Indonesia Surga Narkoba

Jakarta – : Narkoba, kembali menjadi isu panas dalam beberapa hari terakhir pasca tertangkapnya Raffi Ahmad cs pada Minggu, (27/1/2013). Penangkapan ini bukan hanya menunjukkan bahwa artis menjadi pasar narkoba yang potensial, tetapi juga memperlihatkan betapa bobroknya negeri ini yang telah menjadi surga para pembisnis dan pengguna narkoba.
Yang paling memprihatinkan, ternyata di Ibukota negara RI ini banjir narkoba. Seidaknya, menurut data yang dilansir Badan Narkotika Nasional (BNN), saat ini terdapat sekitar 300.000 pengguna narkoba di Jakarta. Itu berarti sekitar 7 persen warga Jakarta sudah kecanduan narkoba.Yogyakarta sebagai kota pelajar yang menduduki posisi kedua peredaran narkoba di Indonesia, yaitu sekitar 69 ribu orang, setelah DKI Jakarta, Bali dan Kalimantan Tengah.
Deputi Bidang Rehabilitasi Badan Narkotika Nasional, Kusman Suriakusumah, mengakui bahwa penggunaan narkoba memang kian marak di Jakarta. “Jakarta sedang banjir pecandu narkoba. Peristiwa penggerebekan di rumah Raffi menjadi buktinya,” kata Kusman dalam konferensi pers di kantor Badan Narkotika Nasional di Jakarta, pekan lalu.
Data dari Badan Narkotika Nasional (BNN), hingga akhir 2012, tercatat ada 3,8 juta sampai dengan 4,2 juta jiwa pengguna dan pecandu narkoba di Indonesia.Jumlah tadi, bukan tidak mungkin membuat putus satu generasi, lantaran ada saja pengguna baru setelah yang lama tewas atau sakit parah, apalagi tidak mendapat perhatian serius dari semua pihak. “Bandar selalu cari mangsa baru. Iming-imingnya, ya kesenangan yang ditawarkan,” kata Kepala Humas BNN Sumirat Dwiyanto.
Dalam satu hari pengguna di negeri ini merogoh kocek minimal Rp 300 ribu untuk konsumsi jenis sabu-sabu, ekstasi, heroin, dan kokain. Ini berarti, dalam setahun uang yang dibelanjakan seorang pemadat mencapai Rp 108 juta. Itu baru satu orang. Tapi jika penggunanya mencapai angka sekitar 3,8 juta sampai dengan 4,2 juta jiwa, Rp 51 triliiun telah dibelanjakan sia-sia dan masuk kantong produsen dari berbagai negara. Yang pasti, sindikat yang melaksanakan peredaran di Indonesia, itu ada sindikat Amerika, India, Iran, Inggris dan sekarang ini yang cukup banyak memasok dan tertangkap Polri atau BNN adalah sindikat asal Malaysia.
Belum lagi, kasus penyalahgunaan narkotika di provinsi Kalimantan Tengah, sungguh luar biasa. Puluhan ribu warga Kalteng sudah terlibat sebagai pengguna narkoba. Bahkan sedikitnya 15 ribu warga sudah dicap sebagai pencandu narkotika. Tak salah jika ketua umum Front Pembela Islam (FPI), Habib Muhammad Rizieq syihab pernah menuding Yansen Binti sebagai kepala gembong narkoba terbesar di Kalimantan Tengah yang tak tersentuh hukum.Karena kemungkinan memang benar ada tokoh-tokoh kuat yang menjadi pembeking pengedar narkoba kelas kakap, sehingga peredaran narkoba sulit dikendalikan. Konon, Yansen Binti adalah salah seorang kerabat Gubernur Kalteng, Teras Narang. Bayangkan saja, penyalahgunaan narkotika di provinsi Kalimantan Tengah, pada 2011 tercatat sebanyak 34.543 orang menyalahgunakan narkotika. Sebanyak 15 ribu di antaranya sudah menjadi pemakai teratur.
Janji SBY dan Grasi
Tekad perang melawan narkoba terus dikobarkan oleh para pemangku kepentingan di negeri ini. Namun, peredaran narkoba tidak juga kunjung surut. Bahkan, temuan demi temuan modus baru peredaran narkoba hadir seolah tidak ada yang membendung. Penjara yang mestinya memberikan efek jera, malah menjadi tempat nyaman bagi transaksi zat perusak dan pembunuh itu.
Bagaimana dengan janji Presiden Susilo Bambang Yudhoyo melawan NARKOBA?? Ternyata BOHONG!. Hingga Orang bilang, Indonesia adalah surga dunia. Sialnya, Indonesia juga menjadi surga bagi gembong narkoba. Jika di negara lain para bandar narkoba dihukum gantung, maka di negeri ini, perusak generasi muda bangsa itu malah diampuni.
Simak saja yang terjadi pada Deni Setia Maharwan alias Rapi Mohammed Majid.Gembong narkoba jaringan internasional yang tertangkap dan dijatuhi hukuman mati itu, akhirnya diampuni oleh presiden. Deni dibekuk saat berangkat dengan pesawat Cathay Pacific lewat Bandara Soekarno-Hatta, bersama dua rekan sindikatnya. Kasus Deni diputus oleh Pengadilan Negeri Tangerang tahun 2000. Saat itu PN Tangerang menjatuhkan vonis mati bagi Deni. Vonis itu bahkan dikuatkan hingga putusan kasasi MA yang dijatuhkan pada 18 April 2001. Tetapi vonis itu dimentahkan oleh presiden lewat kewewenangan memberikan grasi.
Grasi untuk Deni dikeluarkan melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 7/G/2012 yang mengubah hukuman Deni dari hukuman mati menjadi hukuman seumur hidup. Keputusan itu ditandatangani pada 25 Januari 2012.
Tidak hanya Deni, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) juga memberikan grasi kepada gembong narkoba Merika Pranola alias Ola alias Tania. Grasi Ola, yang masih satu kelompok dengan Deni, tertuang dalam Keppres Nomor 35/G/20122 yang ditandatangani 26 September 2011.
Padahal, sebelum Keppres dikeluarkan, Mahkamah Agung telah menyarankan kepada Presiden SBY untuk menolak permohonan grasi dua gembong narkoba itu. Namun, SBY tak bergeming. Ia tetap memutuskan untuk mengabulkan permohonan grasi mereka. Mahkamah telah mempertimbangkan permohonan dari kedua terpidana mati itu, dan berpendapat bahwa permohonan tidak terdapat cukup alasan untuk dikabulkan dan ditolak.
Bukan kali ini saja presiden mengampuni para gembong narkoba. Terhitung dalam dua tahun terakhir, SBY telah memberikan grasi kepada empat narapidana kasus narkoba. Selain kepada Ola dan Deni, presiden juga pernah memberikan grasi kepada Schapelle Leigh Corby dan Peter Achim Franz Grobmann (53 tahun). Peter merupakan terpidana 5 tahun penjara atas kepemilikan ganja seberat 4,9 gram bruto atau 2,2 gram neto. Keputusan grasi yang diberikan kepada pria berkepala plontos dan bertato itu diambil pada 15 Mei 2012 di Jakarta.
Grasi kepada terpidana Peter Achim berupa pengurangan jumlah pidana selama 2 tahun. Sehingga hukuman pidana penjara yang dijatuhkan kepada terpidana dari pidana penjara selama 5 tahun menjadi pidana penjara selama 3 tahun.Atas pemberian grasi tersebut, Peter yang sudah menjalankan masa hukuman lebih dari satu tahun itu tak lama lagi bakal menghirup udara bebas.
Begitu juga Corby memperoleh remisi sebanyak 25 bulan. Dengan perhitungan sudah ditahan sejak Oktober 2004, plus pengurangan 25 bulan dari remisi dan 5 tahun dari grasi, Corby akan selesai menjalani masa tahanan pada September 2017. Ia berhak mengajukan pembebasan bersyarat jika sudah menjalani 2/3 masa hukuman, sehingga diperkirakan dia bisa bebas pada Mei 2013.
Corby adalah warga Australia yang mendapat grasi melalui Keppres Nomor 22/G Tahun 2012 yang diterbitkan 15 Mei 2012. Sedangkan Grobmann adalah terpidana kasus narkoba asal Jerman, yang dihadiahi grasi dalam Keputusan Presiden (keppres) bernomor 23/G Tahun 2012.
Perlu diketahui, grasi kepada Ola dan Deni terungkap melalui Mahkamah Agung.Begitu pun pemberian grasi kepada Corby, awal terungkap bukan melalui istana namun melalui media massa Australia.
Pemberian tiga garasi kepada empat gembong narkoba yang terkait jaringan internasional itu juga bertentangan dengan ucapan presiden SBY sendiri pada 2005 dan 2006. Ketika itu SBY menegaskan bahwa pemerintah tidak akan mengampuni narapidana kasus narkoba.
Istana Negara, 29 Juni 2005: Presiden SBY menyatakan, grasi untuk jenis kejahatan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotik tidak akan pernah dikabulkan, termasuk bagi Corby. “…GRASI UNTUK JENIS KEJAHATAN PENYALAHGUNAAN DAN PEREDARAN GELAP NARKOTIK TIDAK AKAN PERNAH DIKABULKAN, TERMASUK BAGI CORBY. “INI MENUNJUKKAN KITA TIDAK PERNAH MEMBERI TOLERANSI KEPADA JENIS KEJAHATAN INI,” tegas Yudhoyono saat itu.
Pemberian grasi kepada Corby bertentangan dengan kebijakan pengetatan pemberian remisi pada napi dengan kejahatan luar biasa, seperti korupsi, narkotik, dan terorisme. Bahkan dipertegas lagi oleh Presiden SBY pada tahun 2006:
“SAUDARA KETUA MAHKAMAH AGUNG, SAYA SENDIRI, TENTU MEMILIH UNTUK KESELAMATAN BANGSA DAN NEGARA KITA, MEMILIH KESELAMATAN GENERASI KITA, GENERASI MUDA KITA DIBANDINGKAN MEMBERIKAN GRASI KEPADA MEREKA YANG MENGHANCURKAN MASA DEPAN BANGSA,” tegas Presiden saat memberikan sambutan dalam peringatan Hari Anti-Narkoba Internasional yang diselenggarakan di Istana Negara, Jakarta, pada 30 Juni 2006 silam.
Ketika itu SBY menegaskan, pemerintah tidak akan memberi toleransi kepada para pembuat dan pengedar narkoba. “PEMERINTAH TELAH DAN AKAN TERUS MELAKUKAN PENEGAKKAN HUKUM TANPA PANDANG BULU. PARA PELAKU KEJAHATAN NARKOBA DENGAN SEGALA BENTUK DAN MODUS OPERANDINYA AKAN TERUS KITA LAWAN DENGAN SEKUAT TENAGA,” katanya.
Namun, ternyata presiden SBY bak MENJILAT LUDAH SENDIRI. Ia malah memberikan grasi kepada empat narapidana kasus narkoba dengan alasan kemanusiaan. Tak pelak, kebijakan tersebut menuai kontroversi. Apapun, grasi sudah diberikan atas wewenang presiden. Ini berarti mencederai rasa keadilan dan membiarkan para perusak generasi muda di negeri ini tetap hidup. Kasus narkoba adalah satu dari tiga hal yang dianggap sebagai musuh besar negara, karena bisa menghancurkan sendi-sendi ketahanan dan pertahanan. Termasuk menghancurkan generasi sebagai penerus perjuangan.
Entah apa yang salah di negeri ini, dengan begitu gencarnya penolakan masyarakat dan besarnya usaha Badan Narkotika Nasional memberantas peredaran narkoba, jumlah pemakai baik peredaran barang haram tersebut bukan berkurang, malah meningkat tiap tahunnya. Apakah pemerintah tidak bisa membuat peraturan yang lebih ‘MENGERIKAN’ bagi pebisnis narkoba dan lingkarannya, baik gembong, pengedar, pembeking dan segala pihak yang berada dalam lingkaran bisnis ini. Peraturan yang ada serta hukuman yang diganjar bagi pebisnis narkoba di negara kita seperti peraturan palsu, yang dibuat asal-asalan dari pada tidak ada peraturan.
Coba bandingkan dengan ketegasan hukum yang dibuat negara lain, sebagai bukti keseriusan pemerintahnya memberantas narkoba. Contohnya di Iran. Negara ini tidak segan-segan menggantung pengedar narkoba sehingga mungkin pebisnis barang haram agak segan untuk memperluas jaringan mereka di Iran. Hukuman sekeras ini saja tidak bisa menjamin Iran bisa bebas narkoba, apalagi dengan lemahnya hukum di negara kita? Bagaimana mungkin bisa diberantas? Bandar narkoba sekelas Corby saja mendapat GRASI? Sungguh ajaib… Bagaimana bisa narkoba dibasmi di Indonesia bila masih ada pejabat negaranya justru mengeruk keuntungan dari bisnis yang keuntungannya selangit ini?.. [KbrNet/Slm/www.globalmuslim.web.id]

Tulisan Terkait lainnya:




0 comments for Indonesia Surga Narkoba

Leave comment

Gamis Murah

Hak Cipta Hanya Milik Allah SWT, Menyadur dan Menyebarkan isi Website ini Sangat di anjurkan | jawara web | seacrh engine | butik muslim | situs islam | islamic wallpaper | situs berita global