Menyikapi Keragaman Manusia (Tafsir QS al-Hujurat [49]: 13)

Oleh: Rokhmat S. Labib, M.E.I 

]يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوْبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوْا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَكُمْ  إِنَّ اللهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ[

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, serta menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling takwa. Sesunggguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengena.l 
(QS al-Hujurat [49]: 13).



Sabab Nuzûl
Ibnu al-Mundzir dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Mulaikah: Ketika Fath Makkah, Bilal naik ke atas Ka‘bah dan mengumandangkan azan. Sebagian orang berkata, “Budak hitam inikah yang azan di atas punggung Ka‘bah?” Yang lain berkata, “Jika Allah membencinya, tentu akan menggantinya.” Lalu turunlah ayat ini.[1]
Abu Dawud dan al-Bayhaqi meriwayatkan dari az-Zuhri, ia berkata: Rasulullah saw. menyuruh kaum Bani Bayadhah untuk mengawinkan salah seorang wanita mereka dengan Abu Hindun. Dia adalah tukang bekam Rasulullah saw. Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, pantaskah kami mengawinkan putri-putri kami dengan maula kami?” Lalu turunlah ayat kami.[2]
Menurut Ibnu Abbas, ayat ini turun berkenaan dengan ucapan Tsabit bin Qays kepada seorang laki-laki yang tidak mau memberikan tempat duduk kepadanya di majelis bersama Nabi saw. Ia berkata, “Wahai anak Fulanah.” Ia mencela orang itu dengan menyebut ibunya. Rasulullah saw. bersabda, “Siapa yang berkata itu?” Ia menjawab, “Saya, wahai Rasulullah saw.” Beliau bersabda, “Lihatlah wajah-wajah kaum itu.” Ia pun memperhatikannya. Beliau bertanya, “Apa yang kamu lihat?” “Saya melihat ada yang putih, merah, dan hitam.” Lalu beliau bersabda, “Janganlah kamu melebihkan seseorang kecuali dalam hal agama dan ketakwaannya.” Kemudian turunlah ayat ini. Kepada orang yang tidak memberi tempat duduk, turun firman Allah Swt. (yang artinya): Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu, “Berlapang-lapanglah dalam majelis,” maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. (QS al-Mujadilah []: 11).[3]
Meskipun berbeda-beda, ketiga sabab nuzûl ini mengisyaratkan bahwa ayat ini turun sebagai larangan memuliakan atau melecehkan manusia berdasarkan keturunan, kesukuan, maupun kebangsaan.

Tafsir Ayat
Allah Swt. berfirman: Yâ ayyuhâ an-nâs innâ khalaqnâkum min dzakar wa untsâ (Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan). Al-Jazairi menyatakan, seruan ini merupakan seruan terakhir dalam surat al-Hujurat. Dibandingkan dengan seruan-seruan sebelumnya yang ditujukan kepada orang-orang beriman, seruan ini lebih umum ditujukan kepada seluruh manusia (an-nâs).[4]
Pertama: Allah Swt. mengingatkan manusia tentang asal-usul mereka; bahwa mereka semua adalah ciptaan-Nya yang bermula dari seorang laki-laki dan seorang perempuan (min dzakar wa untsâ). Menurut para mufassir, dzakar wa untsâ ini maksudnya adalah Adam dan Hawa.[5] Seluruh manusia berpangkal pada bapak dan ibu yang sama, karena itu kedudukan manusia dari segi nasabnya pun setara. Konsekuensinya, dalam hal nasab, mereka tidak boleh saling membanggakan diri dan merasa lebih mulia daripada yang lain.[6]
Menurut mufassir lain, kata dzakar wa untsâ juga bisa ditafsirkan seorang bapak dan seorang ibu;[7] atau sperma laki-laki dan ovum perempuan.[8] Karena berasal dari jenis dan bahan dasar yang sama, berarti seluruh manusia memiliki kesamaan dari segi asal-usulnya.
Fakhruddin ar-Razi memberikan paparan menarik. Menurutnya, segala sesuatu bisa diunggulkan dari yang lain karena dua factor: (1) faktor yang diperoleh sesudah kejadiannya seperti kebaikan, kekuatan, dan berbagai sifat lain yang dituntut oleh sesuatu itu; (2) faktor sebelum kejadiannya, baik asal-usul atau bahan dasarnya maupun pembuatnya; seperti ungkapan tentang bejana: “Ini terbuat dari perak, sementara itu terbuat dari tembaga”; “Ini buatan Fulan, sedangkan itu buatan Fulan.”
Firman Allah Swt., Inna khalaqnâkum min dzakar wa untsâ, menegaskan bahwa tidak ada keunggulan seseorang atas lainnya disebabkan perkara sebelum kejadiannya. Dari segi bahan dasar (asal-usul), mereka semua berasal dari orangtua yang sama, yakni Adam dan Hawa. Dari segi pembuatnya, semua diciptakan oleh Zat yang sama, Allah Swt. Jadi, perbedaan di antara mereka bukan karena faktor sebelum kejadiannya, namun karena faktor-faktor lain yang mereka peroleh atau mereka hasilkan setelah kejadian mereka. Perkara paling mulia yang mereka hasilkan itu adalah ketakwaan dan kedekatan mereka kepada Allah Swt.[9]
Selanjutnya Allah Swt. berfirman: Waja‘alnâkum syu’ûb[an] wa qabâ`il[an] lita’ârafû (dan Kami menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling mengenal). Kata syu‘ûb (jamak dari sya‘b) dan qabâ'il (jamak dari qabîlah) merupakan kelompok manusia yang berpangkal pada satu orangtua (keturunan). Sya‘b adalah tingkatan paling atas, seperti Rabi‘ah, Mudhar, al-Aws, dan al-Khajraj. Tingkatan di bawahnya adalah qabîlah, seperti Bakr dari Rabi‘ah, dan Tamim dari Mudhar.[10] Ke bawahnya masih ada empat tingkatan, yakni: al-imârah, seperti Syayban dari Bakr, Daram dari Tamim, dan Quraysy; al-bathn, seperti Bani Luay dari Qurays, Bani Qushay dari Bani Makhzum; al-fakhidz, seperti Bani Hasyim dan Bani Umayyah dari Bani Luay; dan tingkatan terendah adalah al-fashîlah atau al-‘asyîrah, seperti Bani Abd al-Muthallib.[11]
Jumlah manusia akan terus berkembang hingga menjadi banyak suku dan bangsa yang berbeda-beda. Ini merupakan sunatullah. Manusia tidak bisa memilih agar dilahirkan di suku atau bangsa tertentu. Karenanya, manusia tidak pantas membanggakan dirinya atau melecehkan orang lain karena faktor suku atau bangsa.
Ayat ini menegaskan, dijadikannya manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku adalah untuk saling mengenal satu sama lain (lita’ârafû). Menurut al-Baghawi dan al-Khazin, ta‘âruf itu dimaksudkan agar setiap orang dapat mengenali dekat atau jauhnya nasabnya dengan pihak lain, bukan untuk saling mengingkari.[12] Berdasarkan ayat ini, Abd ar-Rahman as-Sa’di menyatakan bahwa mengetahui nasab-nasab merupakan perkara yang dituntut syariat. Sebab, manusia dijadikan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku memang untuk itu.[13] Karena itu, seseorang tidak diperbolehkan menasabkan diri kepada selain orangtuanya.[14]
Dengan mengetahui nasab, berbagai hukum dapat diselesaikan, seperti  hukum menyambung silaturahmi dengan orang yang memiliki hak atasnya,[15] hukum pernikahan, pewarisan, dan sebagainya. Di samping itu, taaruf juga berguna untuk saling bantu. Dengan saling bantu antar individu, bangunan masyarakat yang baik dan bahagia dapat diwujudkan.[16]
Setelah menjelaskan kesetaraan manusia dari segi penciptaan, keturunan, kesukuan, dan kebangsaan, Allah Swt. menetapkan parameter lain untuk mengukur derajat kemulian manusia, yaitu ketakwaan. Kadar ketakwaan inilah yang menentukan kemulian dan kehinaan seseorang: Inna akramakum ‘inda Allâh atqâkum.
Mengenai batasan takwa, menurut pendapat yang dikutip al-Khazin, ketakwaan adalah ketika seorang hamba menjauhi larangan-larangan; mengerjakan perintah-perintah dan berbagai keutamaan; tidak lengah dan tidak merasa aman. Jika khilaf dan melakukan perbuatan terlarang, ia tidak merasa aman dan tidak menyerah, namun ia segera mengikutinya dengan amal kebaikan, menampakkan tobat dan penyesalan.[17] Ringkasnya, takwa adalah sikap menetapi apa-apa yang diperintahkan dan menjauhi apa-apa yang dilarang.[18]
Banyak ayat dan hadis yang juga menjelaskan bahwa kemuliaan manusia didasarkan pada ketakwaan semata. Rasulullah saw. pernah bersabda:
«يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَلاَ إِنَّ رَبَّكُمْ وَاحِدٌ وَإِنَّ أَبَاكُمْ وَاحِدٌ أَلاَ لاَ فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى أَعْجَمِيٍّ وَلاَ لِعَجَمِيٍّ عَلَى عَرَبِيٍّ وَلاَ ِلأَحْمَرَ عَلَى أَسْوَدَ وَلاَ أَسْوَدَ عَلَى أَحْمَرَ إِلاَّ بِالتَّقْوَى. أَبَلَّغْتُ؟»
Wahai manusia, ingatlah bahwa sesungguhnya Tuhan kalian satu, bapak kalian juga satu. Tidak ada kelebihan orang Arab atas orang non-Arab, orang non-Arab atas orang Arab; tidak pula orang berkulit merah atas orang berkulit hitam, orang berkulit hitam atas orang yang berkulit merah, kecuali dengan ketakwaan. Apakah saya telah menyampaikan? (HR Ahmad).

Ayat ini diakhiri dengan firman-Nya: Inna Allâh ‘alîm[un] khabîr[un] (Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal). Penyebutan dua sifat Allah Swt. di akhir ayat ini dapat mendorong manusia memenuhi seruan-Nya. Dengan menyadari bahwa Allah Swt. mengetahui segala sesuatu tentang hamba-Nya, lahir-batin, yang tampak maupun yang tersembunyi, akan memudahkan baginya melaksanakan perintah-perintah-Nya dan meninggalkan larangan-larangan-Nya.

Bukan Dalil Nasionalisme dan Pluralisme
Ayat ini jelas tidak bisa dijadikan dalil mengenai absahnya nasionalisme menurut Islam. Jika nasionalisme membangkitkan sentimen dan fanatisme kebangsaan, ayat ini justru menentang  segala hal yang mengunggulkan kelompok manusia atas dasar kebangsaan, kesukuan, dan keturunan. Jika nasionalisme menjadikan perbedaan bangsa sebagai alasan untuk memecah-belah manusia, ayat ini justru sebaliknya. Perbedaan bangsa itu harus digunakan untuk upaya saling mengenal: lita’ârafû.
Rasulullah saw. pun menjadikan ayat ini sebagai dalil untuk mencabut paham Jahiliyah ini dari kaum muslim. Ketika Fath Makkah beliau berkhutbah, sebagaimana dituturkan Ibn Umar:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ اللهَ قَدْ أَذْهَبَ عَنْكُمْ عُبِّيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ وَتَعَاظُمَهَا بِآبَائِهَا فَالنَّاسُ رَجُلاَنِ بَرٌّ تَقِيٌّ كَرِيمٌ عَلَى اللهِ وَفَاجِرٌ شَقِيٌّ هَيِّنٌ عَلَى اللهِ وَالنَّاسُ بَنُو آدَمَ وَخَلَقَ اللهُ آدَمَ مِنْ تُرَابٍ. قَالَ اللهُ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى....
Wahai manusia, sesungguhnya Allah telah melenyapkan dari kalian kesombongan Jahiliyah dan saling berbangga karena nenek moyang. Manusia itu ada dua kelompok. Ada yang salih, bertakwa, dan mulia di hadapan Allah. Ada pula yang fasik, celaka, dan hina di hadapan Allah Swt. Manusia itu diciptakan Allah dari Adam dan Adam dari tanah. Allah Swt. berfirman: Yâ ayyuhâ an-nâs innâ khalaqnâkum min dzakar wa untsâ…. (HR at-Tirmidzi).

Ayat ini juga tidak bisa ditarik untuk membenarkan pluralisme. Pluralisme adalah pendirian filosofis tertentu dalam menyikapi keanekaragaman kehidupan. Menurut paham pluralisme, keragaman keyakinan, nilai, gaya hidup, dan klaim kebenaran individu harus dipandang sebagai sesuatu yang setara (equal). Dalam pluralisme agama, misalnya, semua agama harus dipandang sama dan tidak ada yang lebih dari yang lain.
Pandangan tersebut jelas bertentangan dengan ayat ini. Ayat ini tidak menyikapi semua keragaman dengan sikap yang sama. Terhadap keragaman fisik, jenis kelamin, nasab, suku, dan bangsa, manusia dipandang setara; tidak ada yang lebih tinggi atau mulia dari yang lain. Sebab, faktanya, semua keragaman tersebut terjadi dalam wilayah yang tidak dikuasai manusia. Terhadap perkara-perkara tersebut, Allah Swt. menggunakan kata khalaqnâ (Kami menciptakan) dan ja‘alnâ (Kami menjadikan), yang menunjukkan tiadanya andil manusia di dalamnya. Karena itu, sewajarnya manusia tidak dinilai karena aspek tersebut.
Adapun terhadap keragaman manusia dalam kepercayaan, sikap, dan perilakunya, manusia tidak dipandang sederajat. Ada yang mulia dan ada yang hina, bergantung pada kadar ketakwaannya. Secara tegas ayat ini menyebut: Inna akramakum ‘inda Allâh atqâkum. Jika sebab kemuliaan manusia adalah ketaatannya kepada risalah Allah, dan pembangkangan menjadi sebab kehinaan, berarti yang haq hanyalah risalah Allah. Sebaliknya, semua keyakinan, nilai, gaya hidup, dan sistem kehidupan yang lain adalah batil; sesat dan menyesatkan. Jadi, jelas ayat ini menolak paham pluralisme yang menyejajarkan semua agama, pandangan hidup, dan sistem kehidupan.
Nasionalisme dan pluralisme memang ide kufur yang tidak memiliki akar ideologis dalam Islam. Wajar jika ide itu hendak dilekatkan dengan Islam, pasti akan berbenturan dengan Islam itu sendiri. Adapun ayat-ayat yang sering digunakan untuk menjustifikasinya, setelah dikaji justru sebaliknya: menentangnya!  Wallâh a‘lam bi ash-shawâb. []




[1] Asy-Syaukani, Fath al-Qadîr, V/69, Dar al-Fikr, Beirut, 1983; as-Suyuthi, ad-Durr al-Mantsûr fî Tafsîr al-Ma’tsûr, VI/107, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut, 1997.
[2] As-Suyuthi, al-Durr al-Mantsûr, 107; Shihab ad-Din al-Alusi, h al-Ma’ânî, XIII/314, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut. 1993.
[3] Al-Baghawi, Ma’âlim at-Tanzîl, IV/195, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut. t.t .
[4] Abu Bakr al-Jazairi, Aysar at-Tafâsîr li Kalâm al-‘Aliyy al-Kabîr, V/131, Nahr al-Khair, 1993.
[5] Ibn Katsir, Tafsîr al-Qur'ân al-‘Azhîm, IV/170, Dar al-Fikr, Beirut. 2000; al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur'ân, IV/223, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut. 1993; Said Hawa, al-Asâs fî Tafsîr, IX/5417, Dar al-Salam, Kairo. 1999.
[6] Abu ‘Ali al-Fadhl, Majma’ al-Bayân fî Tafsîr al-Qur`ân, iv/206, Dar al-Ma’rifah,  Beirut, tt; Wahbah az-Zuhayli, at-Tafsîr al-Munîr fî al-‘Aqîdah wa asy-Syarî’ah wa al-Manhaj, XXV/259, Dar al-Fikr, Beirut. 1991; al-Alusi, h al-Ma’ânâ, XIII/312.
[7] Al-Khazin, Lubâb at-Ta’wîl fî Ma’ânî at-Tanzîl, IV/183, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut. 1995; an-Nasafi, Madârik at-Tanzîl wa Haqâ`iq at-Ta’wîl, II/587, Dar  al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut. 1995.
[8] Al-Qasimi, Mahâsin at-Tawîl, II/538, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah,  Beirut. 1997; Abd al-Haq al-Andalusi, al-Muharrar al-Wajîz fî Tafsîr al-Kitâb al-‘Azîz, V/152, Dar  al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut. 1993. 
[9] Fakhruddin ar-Razi, at-Tafsîr al-Kabîr Aw Mafâtîh al-Ghayb,  XIV/118, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut. 1990.
[10]             Lihat, Al-Khazin, Lubâb at-Ta’wîl, iv/184; al-Alusi, h al-Ma’ânî, XIII/312; al-Baghawi, Ma’âlim at-Tanzîl, IV/196. 
[11]             Abd al-Haq al-Andalusi, al-Muharrar al-Wajîz, 153; al-Baghawi, Ma’âlim at-Tanzîl, IV/196
[12]             al-Baghawi, Ma’âlim al-Tanzîl, IV/195; al-Qasimi, Mahâsin at-Tawîl, II/538; al-Khazin, Lubâb at-Ta’wîl, 184.
[13]             Abd al-Rahman al-Sa’di, Taysîr al-Karîm ar-Rahmân fî Tafsîr Kalâm al-Mannân, V/83, Alam al-Kutub, Beirut
[14]             al-Zamakhsyari, al-Kasyâf,  XIV/365, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut.
[15]             Burhanuddin al-Baqa’i, Nazhm al-Durar fî Tanâsub al-Ayât wa as-Suwar, IX/236, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1995.
[16]             Al-Jazairi, Aysar at-Tafâsîr, V/131.
[17]             Al-Khazin, Lubâb at-Ta’wzîl, IV/184.
[18]             Az-Zuhayli, at-Tafsiîr al-Munîr, XXV/248, Dar al-Fikr, 1991, 248.

Tulisan Terkait lainnya:




0 comments for Menyikapi Keragaman Manusia (Tafsir QS al-Hujurat [49]: 13)

Leave comment

Gamis Murah

Hak Cipta Hanya Milik Allah SWT, Menyadur dan Menyebarkan isi Website ini Sangat di anjurkan | jawara web | seacrh engine | butik muslim | situs islam | islamic wallpaper | situs berita global