Karena Eliyas Bukanlah Ibas

Ada Eliyas ada Ibas alias Edi Bhaskoro. Eliyas adalah pedagang sendal keliling, sedangkan Ibas politisi muda bermasa depan cerah, mantu menteri, dan putra presiden. Kata orang perbedaan status tidak ada persoalan di jaman sekarang.Semua punya hak dan kewajiban sama di depan hukum. Tapi seperti kita tahu kalimat itu adalah keindahan untuk membungkus realita bohong.
Karena ketika Eliyas berkeliling mencari rumah sakit yang mau merawat Dera, salah satu putri kembarnya yang baru dilahirkan secara cesar, lalu terkena gangguan pencernaan, tak ada satu rumah sakit yang bersedia merawatnya.Semua beralasan sama: kamar penuh atau peralatan tidak ada!
Eliyas adalah warga negara yang baik. Ia tahu diri. Ia tidak lantas beraksi seperti Denzel Washington dalam film John Q, sebagai seorang ayah depresi yang menyandera satu rumah sakit agar anaknya dirawat untuk menjalani operasi transplantasi hati. Walaupun antara Eliyas dan John Q mengalami nasib yang sama; tidak mendapatkan perawatan untuk anak mereka yang sakit. John Q frustrasi karena asuransi kesehatan yang dipunyainya tidak bisa dipakai untuk perawatan anaknya.
Tapi Eliyas tidak berani mengambil tindakan senekat John Q. Ia memilih pulang sambil menggendong anaknya yang kemudian diketahui sudah tak bernyawa.Eliyas pun terkapar di rumahnya dibarengi isak tangis keluarganya.
Sontak semua pihak yang terkait melakukan pembelaan diri. Menkes Nafsiyah Mboi segera membela korps-nya dengan membenarkan realita bahwa rumah sakit memang sudah penuh. “Jadi, bukan karena dia ditolak di mana-mana, tapi karena kondisinya buruk. Kalau anak berat 1 kg memang survival-nya kecil sekali,” jelas Menkes Nafsiyah Mboi.  
Pihak Kemenkes juga membantah terjadinya diskriminasi terhadap warga miskin seperti Eliyas. “Tidak diterimanya rujukan pasien tersebut disebabkan keterbatasan alat, dalam hal ini fasilitas ruang NICU, bukan karena pasien membawa Kartu Jakarta Sehat (KJS),” kata Kepala Pusat Komunikasi Publik Kemenkes Murti Utami dalam siaran persnya, Senin (18/2). Gubernur DKI Jokowi yang mengeluarkan Kartu Sehat Jakarta juga membenarkan penuhnya kamar perawatan neonatal intensive care unit (NICU) dikarenakan terjadinya lonjakan jumlah anak penderita hingga 70 persen.
Saya tidak menuduh, tapi berandai-andai, seandainya yang mengajukan perawatan anak itu adalah seorang Ibas, yang bapaknya presiden RI, mertuanya adalah menteri, parpolnya adalah parpol berkuasa, dia sendiri anggota DPR RI, akan adakah penolakan tersebut? Akankah pihak rumah sakit mengatakan ‘maaf, Pak, semua kamar penuh!’ Lalu membiarkan Ibas menggendong anaknya sendiri seperti Eliyas?
Mungkin akan ada yang mendukung semua pihak terkait, tapi mohon maaf, saya sudah sulit untuk mempercayainya. Di alam demokrasi yang berkelindan dengan kapitalisme uang dan pamor adalah dewanya. Konsep egalite dan fraternite yang diusung demokrasi adalah kampanye kosong yang hidup di angan-angan para pendukungnya. Bila benar, mengapa ada film seperti John Q atau yang riil semacam Sicko-nya Michael Moore? Saya sinis pada demokrasi sesinis kedua film itu.
Di alam demokrasi-kapitalisme seperti saat ini, hukum yang berlaku adalah satu: trading. Apapun yang bisa dijual oleh pemerintah kepada rakyatnya, maka akan dijual. Termasuk kesehatan bahkan nyawa manusia. Liberalisasi di bidang kesehatan yang sudah dijalankan pemerintah adalah bukti bahwa kesehatan adalah komoditi perdagangan yang menggiurkan. Tiga RS milik Pemprov DKI Jakarta, masing-masing RSUD Pasar Rebo, RSUD Cengkareng, dan RS Haji Pondok Gede, telah diprivatisasi dengan ditandatanganinya Peraturan Daerah Provinsi DKI Jakarta No. 15/2004 oleh Sutiyoso pada 10 Agustus 2004.
Sedangkan pemerintah sendiri begitu pelit membelanjakan kekayaan negeri ini untuk menjamin kesehatan warganya sendiri, yang sebenarnya merekalah para pembayar pajak sejati tanpa pamrih. Bahkan ketika pajak yang mereka bayarkan dikorupsi pun mereka tak berdaya apa-apa.
Pelitnya pemerintah dalam menyehatkan warga bisa dilihat dari kecilnya alokasi dana kesehatan di APBN pada setiap tahunnya, yakni hanya 2 % dari 5% yang diamanatkan undang-undang. Pemerintah lebih senang bemain politik dengan memperbesar anggaran belanja pemerintah dan membayar hutang.Untuk belanja pemerintah pusat terdiri dari belanja pegawai Rp 241,1 triliun, belanja barang Rp 167 triliun, belanja modal sebesar Rp 216,1 triliun, pembayaran bunga utang sebesar Rp 113,2 triliun. Sementara untuk belanja kesehatan hanya sebesar Rp 31 triliun. Apakah ini namanya serius soal kesehatan?
Sudahlah minim ditambah dengan carut marutnya tatakelola anggaran kesehatan. Banyak RSUD yang menolak melayani pasien miskin karena pemda setempat tak kunjung mencairkan piutang mereka. Begitupula para bidan banyak yang mengeluhkan dana jaminan persalinan (jampersal) yang sering molor dan kena potong pula. Akhirnya membuat para bidan setengah hati mengurus persalinan warga miskin.
Bisa jadi rumah sakit yang menolak Eliyas adalah benar. Kamar penuh dan peralatan tidak ada karena memang tidak cukup investasi yang diberikan pemerintah untuk membangun rumah sakit menjadi lebih besar. Padahal kesehatan dan penyakit adalah sesuatu yang sulit ditebak. Bisa seketika pasien membludak.
Maka di alam demokrasi ini, kesehatan masih menjadi barang mewah untuk sebagian saudara-saudara kita. Bagi orang kaya, mereka bukan saja bisa keluar-masuk rumah sakit mewah mana saja, kesehatan mereka pun sudah diasuransikan. No worries.
Jadi tidak udah galau dengan kemalangan yang menimpa Eliyas. Itu akan terus terjadi di alam demokrasi yang mendewakan uang dan pamor. Bila anda mencintai demokrasi maka anda harus menerima kapitalisme. Bila anda seperti demikian maka mulailah membiasakan diri menyaksikan orang-orang miskin mati karena tak mampu membayar biaya perawatan rumah sakit dan tak bisa menebus obat.
Tapi bila Anda tak terbiasa maka sudah saatnya berpikir untuk mengubah sistem ini sistem yang lebih beradab. Sayangnya, tidak ada yang bisa menggantikan demokrasi sebaik syariat Islam. jadi bila Anda ingin terlepas dari kebobrokan sistem sekarang, maka Anda harus bergabung dengan orang-orang yang memperjuangkan syariat Islam di bawah naungan Khilafah. That’s all!
[www.iwanjanuar.com/www.globalmuslim.web.id]

Tulisan Terkait lainnya:




0 comments for Karena Eliyas Bukanlah Ibas

Leave comment

Hak Cipta Hanya Milik Allah SWT, Menyadur dan Menyebarkan isi Website ini Sangat di anjurkan | jawara web | seacrh engine | butik muslim | situs islam | islamic wallpaper | situs berita global