Kemajuan Dan Stabilitas Kaum Muslim Ada Pada Islam, Bukan Pada Demokrasi

Oleh: Hasan. A. Hasan


Sebagian orang bertanya: bukankah demokrasi yang telah menjamin kemajuan dan kestabilan di Barat? Bukankah kemajuan dan stabilitas yang selama ini menjadi tujuan yang diupayakan untuk direalisasikan oleh umat manusia? Bukankah termasuk tindakan bodoh jika kita membiarkan masyarakat tetap terjatuh dalam kemunduran dan pertentangan, muncul di tengah-tengah mereka para penguasa yang merusak dan para mufti munafik, sementara semua itu dapat kita bersihkan melalui demokrasi?
Memang, Barat telah berhasil meraih kemajuan yang nyata dalam bidang politik dan ekonomi. Barat telah berhasil menyusun asas-asas yang melahirkan kestabilan secara umum dalam dua medan tersebut.  Barat juga telah berhasil melampaui kaum Muslim dari segi materi. Akan tetapi, sangat rancu jika kita mengaitkan kebangkitan yang dialami Barat dengan terealisasinya demokrasi di tengah-tengah mereka. Lebih rancu lagi jika kita mengaitkan realita tragis yang menimpa kaum Muslim saat ini dengan Islam.
Sesungguhnya jika kita mencermati perjalanan sejarah demokrasi Barat, akan tampak bahwa demokrasi justru bertentangan dengan klaim-klaim mereka di atas. Sejarah mencatat, bagaimana Eropa yang menganut demokrasi justru tenggelam dalam berbagai konflik berdarah. Perang Dunia I dan II yang merupakan akibat langsung dari demokrasi merupakan perang yang paling buruk/keji dibandingkan dengan berbagai peperangan yang pernah terjadi dalam lintasan sejarah.
Dengan mencermati berbagai kondisi Barat secara umum, akan tampak jelas bahwa pilihan atas demokrasi bukanlah pilihan yang paling selamat dan paling dapat menjamin keamanan dan stabilitas. Cukuplah kita mengingat kembali bahwa sistem demokrasilah yang telah mengantarkan Hitler, Musolini, dan Bush ke kursi kekuasaan. Kita tahu, program-program mereka justru berpijak di atas ide yang mendorong terjadinya konflik, penindasan pihak lain, dan perang; yang semua itu ditujukan demi merealisasikan berbagai ambisi mereka yang penuh dengan kepentingan, ego, dan bersifat rasis.
Di samping itu, negara-negara Barat demokratis secara umum pernah dan akan terus melakukan penjajahan/imperialisme dalam berbagai bentuknya untuk  menundukkan bangsa-bangsa terjajah, sebagaimana yang terjadi di Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Semua itu sejatinya memunculkan tanda tanya di seputar makna demokrasi yang dianggap layak diterapkan di seluruh dunia, yaitu melalui perundang-undangan yang ditetapkan.  Padahal undang-undang yang dihasilkan dalam sistem demokrasi sering hanya menjadi alat bagi pihak yang kuat  untuk mengontrol pihak yang lemah.  Undang-undang tersebut kemudian diperindah dengan nilai-nilai tertentu yang diklaim sebagai nilai-nilai humanisme melalui berbagai propaganda media.
Barat, dengan segala kekuatannya, tampak memaksakan kontrol dan arahannya terhadap pihak lain. Tidak lain semua itu demi mengeksploitasi dan memperbudak mereka, bukan untuk membebaskan mereka. Inilah yang dapat kita saksikan sepanjang perjalanan sejarah Barat yang demokratis hingga saat ini.
Realitas buruk di Dunia Islam sepanjang penguasaan Barat yang demokratis merupakan contoh yang jelas.  Contohnya adalah tragedi yang menimpa penduduk Palestina yang sangat mencolok mata. Tragedi itu telah dirancang oleh Inggris sebagai salah satu negara pengusung demokrasi terpenting dan terdepan di dunia saat ini.  Negeri-negeri Islam dipecah-belah oleh Prancis dan Inggris melalui tipudaya mereka. Mereka lalu melakukan kontrol (penguasaan) terhadap kekayaan umat Islam dan kemudian merampasnya.  Mereka kemudian mengangkat para agen mereka dengan berbagai cara—hatta dengan cara-cara yang sangat tidak demokratis sekalipun—untuk menjadi penguasa di berbagai negeri kaum Muslim.  Para penguasa agen Barat itulah yang selama ini dijadikan alat untuk memelihara dan menjamin kepentingan mereka.
Barat menopang para penguasa agen itu baik secara moril, materi, dan politik. Hal itu dimaksudkan untuk melumpuhkan umat Islam sekaligus mendorong mereka agar menjauhkan diri dan menarik diri dari upaya melangsungkan gerakan kebangkitan dan kemajuan.  Inilah secuil contoh yang tidak lain merupakan bagian dari apa yang dihasilkan oleh demokrasi Barat di dunia secara keseluruhan, khususnya di Dunia Islam.
Contoh lain adalah Afrika yang hingga saat ini seakan terus hidup seperti pada abad-abad permulaan, setelah sekitar dua abad penjajahan dan perbudakan.  Padahal  kita mendapati sebaliknya pada masa-masa Afrika di bawah kekuasaan Islam, yaitu ketika kekuasaan Islam memasuki Andalusia (Spanyol). Pada masa Islamlah Afrika dapat ditransformasi menjadi wilayah yang maju.
Demokrasi telah begitu mensucikan manusia dan dan kehendaknya sendiri. Demokrasi telah menjadikan manusia sebagai pihak yang berkuasa menetapkan hukum sesuai dengan hawa nafsunya. Semua itu hanya akan mengokohkan individualisme dan egoisme manusia.  Akibatnya, manusia akan memandang dan mengurus dunia hanya dari sudut keopentingan dan kemaslahatannya saja, yang sring sangat materialistik seraya mengabaikan nilai-nilai spiritual, moral, kemanusiaan. Sebab, bagi mereka, kebahagiaan material itulah yang dianggap merupakan kebahagiaan satu-satunya yang dibenarkan secara rasional. Fakta semacam ini tidak akan berubah selama mereka berpijak pada demokrasi. 
Bertolak dari semua yang telah disebutkan, di Barat yang demokratis pada umumnya telah terjadi kehancuran keluarga dan kemerosotan moral.  Kehidupan individualis dan egois telah mendominasi mereka. Penduduk negara-negara itu berkumpul dan berpisah berdasarkan asas manfaat.  Hal itu telah menghapus aspek kemanusiaan manusia sekaligus menurunkan derajat manusia pada derajat hewani yang hanya memandang kepuasan material saja dalam segala hal. 
Demokrasi pada faktanya menegasikan bahkan menihilkan agama. Agama dan nilai-nilai spiritual ditanggalkan agar tidak berpengaruh dalam kehidupan manusia.  Pada akhirnya, hanya manusialah—bukan Tuhan (baca: agama)—yang memiliki pilihan secara mutlak untuk menentukan metode hidupnya. Dalam hal ini, manusia harus dibebaskan sebebas-bebasnya tanpa campur tangan Tuhan (agama).
Dari sini kita melihat bahwa filsafat dan berbagai kajian mengenai sistem pemerintahan dengan berbagai bentuknya, serta berbagai kodifikasi undang-undang dengan berbagai temuannya yang dihasilkan Barat bukanlah termasuk keperluan-keperluan yang mendasar dari  demokrasi; bukan pula merupakan pokok-pokok demokrasi; bahkan bukan pula termasuk bagian dari demokrasi.
Dalam sistem demokrasi Barat saat ini pemerintahan tegak dengan adanya pemisahan kekuasaan menjadi tiga (legislatif, eksekutif, yudikatif). Pada faktanya, kekuasaan itu terus diwarisi oleh kelompok-kelompok yang kuat. Bahkan pada dasarnya, adanya para penguasa itu berlawanan dengan kebebasan manusia, karena kekuasaan itu menghasilkan batasan dan sistem aturan.
Pihak yang kuatlah yang mengeluarkan ketetapan dan mengharuskan semua pihak untuk menerapkan undang-undang tersebut secara internasional. Bahkan pihak kuat itu melakukan intervensi dalam segala urusan baik besar maupun kecil dalam berbagai urusan umat manusia.  Intervensi itu menghilangkan urusan dalam negeri berbagai negara.  Pihak kuat itu memaksakan sistem yang bercorak internasional. Sistem itu diatur oleh undang-undang yang bersifat nisbi, yang bersandar pada pemikiran pihak kuat. 
Kesejahteraan dan kestabilan ekonomi dan politik yang dinikmati Barat secara umum kembali pada faktor-faktor lain di luar demokrasi. Faktor yang paling utama adalah menyatunya bangsa-bangsa Barat dalam sistem pemerintahan dan berlimpahnya kekayaan hasil eksploitasi terhadap bangsa lain dan hegemoni terhadap sumberdaya bangsa lain itu.  Faktor lain adalah kekuatan militer mereka yang hebat, hegemoni politik dan ekonomi, serta monopoli atas 80% kekayaan bangsa-bangsa di dunia.
Adapun berkaitan dengan umat Islam, umat Islam telah hidup selama tiga belas abad. Selama itu, umat Islam telah mengemban risalah Islam dengan kemurahan hati yang tulus untuk mengeluarkan manusia dari penyembahan materi ke penyembahan kepada Allah. Selama itu,  Islam pun telah mampu membangun peradaban yang terang-benderang di Andalusia (Spanyol), Asia Tengah, daerah yang terbentang di antara Spanyol dan Asia Tengah; dari Tanja ke Jakarta melalui Kairo, Damaskus, dan Bagdad. Pada masa itu, daerah-daerah itu secara umum dihiasi dengan kestabilan, persatuan, disegani semua pihak, mulia, dan diliputi oleh kebanggaan atas apa yang dimiliki.
Kondisi umat Islam dikontrol oleh satu kebenaran, yaitu bahwa solusi berbagai masalah umat tidak lain dengan terus berpegang teguh pada Islam, dan bahwa meluruskan kondisi umat yang bengkok hanyalah dengan metode Islam. Sebab, penentu spesifik kemajuan umat dari kemundurannya selalu terkait dengan sejauh mana keterikatan mereka dengan agamanya. Umat Islam terus berjalan demikian hingga masa runtuhnya Daulah Khilafah Islam tahun 1924 dan lenyapnya sistem pemerintahan Islam secara sempurna. 
Sejak itu, praktis umat Islam pun dikuasai oleh keterbelakangan, kekerdilan, kelemahan, dan kejumudan.  Jadilah kaum Muslim terombang-ambing di antara ideologi Sosialisme-komunisme-ateis dan Kapitalisme-liberalisme-sekular yang menjerumuskan mereka ke dalam ketertinggalan demi ketertinggalan.  Di antara keduanya, umat Islam jatuh dalam perangkap teritorial yang sempit, patriotisme yang buruk, dan nasionalisme yang menjijikkan.
Oleh karena itu, jelaslah bahwa kebangkitan, kemajuan, pencerahan dalam kehidupan umat adalah diperoileh pada masa baiknya penerapan Islam di tengah-tengah mereka. Sebaliknya, masalah hakiki yang menghadang umat dan menjadikannya tertinggal adalah akibat mereka meremehkan penerapan hukum-hukum syariat secara sempurna.  Umat, misalnya, meremehkan haknya dalam memilih penguasa, dengan mengubahnya menjadi seperti kerajaan yang kekuasaannya diwarisi secara turun temurun, tidak sungguh-sungguh melakukan kontrol dan kritik terhadap penbguasa, dan semisalnya.  Inilah di antara yang menjadi sebab berbagai kegagalan umat Islam pada masa lalu.
Realitas Islam sebagai sumber kebangkitan dan kemajuan umat Islam pada masa lalu ini jelas berlawanan dengan Kristen di Eropa. Eksistensi gereja dalam kekuasaan justru menjadi sebab kesengsaraan bangsa-bangsa Eropa pada masa lalu. Sebab, gereja pada faktanya menjadi sarana yang dimanfaatkan oleh penguasa dan pemilik otoritas keagamaan demi hegemoni mereka untuk menumpuk kekayaan dan memperbudak pihak lain.  Yang benar untuk dikatakan adalah, bahwa para gerejawan yang zalim di Eropa pada masa yang disebut dengan Abad Pertengahan dan Abad Kegelapan itu adalah mirip dan serupa dengan kondisi para penguasa Arab dan kaum Muslim saat ini.  Saat ini, kita melihat, para penguasa Arab dan kaum Muslim sangat siap untuk mengorbankan umat dan kemaslahatan mereka demi keinginan mereka dan demi melanggengkan urusan kekuasaan agar tetap menjadi milik mereka. Mereka akan melakukan itu meski harus di atas mayat-mayat manusia yang menuntut para penguasa agar memberikan hak-hak legal mereka.
Oleh karena itu, sesungguhnya kembali pada Islam tidak memerlukan seruan-seruan demokrasi. Umat tidak pernah merasa perlu terhadap seruan-seruan demokrasi dan pemikiran yang lain selama mereka menerapkan Islam secara total dan sempurna.  Bahkan, pada masa lalu, ketika Islam diterapkan secara total dan sempurna, umat-umat lain justru meminta tolong kepada kaum Muslim dan pada peradaban Islam. Sungguh, umat Islam telah dimuliakan oleh Allah dengan Islam. [YA]

Tulisan Terkait lainnya:




0 comments for Kemajuan Dan Stabilitas Kaum Muslim Ada Pada Islam, Bukan Pada Demokrasi

Leave comment

Bring Islam Back Al-Khilafah org

Hak Cipta Hanya Milik Allah SWT, Menyadur dan Menyebarkan isi Website ini Sangat di anjurkan | jawara web | seacrh engine | butik muslim | situs islam | islamic wallpaper | situs berita global