Hanif

http://1.bp.blogspot.com/_Xuiwmo_J5SI/TE0OnYnEK3I/AAAAAAAAAPY/v4sB_N28qpA/s1600/kz4o8ce3.jpg

Makna Bahasa

Secara bahasa (etimologi), kata hanîf berasal dari akar kata ha-ni-fa. Hanifa maknanya adalah mâla (cenderung), tetapi juga bisa bermakna istiqâma (lurus). Hanîf sendiri sering diartikan sebagai qawîm (yang lurus, yang benar). (Atabik Ali & Ahmad Zuhdi Muhdlor, Kamus Kontemporer Arab-Indonesia, hlm. 802-803. Yogyakarta: Yayasan Ali Maksum Pondok Pesantren Krapyak, 1998). Oleh karena itu, al-hanîf juga bisa bermakna al-muslim. (Muhammad Abdul Qadir bin Abi Bakr al-Jaziri, Mukhtâr ash-Shahâh, hlm. 199. Beirut: Dar al-‘Ilmiyah, 1994; Lihat juga: Syihabuddin Ahmab bin Muhammad al-Ha’im al-Mishri, Ath-Thibyân fî Tafsir al-Gharîb al-Qur’ân, I/111). Sering dikatakan bahwa hanif adalah sikap cenderung pada kebenaran dan berpaling dari kebatilan. (Abu Zakariya Yahya bin Syarifuddin an-Nawawi, At-Tibyân fî Hamlah Adab al-Qur’ân, 1/105).

Makna Syariat

Kata hanif (hanîf) dalam al-Quran terdapat pada 12 tempat; dua di antaranya dalam bentuk jamak, yakni hunafâ’. Kata tersebut terdapat pada QS al-Baqarah (2): 135; Yunus (10): 105; Ali ‘Imran [3]: 67 & 95; an-Nisa’ (4): 125; al-An‘am (6): 79 & 161; an-Nahl (16): 120 & 123;  al-Hajj (22): 31; ar-Rum (30): 30; al-Bayyinat (98): 5. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:

]قُلْ بَلْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ[
Katakanlah, “Tidak, bahkan (kami mengikuti) agama Ibrahim yang hanif, dan bukanlah dia (Ibrahim) dari golongan orang musyrik.” (QS al-Baqarah [2]: 135).

]وَأَنْ أَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا[

(Aku telah diperintah), “Hadapkanlah mukamu pada agama ini dengan hanif.” (QS Yunus [10]: 105).

]مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلاَ نَصْرَانِيًّا وَلَكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا[
Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani. Akan tetapi, dia adalah seorang yang hanif lagi berserah diri (kepada Allah). (QS Ali ‘Imran [3]: 167).

Ketika menafsirkan QS al-Baqarah ayat 135 di atas, Abu ‘Ubaydah menyatakan, bahwa setiap orang yang mengikuti agama Nabi Ibrahim adalah hanif dalam pandangan orang-orang Arab. Para penyembah berhala pada zaman Jahiliah pun mengklaim bahwa mereka adalah orang-orang hanif (cenderung) pada agama Nabi Ibrahim. Lalu, ketika Islam datang, orang Muslimlah yang disebut dengan hanif. Al-Akhfas juga menyatakan, bahwa pada zaman Jahiliah sering dikatakan bahwa siapa saja yang dikhitan dan menunaikan haji ke Baitullah adalah orang yang hanif. Sebab, orang-orang Arab pada zaman Jahiliah tidak berpegang teguh pada apapun dari agama Nabi Ibrahim kecuali dalam hal khitan dan ibadah haji. Karena itu, siapa saja yang sudah dikhitan dan melaksanakan ibadah haji disebut hanif. Akan tetapi, ketika Islam datang, makna kehanifian (al-hanîfiyyah) bergeser, yakni bahwa orang hanif adalah orang Muslim.
Ibn ‘Arafah mengatakan bahwa berkenaan dengan firman Allah, bal millata Ibrahîma hanîfa, kata hanîf maknanya adalah al-istiqâmah (istiqamah). Abu Manshur juga menyatakan bahwa makna kehanifan (al-hanîfiyyah) dalam Islam adalah kecenderungan pada Islam dan berpegang teguh di dalamnya; kehanifan yang benar adalah kecenderungan pada Islam dan bersikap kukuh di dalamnya.
Al-Hanîf juga bisa diartikan sebagai berpaling dari keburukan dan condong pada kebaikan; orang Muslim yang berpaling dari semua agama yang ada atau orang yang hanya cenderung pada kebenaran; orang yang menghadapkan dirinya ke arah kiblat, yakni Baitul Haram, karena mengikuti agama Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad; orang yang ikhlas; orang yang bersikap pasrah dalam menerima semua perintah Allah dan tidak menyimpang sedikitpun. Al-Hanîf juga sering diartikan sebagai al-mustaqîm (yang lurus). (Ibn Manzhur, Lisân al-‘Arab, 9/56-58).
Dalam Tafsîr Jalalain, disebutkan  bahwa hanif adalah berpaling dari semua agama dan cenderung hanya pada agama yang lurus (ad-din al-qayyim). (Abdurrahman bin Abi Bakar al-Mahalli & As-Suyuthi, Tafsîr Jalalain, I/28, 75. Lihat juga: Syihabuddin Ahmab bin Muhammad al-Ha’im al-Mishri, Op.cit., I/111; Lihat juga: Husayn bin Mahmud al-Firaa’ Al-Baghawi, Tafsîr al-Baghawi, I/119; Al-Baydhawi, Tafsîr al-Baydhawi, I/409; II/50, 67, 258; III/426, IV/335. Lihat juga: Al-Qurthubi, Tafsîr al-Qurthubî, I/139-140, VII/28, VIII/387-388; Ibn Katsir, Tafsîr Ibn Katsîr, I/65-66, I/186).
Sementara itu, Ath-Thabari, dalam tafsirnya, menyatakan bahwa para ahli takwil berbeda pendapat mengenai pengertian kata hanif. Sebagian mengartikannya sebagai ibadah haji; sebagian mengatakan bahwa agama Nabi Ibrahim di sebut dengan al-Islâm al-hanîfiyah karena  beliau merupakan imam pertama para ahli ibadah pada zamannya dan orang-orang yang datang setelahnya sampai Hari Kiamat; mereka adalah kaum yang mengikuti ibadah haji dan meneladaninya dalam ibadah tersebut. Mereka mengatakan bahwa setiap orang yang menunaikan ibadah haji dan mengikuti tatacara haji Nabi Ibrahim adalah hanif dan berserah diri (hanîfan musliman) pada agama Nabi Ibrahim. Ini didasarkan pada keterangan al-Hasan, Mujahid, dan Ibn ‘Abbas. Dalam hal ini, Abdullah bin Qasim meriwayatkan, bahwa pada masa Jahiliyah, orang-orang dari Bani Mudhar biasa menunaikan ibadah haji dan menyebut diri mereka sebagai orang-orang hanif. Lalu turunlah firman Allah yang menjelaskan bahwa orang yang hanif kepada Allah bukanlah orang-orang yang menyekutukan-Nya. Sebagian kalangan mengartikan hanif sebagai mutabbi‘ (orang yang mengikuti). Ini juga didasarkan pada pendapat Mujahid bahwa hunafâ’ adalah muttab‘ûn. Yang lain mengatakan bahwa agama Nabi Ibrahim disebut dengan al-hanîfiyah karena beliaulah yang pertama kali mensyariatkan khitan, yang kemudian diikuti oleh orang-orang yang datang setelah beliau. Karena itu, dikatakan bahwa setiap orang yang berkhitan dengan mencontoh tatacara khitan Nabi Ibrahim, berarti dia seorang yang hanif. Ada juga yang berpendapat bahwa hanif adalah mukhlish (orang ikhlas) sehingga orang hanif adalah orang yang mengikhlaskan (memurnikan) agamanya hanya untuk Allah semata. Ini didasarkan pada pendapat As-Sadi. Yang lain mengatakan bahwa al-hanîfiyah adalah al-Islâm; setiap orang yang mengikuti Nabi Ibrahim dan beristiqamah di dalamnya adalah orang hanif. Ini juga didasarkan pada pendapat Abu Ja‘far. Ia mengatakan bahwa hanif adalah istiqamah dalam agama Nabi Ibrahim dan mengikutinya. Ini karena jika hanif diartikan hanya sebagai ibadah haji, tentu orang-orang yang biasa melakukan ibadah haji dari kalangan orang-orang musyrik wajib disebut orang hanif. Padahal, Allah telah menafikan hal ini, yakni bahwa Ibrahim adalah seorang hanif dan berserah diri (hanîfan musliman); sementara orang-orang musyrik tidak. Demikian juga jika hanif hanya berkaitan dengan masalah khitan saja, tentu orang-orang Yahudi juga harus disebut orang-orang hanif. Padahal, Allah telah mengecualikan mereka, dengan menyatakan bahwa Ibrahim bukanlah Yahudi dan bukan pula Nasrani, tetapi seorang yang hanif. Artinya, jelas, bahwa hanif bukanlah dalam konteks ibadah haji dan khitan saja, tetapi dalam keistiqamahan dan upaya meneladani millah Nabi Ibrahim. (Ath-Thabari, 1/565. Lihat juga: As-Suyuthi, Durr al-Mantsûr, I/337, I/237).
Dalam bagian lain, Ath-Thabari juga menyatakan, bahwa ayat Mâ kâna Ibrâhîm Yahûdiyan walâ Nashraniyan (QS Ali ‘imran [3]: 167) adalah bentuk pengingkaran Allah terhadap klaim orang-orang—dari kalangan Yahudi dan Nasrani—yang berdebat mengenai Ibrahim dan agamanya; masing-masing mengklaim bahwa Ibrahim mengikuti agama mereka, sementara mereka mengingkari millah Ibrahim. Hanif artinya mengikuti perintah Allah, taat kepada-Nya, dan istiqamah dalam menetapi petunjuk-Nya. (Ath-Thabari, ibid, III/306-307. Lihat juga: Ats-Tsa‘labi, Tafsîr ats-Tsa’labi, 4/432; Muhammad bin Ali bin Muhammad asy-Syaukani, Fath al-Qadîr, I/146-147).
Berkenaan dengan julukan terhadap orang Yahudi dan Nasrani sendiri, dalam kitab, Ma‘ânî al-Qur’ân, disebutkan bahwa Abdullah bin Syaqiq, sebagaimana dituturkan oleh Budayl al-‘Aqli, mengatakan, sebagian sahabat menuturkan, bahwa Nabi saw. pernah bersabda di sebuah lembah di Makkah. Saat itu beliau ada di atas kudanya. Seseorang dari Bani al-Qayn lalu bertanya (berkaitan dengan QS al-Fathihah [2]: 7) kepada beliau, “Ya Rasulullah, siapakah orang yang dimurkai (al-maghdhubi ‘alayhim).” Nabi lalu menunjuk pada orang-orang Yahudi. Orang itu lalu bertanya, lagi, “Lalu siapakah orang-orang yang sesat (adh-dhallun)?” Nabi saw. bersabda, “Mereka adalah orang-orang Nasrani.” (Anonim, Ma‘ânî al-Qur’ân, 1/69).

Kesimpulan
Dari paparan di atas, jelas istilah hanif tidaklah seperti yang pernah diungkapkan oleh Nurcholis Majid dalam sejumlah tulisannya, bahwa ia bermakna lapang, tidak sempit, dalam arti toleran dan tidak ‘fanatik’. Dengan begitu, seolah-olah siapapun—tidak hanya orang Islam—bisa disebut hanif, asalkan bersikap lapang dan toleran dalam beragama.
Penjelasan An-Nasafi, barangkali, dapat menyimpulkan semua penjelasan di atas, yakni bahwa Allah menyuruh manusia untuk memeluk agama yang haq (Islam). Jika mereka tidak melakukannya, berarti mereka berada dalam agama yang batil. (An-Nasafi, Tafsîr an-Nasafi, I/72).
      
[M. Arif Billah]

Tulisan Terkait lainnya:




0 comments for Hanif

Leave comment

Gamis Murah

Hak Cipta Hanya Milik Allah SWT, Menyadur dan Menyebarkan isi Website ini Sangat di anjurkan | jawara web | seacrh engine | butik muslim | situs islam | islamic wallpaper | situs berita global