Inalillah wa Inna ilaihi rajii'un, Ditolak 4 Rumah Sakit, Siswi SMP Meninggal Dunia

orang-miskin-dilarang-sakit.jpg (220×308)Jakarta – : Kartu Jakarta Sehat (KJS), yang merupakan program unggulan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo, kembali tidak mampu menyelamatkan nyawa warga Jakarta yang menderita sakit. Nyawa Ana Mudrika (14), warga Jalan Inspeksi Kali Cakung Lama, RT 02 RW 10, Sukapura, Cilincing, Jakarta Utara, tak tertolong setelah tak mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak. “Alasannya semuanya penuh tidak ada ruang ICU yang kosong,” ujar Andrian, 24, kerabat korban, Sabtu, 9 Maret 2013.
Padahal, Andrian yang mencarikan ruang buat Ana ini, telah memegang Kartu Jakarta Sehat (KJS), atas nama Ana Mudrika, namun tetap saja gagal meyakinkan pihak rumah sakit untuk merawat kerabatnya itu. Jadi KJS tidak menjadi jaminan, pasalnya Ana sempat ditolak beberapa rumah sakit hingga akhirnya pasien meninggal dunia. “Saya sempat ke RS Koja, dan (RS) Pelabuhan namun keduanya menolaknya karena ruangan penuh,” kata dia.
Berdasarkan informasi, Ana mengeluh sakit Selasa lalu setelah pulang sekolah sekitar pukul 14.00. Saat itu, anak bungsu pasangan Endang Rukmana dan Royati ini mengaku sakit perut yang diikuti muntah-muntah setelah makan baso cilok di sekolahnya. Melihat kondisi anaknya yang kesakitan, Royati, orang tua Ana langsung membawa anaknya ke klinik dekat rumahnya. Namun, karena tak kunjung membaik, Ana akhirnya dilarikan ke RS Firdaus Sukapura untuk menjalani rawat inap.
Selama dua hari menjalani rawat inap di RS Firdaus, dikatakan Royati, anaknya tidak mendapatkan pelayanan kesehatan sebagaimana mestinya. Sebab, anaknya itu hanya diberikan alat infus dan pihak rumah sakit mengaku kekurangan alat medis sehingga perut Ana terlihat membengkak. Dengan kondisi itu, akhirnya pihak keluarga memutuskan untuk membawa pulang Ana.“Saya ingin bawa Ana berobat ke tempat lain. Makanya dibawa pulang, tapi saya malah diminta Rp 2 juta agar Ana bisa keluar,” ujar Royati, Sabtu (9/3/2013).
Setelah membayar Rp 2 juta kepada RS Firdaus, Ana kemudian dibawa berobat ke RS Islam Sukapura pada Kamis (7/3/2013) lalu. Namun, pihak keluarga harus kecewa, pasalnya rumah sakit menolak dengan alasan kamar penuh. Meski begitu pihak rumah sakit sempat merawat Ana di ruang UGD.
RS Islam Sukapura, kemudian menyarankan agar pihak keluarga mencari ruang rawat inap di rumah sakit lain, akhirnya pihak keluarga membawa Ana ke RS Mulyasari. Saat itu sebetulnya tersedia kamar kosong. Hanya saja, pihak rumah sakit mengklaim tidak memiliki kerjasama dengan pemerintah, sehingga tidak menerima pasien KJS.
Mendapati kondisi demikian, pihak keluarga akhirnya membawa Ana ke RSUD Koja. Namun lagi-lagi, jawaban rumah sakit menyatakan jika kamar penuh sehingga Ana tidak bisa dirawat di rumah sakit tersebut. Oleh keluarga, yang sudah setengah putus asa, Ana akhirnya dibawa ke RS Pelabuhan. Namun, lagi-lagi dengan alasan kamar penuh, rumah sakit itu tidak bisa merawat Ana. “Saya bingung, setiap rumah sakit menyatakan kamar penuh. Selama ditolak rumah sakit, kondisi Ana juga terus menurun. Setelah ditolak 4 rumah sakit sebelumnya, akhirnya RS Islam Sukapura memberi kabar jika ada kamar kosong dan akhirnya Ana pun menjalani perawatan di rumah sakit itu,” kata Royati.
Dari hasil rontgen menyatakan jika Ana harus dioperasi pada Jumat (8/3/2013) siang. Namun, karena Ana mengeluarkan darah dari air seninya, pihak RS Islam Sukapura akhirnya menunda proses operasi tersebut dan meminta keluarga Ana untuk mencari ruangan ICU.
Setelah mendapatkan perawatan di ruang ICU RS Islam Sukapura, kondisi Ana semakin menurun. Kondisi perutnya juga semakin tampak membesar. Akhirnya pada Sabtu (9/3/2013) sekitar pukul 09.00, Ana menghembuskan nafas terakhir di ruang ICU RS Islam Sukapura. “Katanya paru-parunya pecah, dia (korban) masih dalam tahap pengobatan selama 6 bulan. Korban memang belum 100 persen pulih. Tadi pas Ana mau keluar dari rumah sakit sempat dimintain uang Rp 500 ribu untuk non medis. Katanya pasien KJS gratis, tapi kok ini bayar. Ya mudah-mudahan pemerintah bisa memperhatikan pelayanan rumah sakit agar pasien KJS lainnya tidak mengalami seperti ini lagi,” kata Titi, tetangga korban yang ikut membantu keluarga Ana dalam mendapatkan pelayanan kesehatan.
Sementara itu, Kepala Sudin Kesehatan Jakarta Utara, Bambang Suheri menuturkan, pihaknya bersama Dinas Kesehatan DKI Jakarta akan menurunkan tim untuk menginvestigasi keempat rumah sakit yang diduga telah menolah pasien KJS tersebut. Terlebih, rumah sakit memang tidak diperkenankan meniolak pasien. “Secara normatif bila ada kematian di rumah sakit, akan diturunkan tim untuk dilihat permasalahannya. Padahal, kemarin sudah dibuka nomor 119 untuk mencari kamar kosong di rumah sakit, tapi kemungkinan keluarga pasien tidak melakukannya,” katanya.
Disatu sisi, ditambahkan Bambang, pihak RS Islam Sukapura juga seharusnya tidak menyuruh keluarga pasien mencari kamar, melainkan pihak rumah sakit sendiri yang mencarikan kamar untuk pasien dengan menghubungi 119 untuk mendapatkan informasi kamar di rumah sakit. “Rumah Sakit Islam Sukapura harusnya seperti itu, karena SOP-nya memang seperti itu. Kami juga akan ke rumah duka untuk menanyakan permasalahan ini,” tandasnya.[KbrNet/beritajakarta/www.globalmuslim.web.id]

Tulisan Terkait lainnya:




0 comments for Inalillah wa Inna ilaihi rajii'un, Ditolak 4 Rumah Sakit, Siswi SMP Meninggal Dunia

Leave comment

Gamis Murah

Hak Cipta Hanya Milik Allah SWT, Menyadur dan Menyebarkan isi Website ini Sangat di anjurkan | jawara web | seacrh engine | butik muslim | situs islam | islamic wallpaper | situs berita global