Moslem Harlem Shake?

Oleh: AM Waskito
The Harlem Shake adalah sejenis demam tontonan yang menyebar melalui Youtube ke seluruh dunia, melalui fasilitas internet, ponsel, blackberry, ipad, dan seterusnya. Ini termasuk jenis budaya baru yang tersebar melalui sarana-sarana gadget.
The Harlem Shake pada dasarnya merupakan bentuk “kreativitas balasan” yang dilakukan orang-orang Amerika, setelah sebelumnya beredar model tarian “Gangnam Style” yang dibawakan penari Korea. Seolah Amerika tidak mau kalah, sehingga mesti membuat model baru yang bisa menyaingi Gangnam.Artis India, Shahru Khan, juga merintis demam tarian kolektif ala India; tetapi gaungnya kurang.
Baik Harlem Shake maupun Gangnam, sebenarnya mengandung satu pesan filosofis yang sangat kuat, yaitu: agar umat manusia mempermalukan dirinya, menistakan dirinya, membuang kewibawaan dan kehormatannya. Upaya penistaan diri itu dilakukan melalui tarian-tarian yang tidak terhormat, memalukan, serta mencerminkan selera budaya rendah. Hal ini mengingatkan pada tarian-tarian kaum paganis di sekitar altar-altar pemujaan dewa mereka.
Nama Islam atau Muslim, tidak boleh dikaitkan dengan hal-hal hina semacam itu. Islam memiliki integritas, jati diri, dan identitas moral sendiri; berbeda dengan ritual kehinaan yang dilakukan kaum paganis dan durhaka. Nabi Saw mengatakan: Al Islamu ya’lu wa laa yu’la(Islam itu tinggi, tidak ada yang lebih tinggi darinya). Dengan menempelkan nama Islam/Muslim pada produk tari-tarian penista diri itu, kita telah ikut merendahkan agama sendiri.
Dalam riwayat lain Nabi Saw pernah bersabda, kurang lebih: “Lattatab’na sunanun man kaana min qablikum syibran bi syibrin, dziraan bi dzirain, hatta idza dakhalu hujra dzabbi la dakhaltumuhu” (benar-benar kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian –Yahudi dan Nasrani– setapak demi setapak, sehasta demi sehasta, hingga ketika mereka masuk lubang kadal gurun pun, kalian akan mengikuti juga). Tersebarnya tarian “Harlem Shake Muslim” atau “Gangnam Style Muslim” dan sejenisnya, adalah bukti kebenaran sabda Nabi Saw tersebut.
Banyak orang salah memaknai kata KREATIVITAS. Menurut mereka, dengan mengambil ruh tampilan orang kafir, lalu dipoles disana-sini, lalu diberi label Islam/Muslim; itu sudah dianggap kreatif. Misalnya, seseorang membeli laptop keluaran Apple, lalu logo resmi laptop itu disingkirkan, kemudian diganti gambar korma, lalu diberi nama “Korma”; hal demikian sudah disebut kreatif.Yang begitu sih bukan kreatif, tetapi: maksain, norak, dan kelihatan tidak punya ide original. Cobalah bikin yang asli, genuine, benar-benar kreatif, tidak nabrak-nabrak konsep tata-nilai Islam. “Jangan jadi bebek!” kata seorang penulis.
Kalau kita membawa syiar adzan, shalat berjamaah, dan seterusnya; mestinya harus bersifat universal, tidak dikotak-kotak oleh identitas partai politik. Adzan adalah untuk semua kalangan Muslim, sebagaimana shalat berjamaah juga untuk semua kalangan Islam. Jangan menyempitkan makna agama ke ruang partai politik yang terbatas dan pragmatis.
Terimakasih, semoga yang sedikit ini bermanfaat dan ikut mencerahkan. Amin Allahumma amin.
[islampos/www.globalmuslim.web.id]

Tulisan Terkait lainnya:




0 comments for Moslem Harlem Shake?

Leave comment

Gamis Murah

Hak Cipta Hanya Milik Allah SWT, Menyadur dan Menyebarkan isi Website ini Sangat di anjurkan | jawara web | seacrh engine | butik muslim | situs islam | islamic wallpaper | situs berita global