Membangun Pemikiran Ideologis Menuju Kebangkitan Realistis

Oleh : Muhammad Akiel El Hanief, Guru SMA Neg.1 Kajuara, Kab.Bone , SUL- SEL
Keterbelakangan yang menimpa umat bukanlah hal yang spontanitas . Ia terinjeksi oleh sebuah paham yang terangkum dalam sebuah sistem kehidupan dan mengantar  para penganutnya  terhipnotis oleh permainan kata-kata yang hampa akan  aplikasi, tenggelam dalam gelombang harapan dan  jauh dari arus kenyataan.
Namun aneh bin ajaib pemikiran itu  menjadi hal  yang dipahami dan dibenarkan (qana’at), serta bermetamorfosis dengan waktu untuk membentuk kebiasaan-kebiasaan umum dan menjadi pengendali tingkah laku manusia. Sekalipun kita ketahui bersama  bahwa pengendali (aturan tersebut) hanya memenuhi secuil aspirasi dan memunculkan konspirasi bejat antara penguasa dan pengusaha sehingga terlahir komprador-komprador fanatik yang hanya mengejar jabatan dan tumpukan materi.
Sebut saja sekulerisme, jantung dari sistem demokrasi ini telah menjadi thagut modern bagi umat Islam itu sendiri. Seolah-olah sekulerisme hanya dapat digantikan  dengan nyawa dan denyut nadi. Padahal jelas-jelas ia telah rusak sejak hari pertama. Bahkan mayoritas adidaya dunia yang menjadi kampium demokrasi sekulerisme mulai tersungkur ekonominya dan terkurung masyarakatnya dalam sel-sel kesesatan.
Kesesatan yang terlihat dari hancurnya akhlak dan kemunduran taraf berpikir. Hingga mayoritas masyarakat dari negara pembuat berhala modern tersebut menginginkan sistem itu dicampakkan dan digantikan melalui revolusi yang lain. Namun mereka masih bingung akan sistem yang terbaik ditambah lagi trauma yang tak berkesudahan melanda akibat sistem rusak ini.
Tidak semudah membalikkan telapak tangan untuk menangani apa yang terjadi hari ini. Namun keyakinan yang kuat bahwa pertarungan antar Islam dan kekufuran merupakan pertarungan total dan sudah pasti dimenangkan oleh Islam, sesuai dengan penegasan Allah SWT dalam Alquran  surat al-Isra ayat 81 yang artinya: Dan katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap.” Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.
Dan kita pun tidak boleh gegabah tanpa pemikiran yang matang serta strategi yang mantap. Ketika kita bermaksud merintis bengkel untuk umat. Kita seharusnya mengidentifikasi masalah yang timbul dari kendaraan umat. Bahkan dengan menambal ban dan mengganti mesin sekalipun tidak cukup menjadi solusi yang mumpuni.
Kenyataan membuktikan bahwa kendaraan yang dipakai umat saat ini telah rusak dan jika dibiarkan akan memicu kecelakaan beruntun yang tidak kita duga. Sehingga kendaraan demokrasi sudah pantas dan memang wajib diganti dengan Islam yang syumul (universal).
Jadi revolusi dibangun berawal dari akar perbuatan  (mafahim umat saat ini).
Mafahim (persepsi) adalah kunci bagi pintu-pintu aktifitas . Sehingga totalitas yang terangkum dalam aturan kehidupan seharusnya berasal dari Allah Yang Maha Pencipta Manusia dan Alam Semesta beserta aturannya,  agar manusia tidak terdzalimi oleh tingkah laku saudaranya sendiri.
Hukum buatan manusia sudah pasti merupakan akumulasi hawa nafsu manusia. Sehingga Allah menantang mereka dalam Alquran surah Al Maidah ayat 50, yang artinya:
Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?
Pemikiran ideologis yang dibangun melalui penyebaran opini dan pengkajian persuasif kepada kebenaran adalah bahan bakar utama dalam mempersiapkan  kendaraan ideologi  itu sendiri (baca: Islam).
Memang pada kenyataanya  ideologi yang kita perjuangkan telah berseteru dengan kenyataan yang rusak  hingga saudara –saudara Muslim kita pun angkat senjata untuk menghadang penyebaran pemikiran kita yang barangkali belum mereka pahami. Dan bahkan muncul pernyataan yang mengiris hati kaum Muslim yakni: nasionalisme harga mati; demokrasi itu  bagian dari Islam; hingga Islam kultural.
Serangan pemikiran dan fisik pun berjalan sepaket mulai dari penerbitan stigmatisasi negatif global war onIslam diplesetkan menjadi global war on terrorism. Kasus Poso  yang berulang dan berbagai penembakan tanpa bukti  yang dilakukan oleh Densus 88  adalah penjelasan  nyata tentang hukum yang diperuntukkan untuk Negara Tuan yang pada pelaksanaannya memuat kepentingan bisnis (military business). Gelar teroris pun direkayasa dan disematkan kepada para pengkaji Islam.
Sungguh problem tersebut merupakan tantangan yang tidak dapat memudarkan bahkan menghentikan perjuangan umat Islam . Karena pada dasarnya tantangan yang membumi menghasilkan kompetensi dan kekuatan yang melangit.
Sehingga umat Islam harus sigap dengan segala kemungkinan yang datang. Ketakutan ibarat musim panas yang akan terguyur hujan pertolongan dari Allah SWT. Umat Islam adalah umat yang terbaik namun predikat tersebut hanya dapat diperoleh ketika umat mampu melakukan perbaikan , mencegah atau melawan kemungkaran.
Kesemuanya itu akan sempurna manakala tiga pilar dalam penyebaran Islam dapat kita penuhi. Ketiganya adalah individu, masyarakat dan negara. Kita tidak mungkin mengandalkan pilar individu belaka untuk memperbaiki kondisi umat, begitupun masyarakat tidak akan berdaya oleh aturan negara yang nyata-nyata menjauh dari obyektifitas Islam itu sendiri.
Dan hingga saat ini pilar negara tidak pernah diinjeksi dengan Islam secara totalitas. Sebagian masyarakat menganggap tata pemerintahan Islam sudah berakhir dan umat harus realistis dengan apa yang dihadapinya saat ini. Bahkan mereka sampai mengatakan bahwa mengadopsi aturan yang berdasarkan Islam yang sesungguhnya utopis. Naudzubillah tsumma naudzubillah min dzalik.
Menjawab fenomena tersebut harus dengan bijak dan senjata utamanya adalah dakwah yang kontinyu. Dakwah yang bertujuan melanjutkan kehidupan Islam (istina fil hayatil Islam). Dakwah yang senatiasa menyerukan penegakan Islam di semua lini.
Para pengemban dakwah pun semakin kuat karena mereka mulai giat bergabung dalam jamaah ideologis. Mereka sadar akan pentingnya kelompok dakwah untuk menasihati umat. Karena mereka yakin bahwa umat stagnan  tanpa revolusi sistem. Hingga para pengemban dakwah pun berusaha menguatkan pondasi permikiran ideologis menuju kebangkitan hakiki (realistis). Menuju bangkitnya kembali al-khilafah ala min haaji an-nubuwwah.[]

Tulisan Terkait lainnya:




0 comments for Membangun Pemikiran Ideologis Menuju Kebangkitan Realistis

Leave comment

Gamis Murah

Hak Cipta Hanya Milik Allah SWT, Menyadur dan Menyebarkan isi Website ini Sangat di anjurkan | jawara web | seacrh engine | butik muslim | situs islam | islamic wallpaper | situs berita global