PB HMI Bawa Kasus Gereja Yasmin Ke Vatikan


http://a3.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc7/312064_10150303187285658_175817530657_8467024_1968163400_n.jpg
Oleh : Fatih Mujahid


Kalau orang kafir mengadu kepada pimpinannya, itu wajar. Tapi ini, sebuah organisasi Islam yang tidak terkait sama sekali dengan urusan gereja malah mengadukan masalah pendirian gereja ke Vatikan.

Inilah yang dilakukan Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI). Sabtu (10/9), mereka memberikan dokumen kasus Gereja Kristen Indonesia (GKI) Yasmin, Kota Bogor kepada Presiden Dewan kepausan untuk dialog antaragama, Kardinal Jean-Louis Tauran di Vatikan. Kasus itu disampaikan kepada Touran, untuk menunjukkan bahwa ketegangan yang mengatasnamakan agama sebenarnya diwarnai motif politik (Kompas.com).

Tidak cukup melalui surat, pengaduan itu diantar langsung oleh beberapa pengurus PB HMI ke Vatikan. Di antaranya Ketua Umum Noer Fajrieansyah, Sekretaris Jenderal Basri Dodo, Ketua Bidang Hubungan Internasional Muhammad Makmoen Abdullah, serta Wakil Sekjen Bidang Hubungan Internasional Muhammad Chairul Basyar.

Dalam audiensinya itu Basri Dodo selaku Sekjen PB HMI menyebutkan bahwa Pancasila telah mendorong Indonesia hidup rukun dan damai. Akan tetapi, jelasnya, selama ini dalam rentetan beberapa waktu belakang, timbul ketegangan atau konflik yang mengatasnamakan agama. Ia yakin motif utama di belakang semua ketegangan itu adalah kepentingan politik.

BuatApa?

Kepada Media Umat Noer Fajrieansyah Jumat (16/9) berdalih, kunjungan mereka ke Vatikan merupakan bagian dari serangkaian kunjungan ke beberapa negara di antaranya Malaysia, Singapura, Amerika, dan juga Vatikan. "Ini memang rangkaian kunjungan kami, di beberapa negara dan Insya Allah juga akan berangkat ke Iran”

Ia menjelaskan, ada aspek positif negatifnya dari kunjungan ini. Ia beralasan Rasulullah tidak pernah mengajarkan permusuhan, Islam agama perdamaian, Islam menerima perbedaan, dan Islam mengajarkan bahwa damai itu indah. "Kunjungan HMI ini murni bicara dakwah” katanya.

Harapannya dari kunjungan itu, lanjutnya, mereka tidak menggambarkan Islam itu kaku dan eksklusif. Ia mengaku bangga bisa datang ke Vatikan dan berdialog tentang hubungan Islam-Kristen. "Murni dakwah Mas, kita berdialog bahwa Islam menerima perbedaan” tuturnya.

Ia menambahkan bahwa keberangkatan PB HMI ke Vatikan dikarenakan cepatnya respon dari Vatikan. "Kenapa kita memilih Vatikan karena yang merespon cepat mereka. Kita berdiskusi tentang Indonesia, Islam, Pancasila dan kebhinekaan,"katanya.

Lalu mengapa kok ya ikut-ikutan mengadukan kasus Gereja Yasmin, Noer Fajrieansyah berdalih, itu berbarengan dengan adanya beberapa sastrawan yang melaporkan hal itu ke Vatikan, makanya mereka berdialog juga soal hal itu.

"Oh itu karena barengan aja, itu karena kebetulan. Ada beberapa sastrawan yang melaporkan hal itu bersamaan dengan kedatangan PB HMI ke Vatikan. Tidak ada masalah kalau kita duduk dan berdialog. Vatikan itu Katolik sedangkan Gereja Yasmin itu Protestan, kan beda. Bahwa pesan yang kami bawa di sana adalah Indonesia negara pluralist” jelasnya.

Menanggapi tentang Gereja Yasmin sendiri, ia pun mengatakan, "Kalau tanggapan kami terhadap Gereja Yasmin itu konstitusional. Kita tidak terlalu jauhlah masuk ke situ karena itu bukan ranah kita. Kita punya misi global yang sangat besar. Memang Gereja Yasmin itu satu variabel juga. Kita menyampaikan juga bahwa hal-hal yang sifatnya konstitusional dan teknis itu kita bisa lihat dalam ranah yang sangat positif," tambahnya.

Namun, sayang PB HMI tidak klarifikasi pemberitaan yang muncul di media massa, sehingga terkesan terjadi pembiaran terhadap informasi itu. Hal ini membuat banyak pihak mempertanyakan sikap HMI. Apakah PB HMI lupa banyak kasus pemurtadan terhadap muslim, pendirian gereja tanpa izin dan pelarangan pendirian masjid di beberapa daerah, seperti di Papua, pernahkah mereka meng¬gugat Vatikan? Dan apakah mereka tidak tahu bahwa GKI membangun gereja Yasmin dengan cara penipuan?

Berbeda dengan HMI, HMI MPO menegaskan, umat Islam menjunjung tinggi hak dan kebebasan beragama dan beribadah. Menurut ketua HMI MPO Alto Makmuralto, sebagai warga negara yang baik, jangan mendiri-kan rumah ibadah jika tak memenuhi syarat agar tidak terjadi konflik. Karena beribadah itu mencari kedamaian dan kerukunan, bukan kerusuhan.

Terkait konflik gereja GKI Yasmin yang selalu diprotes umat Islam karena prosedurnya melanggar aturan, Alto mengimbau agar gereja ini tak didirikan karena akan membuat konflik. "Kalau dua hal legalitas dan persetujuan warga tidak dipenuhi, maka sebaiknya rumah ibadah tidak usah didirikan, karena hanya akan memicu konflik”, ujarnya.


KASUS GEREJA YASMIN

Apa yang terjadi di Bogor tekait, kasus gereja GKI Yasmin bukan lantaran adanya pelarangan untuk beribadah atau membangun rumah ibadah. Namun, kasus ini bergulir sejak awal akan didirikannya gereja ini. Pihak gereja melakukan kebohongan dalam proses pembangunan GKI, di antaranya memalsukan surat dan tanda tangan masyarakat setempat untuk persyaratan keluarnya Izin Mendirikan Bangunan (IMB).

Pemalsuan tanda tangan warga, terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah di Pengadilan Negeri Bogor sebagaimana telah diputuskan oleh hakim. Terdakwa Munir Karta diputus bersalah karena memalsukan surat dan tandatangan masyarakat setempat.

Setelah gereja Yasmin disegel dan dicabut IMB-nya oleh Pemkot Bogor, jemaat gereja berulangkali melakukan pelanggaran, seperti merusak segel dan mengadakan kebaktian-kebaktian di trotoar jalan.

Arogansi dan tidak patuh inilah kadang memicu konflik antar warga dan jemaat gereja Yasmin. Kekesalan warga ini, disebabkan aktifitas ibadah mereka mengganggu aktifitas warga lainnya. Dan kadang hal ini berakhir ricuh.

Warga Muslim Curuk Mekar khususnya dan Bogor umumnya tidak pernah melarang jemaat gereja Yasmin untuk beribadah dan tidak pernah melarang pendirian rumah ibadah jika syarat-syaratnya dipenuhi secara sah dan tidak melakukan penipuan.

Jemaat gereja Yasmin melanggar aturan yang ditetapkan oleh Pemkot Bogor di antaranya No. 8/Thn 2006 tentang ketertiban umum Pasal 6 (k): "Setiap orang atau badan, dilarang mempergunakan jalan, trotoar, jalur hijau, dan taman selain untuk peruntukannya tanpa mendapat izin Walikota.

Sebenarnya pihak Pemkot Bogor telah menyediakan lahan bagi penggantian lokasi pembangunan gereja tersebut. Namun mereka menolak direlokasi ke tempat lain karena dianggap bukan solusi atas permasalahan ini. Para Jemaat bersikeras untuk tetap melakukan kebaktian di trotoar hingga dibuka kembali segel yang dipasang oleh Pemkot Bogor beberapa waktu lalu.

Jadi sebenarnya siapa yang tidak mau diatur? Anehnya kok yang kayak gini dibela?

Tulisan Terkait lainnya:




0 comments for PB HMI Bawa Kasus Gereja Yasmin Ke Vatikan

Leave comment

Gamis Murah

Hak Cipta Hanya Milik Allah SWT, Menyadur dan Menyebarkan isi Website ini Sangat di anjurkan | jawara web | seacrh engine | butik muslim | situs islam | islamic wallpaper | situs berita global