Keutamaan Melepaskan Kesulitan Orang Lain

Allah SWT berfirman (yang artinya): Mereka (orang-orang Anshar) mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri sekalipun mereka dalam kesusahan (TQS al-Hasyr [59]: 9).
Ayat ini mengajari kita untuk tidak hanya peduli terhadap orang lain atau membantu orang lain, tetapi bahkan mengutamakan orang lain meski kita sendiri dalam kesulitan.
Melepaskan beban atau kesulitan orang lain telah diperintahkan secara tegas oleh Rasulullah saw. Ini karena Rasulullah saw. pernah bersabda, sebagaimana dituturkan Anas bin Malik ra, “Seluruh makhluk adalah keluarga Allah. Yang paling Allah cintai di antara mereka adalah yang paling memberikan manfaat kepada-hamba-hamba-Nya. (HR ath-Thabrani dan al-Baihaqi).
Melepaskan beban atau kesulitan orang lain bahkan merupakan salah satu amal yang paling utama. Abu Hurairah ra menuturkan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, “Siapa yang melepaskan suatu beban/kesulitan dari seorang Muslim di dunia, Allah pasti akan melepaskan dari dirinya suatu beban/kesulitan di antara beban-beban di akhirat. Siapa saja yang menutupi aib seorang Muslim di dunia, Allah pasti akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya. (An-Nasa’i, ath-Thabrani dan al-Baihaqi).
Rasulullah SAW juga pernah bersabda, “Siapa saja yang suka diringankan bebannya dan dikabulkan doanya, hendaklah ia memudahkan orang yang sedang kesulitan dan mendoakannya. (HR Muslim).
Hal senada dituturkan oleh Abu Said al-Khudri ra. dari Rasulullah SAW yang pernah bersabda, “Siapa saja yang memberi seorang Mukmin pakaian di dunia, Allah nanti akan memberi dia pakaian dari sutra surga. Siapa saja yang memberi minum seorang Mukmin yang kehausan, Allah akan memberi dia minuman dari arak surga. Siapa saja yang memberi makan seorang Mukmin, Allah akan memberi dia makan buah dari surga. (HR Ibn Abi ad-Dunya’).
Utsman bin Waqid al-‘Umari menuturkan bahwa pernah ditanyakan kepada Muhammad bin al-Munkadir, “Bagian dunia yang manakah yang paling menakjubkan dirimu?” Ia menjawab, “Memasukkan rasa bahagia kepada kalbu orang Mukmin. (Ibn Abu ad-Dunya’, Qadha al-Hawa’ij).
Bahkan nasihat seorang Muslim kepada Muslim lainnya adalah bagian dari amal yang utama. Dalam hal ini Ibn Abbas menuturkan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, “Siapa saja yang berjalan bersama saudaranya dalam suatu keperluan,  kemudian ia menyampaikan nasihat kepada saudaranya itu, Allah akan menjadikan antara dirinya dan neraka pada Hari Kiamat nanti tujuh parit; jarak antara satu parit dengan parit lainnya setara dengan jarak antara langit dan bumi. (HR Ibn Abi ad-Dunya’).
Nasihat adalah aktivitas yang bermanfaat bagi manusia, sementara memberi manfaat kepada manusia adalah salah satu amalan yang paling utama dan paling dicintai oleh Allah SWT. Dalam hal ini, Abdullah bin Dinar menuturkan riwayat dari salah seorang Sahabat Nabi SAW bahwa pernah ditanyakan kepada beliau, “Siapakah orang yang Allah paling cintai?” Beliau  bersabda, “Orang yang paling Allah cintai adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.Sesungguhnya amal yang paling Allah sukai adalah memasukkan rasa bahagia ke dalam kalbu orang Mukmin (yaitu dengan cara): melepaskan bebannya, membayarkan utangnya dan menghilangkan rasa laparnya. Sungguh, aku berjalan bersama saudaraku yang Muslim demi memenuhi kebutuhannya adalah lebih aku sukai daripada beritikaf di masjid selama dua bulan. Siapa saja yang menahan amarahnya (kepada saudaranya), Allah akan menutupi aibnya (pada Hari Kiamat), siapa saja yang menahan diri dari membalas dalam keadaan dia mampu membalas, Allah akan memenuhi kalbunya dengan ridha-Nya. Siapa saja yang berjalan menyertai saudaranya yang Muslim demi memenuhi suatu kebutuhannya hingga dia mampu meneguhkan keadaannya, Allah akan meneguhkan kedua kakinya pada Hari Kiamat nanti pada saat banyak kaki-kaki manusia tergelincir.Sesungguhnya keburukan akhlak benar-benar bisa merusak amal. (HR ath-Thabrani, Mu’jam al-Kabir, III/11).
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa, Rabi bin Shabih menuturkan bahwa Al-Hasan berkata, “Sungguh, memenuhi kebutuhan seorang Muslim lebih aku sukai daripada shalat seribu rakaat. (Ibn Abi ad-Dunya’).
Bahkan sebaiknya memenuhi kebutuhan orang lain itu mesti dilakukan sebelum yang bersangkutan memintanya. Hal ini dituturkan oleh Hasan bin Abdillah bin Aubaidillah bin Abbas bahwa Ubaidaillah bin Abbas pernah berkata kepada putranya, “Sesungguhnya pemberian yang paling utama adalah apa yang engkau berikan kepada seseorang sebelum dia meminta. Jika dia meminta kepada engkau (lalu engkau memberi dia), berarti pemberianmu ada harganya senilai dengan usaha yang dia kerahkan untuk meminta kepada engkau.
Abdullah bin Ja’far juga berkata, “Sesungguhnya orang yang disebut pemurah itu bukanlah orang yang memberi engkau setelah diminta. Akan tetapi, orang pemurah itu adalah orang yang memberi tanpa diminta. Sebab, sesungguhnya usaha yang dikerahkan orang orang yang meminta kepada engkau jauh lebih keras dari apa yang engkau berikan kepada dirinya.” (Ibn Abi ad-Dunya’, Qadha’ al-Hawa’ij).WalLahu a’lam. [] abi
[www.globalmuslim.web.id]

Tulisan Terkait lainnya:




0 comments for Keutamaan Melepaskan Kesulitan Orang Lain

Leave comment

Gamis Murah

Hak Cipta Hanya Milik Allah SWT, Menyadur dan Menyebarkan isi Website ini Sangat di anjurkan | jawara web | seacrh engine | butik muslim | situs islam | islamic wallpaper | situs berita global