Mantan agen CIA menyesali perbuatannya
Memata-matai Muslim Amerika yang turut berperang memerangi pasukan AS di luar negeri, seorang mantan agen CIA menyesali tugasnya yang menyebabkan tumpahnya banyak darah warga sipil.
“Saya malu atas beberapa hal yang terjadi di sana,” kata Jara kepada Los Angeles Times pada Senin (18/3/2013), dilansir Onislam.
“Saya tidak menyakiti orang lagi. Jiwa saya tidak bisa menerimanya,” lanjut Jara.
Mantan gangbanger di timur Bakersfield di California ini memeluk Islam empat tahun sebelum serangan 9/11.
“Dua belas tahun lalu, Fernando saat itu sedang mencari sesuatu untuk diyakini,” kata Daymon Johnson, seorang profesor ilmu sosial dan filsafat, menceritakan pria yang ia anggap sebagai kawannya itu.
“Di kelas studi di Chicano, ia membenci orang Amerika kulit putih. Di kelas filsafat, ia menjadi seorang Atheis dan suka mengutip Nietzche. Di kelas studi keagamaan, ia pindah ke Islam, belajar Al-Quran dalam bahasa Arab dan menumbuhkan janggut panjang ala Arab.”
Setelah serangan 9/11, Jara kembali beralih keyakinan. Dia bekerja untuk menjadi mata-mata di negara-negara Muslim bersama CIA, menggunakan identitas muallafnya sebagai topeng.
Jara mendapatkan pelatihan senjata dan perang yang luas di CIA, ia berusaha terhubung dengan Muslim di California untuk mendapatkan akses ke luar negeri.
Jara yang kala itu mendapatkan gaji sebesar USD 48.000 dari subkontraktor CIA tanpa jejak publik, diperkenalkan kepada tokoh-tokoh Muslim di utara California.
Dia pernah pergi ke Yaman. Di sana ia menyusup ke asosiasi-asosiasi Islam, sekolah dan universitas untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan CIA.
Di Afghanistan, ia menemukan rute yang biasa digunakan oleh para Muhajirin untuk masuk ke medan Jihad, melacak warga Muslim Amerika yang bergabung dalam berjihad melawan pasukan penjajah pimpinan AS di sana.
“Saya memburu orang-orang asing (Muhajirin),” katanya.
Setelah lima tahun bekerja memata-matai umat Islam, jiwa Jara mulai retak, mempertanyakan tentang misinya dan manfaat informasi yang ia kumpulkan.
“Militer akhirnya membom daerah-daerah tertentu di mana di sanalah ada korban sipil,” kata Prof. Johnson. “Itu memicu trauma emosional yang amat dalam pada dirinya.”
Jara kembali ke AS pada musim panas tahun 2006. Saat itu, Jara telah berjuang melawan penyakit psikologisnya, kemudian divonis mengidap PTSD atu post-traumatic stress disorder.
Di sebuah gedung di Chicago, “Saya diinterogasi dan diberi tes poligraf,” katanya.
“Kemudian Saya diperintahkan untuk mengembalikan semua semua peralatan saya. Saya menderita beberapa gangguan saraf. Saya mulai menangis seperti bayi,” ungkapnya.
“Saya tinggal sendiri,” kata Jara, seraya menambahkan bahwa ia tidak mendapatkan bantuan dari pemerintahnya setelah menjalankan tugas yang membuatnya hampir gila dan menjalani hidup baru dengan membawa beban moral.
Tujuh tahun telah berlalu sejak saat itu, tetapi ia masih berjuang melawan sakit psikologisnya, masih sering merasa ketakutan dan kecemasan berlebihan.
Dengan dibantu ayahnya, Jara kini menjalani hidup sebagai petani. Tinggal di perkebunan Rockhill, menanam dan menjual buah dan sayur-sayuran. Di sana, Jara dan para profesor dari Claremont School of Theology juga memimpin konseling harian dan sesi studi Bible
Di sana, Jara berusaha menyembuhkan sakit mentalnya dan menjadi pribadi baru. 
PTSD adalah penyakit yang juga diderita oleh sejumlah besar para tentara AS setelah pulang dari perang melawan kaum Muslimin, seperti di Irak dan Afghanistan. Bahkan tak sedikit dari mereka yang memutuskan mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri. (siraaj/arrahmah/www.globalmuslim.web.id)