidaknya menunjukkan dengan jelas hal ini.
Dalam foto tersebut, seorang bocah yang diyakini berusia tujuh tahun terlihat menenteng senapan AK-47. Tubuh mungil bocah bernama Ahmed itu terlihat timpang dibandingkan laras senapan yang panjang.
Sebagaimana dilansir situs alarabiya.net, Ahmed, adalah salah seorang termuda yang ikut berjihad mengangkat senjata melawan rezim Assad. Sambil memegang AK47, dia berdiri di depan barikade para pejuang di Kota Aleppo.
Ahmed adalah putra seorang pejuang Tentara Pembebasan Suriah (FSA) yang bertugas membantu mengoperasikan barikade yang dibangun untuk melindungi para pejuang dari para penembak jitu di garis depan distrik Shalahudin.
Ahmed bukanlah satu-satunya bocah yang harus turun membantu pertempuran.Bocah lainnya, Mohamed Asaf, berusia 12 tahun, harus berjibaku dengan tim dokter dan medis di wilayah Dar al-Shifa, Aleppo, dalam merawat orang sakit atau terluka dalam perang.
Awalnya, Asaf mengaku lemas jika melihat darah. "Seiring waktu, semuanya jadi mudah. Darah seperti air buat saya," kata Mohamed dalam sebuah dokumenter yang ditayangkan di stasiun televisi Inggris, Channel 4.
Organisasi pelindung anak-anak asal Inggris, Save the Children, dalam laporannya awal Maret ini mengatakan bahwa baik kubu oposisi maupun pemerintah telah memanfaatkan anak-anak dalam peperangan tersebut.
Mereka digunakan sebagai tentara, penjaga, informan dan bahkan terkadang jadi tameng hidup.
Menurut organisasi ini, di Suriah terdapat sekitar 2.000.000 anak yang memerlukan bantuan. Mereka hidup kesulitan dalam situasi yang berbahaya di Suriah. Dalam sebuah riset diketahui, setiap tiga dari empat anak di Suriah kehilangan anggota keluarga dalam konflik tersebut.
"Jutaan anak di Suriah tumbuh tanpa mengetahui apapun kecuali kekerasan, mereka kekurangan pendidikan dan berada di bawah tekanan dan trauma yang akan tetap ada hingga akhir hayat mereka," ujar laporan Save the Children.
Syahid
Situasi yang membahayakan anak-anak Suriah ini rupanya mengundang  mengundang kaum Muslimin dari berbagai dunia untuk bergabung. Termasuk seorang remaja Irlandia, yang rela meninggalkan kesenangan hidup di Barat bergabung dengan saudara muslimnya di bumi asy Syam. Meskipun harus dibayar dengan syahid fi sabilillah.
Sebagaimana yang dilansir www.telegraph.co.uk (24/2) seorang remaja Muslim dari Irlandia yang bergabung dengan pejuang mujahidin di Suriah tahun lalu ditemukan telah terbunuh, insya Allah syahid.
Shamseddin Gaidan, 16 tahun, yang tinggal di dekat Dublin, meninggal pada pekan lalu, kata juru bicara Asosiasi Muslim Irlandia.
“Dia terbunuh dalam pertempuran, ia terbunuh di Suriah,” kata Hussein Buhidma.
“Orang tuanya adalah orang-orang yang ramah dan mereka ingin berkabung selama beberapa hari.
Shamseddin pindah ke Irlandia dari Libya dengan keluarganya pada tahun 2001.Ayahnya Ibrahim membuka sebuah toko kelontong Halal di Navan, Co Meath.
Gaidan mengatakan kepada Irlandia Times: “Kami tidak tahu di mana atau bagaimana ia terbunuh dan kami tidak tahu di mana tubuhnya.
Remaja itu menghabiskan liburan musim panasnya di Libya pada tahun lalu dan seharusnya terbang kembali ke Irlandia melalui Istanbul pada pertengahan Agustus. Dia kemudian diketahui telah menyeberangi perbatasan Turki menuju Suriah.
Gaidan mengatakan: “Kami tidak mendengar apapun dari hingga suatu hari seseorang menelepon dari Suriah dan mengatakan Shamseddin ada di sini dan dia membantu rakyat Suriah.
Yang terakhir didengar Gaidan dari Shamseddin adalah telepon singkat beberapa waktu kemudian di mana dia meminta anaknya itu untuk pulang.
“Dia menolak, dan mengatakan bagaimana dia bisa pergi ketika rezim Suriah membunuh rakyatnya sendiri, termasuk anak-anak,” tambahnya.
Para pelayat berkumpul di masjid Tallaght di Dublin untuk menyatakan belasungkawa kepada keluarga Gaidan. Doa juga dipanjatkan di Sekolah Klasik St Patrick di Navan, tempat di mana Shamseddin pernah belajar.
Kepala Sekolah Colm O’Rourke mengatakan para staf dan siswa sangat terkejut mengetahui kematiannya.
“Dia adalah seorang murid yang baik yang akrab dengan semua orang,” kata Mr O’Rourke Times.
“Dia tertarik untuk pergi berperang dengan para pejuang pada tahun 2011 dia berbicara tentang keinginannya untuk bergabung dengan revolusi Libya.
Diperkirakan bahwa Shamseddin bergabung dengan pasukan mujahidin Suriah dengan seorang sepupu dari Libya yang telah melakukan perjalanan ke Suriah beberapa waktu sebelumnya. Sepupunya itu juga diyakini telah terbunuh.
Remaja ini adalah orang kedua dari Irlandia yang terbunuh syahid setelah bergabung dengan revolusi di Suriah. El Sayed Hudhaifa, berusia 22 tahun kelahiran Mesir, dari Drogheda, terbunuh syahid di utara Suriah pada bulan Desember. [] rz/mj
[www.globalmuslim.web.id]

Tulisan Terkait lainnya:




0 comments for Mujahidin Cilik Suriah

Leave comment

Gamis Murah

Hak Cipta Hanya Milik Allah SWT, Menyadur dan Menyebarkan isi Website ini Sangat di anjurkan | jawara web | seacrh engine | butik muslim | situs islam | islamic wallpaper | situs berita global