Masjid Madrasah Sultan Hassan, Karya Agung Arsitektur Mamluk

Material bangunan yang digunakan untuk mendirikan masjid itu berasal dari bebatuan yang didatangkan langsung dari kompleks piramida di Giza Necropolis, Kairo.

Bangunan bersejarah apa yang wajib didatangi jika suatu hari Anda berkesempatan mengunjungi Kota Kairo, Mesir? Jika pertanyaan ini diajukan kepada para wisatawan asing yang pernah mengunjungi ibu kota negeri Piramida itu, dengan mantap mereka akan menjawab Masjid Sultan Hassan yang terletak di bundaran Shalahuddin berhadapan dengan Bab Al 'Izb di belakang benteng (citadel) Shalahuddin. 

Masjid yang dahulunya merangkap sebagai bangunan madrasah (sekolah agama) itu adalah masjid yang paling megah dan besar di Mesir, paling tinggi bangunannya, serta paling indah bentuk dan modelnya. Masjid itu juga dianggap sebagai salah satu karya agung yang pernah dibuat oleh para arsitek dari Kesultanan Mamluk yang pernah berkuasa di wilayah Mesir.

Masjid itu dibangun atas perintah dari Sultan Hassan bin Al-Nasir Muhammad bin Qalawun pada 1356 M. Penguasa Kesultanan Mamluk itu menurut Caroline William dalam bukunya yang bertajuk Islamic Monuments in Cairo menginginkan adanya sebuah bangunan masjid dan sekolah agama yang diperuntukkan bagi para pengikut Sunni.

Karenanya, bangunan masjid yang sekaligus berfungsi sebagai madrasah ini dibagi ke dalam empat bagian sesuai dengan empat mazhab utama yang dianut oleh para pengikut Sunni (Syafi'i, Maliki, Hanafi, dan Hanbali).

Proses pengerjaan Masjid Sutan Hassan memakan waktu tujuh tahun lamanya dimulai pada 1356 M dan selesai pada 1363 M. Material bangunan yang digunakan untuk mendirikan masjid itu berasal dari bebatuan yang didatangkan langsung dari kompleks piramida di Giza Necropolis, Kairo.

Masjid Sultan Hassan adalah salah satu bangunan masjid terbesar di dunia dengan panjang 150 meter dan mencakup lahan seluas 7.906 meter persegi. Bangunannya tinggi menjulang dengan dinding setinggi 36 meter dan bagian menara mencapai 68 meter. Bangunan masjid dan madrasah itu berbentuk persegi panjang melengkung.

Saat memasuki kompleks masjid itu, pengunjung akan melalui sebuah portal tinggi yang merupakan pintu masuk utama. Sebuah lorong gelap dengan bagian langit-langit yang rendah akan mengarahkan pengunjung ke sebuah halaman terbuka. Pintu masuk utama terletak di ujung barat berhadapan dengan arah selatan.

Yulianto Sumalyo dalam bukunya yang berjudul Arsitektur Masjid dan Monumen Sejarah Muslim, memaparkan, pintu masuk utama itu berupa gerbang yang luar biasa besar dengan ketinggian mencapai 37 meter. Seluruh permukaan gerbang didominasi hiasan muqarnas setengah kubah dari sebuah ceruk. Bagian sudutnya dihias dengan pilaster berbentuk untir-untir atau spiral.

Dalam perencanaan awal, di atas portal pintu masuk utama itu tadinya akan didirikan minaret (menara kembar). Namun, karena salah satu menara yang sudah dibangun runtuh, akhirnya rencana tersebut tidak jadi direalisasikan. Bagian portal dihiasi aneka ragam ornamen, termasuk motif Cina berupa bunga-bunga lotus. Pintu utama juga dilapisi oleh batu marmer yang di bagian atasnya terpahat tulisan kaligrafi gaya kufi yang dipadu dengan ornamen floral.

Di tengah-tengah halaman terbuka, terdapat tempat wudhu yang tertutup oleh kubah kayu dengan penopang delapan buah tiang yang terbuat dari batu pualam. Tempat wudhu ini dilengkapi dengan beberapa pancuran air. Di sekeliling empat sisi halaman terdapat iwan berkubah dengan aksen lampu gantung rantai dan rims merah putih. Setiap iwan diperuntukkan bagi salah satu dari empat mazhab Sunni.

Masjid Sultan Hassan mempunyai dua menara di sisi kiri kanan. Bentuknya satu dengan yang lain mirip. Namun, menara yang berada di sisi kanan atau barat daya lebih tinggi dibandingkan dengan yang berada di sisi timur laut. Bagian bawah menara menyatu dengan dinding madrasah dengan tumpuannya berdenah bujur sangkar.

Menara yang lebih besar terdiri atas empat bagian semuanya berpenampang segi delapan, makin ke atas makin ramping dan pendek. Bagian puncak tidak berupa dinding, tetapi kolom-kolom silindris dengan atap datar dan dihias dengan semacam kubah kecil berbentuk bawang tetapi runcing. Bagian balkon menara dihiasi oleh hiasan runcing-runcing berbentuk penampang bunga cengkeh berderet seperti gerigi dan muqarnas.

Denah madrasah
Sementara itu, unit bangunan madrasah yang terdapat di dalamnya sama dengan model bangunan yang banyak ditemukan pada masa Dinasti Mamluk, yakni mempunyai empat ruangan besar (hall) bersudut tegak lurus yang dipisahkan oleh sebuah halaman terbuka (sahn). Di empat sisi ruangan besar tersebut terdapat pintu yang tembus ke salah satu madrasah fikih empat mazhab, yaitu Syafi'i, Maliki, Hanafi, dan Hanbali. Madrasah yang paling besar adalah madrasah Hanafi sebab luasnya sekitar 898 meter persegi.

Ruangan yang paling besar adalah ruangan sebelah timur. Bagian dindingnya dilapisi oleh batu pualam dan batu mulia yang disusun mengelilingi sebuah bingkai dari batu kapur. Pada bagian atasnya, terdapat tulisan ayat-ayat dari surah Al-Fatihah dengan model kufi dipadu dengan ornamen bermotif bunga. Bagian atap ruangan besar ini melengkung hingga 60 derajat. Lengkungan bangunan hall tersebut adalah yang paling besar di Mesir.

Di dalam hall  juga terdapat tempat bagi para muazin mengumandangkan azan dan ikamah yang terbuat dari batu pualam ditopang dengan delapan buah tiang. Demikian juga mimbar yang terletak di sebelah kanan mihrab. Mimbar terbuat dari batu pualam putih, sedangkan bagian pintunya dari kayu dilapisi dengan tembaga dalam bentuk ornamen yang beraneka ragam.

Di bagian tengah dinding kiblat, terdapat mihrab berceruk. Mihrab itu termasuk mihrab paling besar dan banyak dihiasi dengan ornamen dari batu pualam berwarna-warni. Di samping mihrab berceruk, terdapat dua buah lempengan batu yang terpahat di atasnya tulisan dalam bahasa Arab yang artinya: "Tempat yang terbarakah ini direnovasi oleh Hasan Agha Khazindar Menteri Ibrahim Pasha oleh Al-Faqir Muhammad Tahun 1082 H".

Pada mihrab berceruk ini, terdapat dua pintu yang tembus ke bagian kubah yang terdapat di belakang mihrab. Daun pintu tersebut dilapisi oleh tembaga yang dicampur dengan emas dan perak. Adapun kubah pada bagian belakang dinding kiblat berbentuk persegi empat dengan tinggi rusuknya sekitar 21 meter dan ketinggiannya hingga mencapai 48 meter.

Kubah tersebut dihiasi dengan untaian ayat kursi dengan model naskhi yang ditulis di atas kayu dan diakhiri dengan tanggal penyelesaian pembuatan kubah ini pada tahun 764 H/1363 M.n ed; heri ruslan


300 Nyawa dan Kematian Sang Sultan

Setelah Al-Nasir Muhammad meninggal pada 1341 M, Mesir mengalami kekacauan politik dan sosial. Mesir dan Suriah saling bersaing dalam bidang ekonomi sehingga berdampak negatif pada bidang sosial. Anak ketujuh Al-Nasir Muhammad, Hassan, diangkat menjadi sultan meskipun baru berusia sebelas tahun pada musim panas 1347 M dengan dewan (junta) para amir menguasai administrasi dan keuangan kerajaan.

Empat tahun kemudian, Hassan diberhentikan dan Salih, anak Al-Nasir Muhammad lainnya dijadikan sultan. Salih sendiri diberhentikan tiga tahun kemudian dan Hassan kembali naik takhta. Selama pemerintahan kedua antara 1354 hingga 1361, Hassan semakin tidak populer karena sangat kikir pada orang-orang Mamluk. Di lain pihak, ia memboroskan kekayaan negara untuk membangun kompleks makamnya yang sangat besar.

Selain kompleks makamnya, Sultan Hassan juga memerintahkan untuk membangun sebuah bangunan tempat ibadah yang sekaligus difungsikan sebagai madrasah. Bangunan ini merupakan pembangunan proyek paling ambisius dalam zamannya dan merupakan salah satu bangunan terbesar yang pernah dibangun oleh penguasa Mamluk.

Di luar keindahan dan kemegahan yang diperlihatkan oleh bangunan masjid ini, tersimpan kisah kelam yang meliputi proses pembangunannya. Shela S Blair dan Jonathan M Bloom dalam buku The Art and Architecture of Islam 1250-1800, menulis bahwa dalam perencanaan awal di atas portal pintu masuk utama Masjid Sultan Hassan akan didirikan minaret (menara kembar). Namun, karena salah satu menara yang sudah dibangun runtuh, akhirnya rencana tersebut tidak jadi direalisasikan.

Runtuhnya bangunan menara tersebut menewaskan sekitar 300 orang pekerja. Musibah itu, menurut Blair, dipandang sebagai pertanda jatuhnya sultan. Dan, pertanda tersebut terbukti dengan kematian Sultan Hassan selang tiga bulan kemudian setelah peristiwa runtuhnya bangunan menara masjid.

Namun, beberapa versi lain menyebutkan bahwa Sultan Hassan dibunuh sebelum masjid itu selesai oleh pihak-pihak yang memang tidak menyukai kepemimpinannya dan jasadnya tidak pernah ditemukan. Sumber sejarah lain menyebutkan bahwa ia masih berada di kerajaan sampai akhirnya menghilang entah ke mana pada  762 H/1361 M.

Hingga kini, riwayat sang sultan tidak diketahui secara pasti, di mana jenazahnya dikebumikan dan di mana kuburannya masih menjadi misteri. Banyak kalangan sejarawan yang menilai suasana pergolakan politik ketika itu antara gubernur-gubernur Mamalik menuntut sultan untuk menghilang dari kerajaan dan urusan kemesiran.
Kelanjutan dari pembangunan proyek itu dilakukan di bawah pengawasan Gubernur Mesir saat itu Thowasy Basyir al-Jamdar hingga selesai pada 764 H/1363 M.

Saat ini, Masjid Sultan Hassan masih tetap dijadikan sebagai tempat ibadah untuk shalat wajib lima waktu dan shalat Jumat. Selain itu, masjid tersebut menjadi salah satu objek kunjungan para wisatawan mancanegara. Bahkan, Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, dalam kunjungannya ke Mesir beberapa waktu lalu sempat menginjakkan kaki ke dalam masjid bersejarah itu.ed; heri ruslan

Tulisan Terkait lainnya:




0 comments for Masjid Madrasah Sultan Hassan, Karya Agung Arsitektur Mamluk

Leave comment

Gamis Murah

Hak Cipta Hanya Milik Allah SWT, Menyadur dan Menyebarkan isi Website ini Sangat di anjurkan | jawara web | seacrh engine | butik muslim | situs islam | islamic wallpaper | situs berita global