Tafsir QS al-A’raf [7]: 26 ," Kenakan Pakaian Takwa"


Oleh: Rokhmat S. Labib, M.E.I.

Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat (TQS al-A’raf [7]: 26).


Kehidupan manusia tidak bisa dilepaskan dari pakaian. Sebagaimana makan dan minum, pakaian merupakan kebutuhan pokok manusia.Hanya saja, tidak sedikit manusia yang tidak menyadari tentang fungsi sebenarnya pakaian.Akibatnya, pakaian yang mereka kenakan tidak memenuhi fungsi tersebut. Islam memiliki pandangan khusus tentang pakaian. Ayat ini adalah di antara yang menjelaskan tentang fungsi pakaian. Dijelaskan pula tentang pakaian terbaik bagi manusia.

Fungsi Pakaian

Allah Swt berfirman: Yâ Banî Âdam qad anzalnâa ‘alaykum libâs[an] (hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian). Ayat ini terdapat dalam rangkaian ayat yang menceritakan kisah Adam mulai diciptakan hingga diturunkan di bumi. Dikisahkan pula bahwa diturunkannya Adam beserta istrinya itu tidak lepas dari peran Iblis yang berhasil menggodanya.Kemudian ditegaskan, bumi menjadi tempat kediaman dan kesenangan bagi manusia hingga waktu yang ditetapkan. Di bumi itu pula, manusia hidup, mati, dan dibangkitkan (lihat ayat 24-25).
Setelah itu, dalam ayat ini diberitakan bahwa Allah SWT telah memberikan pakaian bagi manusia. Sebuah perangkat amat penting bagi manusia hidup di dunia, baik untuk keperluan agama maupun keperluan dunia.
Disebutkan: Yâ Banî Adam (hai anak Adam). Yang dimaksudkan adalah seluruh manusia. Kepada mereka ditegaskan: anzalnâa ‘alaykum libâs[an] (sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian). Pengertian anzalnâ (Kami turunkan) di sini adalah khalaqnâ lakum (Kami ciptakan untuk kamu).Demikian dikatakan al-Syaukani. Bisa pula yang dimaksudkan adalah hujan.Dengan diturunkannya hujan, maka berbagai tumbuhan bisa tumbuh. Termasuk tumbuhan yang menjadi bahan untuk pakaian bagi manusia.
Ibnu Jarir mengutip dari Mujahid yang mengatakan bahwa ayat ini berkaitan dengan orang-orang Arab melakukan thawaf di Baitullah dalam keadaan telanjang, dan tidak ada seorang pun yang mengenakan baju ketika thawaf.Maka ayat ini mengingatkan kepada mereka akan besarnya nikmat Allah dan kekuasaan-Nya atas mereka agar mereka ingat, lalu beriman, berislam, serta meninggalkan syirik dan kemaksiatan. Di antara nikmat-Nya adalah diturunkannya pakaian bagi mereka.
Kemudian dijelaskan tentang kegunaan pakaian: yuwârî sawtikum wa rîsy[an] (untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan). Menurut ayat ini, ada dua kegunaan pakaian bagi manusia. Pertama, yuwârî saw`âtikum, untuk menutupi auratmu. Kata saw`âta merupakan bentuk jamak dari kata saw`ah. Pengertian al-saw`ah adalah al-‘awarah (aurat). Menurut al-Syaukani, ini merupakan perkataan para ulama salaf. Disebutnya al-‘awrah  dengan al-saw`ah karena membuat pelakunya menjadi buruk ketika terbuka. Sehingga, sebagaimana dijelaskan para  mufassir, seperti Ibnu Jarir al-Thabari, al-Baghawi dan lain-lain, pengertian ayat ini adalah: yastaru ‘awrâtikum (menutupi auratmu).
Dikatakan pula oleh Imam al-Qurthubi, sebagian besar ulama berpendapat bahwa ayat ini menjadi dalil atas wajibnya menutup aurat. Memang ada yang mengatakan, ayat ini hanya menunjukkan pemberian nikmat. Namun, menurut al-Qurthubi, pendapat yang pertama lebih shahih. Alasannya, termasuk dalam cakupan pemberian nikmat adalah menutup aurat. Maka Allah SWT menerangkan telah menjadikan bagi anak cucu Adam menutupi aurat mereka dan menunjukkan perintah untuk menutup aurat. Di samping itu juga tidak ada perbedaan di kalangan ulama mengenai wajibnya menutup aurat dari pandangan manusia.
Kedua, sebagai rîsy[an]. Artinya, zînah (perhiasan). Diambil dari kata rîsy al-thayr (bulu burung). Sebab, bulu itu merupakan perhiasan bagi burung. Demikian penjelasan Sihabuddin al-Alusi. Ibnu Zaid juga menafsirkannya sebagai al-jamâl (keindahan). Ibnu Katsir memaknai al-rîsy sebagai sesuatu yang membuat sesuatu terlihat bagus.
Dijelaskan oleh al-Zamakhsyari, perhiasan merupakan tujuan yang dibenarkan, sebagaimana firman Allah SWT dalam QS al-Nahl [16]: 8 dan QS al-Nahl [16]: 6. Namun ini merupakan fungsi pelengkap sebagaimana dikatakan Ibnu Katsir.Menurut mufassir tersebut, menutup aurat merupakan perkara al-dharûriyyât (keharusan). Sedangkan kegunanaan sebagai perhiasan ini merupakan al-takmilât wa al-ziyâdât (pelengkap dan tambahan).
Bertolak dari penjelasan tersebut, pakaian yang dikenakan manusia dikategorikan belum memenuhi kriteria sebagai pakaian yang benar manakala belum menutup aurat. Maka orang yang mengenakan pakaian seperti itu masih terkategori telanjang. Rasulullah SAW menyebut mereka sebagai kâsiyât[un] ‘âriyat[un] (wanita berpakaian tapi telanjang). Wanita yang demikian, ditambah lagi dengan sikapnya yang cenderung maksiat dan mengajak maksiat diancam tidak mencium bau surga.

Pakaian Takwa
Kemudian Allah SWT berfirman: Wa libâs al-taqwâ dzâlika khayr (Dan pakaian takwa itulah yang paling baik). Menurut al-Qurthubi, ayat ini menerangkan bahwa takwa adalah sebaik-baik pakaian. Ada beberapa penafsiran. Setidaknya dapat dikelompokkan menjadi dua.
Pertama, libâs (pakaian) dalam pengertian hakiki. Sehingga yang dimaksud dengan libâs al-taqwâ adalah pakaian sebagaimana diterangkan dalam kalimat sebelumnya. Sehingga yang dimaksud pakaian takwa adalah pakaian yang diturunkan Allah SWT dan berguna sebagai penutup aurat dan perhiasan.
Kedua, libâs (pakaian) dalam pengertian majâzi (kiasan). Menurut Ibnu ‘Abbas, libâs al-taqwâ adalah amal shalih. Qatadah dan al-Sudi menafsirkannya sebagai iman. Al-Hasan berpendapat bahwa yang dimaksud adalah al-hayâ` (malu).Sebab itu mendorong kepada ketakwaan. Urwah bin Zubair memaknainya sebagai sikap takut kepada Allah.
Dikemukakan al-Zamakhsyari dan al-Syaukani, pakaian takwa adalah pakaian wara’ dan menjauhi kemaksiatan. Ditegaskan al-Syaukani, jiwa yang wara’ dan takut kepada Allah itu merupakan pakaian yang paling baik dan indah.Pengertian ini meliputi seluruh keadaan dan perbuatan yang tercakup dalam ketakwaan dan semua penafsiran yang disebutkan para ulama tersebut.
Ayat ini diakhiri dengan firman-Nya: Dzâlika min âyâtil-lâh la’allahum yadzdzakkarûn (yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat). Kata dzâlika merupakan ism al-isyârah (kata penunjuk). Obyek yang ditunjuk adalah diturunkannya semua pakaian yang disebutkan sebelumnya termasuk min ayâtil-Lâh. Yakni, yang menunjukkan atas besarnya fadhilah-Nya dan kesempurnaan rahmat-Nya. Demikian al-Alusi dalam tafsirnya.
Kemudian disebutkan bahwa semua tanda-tanda kebesaran Allah SWT agar mereka ingat: la’allahum yadzdzakkarûn. Yakni, mereka mengetahui nikmat-nikmat-Nya. Atau, mereka bisa menerima nasihat, lalu menjauhi perbuatan tercela.
Demikianlah. Pakaian merupakan salah satu kenikmatan dari Allah kepada manusia yang wajib disyukuri. Cara penting untuk mensyukurinya adalah dengan menggunakan pakaian sesuai fungsinya yang ditetapkan-Nya: menutup aurat dan menjadi perhiasan. Dan tidak kalah pentingnya, dengan menerima menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Yakni, menerapkan seluruh syariah-Nya tanpa terkecuali. Maka mereka yang tidak mau menutup auratnya dengan pakaian dan enggan dengan syariah-Nya, berarti tidak termasuk hamba yang bersyukur kepada-Nya. Wal-Lâh a’lam bi al-shawâb.

Ikhtisar:
1.    Pakaian merupakan nikmat Allah SWT atas manusia yang wajib disyukuri
2.    Fungsi pakaian ada dua, yakni: (1) untuk menutup aurat, merupakan fungsi utama dan pokok; (2) menjadi perhiasan, merupakan fungsi tambahan dan pelengkap.
3.    Pakaian takwa adalah sebaik-baik pakaian

[www.globalmuslim.web.id]

Tulisan Terkait lainnya:




0 comments for Tafsir QS al-A’raf [7]: 26 ," Kenakan Pakaian Takwa"

Leave comment

Gamis Murah

Hak Cipta Hanya Milik Allah SWT, Menyadur dan Menyebarkan isi Website ini Sangat di anjurkan | jawara web | seacrh engine | butik muslim | situs islam | islamic wallpaper | situs berita global