Dua Tahun Pasca-Revolusi Mesir, Perempuan Mesir Masih dalam Keterpurukan Seperti pada Era Mubarak

Anggota-wanita-parlemen-mesir-83x57.jpg (83×57)Dua tahun telah berlalu sejak Revolusi Mesir, peristiwa sejarah ini belum juga mengantarkan harapan dan aspirasi ribuan perempuan yang memainkan peran penting untuk menggulingkan Mubarak dan rezimnya. Para perempuan Mesir saat ini terus hidup di bawah bayang-bayang kediktatoran militer yang telah secara brutal menyerang demonstran perempuan dan melecehkan kehormatan mereka dengan impunitas. Mereka menghadapi situasi ekonomi yang memburuk, kerawanan pangan, kebutuhan pokok yang tidak terjangkau, dan dengan pedih menyaksikan anak-anak mereka menderita gizi buruk pada tingkat yang menyedihkan akibat penderitaan kemiskinan. Di samping itu, kejahatan besar terhadap martabat perempuan juga merajalela. Mimpi-mimpi perempuan Mesir telah berubah menjadi keputus asaan. Harapan dan pengorbanan mereka dikhianati oleh sistem dan kepemimpinan sekuler yang telah menggantikan Mubarak.
Meskipun demikian, sebagian dari mereka telah berjuang untuk masa depan yang lebih cerah bagi perempuan Mesir, salah satunya adalah seruan akan konstitusi sekuler di mana mereka menginginkan ide kesetaraan gender dimuat dalam perundang-uandangan, serta berjuang untuk RUU pemilu yang menjamin kuota yang lebih tinggi bagi perempuan di parlemen yang baru. Ini adalah perjuangan yang salah arah dan mengkhianati besarnya pengorbanan para perempuan Mesir. Di bawah sistem sekulerlah manusia membuat hukum, sehingga perempuan tidak terjamin hidupnya karena hak-hak mereka dapat dihapus dalam sekejap mata sesuai dengan keinginan dari orang-orang yang berkuasa sebagaimana terbukti atas larangan hijab dan niqab di negara-negara sekuler Barat. Hal ini berbeda 180o dengan konstitusi Islam di mana hak-hak seluruh penduduk –laki-laki dan perempuan— adalah tetap karena undang-undang berasal dari Allah Swt dan perintah-perintah-Nya bukan dari pemikiran manusia. Tidak diperbolehkan untuk setiap laki-laki atau perempuan untuk mengubahnya. Sementara itu, konsep Barat tentang kesetaraan gender yang telah disajikan selama bertahun-tahun sebagai formula ajaib untuk meningkatkan status perempuan dalam kenyataannya adalah candu bagi perjuangan hak-hak perempuan. Konsep ini telah menciptakan halusinasi penghargaan, kejujuran, dan keadilan bagi perempuan tetapi dalam kenyataannya tidak pernah benar-benar mewujudkannya. Penghargaan macam apa yang telah diberikan oleh banyak undang-undang kesetaraan gender yang termaktub dalam hukum di negara-negara sekuler Barat atas perempuan-perempuan mereka yang mengalami kekerasan dan penyerangan seksual yang merajalela di masyarakat mereka karena nilai-nilai liberal mereka? Lebih jauh lagi, kesetaraan gender yang berupaya menyamakan hak dan kewajiban yang sama antara laki-laki dan perempuan telah membebani perempuan secara tidak adil atas tanggung jawab laki-laki untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri juga keluarga mereka. Melucuti  hak istimewa mereka untuk selalu dijamin nafkahnya oleh walinya. Selain itu, berjuang untuk kursi-kursi simbolis dalam parlemen yang ompong dan tidak berdaya yang dapat diberhentikan semudah membalikkan telapak tangan oleh SCAF, tidak akan mencapai apa-apa bagi perempuan Mesir. Kuota tinggi untuk perempuan di parlemen tidak mewujudkan standar hidup yang lebih baik bagi perempuan umumnya melainkan hanya menguntungkan perempuan kelas elit. Di bawah rezim Mubarak, ada kuota 20% bagi perempuan di parlemen. Bahkan Bangladesh, Pakistan, Sudan, Tunisia, dan Aljazair memiliki kuota yang lebih tinggi. Namun, kalaupun kuota tersebut mencapai 100% tidak akan ada bedanya bagi para perempuan di bawah sistem kapitalis korup yang menindas dan inkompeten ini. Kuncinya bukanlah pada peningkatan jumlah kursi di parlemen yang dimiliki perempuan sementara sistem yang diterapkan adalah sistem buatan manusia yang sekuler dan korup yang menindas baik laki-laki maupun perempuan.
Wahai saudari-saudariku tercinta di Mesir! Revolusi Anda tidak mencapai tujuan sejati Anda. Tujuan sejati ini hanya akan dicapai dengan konstitusi Islam yang murni yang diterapkan oleh Negara Khilafah. Satu-satunya sistem pemerintahan yang benar-benar dapat memberikan harapan dan aspirasi untuk hidup bermartabat, aman, dan bangkit. Jangan terima sistem buatan manusia yang mencampur adukkan kehidupan dengan kebingungan dan kekacauan. Menggunakan trial and error untuk mengatur urusan manusia. Padahal, Allah Swt telah menetapkan blueprint hukum yang sempurna dan komprehensif untuk menyelesaikan semua masalah Anda, menjamin pemenuhan hak-hak Anda, dan meningkatkan status Anda. Kami mengajak Anda untuk mendukung visi Hizbut Tahrir untuk Khilafah yang berlandaskan pada Islam semata dan yang dirinci dalam buku-buku kami dan Draft Konstitusi untuk negara ini yang siap untuk diterapkan saat ini dan memberikan solusi komprehensif dan kredibel untuk mengatasi banyaknya masalah yang dihadapi oleh para perempuan di Mesir dan di seluruh dunia Muslim saat ini untuk mewujudkan impian mereka akan kehidupan yang lebih baik menjadi kenyataan.
                                              ((ألا يعلم من خلق وهو اللطيف الخبير)) [الملك: 14]                      
 Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan); dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui? [Al Mulk:14]
Dr. Nazreen Nawaz
Kantor Media Pusat
Hizbut Tahrir
[www.globalmuslim.web.id]

Tulisan Terkait lainnya:




0 comments for Dua Tahun Pasca-Revolusi Mesir, Perempuan Mesir Masih dalam Keterpurukan Seperti pada Era Mubarak

Leave comment

Gamis Murah

Hak Cipta Hanya Milik Allah SWT, Menyadur dan Menyebarkan isi Website ini Sangat di anjurkan | jawara web | seacrh engine | butik muslim | situs islam | islamic wallpaper | situs berita global